
Gluk! Bu Yanti meminum air mineral langsung dari botolnya.
Sekarang mereka duduk di dalam mobil Bu Yanti di kursi penumpang bagian tengah dengan kedua pintu kanan kirinya terbuka. Kedua bodyguard berdiri di samping kanan kiri dekat pintu yang terbuka itu.
" Ra, terima kasih untuk kasih sayang yang kamu berikan ke Putri." Kata Bu Yanti.
" Aku tahu, akhir-akhir ini aku sangat keras terhadapnya terlebih ketika ayah Putri yang semakin menekanku."
Dara hanya membalasnya dengan senyuman dan belaian di punggung tangan Bu Yanti.
" Aku hanya ingin berpesan kepadamu, Ra. Jangan sampai masa lalumu merusak masa depanmu! Aku yakin setiap orang punya masa lalu entah itu baik ataupun buruk. Tetapi jika masa lalu itu mulai datang kembali sebaiknya jangan pernah membiarkannya dia masuk ke kehidupan kita yang sekarang tanpa kita tahu betul apa maksud dan tujuan yang sebenarnya."
" Tapi, bukankah setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan yang kedua? Dan setiap orang berhak untuk berubah menjadi lebih baik?"
" Memang benar, Ra. Tidak ada salahnya dengan kesempatan yang kedua. Tetapi, apakah dia akan mempergunakan kesempatan itu sebaiknya? atau justru dia akan menyianyiakannya?"
Dara terdiam.
" Apa kamu telah membiarkan masa lalumu masuk kembali? Dengan perkataan manis kalau dia akan berubah menjadi yang lebih baik? Sedangkan kamu sendiri tahu betul sifatnya yang terdahulu."
Dara menunduk. Dara merasa ditampar oleh Bu Yanti. Ini yang sekarang tengah terjadi pada diri Dara. Dengan sikap Dara yang selalu berusaha positif thinking pada setiap orang, ternyata inilah yang dimanfaatkan oleh Fandi.
" Belum terlambat, Ra. Buatlah jarak yang jelas diantar kalian berdua. Jika memang dia ingin berubah menjadi yang lebih baik pasti Tuhan akan menunjukannya. Tetapi jika tidak, pasti dari sekarangpun sudah sangat terlihat."
Dara mengangkat kepalanya, menatap Bu Yanti.
" Inikah Bu Bos yang paling disegani olehku dan yang lain. Inikah dia yang suara sepatunya saja membuat kita langsung jantungan. Benarkah ini dia? Inikah dia yang sebenarnya?" batin Dara
" Terima kasih, Bu..untuk sarannya."
" Aku hanya ingin, kamu tidak merasakan hal yang sama sepertiku. Termakan janji manis sang mantan."
Brooom! Ckiiitt! Suara mobil mendekat dan berhenti didekat mereka.
Seseorang membuka pintu dan keluar dari dalam mobil itu. Bu Yanti melihat kaki mungil yang turun setelah pria berjas hitam.
" Putri!" Ucap Bu Yanti.
Seketika Dara pun membalikkan badannya ingin memastikan apa yang dilihat oleh Bu Yanti.
" Momy..Momy.."
Bu Yanti berlari menghampiri putri kecilnya. Dia sangat ingin memeluk dan menciumnya. Ingin rasanya dia menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang tanpa henti.
__ADS_1
" Putri..My little princess." Bu Yanti berlutut dan memeluknya.
" Momy..He is not my Daddy, He is a monster! He is a monster! I dont want meet him anymore..Hiks..hiks.."
" No honey! You save now! You with me. Always with me. I love you honey..Cup..cup..cup.." Bu Yanti mendaratkan beberapa ciuman diwajah mungil Putri.
Dara berjalan menghampiri Putri dan Bu Yanti. Tetapi, dia merasa janggal. Seperti ada yang kurang. Iya benar. Kemana Mas Rizal dan Kak Ardi?
" Bu Yanti, Pesan dari Pak Rizal. Anda silahkan beristirahat dulu dan tunggu panggilan dari kami. Teman saya nanti akan mengantar Anda dan putri Anda sampai rumah. Dan satu lagi, Kami harap Anda tidak menyalahi kepercayaan kami dan melarikan diri." Kata salah satu dari bodyguard itu.
" Baik. Terima kasih. Saya tidak akan menghianati Pak Rizal. Dia sudah membantu saya menyelamatkan Putri. Dan saya akan terima semua konsekuensinya seperti yang saya bilang sebelumnya."
