Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.65


__ADS_3

Ardi sudah tiba di rumah Dara bersama kedua orang tuanya. Mereka di sambut dengan ramah oleh Papa Malik dan mempersilahkan mereka duduk di kursi ruang tamu. Mama Tika, Dara, mas Doni, mba April beserta baby El bergabung kemudian.


" Pak Adit, Ibu Heni, dan nak Ardi sekali lagi atas nama Doni saya minta maaf sudah membuat kantor wakil Ceo porak poranda... juga nak Ardi menderita beberapa luka," ucap papa Malik membuka percakapan.


" Sudahlah Pak Malik, tidak perlu dibahas lagi. Saya masih bisa memaklumi kenapa Doni bisa berbuat seperti itu. Saya sendiri pun punya adik perempuan jadi saya paham," jawab Ayah Adit.


" Benar om, saya juga sudah memberi tahu Dara kalau saya tidak mempermasalahkannya. Justru ini menjadi cambuk buat saya agar kedepannya bisa lebih menjaga sikap, agar tidak ada lagi yang terluka," kata Ardi.


" Baguslah kalo kamu berpikir seperti itu," timpal Doni.


" Doni! Tolong jaga sikap kamu, Nak," perintah Papa Malik.


" Maka dari itu om, saya mengajak ayah dan ibu saya kesini untuk menunjukan keseriusan saya," tukas Ardi. " Dalam waktu dekat saya ingin mempersunting Dara untuk menjadi istri saya."


" Itu bagus! Itu yang memang saya harapkan. Niatan baik tidak perlu ditunda terlalu lama. Tentunya agar kalian juga tidak terjerumus dalam perbuatan tidak baik," jawab Papa Malik.


" Saya sudah membuat rencana, besok saya akan mengklarifikasi tentang rumor itu di depan awak media yang sudah saya undang. Dan disaat itu juga saya akan memperkenalkan Dara sebagai calon tunangan saya. Dan lusa adalah hari pertunangannya. Bagaimana? Untuk referensi tempat acara, catering, dekorasi ataupun yang lainnya sudah saya siapkan," Ardi meminta persetujuan pada pihak keluarga Dara.


Papa Malik dan Mama Tika saling beradu pandang, lalu melemparkan pandangannya ke arah Dara dan juga Doni.


" Kalau bagi mama dan papa sih gak ada masalah," ucap mama Tika. " Kalau kalian gimana? Dara? Doni?"


" Sekedar tunangankan? Bukan ijab qobul?" tanya Doni dengan nada sinis.


" Bukan, Mas," jawab Ardi.


" Ok! Kalau sekedar tunangan tidak masalah, aku masih bisa mengumpulkan bukti-bukti sebelum kalian akad," sambung Doni.


" Kalau kamu, Ra?" tanya Ardi.


" Kalau memang itu yang terbaik aku ikut aja," jawab Dara.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu setelah ini kita bicarakan masalah acara lamarannya ya," ucap Ayah Adit. " Nanti acaranya mau diadakan dimana Pak Malik?"


" Terserah anak-anak saja maunya dimana, kita ikut saja," jawab Papa Malik.


Mereka pun mulai berdiskusi. Ardi memperlihatkan beberapa referensi yang sudah ia siapkan seperti tempat acara, catering, gaun, undangan, dekorasi dan lain sebagainya.


" Ra, kamu suka dengan mawar putihkan? Nanti dekorasinya pake mawar putih ya, terutama di bagian stagenya. Lalu untuk gaun aku juga sudah pesan beberapa, nanti kamu cobain ya," ucap Ardi


Dara menanggapinya hanya sekedar anggukan dan senyuman.


Dan mereka pun berdiskusi tentang hal lainnya, yang dipimpin langsung oleh Ardi.


" Pak Malik, sepertinya obrolan untuk acara lamaran anak kita, kita sudahi dulu sekarang. Kalau ada yang kurang kita bisa susulkan besok," kata Ayah Adit.


" Iya Pak Adit, lagi pula hari sudah semakin malam," jawab Papa Malik.


" Kalau begitu, kami bertiga ijin pamit dulu ya, Pak."


" Saya pamit pulang dulu ya om, tante," ucap Ardi seraya mencium kedua punggung tangan calon mertuanya. " Aku pamit ya, Ra," sambung Ardi.


