
Mama dan Dara melewati ruang televisi. Disana mereka melihat Papa yang sedang asik nonton film. Dara menarik tangan Mama menuntunnya untuk duduk disebalah Papa.
" Mama duduk disini ya.." Dara pun duduk disebalah Mama. Mereka bertiga duduk di tengah sofa yang panjang.
" Pa, aku mau ngomong serius sama Papa dan Mama. " Dara menggenggam tangan Mama.
" Ngomong aja,Ra..ada apa memangnya ? " Papa mematikan televisinya dan sekarang menghadap ke arah Dara.
Mama melihat ke arah Papa dengan raut muka bingung. Papa memeluk bahu Mama dan mengusap-usapnya mencoba menenangkan. Mama kembali melihat ke arah Dara.
" Ma...Mama ingat kalau aku pernah cerita kalau punya sahabat yang dulu pernah hilang sekarang sudah ada lagi ? " Dara menatap Mamanya lekat-lekat. Mama menganggukan kepalanya.
" Semalam.....Dia mengutarakan niat baiknya ke anak Mama. ke Dara. Dia ingin menjadikan aku sebagai teman hidupnya, istrinya, ibu dari anak-anaknya kelak. " Ucap Dara dengan senyum merekah dibibirnya.
" Kamu yakin sayang ? Kamu tidak takut dia akan menghilang lagi seperti kemarin ? " Mama bertanya ragu.
" Bismillah Mama.. Aku bukan mengenal dia sehari atau dua hari. Aku mengenal dia sudah lama. Dia kemarin hilang bukan karena ada masalah atau lari dari sesuatu. Itu karena masing-masing dari kita berganti nomer telpon dan aku keluar dari kantor yang lama lalu pindah kesini. " Dara meyakinkan Mama.
" Papa bagaimana ? " Dara melihat kearah Papa.
" Hmmm... Sepertinya anak gadis Papa memang sudah besar, sehingga banyak kumbang yang menghampiri. " Papa tersenyum.
__ADS_1
Dara membalas senyum Papa.
" Tapi Dara..ada yang ingin papa sampaikan kepada kamu juga,nak.." Perkataan Papa membuat Dara mengernyitkan dahinya.
" Apa itu Pa ? "
" Sebenarnya, kemarin malampun ada yang menelpon Papa. " Papa dan Mama saling berpandangan.
" Pakde Wawan, meminta kamu ke Papa untuk diperistri oleh anaknya. Yaitu Rizal. "
Deg! Dara kaget mematung.
" Papa,tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan Pakde mu, nak. Yang Papa bilang semua keputusan ada di kamu. Diterima syukur alhamdulillah. Kalau tidakpun memang bukan jodohnya. " Papa mencoba menerangkan kepada Dara agar dia tidak mengambil keputusan secara emosi. Yang Papa inginkan Dara memikirkan keputusannya secara matang, tidak karena unsur paksaan atau tekanan dari manapun.
" Ayo,nak..kita makan dulu biar kamu bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan dengan bijak. " Mama mengusap-ngusap punggung tangan Dara yang sedari tadi digenggamnya.
Dara hanya menganggukkan kepalanya perlahan.
Di meja makan tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut mereka bertiga, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling beradu diatas piring. Dara tidak begitu berselera, dia pun menyudahi makannya tanpa menghabiskan makanan yang ada diatas piringnya. Dara meneguk segelas air putih yang ada didepannya. Lalu dia bangkit berdiri, pamit ke kamarnya. Mama ingin memanggil Dara tapi dihalangi oleh Papa. Papa menggelengkan kepalanya,dan mengisyaratkan Mama untuk melanjutkan makannya. Dan Mama menuruti Papa walau setengah hati.
Dara memasuki kamarnya dengan langkah sedikit gontai. Dia tidak mengerti kenapa Pakde menginginkannya menjadi istri Mas Rizal ? Padahal selama ini Dara hanya menganggapnya sebagai seorang kakak, walau mereka kakak sepupu jauh. Ketika Dara merindukan sosok kasih sayang seorang kakak dari Mas Doni, maka dia akan mendapatkannya dari Mas Rizal. Karena sudah lebih dari tiga tahun lalu kakak Dara menikah dan tinggal dengan istrinya di luar negeri.
