
" Jangan pernah lu deket-deket dia lagi. Dara sekarang milik gue. Dia calon istri gue. Kalau sampe gue lihat lu ngedeketin atau nyentuh dia, gue gak bakal segan-segan buat matahin kaki atau tangan lu!" Ancam Ardi.
" Weits... Tenang Pak Bos.." Fandi langsung melangkah mundur dan mengangkat kedua tangannya.
" Mungkin sekarang adalah momen yang tepat untuk melakukan hal itu, agar Fandi tidak terus menerus mengejar Dara," batin Ardi.
Ardi melepaskan pelukannya. Lalu ia berlutut di depan Dara. Tangan kanannya mengeluarkan suatu benda kotak berwarna merah dari dalam kantong celana.
" Ra, Hawa diciptakan oleh Tuhan dari tulang rusuk Adam. Setiap pria memiliki tulang rusuk yang hanya jadi miliknya sendiri. Dan aku yakin, kamu adalah tulang rusukku," Ardi membuka kotak kecil itu, " Dara Amelia, apa kamu bersedia menjadi tulang rusukku yang hilang itu?"
" Terima! Terima! Terima!" Sorak soray para tamu undangan.
" Aku tidak pernah membayangkan akan bersamamu selamanya. Kamu adalah pria yang hebat, tapi aku hanya gadis biasa yang selalu berusaha berdiri di kakiku sendiri. Aku hanya ingin memiliki hubungan yang tidak akan berakhir. Bisakah kamu hanya mencintaiku sepanjang hidupmu? Aku takut suatu hari nanti kamu mencintai wanita lain," ucap Dara dengan tangan sedikit gemetar.
" Kenapa kamu mengkhawatirkan hal yang belum pasti. Apa kamu akan menerima cincin dariku jika aku berkata bisa melakukannya?"
" Hmm!" Dara mengangguk. " Aku terima!"
Ardi langsung berdiri dan memasangkan cincin di jari manis Dara.
Yeay! Prookk! Prookk! Prookk! Gemuruh tepuk tangan dari anggota keluarga dan para tamu undangan.
Dengan langkah kesal, Febri berjalan mendekati dua sejoli yang dimabuk kasmaran itu.
" Ardi!" geram Febri. " Kenapa kamu mengabaikan aku seperti itu terus? Kenapa kamu tidak memberikanku kesempatan.?"
" Maaf, kamu wanita yang baik dan pintar seperti banyak dikatakan oleh orang di luar sana. Tapi aku tidak bisa menerimamu. Dan aku tidak pernah bermaksud untuk mengabaikanmu," ucap Ardi.
" Tapi, keluargamu sangat menginginkan wanita terbaik untukmu. Bukan wanita biasa yang seperti dia ucapkan sebelumnya! Tidak ada wanita yang cocok untukmu selain aku! Dan tidak ada wanita manapun yang mencintaimu lebih dari yang kulakukan!" Febri meradang.
" Aku hanya butuh wanita yang aku cintai, dan yang mencintaiku." Ardi melingkar tangannya di pingggang Dara. " Aku tidak mencintaimu!"
" Aku tidak perduli, Ardi! Aku tidak akan menyerah padamu. Jika kamu berani mencintai dan menikah dengan wanita lain, Aku akan membuatnya lenyap dari muka bumi ini!" Febri mengepalkan tangannya, gemetar.
" Jangan macam-macam dengan wanitaku! Jangan sampai aku melakukan hal yang kejam terhadapmu!" ancam Ardi.
" Jika kita tidak bisa saling mencintai, maka mari kita saling menghancurkan!" Febri balik mengancam.
" Febri! Apa kamu gila?" Pekik Tante Suci, dengan setengah berlari dia mendekati mereka yang sedang bersiteru.
__ADS_1
" Aku memang gila, Aku gila karena dia menolakku Tante!" Febri kesal. " Jangan coba-coba mempunyai hubungan dengan wanita lain, kecuali aku! Ingat itu Ardi!"
Febri berbalik badan, Tante Suci yang ingin mengejarnya ditahan oleh tangan Ardi.
" Biarkan dia Tante! Tidak usah dikejar. Biarkan dia pergi dan mari kita lanjutkan acaranya." Ujar Ardi.
Pembawa acara dan para personil band sudah kembali menaiki panggung.
Ngiiiiing!!
Suara microphone yang mulai kembali menyala.
" Oke! Para hadirin semua dan para tamu undangan mari kita lanjutkan lagi acaranya," ucap sang MC. " Tapi sebelum itu saya mengucapkan selamat kepada A. Ardi yang pinangannya sudah diterima oleh Teh Dara. Cie.....ngelamarnya meuni romantis kitu, abdi geh hoyong atuh. Pasti semua para jomblowan dan jomblowati pada baper ya? Engke pulang ka imah ngomong jeung emak jeung abah, menta dilamar kitu. Tong lila-lila teuing pacaran teh nepi ka tahunan. Eta teh pacaran atau kredit motor?"