Dara mengedarkan pandangannya memastikan dimana keberadaan Rizal dan Ardi. Tetapi, tetap saja dia tidak menemukannya.
" Dimana Mas Rizal dan Kak Ardi? " Tanya Dara yang mulai panik.
" Pak Rizal sedang mengantar Pak Ardi ke rumah sakit terdekat. Pak Ardi terkena luka tembak." Jawab bodyguard itu.
" Apa? " Seketika kaki Dara lemas.
" Queen..!" Putri menghampiri Dara.
" Queen..Uncle King save me..That monster shoot King with gun."
Dara menegakkan badannya.
" Antar aku kesana cepat!"
" Silahkan masuk ke mobil, kami langsung antar Bu Dara ke rumah sakit." Ucap bodyguard itu.
" Putri..Bu Yanti..aku pergi dulu ya.."
" Yang tenang, Ra. Aku yakin semua baik-baik saja." Kata Bu Yanti.
" Hmm.." Dara mengangguk.
Dara masuk ke dalam mobil. Dengan didampingi dua orang bodyguard dikursi depan, mobil mereka melaju ke rumah sakit.
Dalam perjalanan kata-ka5ta Bu Yanti tentang batas yang jelas selalu terngiang-ngiang di telingan Dara. Fandi telah masuk kedalam dunia barunya Dara, dan selalu menempel juga memberikan perhatian lebih yang dirasa olehnya itu terlalu dibuat-buat. Dara baru menyadarinya sekarang.
" Baiklah! Setelah aku tahu bagaimana keadaan kak Ardi, aku akan langsung menegaskan batasan yang jelas diantara aku dan Fandi." batin Dara.
Drrtt! Drrrt! Drrtt! Ponsel Dara berdering. Panggilan masuk dari Rizal.
__ADS_1
" Halo, Ra! Kamu dimana?"
" Iya, Mas. Aku lagi dijalan sebentar lagi nyampe. Kenapa Mas?"
" Yudah, kamu cepetan kesini ya! Ke ruang VIP anyelir 3. Cepetan! Bila perlu sopirnya suruh ngebut! Keadaannya gawat!"
" Gawat? Apanya yang gawat? Halo Mas Rizal..Halo.."
Tut! Tut! Tut! Sambungan telpon terputus.
" Pak cepetan! Kata Mas Rizal ngebut! " Dara mulai panik.
" Iya, Bu. Tapi ini gak bisa, terlalu berbahaya ngebut dalam kondisinya seperti ini. Jalanan rame, Bu. Tenang saja Bu..sebentar lagi kita sampai."
Benar saja tidak sampai lima belas menit mereka sudah tiba di rumah sakit yang dimaksud. Setelah mobil memasuki area rumah sakit, Dara langsung berhambur keluar mobil berlari memasuki ruang lobby. Dia bertanya pada salah satu resepsionis disana untuk menanyakan dimana letak ruangan yang Rizal sebutkan tadi.
Setelah mendapatkan informasinya Dara berlari menuju lift. Ternyata liftnya penuh. Dara memutuskan menggunakan tangga untuk pergi ketempat yang dituju.
Sesampainya dilantai tiga, Dara kembali bertanya pada salah satu perawat disana.
" Dimana ruangan VIP anyelir ?"
" Itu kak. Kakak tinggal masuk kelorong sebelah kanan. Disitu semua ruangan VIP."
" Terima kasih." Dara mempercepat langkahnya.
Benar. Setelah memasuki lorong itu Dara melihat Mas Rizal yang berdiri lesu di depan sebuah kamar. Disampingnya juga ada bodyguard yang menemaninya disana.
" Mas Rizal!" Panggil Dara.
" Dara.." Ucap Rizal lirih.
" Kenapa Mas? Kenapa Mas Rizal ada diluar? Kak Ardi mana? " Suara Dara mulai serak.
" Dia...Dia ada didalam.." Jawabnya lirih.
VIP anyelir 3. Dara membaca nama ruangan itu yang tertempel diatas pintu.
Ceklek! Dara memasuki ruangan itu.
Dia melihat ada seseorang yang terbaring di atas tempat tidur yang sekujur tubuhnya tertutup kain putih. Dara berjalan mendekatinya dengan langkah gontai. Setelah sampai ditepi ranjang perlahan dia menarik kain yang menutupi wajah orang itu.
Tes! Tes! Bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi Dara.
__ADS_1
" Kak Ardi...Kak Ardi...Hiks..hiks.." Dara menangis.