Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 83


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


"Kak Ardi! Ayo kesini!" teriak Dara penuh dengan kegembiraan.


"Tunggu, Ra!" jawab Ardi, dengan langkah panjang mengejar Dara yang berlarian di bibir pantai.


Hap! Ardi memeluk pinggang ramping Dara dari arah belakang. Lalu diangkat dan diputar tubuh istrinya itu. Tawa bahagia menghiasi bibir mereka.


Splash! Splash! Ardi memercikkan air laut ke tubuh Dara.


"Kak, jangan! Nanti aku basah," kata Dara.


"Eh! Tapi kok jadi basah beneran?" batin Dara.


"Ra.. Dara sayang," panggil Ardi. "Ayo bangun, sudah pagi. Sesuai permintaanmu kalau belum juga bangun cipratin air. Katanya mau bangun pagi, mau siapkan sarapan spesial untukku. Ini sudah jam setengeh lima lho, sayang."


"Ah! Ternyata cuma mimpi." gerutu Dara dalam hati.


"Kak Ardi! Airnya kebanyakan, aku jadi basahkan. Sekalian aja mandiin aku," ketus Dara. "Lagian ini masih terlalu pagi, aku masih bisa tidur setengah jam lagi."


"Eh? Bener ya aku mandiin kamu," kata Ardi seraya mengangkat tubuh mungil istrinya itu, menyembunyikannya dalam lengan kokohnya.


"Ah! Kak Ardi lepasin!" Dara berontak.


"Katanya sekalian dimandiin, aku menjalankan sesuai perintah," cibir Ardi, yang terus membawa tubuh istrinya ke dalam kamar mandi.


Diletakkannya perlahan tubuh mungil istrinya diatas bathtub. Ardi menyetel kran agar suhu airnya terasa hangat.


Splash!


Ardi mengguyur tubuh Dara dengan shower. Lekukan tubuh Dara kini nampak dari balik baju tidurnya yang basah. Ardi menelan salivanya melihat gestur tubuh Dara.


Hawa dingin di pagi hari kini perlahan membakar hasrat di dalam tubuh sepasang kekasih yang di mabuk asmara. Perasaan saling mencintai dan saling menyayangi ingin mereka tumpahkan semua dalam bentuk sentuhan dan belaian mesra. Kamar mandi menjadi saksi bisu dari kisah cinta mereka.


Dara mendapati dirinya sudah kembali diatas kasur, dengan dada bidang Ardi sebagai bantalnya. Dalam kondisi setengah mengantuk Dara mencari kimono mandinya untuk menutupi tubuhnya yang polos.


Beberapa saat kemudian Dara keluar dari kamar mandi dengan rambut yang dibungkus oleh handuk. Dia duduk di depan meja riasnya, menggosok rambutnya yang basah hingga setengah mengering.


"Kak Ardi, ayo bangun," ucap Dara dari pinggir ranjang, mengusap lembut kepala suaminya. "Sudah setengah delapan, Kak. Bukannya hari ini kak Ardi sudah mulai ngantor lagi? Kalau tidak mandi sekarang nanti tidak sempat sarapan."


"Kalau sedikit terlambat, Ayah pasti ngertiin kok. Kan masih pengantin baru," ucap Ardi nyengir, masih menutup matanya rapat.

__ADS_1


"Jangan berlindung dibalik punggung Ayah! Ayo cepetan mandi!"


"Mandiin!" kata Ardi manja.


"Hah?" Muka Dara langsung memerah mengingat kejadian subuh tadi. "Mandi sendiri lebih cepat selesai. Ini sudah siang. Ayo bersiap ke kantor, Kak."


Ardi terkekeh melihat istrinya yang salah tingkah. Dara yang malu pergi ke depan lemari untuk berganti baju dan menyiapkan baju untuk suaminya. Setelah itu dengan buru-buru dia keluar dari kamarnya, menuruni tangga menuju dapur.


"Bu, aku bantu ya," kata Dara.


"Eh, sayang sudah bangun? Ayo sini bantuin Ibu siapin makanan untuk Ayah dan Ardi," kata Ibu dengan terus memasukan sayuran yang sudah dipotong-potong ke dalam panci.


"Masak apa, Bu?" tanya Dara, mengintip ke dalam panci.


"Sayur sop, kesukaan Ayah. Kalau makanan kesukaanmu apa, Ra? Nanti Ibu masakin buat kamu."


"Tapi sepertinya lebih bagus kalau Ibu ngajarin aku masak,"


"Benar sekali, sayang. Nanti sore kita masak untuk makan malam sekalian kamu belajar masak, gimana?"