(*Cie..ngelamarnya romantis banget, aku mau dong.)
(*Nanti pulang ke rumah ngomong sama ibu sama ayah, minta dilamar gitu.)
(*Pacaran itu jangan lama-lama sampai bertahun-tahun.)
(*Itu pacaran atau kredit moto?)
" Baiklah.. tidak usah berlama-lama lagi mari kita sambut kembali artis ibukota kita... Jaksel band!" sambung sang MC.
Gegap gempita suara musik pun mulai terdengar lagi.
Ardi menggandeng tangan Dara untuk masuk kedalam rumah, beserta keluarga yang lain. Mereka duduk di ruang keluarga.
" A, Tante minta maaf ya..." Tante Suci memulai pembicaraan. " Tante tidak bermaksud untuk menyulitkan kamu dengan Febri. Tante hanya merasa kalian adalah pasangan yang serasi, terlebih sejak kecil kalian sangat akrab. Maafin Tante ya A.." Mata Tante Suci berkaca-kaca karena merasa sedih.
" Sudahlah, Tante. Aku tahu tante hanya menginginkan hal yang terbaik untuk aku, karena aku juga anak tante kan? Tapi, cinta itu tidak bisa dipaksakan tante. Aku hanya ingin menikah sekali saja dalam hidupku. Seperti halnya ayah dan ibu, tante dan alm.om, eyang dan alm.abah. Aku ingin seperti itu. Jika pun harus berpisah maka hanya maut yang memisahkan kita." Jawab Ardi.
" Iya, sayang. Tentu itu!" Tante Suci menyeka air matanya yang mulai menetes.
" Teteh, maafin sikap tante yang kemarin ya. Bener kata eyang 'kalau sudah jodoh mau dipisahkan seperti apapun akan tetap selalu bersama, begitu juga sebaliknya.' Sekali lagi tante minta maaf ya, Teh." Tante Suci menggenggam kedua tangan Dara.
" Iya, Tante." Dara menjawab sambil tersenyum.
" Makasih ya sayang, makasih..." Tante Suci memeluk Dara dengan menangis tersedu. Dara pun mengusap lembut punggung Tante Suci.
__ADS_1
" Yang sudah ya sudah... Besok jangan dibuat lagi ya Cih!" pinta Eyang. " Terus acara lamaran resminya kapan nih? Eyang udah gak sabar mau main ke ibukota. Udah bosan di kampung nih. Pengen jalan-jalan ke mall."
Hahahaha...! Seluruh anggota keluarga tertawa melihat tingkah Eyang.
" Kalau cuma pengen ke mall gak usah nunggu Ardi lamaran. Sekarang juga bisa eyang. Nanti selesai acara eyang ikut ya pulang ke ibukota. Mau gak?" Ujar Ayah Adit.
" Henteu ah.. Engke bae.. Loba keneh pagawean diimah. Tah meuni pabalatak kie parabotna. Karunya atuh Ucih beberes sorangan." Jawab Eyang.
(*Gak ah.. Nanti saja.. Masih banyak pekerjaan dirumah. Tuh berantakan banget perabotannya. Kasihan dong Suci beberes sendirian.)
Tak berapa lama, acara pun selesai. Para tamu sudah pulang. Para rewang mulai membereskan tempat acara. Sementara itu Ardi dan Dara duduk di salah satu kursi tamu yang sudah kosong.
" Gimana, suka gak sama cincinnya? Bagus gak?" Tanya Ardi.
" Bagus! Cantik! Simpel!" Ucap Dara sembari memandangi cincin yang telah melingkar di jari manisnya.
" Suka gak?"
" Suka." Jawab Dara singkat.
" Tapi kenapa kak Ardi ngelakuin ini sekarang?" Dara penasaran.
" Ya..itu karena......" Ardi gugup. " Karena aku udah beli cincin itu kemarin. Kalau gak buru-buru dikasih ke kamu sekarang, takutnya nanti aku kelupaan."
" Oh..karena takut lupa." Dara mengangguk paham.
Ardi mencubit gemas hidung calon istrinya. " Aw! Sakit!" pekik Dara.
" Kamu percaya?" Tanya Ardi heran.
" Ya gak lah! Pasti gara-gara Fandi kan?"
" Hmm.." Ardi mengangguk.
" By the way..seharusnya aku harus bilang terima kasih sama Fandi. Soalnya berkat dia, aku dipasangin cincin cantik sama kak Ardi."
" Kamu itu calon istrinya Seno Ardibratha. Awas aja kalau kamu deket-deket lagi sama Fandi!" Ancam Ardi.
Dara hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabat lamanya itu, yang kini menjadi calon suaminya.
__ADS_1