Mobil Ardi sudah tak nampak lagi, Dara pun akhirnya masuk ke kamarnya. Mama Tika yang sejak tadi merasa ada hal aneh dengan anak perempuannya, akhirnya dia pun mengikuti anak bungsunya.


Dara duduk di tepi ranjangnya, dia menghela nafasnya. Mama Tika masuk ke kamar anaknya yang memang tidak di tutup rapat pintunya.


" Kenapa sayang? Mama perhatikan dari tadi kamu tidak seperti biasanya. Kenapa?" Mama membelai rambut anaknya.


" Gak tahu, Mah. Aku juga bingung," jawab Dara.


" Bingung kenapa?"


" Seharusnya sekarang ini adalah hari yang sangat bahagia untukku, karena kak Ardi bilang ke papa kalau dia akan mengumumkan di depan wartawan kalau aku tunangannya. Dan seluruh dunia akan tahu itu. Tapi entah kenapa aku gak bahagia, Mah."

__ADS_1


" Mungkin karena Ardi mengumumkan acaranya secara tiba-tiba, jadi kamu sedikit merasa syok. Tapi mama yakin, besok juga sudah kembali lagi seperti semula. Istirahat yang cukup ya, sayang. Cup!" Mama Tika mencium kening anak bungsunya.


" Kenapa? Berubah pikiran? Belum terlambat kok untuk membatalkan semuanya," celetuk Doni yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Dara. " Nanti aku carikan, bahkan seribu kali lebih baik dari dia. Gimana?"


" Gak! Bagiku kak Ardi adalah yang terbaik," ketus Dara.


" Ok!" Doni mengepalkan tangannya. " Tapi kalau ada apa-apa jangan cari aku. Aku akan buktikan kalau dia tidak layak mendampingimu."


Doni pergi dengan penuh rasa kesal di dalam dadanya. Adik kesayangannya, tidak mau mendengarkan lagi kata-kata kakaknya.


" Sayang," Mama Tika memeluk bahu Dara. " Kata-kata Doni, gak usah dipikirkan ya sayang. Itu salah satu ujian buat kamu dan Ardi untuk mencapai kejenjang selanjutnya."


" Iya, Mah."


" Sudah, sekarang kamu istirahat. Besok kita cari gaun buat acara lamaran kamu. Sweet dream sayang."


Setelah mencium kening anak gadisnya, Mama Tika pun keluar dari kamar Dara tanpa lupa menutup pintu kamarnya.


Mengganti baju dengan yang lebih nyaman, lalu Dara duduk di depan meja riasnya. Dia menyisir rambut yang sebenarnya tidak kusut. Itu dia lakukan karena fikirannya yang sedang terbang melayang.


" Mungkin benar kata mama, perasaan bimbang ini salah satu ujian yang harus aku lalui sebelum menapaki jenjang yang lebih serius dengan kak Ardi," gumam Dara.


Ting! Pesan masuk di ponsel Dara.


" Chat dari kak Ardi?" ucap Dara.


" Ra, besok kamu gak usah masuk kantor. Tadi aku sudah minta ijin sama Rizal. Besok waktu wawancara dengan para wartawan dimajukan jadi jam 8 pagi. Kamu dandan yang cantik, biar mereka semua tahu calon istriku lebih cantik seribu kali dari Rina Rosa. Selamat malam," isi pesan Ardi.


" Iya," balas Dara singkat.


Dara melempar ponselnya ke atas kasur. Dia kembali menyisir rambutnya.

__ADS_1


" Semuanya sudah dijadwalkan, aku tinggal mengikuti arahan. Seharusnya aku seneng tidak perlu repot ataupun pusing memikirkan detailnya. Tapi, kenapa aku merasa tidak senang? Padahal kak Ardi merancangnya semua sesuai dengan kesukaanku. Dari dekorasi, makanan yang dia pilihkan semua itu kesukaan aku. Tapi, kenapa aku masih merasa tidak senang," ucap Dara di depan cermin riasnya.


Darra meletakkan sisir yang sedari tadi di genggamnya. Lalu dia naik ke atas kasur. Menyelimuti sekujur tubuhnya dengan bedcover.


__ADS_2