__ADS_1
Dara tidur tengkurap sambil memeluk gulingnya. Memainkan HPnya, membuka dan menutup aplikasi WA. Kenapa seharian ini tidak ada kabar dari Kak Ardi ? Dia sama sekali tidak telpon atau pun kirim pesan di WA ? Sebenarnya dia serius atau tidak ? Apa aku yang harus menghubunginya dulu ? Tapi, itu sangat agresif jika aku melakukannya. Nanti dia tahu isi hatiku tanpa aku harus memberikan jawaban. Dara bergumam sendiri.
Dara masih memainkan HPnya. Membuka folder galeri foto. Dibukanya satu persatu foto yang tersimpan disana. Ada foto Dara bersama Mama, Papa, Mas Doni kakak satu-satunya yang selalu dia rindukan. Dan ternyata ada juga foto ketika Dara masih berkerja di kantor lamanya. Digambar yang terpotret ada wajah-wajah dari teman lamanya. Mereka sedang duduk berbaris dan berundak ditangga sebuah villa di daerah puncak. Dara mengamati satu persatu wajah itu dan kemudian dia menemukan salah satu wajah difoto itu yang sangat dikenalnya. Yaitu Kak Ardi. Kak Ardi duduk dianak tangga atas dan matanya seperti melirik seseorang.
" Kak Ardi ngelirik ke siapa sih ? " Dara mengamati fotonya lagi. Menulusurinya dengan jari telunjuknya kira-kira mana yang pas dengan mata Kak Ardi.
" Rina...? Bukan..dia duduk tepat dibawah Kak Ardi. By the way..Makasih ya Rin, gara-gara lu dulu pernah deket sama Kak Ardi, kita sekarang jadi sahabatan..dan mungkin besok kita lebih dari sekedar sahabat.." Dara tersenyum sambil mengusap wajah Rina yang ada dalam foto.
Masih teringat dengan jelas diingatan Dara. Waktu itu Rina yang masih karyawan baru di kantornya masuk ke divisinya untuk training. Dara yang ditelpon oleh Kak Ardi diminta untuk mengajarkan jobdesknya kepada Rina. Ternyata Rina anak yang mudah menerima arahan,dan juga anaknya gampang bergaul dengan karyawan yang lain. Sehingga karyawan baru ini dengan cepat bisa menguasai jobdesknya. Akhirnya Rina ditarik kembali dan langsung dibawah pantauan Kak Ardi.
Dara termasuk anak yang cuek dan tidak suka ikut campur urusan orang lain. Jadi awalnya dia tidak tahu bahwa Kak Ardi dan Rina ada hubungan. Sampai akhirnya Rina meminta tolong Dara untuk mengijinkan dia menginap dikosannya. Ketika menginap itulah Rina mulai bercerita kepada Dara tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan mereka. Rina merasa ragu dengan Kak Ardi, karena menurutnya Kak Ardi tergolong orang yang cuek. Tidak romantis. Sedangkan perempuan inginnya dimanja dan diperhatikan. Itu yang dikeluhkan oleh Rina. Maka dari itu dia Rina belum menjawab perasaan Kak Ardi.
Hingga suatu ketika tidak sengaja Kak Ardi memergoki Rina dengan seorang lelaki lain disebuah cafe. Lelaki itu memberikan Rina sebuah boneka beruang berwarna coklat dan seikat bunga. Rina tertawa bahagia. Kak Ardi yang tahu kalau Rina sempet curhat ke Dara akhirnya dia pun curhat juga. Dia menceritakan apa yang dilihatnya tadi di cafe.
Nyuutt ! Tiba-tiba ada sesuatu yang sakit didalam dada Dara.
" Sebegitu sayangnya kamu dulu sama Rina, Kak. Apa masih ada satu tititk kosong dihatimu yang menyimpan kenangan atau rasa yang dulu pernah ada untuk Rina ? Hanya memikirkannya saja yang disini langsung menunjukan reaksinya.. " Gumam Dara sambil memegang dadanya.
Tring! Pesan WA masuk. Dara tersadar dari lamunannya.
" Mas Rizal ? Pas banget nih.." Dara langsung membuka pesannya.
__ADS_1
" Ra,besok siang pas jam istirahat aku mau ngomong ya.." Isi pesan WA.
" Ok! Aku juga ada yang perlu diomongin sama Mas Rizal " Dara membalas.