Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.80


__ADS_3

Hari yang berbahagia pun telah tiba.


Keluarga Pak Adit dan Pak Malik sudah bergegas menuju hotel sejak dini hari. Mereka mempersiapkan diri untuk menyambut upacara yang sakral, termasuk dengan kedua mempelai yang sudah mulai bersiap.


Kedua keluarga besar menggunakan pakaian dengan warna yang senada. Untuk perempuan menggunakan busana dengan warna ungu pastel, sedangkan para lelaki menggunakan kemeja warna senada dipadukan dengan jas hitam.


April sudah siap dengan riasannya. Sambil menggendong baby El disalah satu lengannya dia menghampiri kamar dimana Dara sedang di rias.


" Gimana perasaanmu, Ra?" ucap April, memandangi pantulan wajah Dara di cermin.


" Tadi sih sebelum dirias biasa aja. Tapi setelah bedak dan kawan-kawan nempel di pipi, terus ganti baju, terus rambut mulai dicepol, pakai siger rasa deg-degannya terus meningkat, Mba," kata Dara, muka gugupnya semakin terlihat.


" Biasa itu, Ra. Nanti kalau udah selesai ijab juga plong. Tenang aja. Orang sebelah juga gak kalah deg-degannya dari kamu, Ra."


" Iya, Mba. Semoga kak Ardi juga bisa mengatasi rasa gugupnya dan lancar ucapinnya. Satu tarikan nafas selesai."


" Aamiin," ucap mereka berbarengan.


Acara segera dimulai. Keluarga Pak Adit beserta rombongan sudah siap dengan barang hantarannya. Dengan didampingi kedua orang tuanya, pengantin pria memasuki ballroom hotel.


Kedatangan mempelai pria disambut oleh empat orang penari pria yang melenggak-lenggokan badannya dengan gagah sepajang jalan menuju tempat ijab kabul.


Dengan wajah tegang, Ardi terus menatap matanya ke depan. Dia sama sekali tidak melirik ke kanan ataupun ke kiri. Dengan permen yang terus diemutnya, ia mencoba menghilangkan rasa gugup yang sedang bersarang dalam dirinya.


Bapak penghulu dengan didampingi Pak Malik sudah duduk dihadapan Ardi, sedangkan Pak Wawan dan Doni duduk di meja saksi.


" Ayo, Ra. Ardi sudah duduk di kursi eksekusi," ucap April sembari menitipkan baby El ke bi Odah.

__ADS_1


" Ya ampun, Mba. Emang kak Ardi mau disidang?" celetuk Dara.


" Sudah..sudah.. Ayo mama dan mba April anter kamu ke dalam," kata Mama Tika.


Dara pun memasuki ruang pesta dengan didampingi oleh mama Tika dan April. Lalu mereka mendudukannya di samping Ardi.


" Kenapa mas Doni ada disini? Mas Doni gak bermaksud untuk merusak acara ini kan? Mas Doni gak bermaksud untuk mengerjai kak Ardi sehingga dia harus mengulanginya sampai 3 kali kan?" batin Dara.


Otaknya entah melayang kemana. Dia membayangkan Doni habis-habisan mengerjai calon suaminya. Di dalam lamunannya Doni selalu mengucapkan kata "TIDAK SAH!" setelah Ardi melafazkan kalimat ijab qobul.


" Gak! Gak boleh terjadi! Aku harus pastiin sendiri mas Doni gak bakal ngelakuin hal itu," batin Dara.


" Baik, Nak Ardi. Sekarang nak Ardi genggam tangan Pak Malik. Setelah Pak Malik menggoyangkan tangannya, nak Ardi bisa langsung mengucapkan kalimat yang sudah tertulis di kertas di hadapan, nak Ardi. Bagaimana sudah siap?" kata Pak Penghulu.


Pak Malik ingin menikahkan sendiri anak gadisnya itu, tanpa diwakilkan oleh penghulu.


" Insya Allah siap," jawab Ardi.


Dan Pak Malik pun mulai mengucapkan bagiannya. " Bismillahirahmanirahim.. Ananda Seno Ardibratha, Papa nikahkan putri kandung papa yang bernama Dara Amelia kepada engkau dengan mas kawin cincin berlian dan uang tunai senilai 20 juta 190 ribu rupiah dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinnya Dara Amelia binti Malik Irham Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Ardi dalam sekali tarikan nafas.


" Bagaimana para saksi? Sah?" kata Pak Penghulu.