"Boleh, Bu. Maaf ya, Bu. Tadinya pagi ini aku mau ikut bikin sarapan, tapi malah bangunnya kesiangan. Habis kak Ardinya sih membangunkanku dengan cipratan air jadi badanku basah, terus...." hampir saja Dara keceplosan, lalu dia langsung menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.


"Kenapa sayang? Ibu ngerti kok. Ibu juga memakluminya, kan Ibu juga pernah muda," kata Ibu, membuat Dara bersemu merah pipinya.


"Tidak ada, Yah. Hanya obrolan sesama perempuan," jawab Ibu, meletakkan kopi di depan Ayah. "Ra, kamu panggil Ardi untuk turun sarapan ya, Sayang."


"Iya, Bu." Dara menuju kamar suaminya.


Ardi ternyata sudah rapi dengan kemeja dan jas yang sudah disiapkan Dara sebelumnya.


"Kak, dipanggil Ibu untuk sarapan. Ayah juga sudah ada di meja makan," ucap Dara ketika membukanpintu kamarnya.


"Iya, Sayang. Aku juga sudah siap kok."


"Eh, sebentar Kak," ucap Dara memutar badan Ardi agar menghadap dia. "Dasinya sedikit miring, aku benahi dulu sebentar."


"Makasih ya, Ra."


"Kalau ada apa-apa jangan ragu minta bantuanku ya, Kak. Kak Ardi boleh kok bergantung padaku. Karena Kak Ardi sekarang adalah suamiku."


Cup! Bibir Ardi menyentuh dengan lembut kening Dara.

__ADS_1


"Iya, Istriku Sayang. Kamu juga kalau ada apa-apa bisa meminta bantuanku. Dan aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu. Kita berjuang sama-sama ya," kata Ardi.


"Iya, yuk kita turun ke bawah. Ayah dan Ibu sudah menunggu kita untuk sarapan bersama."


"Ayo!"


"Eh, tunggu sebentar, Kak. Aku mau minta ijin, boleh tidak aku pergi ke kantor?" tanya Dara.


"Ke kantor? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berhenti?"


"Iya, maka dari itu aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang tertunda, aku tidak ingin meninggalkan beban ke orang lain, paling tidak aku bisa meringankan beban mereka sedikit."


"Sebenarnya aku sudah bicara dengan Rizal tentang pengunduran dirimu, jadi pekerjaanmu yang lama pasti sudah ditangani oleh yang lain. Tapi, kalau kamu ingin pergi kesana untuk sekedar bermain silakan saja. Aku ijinkan."


"Benar, Kak? Terima kasih," ucap Dara seraya memeluk pinggang suaminya.


"Tapi, pulangnya jangan terlalu sore ya. Sebelum aku pulang kamu sudah ada di rumah," kata Ardi mendongakan kepala Dara dengan mendorong dagunya ke atas.


"Siap laksanakan, Pak!"


Cup! Ardi menempelkan bibirnya ke bibir Dara, dia merasa gemas dengan tingkah istrinya itu.


"Ayo, kita segera turun ke bawah. Aku takut kalau kamu terlalu lama memelukku seperti ini bisa-bisa aku malas pergi ke kantor, dan menarikmu kembali keatas ranjang," goda Ardi.


"Kak Ardi!" pekik Dara malu, pipinya merona merah. "Ya sudah, kak Ardi keluar dulu sana. Aku mau ganti mau baju." ucap Dara seraya mendorong punggung suaminya hingga keluar pintu.


Lagi. Ardi merasa sangat lucu melihat tingkah Dara yang begitu malu-malu kepadanya. Dia memandang pintu kamar yang sudah tertutup itu dengan tertawa kecil.


Ibu Heni dan Ayah Adit sudah menanti pasangan baru ini turun ke bawah untuk menikmati sarapan bersama mereka.


"Di, istri kamu mana?" tanya ibu Heni.


"Lagi ganti baju, Bu. Katanya mau ke kantor mau menyelesaikan beberapa pekerjaan yang ditinggal kemarin," terang Ardi.


"Tapi, bukannya kamu sudah mengurus pengunduran dirinya? Sama siapa itu kakak sepupunya Dara? Ayah lupa," tukas Ayah.


"Rizal. Iya sudah, Yah. Mungkin sekalian dia mau pamitan sama teman-temannya. Itu anaknya turun," kata Ardi menunjuk Dara dengan dagunya yang sedang menuruni anak tangga.


"Ayah, Ibu, Dara pamit ke kantor sebentar ya," kata Dara sambil mengambil kursi di sebelah Ardi.


"Iya, sayang. Hati-hati ya. Tapi sekarang sarapan dulu, biar ada tenaganya," kata ibu Heni.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapannya Dara diantar oleh Ardi ke kantor cabang dimana Dara pernah bekerja sebelumnya.


__ADS_2