Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 73


__ADS_3

Di dalam kamar Rizal Ramadhan.


Doni meniup mie yang diangkat menggunakan sumpit dari mangkuk sambil sesekali matanya melirik ke sebuah tumpukan kertas yang berserakan di meja kamarnya Rizal. Setelah dirasa cukup dingin, mie yang diangkatnya itu ia memasukannya ke dalam mulut. Dan sisanya ia seruput hingga untaian mie yang terakhir. Mie instan itu memang paling enak dan kesukaan sejuta umat.


Doni mengambil selembar kertas yang ada dihadapannya dan membacanya berulang kali. Dia lalu meraih bolpoint dan menggoreskan sesuatu diatas kertas itu. Sementara pipinya yang gendut naik turun seiring dengan gigi yang sedang mencacah makanan.


" Dari file-file ini gak ada hal yang aneh dari Seno Ardibratha. Semuanya bagus. Dari pendidikan, keluarga, teman, hingga pekerjaan semua bagus. Tapi di dunia ini gak mungkin ada yang sesempurna ini. Aku yakin pasti ada celahnya," ucap Doni.


Kening Doni tiba-tiba mengerut ketika ada notifikasi yang masuk di ponselnya. Sebuah email dari orang tak dikenal. Ada beberapa file foto yang terkirim dalam email itu dan Doni pun langsung mengklik tombol download. Tidak perlu menunggu lama file-file itu telah tersimpan di galeri ponselnya.


" Kurang ajar!" geram Doni ketika melihat file foto yang telah tersimpan di gawainya.


Rizal yang baru masuk ke kamarnya tampak heran dengan sikap Doni yang mengepalkan tangannya diatas meja.


" Kenapa lu, Don?" tanya Rizal heran.


" Liat aja sendiri." Doni menyodorkan benda pipih itu ke Rizal.


" What the hell? Gak mungkin ini, Don! Gue gak percaya! Pasti ini rekayasa!"


" Kenapa lu berpikir seperti itu? Apa alasanmu jika itu rekayasa?"


" Ya seperti kasus kemarin aja. Pasti banyak yang ingin mendompleng kepopuleran seorang Wakil Ceo yang sangat digandrungi oleh para wanita. Ini hanya sebuah bumbu yang dibuat untuk memperkeruh suasana."


" Kenapa lu ngebelain dia? Dia itu rival lu dalam mendapatkan cintanya Dara."


" Dara akan memilih gue kalo dia beneran cinta sama gue, bukan nganggap gue hanya sebagai kaka. Dan Ardi juga udah memberi Dara kesempatan untuk memikirkan baik-baik siapa yang bakal dia pilih. Gue atau Ardi. Jadi walaupun sekarang dia lebih milih Ardi, gue gak dendam. Karena disini kita bersaingnya secara terang-terangan. Dan gue juga gak bisa memaksakan kehendak gue ke Dara. Lu tahu sendiri sifat adik lu kaya apa?"

__ADS_1


" Bullshit! Itu cuma akal-akalan dia aja buat cari simpati Dara."


" Kenapa lu gak percaya sama dia?"


" Gue gak akan semudah itu percaya sama orang. Terlebih ini buat sekali seumur hidup. Gue akan pernah melepas Dara pada orang yang salah. Gue akan memastikannya baik-baik sebelum pernikahan mereka dilaksanakan."


" Ok! Gue tahu sifat lu yang itu. Tapi menurut gue kecurigaan lu gak beralasan. Yang terlihat di mata gue sekarang lu itu bukan seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Tetapi lebih seperti seorang kakak yang sedang merasa cemburu dan takut adiknya tidak akan mencintai atau menyayanginya lagi karena sang adik akan segera menikah. Itu yang terlihat di mata gue sekarang."


" Cemburu? Takut kehilangan? Itu gak ada kamusnya dalam hidup gue. Sekian lama gue bersama April, gue gak pernah merasa seperti itu. Dari jaman pacaran sampe sekarang menikah gue gak begitu. Justru Aprilnya yang suka cemburu gak jelas."


