Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 98


__ADS_3

“Makanan yang sangat lezat,” ujar Dara seraya menangkupkan sendok dan garpu di atas piring, lalu mengusap bibirnya lembut dengan kain.


“Mau tambah lagi, Ra?”


“Tidak perlu. Cukup. Aku sudah kenyang.”


“Kalau begitu sekarang ikut aku.” Ardi mengajak istrinya berdiri dari kursinya. Ia lalu menggandeng Dara ke tepian rooftop kafe itu. Di balik tembok setinggi satu setengah meter netra Dara dimanjakan oleh pemandangan yang sangat disukainya, citylight.


“Cantiknya,” ucap Dara takjub.


“Bagaimana? Kamu menyukainya?” tanya Ardi seraya melingkarkan kedua tangannya ke pinggang mungil Dara dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya.


“Aku sangat menyukainya. Pemandangannya sangat indah.”


“Mulai sekarang jika kamu ingin melihat pemandangan citylight lagi bilang saja kepadaku, aku akan membawamu kembali ke tempat ini. Jadi, aku tidak akan kehilanganmu lagi di tengah kerumunan orang.”


“Terima kasih,” ucap Dara seraya berjinjit untuk menempelkan bibirnya pada pipi Ardi dengan lembut.


“Sama-sama, Sayang.” Ardi kembali memeluk istrinya dari belakang. Mereka menikmati suasana malam itu dengan romantis.


Sebenarnya aku ingin jujur pada Kak Ardi, tapi entah kenapa lidahku rasanya kelu ketika aku ingin mengatakan siapa Kak Farhan sebenarnya. Aku tidak ingin terus menyembunyikan masalah ini. Aku tidak mau jika suatu hari nanti dia mengetahui hal yang sebenarnya dan bukan dari mulutku sendiri. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya dia. Tuhan, berikan aku keberanian dan kekuatan untuk mengatakan semua ini. Aku tidak mau ada rahasia di antara aku dengan Kak Ardi, batin Dara.


***


“Ra, nanti saat makan siang aku jemput kamu ya,” ucap Ardi seraya mengancing lengan kemejanya.


“Memang kita mau kemana?” tanya Dara penasaran.


“Oh iya, aku lupa memberi tahumu. Nanti sore ada pesta selamat datang untuk Kak Farhan di kantornya dan kita di undang. Rencananya sebelum pergi ke acara itu kita beli kado dulu. Nanti kamu bantu aku pilihkan kado yang bagus untuk Kak Farhan ya, Ra.”

__ADS_1


Dara membantu Ardi mengenakan jasnya. “Sepertinya nanti di sana aku akan merasa canggung lebih baik aku di rumah saja, tidak usah ikut,” tawar Dara.


“Kenapa mesti canggung? Kamu sekarang adalah Nyonya Seno Ardibratha. Apa kamu tidak bangga menjadi istriku?”


Dara menggeleng.


“Lalu apa yang kamu khawatirkan? Di sana pasti akan datang juga beberapa kolega penting. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka. Jadi, dandan yang cantik ya, Sayang.” Ardi mencubit hidung istrinya gemas.


“Baiklah aku ikut.”


“Ok, sampai ketemu nanti siang. Aku berangkat ke kantor dulu. Bye.” Ardi mendaratkan bibirnya ke kening Dara sebagai ucap perpisahan.


Dara duduk di tepi ranjangnya sambil terus menatap punggung suaminya yang kini sudah tak tampak lagi di hadapannya. “Kenapa ketika aku sudah melupakannya kini dia datang kembali ke dalam kehidupanku? Ketika hatiku sudah berdamai dengan masa lalu, tetapi justru sekarang ia nyata berdiri di hadapanku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin menghindar, tetapi takdir justru terus mendekatkan aku lagi padanya. Aku tidak mau membuat Kak Ardi terluka. Aku sangat mencintainya. Aku hanya menginginkan Kak Ardi yang berada di sisiku, bukan orang lain,” gumam Dara.


Dara mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia menekan tombol panggilan pada nomor Mas Doni. Ia berniat bercerita tentang yang terjadi beberapa hari terakhir, tetapi tiba-tiba niatnya berubah ketika panggilan teleponnya terjawab.