" Sah!" ujar Pak Wawan dan Doni secara bergantian.


" Apa? Mas Doni bilang Sah? Aku gak salah dengerkan? Mas Doni gak lagi bercandakan?" batin Dara, masih tidak bisa percaya dengan apa yang netra dan telinganya tangkap.

__ADS_1


" Alhamdulillah," ucap Pak Penghulu.


Dan acara akadpun ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Penghulu. Selesai menandatangani buku kecil berwarna merah hati untuk suami dan warna hijau untuk istri, Dara mencium tangan sang suami. Dan Ardi membalasanya dengan mencium kening Dara.


Suasana yang haru menyelimuti hati kedua orang perempuan yang telah merawat mereka sedari kecil. Mama Tika dan Ibu Heni menyeka air matanya dengan tisu yang sudah mereka siapkan sedari tadi.


Beralih keacara sungkeman, Dara menumpahkan semua rasa harunya dalam pelukan sang mama. Iringan narasi dari MC membuatnya semakin terhanyut dalam suasana. Begitu juga dengan mama Tika, dia pun membalas pelukan anak gadisnya dengan erat. Papa Malik yang selama ini jarang mengutarakan rasa sayangnya kepada anak-anaknya kali ini dia terus menggaungkan kata-kata itu di telinga anak gadisnya.


Ketika sungkeman Papa Malik memberikan wejangannya pada Ardi dengan terus memeluk tubuh lelaki gagah itu. " Papa titip Dara ya, Di. Jaga dia baik-baik sebagaimana janjimu kemarin. Jika ada perselisihan, beda pendapat itu hal biasa. Itu bumbu dalam berumah tangga. Hanya saja perselisihan itu jangan sampai tercium dari balik pintu kamar. Kamu pahamkan maksud papa?"


" Iya, Pah."


" Berbahagia selalu ya, Nak," kata Papa Malik menepuk bahu Ardi.


Segala rangkaian upacara adatpun telah dijalani. Kini Dara berganti gaun yang sudah sangat dia idam-idamkan. Sebuah gaun putih berlengan panjang dengan detail kain lace dibagian punggungnya. Sungguh menampakan keanggunan dari seorang wanita yang pecicilan seperti Dara.


" Bella Swan kalah cantik dari istriku," komentar Ardi.


Dara yang sedang mengandeng lengan Ardi untuk berjalan kembali ke ballroom hanya bisa tersipu malu mendengar pujian yang keluar dari mulut suaminya.


" Sungguh pasangan yang sangat serasi ya. Perempuannya cantik, laki-lakinya ganteng. Pasti keturunannya bakal cantik sama ganteng juga nanti," ucap salah satu tamu undangan.


" Eh, Bu. Bukannya ini terlalu cepat ya. Ngerasa gak sih kalau acara ini dibikin buru-buru. Jangan-jangan dibalik perutnya yang rata sudah ada benih yang tertanam," komentar tamu yang lainnya.


" Bener! Apalagi dengan status Ardi sebagai pewaris tunggal BR group, pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar. Jadi dia pakai segala cara biar bisa dinikahin," celetuk tamu lainnya.


" Iya ya, Bu. Benar juga itu. Kalo gak salah persiapan lamaran sampai nikah itu gak ada satu minggu deh.. Bisa jadi seperti itu. Sudah ada depositonya duluan. Hehehe.." timpal ibu-ibu tamu undangan yang lain.

__ADS_1


Eyang yang tidak sengaja mendengar obrolan ibu-ibu itu dia pun merasa geram. Beliau pun langsung memanggil cucu perempuan kesayangannya.


" Lia! Lia!" teriak Eyang dengan sengaja agar didengar oleh ibu-ibu penggosip itu. " Hari ini neng Dara cantik banget jiga bidadari yah. Beruntung banget eyang punya cucu menantu seperti dia. Mana orangnya santun, baik dan juga berpendidikan. Gak kaya anak gadis jaman now yang katanya kekinian dengan pakaian yang serba kurang bahan. Makanya Eyang pengen Ardi buru-buru nikahin Dara biar gak diambil orang. Karena Eyang yakin pasti diluar sana banyak yang mau sama Dara. Gak aneh juga kalau ada orang yang sirik sama dia bikin gosip ini itu, karena dia merasa cemburu dan tidak bisa menyamai Dara untuk mendapatkan suami seperti Ardi. Mereka memang pasangan yang paling sempurna di tahun ini."


__ADS_2