" Don, Jangan samakan April dengan Dara. Mereka berbeda. Hubungan darah itu diatas segalanya dan takkan tergantikan."


" Barusan lu bilang apa? Hubungan darah diatas segalanya? Terus kenapa sekarang lu gak dukung gue yang masih ada hubungan darah sama lu? Gue termasuk adik sepupu lu. Tapi lu malah ngebelain dia. Bukan gue."


" Kalo emang lu bener gue bakal dukung lu abis-abisan, Don. Tapi beneran kecurigaan lu tanpa dasar."


" Tanpa dasar gimana? Lihat sekali lagi foto yang ada di hp gue. Buka mata lu lebar-lebar, Zal! Itu Ardi lagi meluk cewe dan mereka masuk ke dalam sebuah apartemen. Coba lu lihat baik-baik." Doni kembali menyodorkan gawainya ke tangan Rizal.


" Ok! Bantu gue lacak semuanya. Kita mulai dari sekarang!"


" Siap 86!"


Rizal mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Dia menekan nomor untuk menghubungi seseorang yang bisa membantunya melacak ponsel atau komputer yang telah mengirimkan file foto itu ke email Doni.


" Gue cabut dulu ya, Zal. Segera kabari gue kalo ada perkembangan. Dan kalau udah dapat besok pagi kita langsung eksekusi ke tkp."


" Ok! Gue bakal kabari lu secepatnya. Biar semua masalah cepat selesai."

__ADS_1


" Thank you ya, Zal. Bye!"


" Bye!"


Doni melenggangkan kakinya keluar dari kamar Rizal. Dia sudah merasa seperti di rumahnya sendiri walau itu rumah pakdenya. Karena Rizal dan Doni seumuran dan mereka tumbuh bersama di rumah itu.


Pak Wawan yang hanya melihat punggung Doni dari tempatnya berdiri ketika dia baru keluar dari kamarnya, kemudian dia berjalan menuju kamar Rizal saat Doni menutup pintu depan dan sudah keluar dari rumah itu.


" Zal, bagaimana dengan Doni?" tanya pak Wawan saat masuk kedalam kamar anaknya.


" Gimana apanya, Pah?"


" Itu... masalah Ardi." ucap Pak Wawan duduk di tepi ranjang.


" Kecurigaannya semakin menjadi, Pah. Pas tadi dia dapet email dari orang yang isinya foto-foto Ardi di sebuah lorong apartemen."


" Foto-foto Ardi yang gimana?"


" Jadi di foto itu Ardi sedang merangkul seorang cewek. Lalu mereka masuk dalam sebuah apartemen. Kalau aku pribadi sih gak merasa aneh karena cewek itu memakai perban. Entah tadi di tangan atau kaki aku lupa. Yang jelas sih aku melihatnya dia seperti sedang membantu cewek itu. Bukan melakukan hal yang aneh. Tapi pemikiran Doni berbeda."


" Sifat keras kepalanya belum juga berubah." Pak Wawan menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat tingkah salah satu keponakannya itu.


" Terus papa kenapa gak bilang ke Doni kalau sebenarnya papa sudah tahu sebelumnya kalau Ardi itu anak dari rival bisnis papa?"


" Dia itu sedang tidak bisa berpikir dengan akal sehatnya. Emosinya sedang menutupinya dari pola pikir yang jernih. Papa gak bisa menjelaskannya sekarang yang ada dia akan semakin menutup rapat mata, telinga, dan logikanya."


" Benar juga, Pah. Tadi aja aku dibilangnya tak mau mendukung saudaranya sendiri. Benar-benar dia sedang ditutupi emosinya itu. Semoga saja itu tidak membakar dirinya sendiri."

__ADS_1


" Semoga saja. Kamu dampingi adik sepupumu yang satu ini ya. Dalam managemen kantor dia memang sangat lihai mengaturnya, tetapi dalam mengatur emosi terlebih tentang keluarganya dia sangat kacau balau."


" Iya, Pah. Aku akan terus mendampinginya hingga rasa curiganya ke Ardi hilang tak tersisa."


__ADS_2