“Iya, Ra. Kenapa?” tanya Doni dari seberang telepon.


“Tanya apa? Kalau bisa cepat ya, karena beberapa menit lagi aku ada rapat.”


“Begini Mas, nanti sore Kak Ardi akan mengajakku ke pesta selamat datang yang di adakan oleh salah satu rekan kerjanya. Sebelum menghadiri pesta itu Kak Ardi ingin membelikannya hadiah dan aku di mintanya untuk memilihkan hadiahnya itu. Menurut Mas Doni apa yang harus aku beli? Aku tidak tahu kado seperti apa yang harus di berikan pada rekan kerja seperti itu,” papar Dara.


“Tidak perlu bingung. Belikan saja jam tangan atau tas branded jika rekan kerjanya seorang wanita.”


“Begitu?”


“Iya. Sudah dulu ya sebentar lagi meeting di mulai. Good luck dengan pestanya.” Doni mengakhiri sambungan teleponnya sebelum di jawab oleh adik semata wayangnya.


***

__ADS_1


Dara mengenakan gaun panjang nan elegan berwarna biru muda, senada dengan warna dasi yang dikenakan oleh suaminya, Ardi. Berjalan beriringan memasuki ruangan seraya bergandengan tangan. Beberapa pasang mata menatap kagum ke arah mereka, tetapi tidak dengan Farhan. Dalam diamnya ia mengepalkan salah satu lengannya yang terbalut perban. Farhan sangat pandai memainkan mimiknya, dalam sekejap ia berubah menjadi sangat ramah menyambut kedatangan Ardi dan Dara.


“Selamat datang pengantin baru kita. Bagaimana liburannya? Menyenangkan?” sapa Farhan mencoba basa-basi dengan mereka berdua.


“Tidak usah seperti itu, Kak,” jawab Ardi. “Seperti dengan siapa saja Kak Farhan menyambut kami dengan basa-basi seperti itu.”


Farhan tertawa mendengar jawaban Ardi. “Tidak. Aku tidak berbasa-basi, hanya memastikan saja liburan yang kalian lewati kemarin itu menyenangkan. Ya, walau ada sedikit musibah yang menimpa Dara, tetapi semua baik-baik saja, kan?”


“Semua baik. Luka-luka di tubuh Dara juga mulai memudar.”


“Selamat menikmati pestanya ya.”


“Oh iya, Kak. Ini ada sedikit kado kecil dari kami berdua untuk Kak Farhan. Ini spesial dipilih oleh Dara khusus untuk Kak Farhan,” papar Ardi.


Dara menyerahkan bungkusan kado yang sedari tadi dalam genggamannya.


“Wah! Sungguh beruntungnya aku hari ini. Terima kasih untuk bingkisannya. Sebenarnya kalian tidak perlu repot seperti ini. Datang dan menikmati pesta saja aku sudah merasa senang.” Farhan berusaha mengambil kesempatan untuk menggenggam tangan Dara, tetapi tidak bisa lakukannya karena dengan cepat Dara menarik tangannya dan melingkarkannya pada lengan Ardi.


“Semoga Kak Farhan suka dengan hadiah dari kami,” ucap Dara seraya merapatkan tubuhnya pada lengan Ardi.


“Tentu! Aku menyapa tamu yang lain dulu ya. Ardi, ajak istrimu menyicipi hidangan yang sudah kami siapkan untuk kalian.”


Farhan berlalu tanpa menoleh ke belakang sekalipun. Tiba-tiba telinga Dara seperti tergelitik oleh suara seorang wanita yang memanggil nama suaminya dengan begitu manja.


“Pak Seno! Kebetulan sekali, saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda di sini,” ucap wanita bergaun ungu.


“Maaf, Anda siapa?” tanya Ardi bingung.


“Anda tidak mengingat saya?” tanya balik wanita itu. “Saya Meli, sekretarisnya Pak Wawan. Saya ke sini mewakili pak Direktur yang berhalangan hadir,” lanjutnya.

__ADS_1


Pengagum Kak Ardi yang kesekian. Bulu kudukku rasanya berdiri semua saat mendengar nadanya berbicara. Padahal aku yang istri sahnya saja tidak pernah memanggil suamiku dengan nada begitu manja, batin Dara.


__ADS_2