
Dara sedang duduk di depan meja riasnya sekarang. Dia mengompres kantong matanya dengan sendok yang sudah dia dinginkan dalam kulkas. Semalam karena perasaan tidak senangnya itu, dia tidak bisa tidur nyenyak. Sehingga dia harus melakukan treatmen itu pada kantong bawah matanya.
Di dalam riasannya pun dia menambahkan sedikit banyak conceller di bawah matanya agar menyamarkan warna kantung matanya.
" Ok! It's done." Dara menutup lipcream yang baru saja selesai dia pulaskan di atas bibirnya. " Sekarang tinggal nunggu jemputan dari Iqbal," sambung Dara.
Setelah memasukan ponsel ke dalam tas jinjingnya, Dara keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga lalu bergabung dengan kedua orangtuanya dan juga mba April yang sedang menyuapi baby El.
" Hai, keponakan tante yang ganteng," sapa Dara pada baby El seraya mencubit gemas pipinya.
" Hai juga tante cantik," jawab April menirukan suara anak kecil.
Baby El hanya tertawa dan memukul-mukul meja makannya dengan kedua tangannya.
" Mau sarapan dulu sayang?" tanya Mama Tika.
" Gak usah, Mah. Nanti aja," tolak Dara.
" Memang Iqbal mau jemput kamu jam berapa?" tanya Papa Malik.
" Paling bentar lagi, Pah. Kan acara konfrensi persnya jam 8," jawab Dara.
" Hati-hati ya sayang, wartawan kadang suka memplintir kata-kata hanya untuk mencari berita yang sensasional. Kamu serahkan saja semua sama Ardi, biarkan dia yang menjawab semua pertanyaan dari mereka. Karena Ardi pasti tahu bagaimana cara menghadapi para pembuat berita itu," terang Papa Malik.
" Iya, Pah. Aku gak akan ngomong satu patah katapun kalau kak Ardi belum memberi ijin."
" Ok! Papa percaya sama kamu."
Pak yogi datang dari arah belakang rumah untuk memberitahukan kedatangan Iqbal.
" Maaf, neng Dara. Itu jemputannya sudah datang," kata Pak Yogi dengan sedikit membungkukkan badannya.
" Oke pak Yogi, makasih ya..," ucap Dara.
" Yuk, papa anter ke depan. Sekalian papa juga mau berangkat," kata Papa Malik menyudahi sarapannya.
Dara diantar kedua orangtuanya menemui Iqbal yang sudah menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
" Selamat pagi, Pak Malik dan ibu Malik," sapa Iqbal.
" Selamat pagi, sudah mau jemput Dara?" tanya Papa Malik.
" Iya, Pak. Sebentar lagi acaranya akan dimulai."
" Kalau gitu, hati-hati nyetirnya ya. Gak usah ngebut."
" Siap, Pak."
" Pah, Mah, aku berangkat dulu ya." Dara pamit seraya mencium kedua punggung tangan orang tuanya.
" Hati-hati ya, sayang," kata Mama Tika.
" Saya permisi dulu, Pak, Bu," Iqbal berpamitan.
Iqbal membukakan pintu untuk Dara, lalu roda mobil pun mulai berputar meninggalkan kediaman Pak Malik.
Dara tiba di kantor pusat BR group dalam waktu kurang dari 30 menit. Mereka tidak menggunakan lobby utama untuk masuk ke dalam gedung itu, karena di sana sudah di penuhi oleh para pemburu berita.
" Ok!" jawab Dara singkat.
" Nona, silahkan," Iqbal membukakan pintu. " Pak Ardi sudah menunggu kita di ruangannya."
Dara berjalan di belakang Iqbal, kemudian mereka di dampingi dua orang berjas hitam yang sudah menunggunya di depan pintu lift.
Tok! Tok! Tok!
" Pak, nona Dara sudah datang," kata Iqbal dari balik pintu.
" Masuk!" jawab Ardi dari dalam ruangannya.
Ceklek! Dara dan Iqbal memasuki ruangan, sementara dua pria berjas hitam menunggu di depan pintu.
" Sebentar lagi kita turun," ucap Ardi yang terus menggoyangkan penanya di atas kertas. " Aku selesaikan sedikit pekerjaanku sebentar. Kamu duduk dulu."
Tanpa mengeluarkan kata, Dara membanting bokongnya ke atas sofa.
__ADS_1
" Bal, persiapan dibawah bagaimana?" tanya Ardi sembari menutup map file yang ada di depan mejanya.
" Persiapan semua sudah beres, Pak. Termasuk dari segi keamanan juga sudah siap. Pak Bambang sudah menebar semua orangnya di seluruh gedung ini."
" Ok! Aku gak mau ada kesalahan. Ayo kita kebawah." Ardi beranjak dari kursinya, menjulurkan tangannya ke Dara.
Dua sejoli ini bergandengan tangan selama menuju tempat konfrensi pers.
Cekrek! Cekrek! Cekrek! Blitz kamera bertebaran dimana-mana ketika Dara dan Ardi memasuki ruangan.
Dara menghentikan langkahnya. Dia menutupi matanya dengan salah satu lengannya. Dia merasa tidak nyaman dengan kilatan blitz, sangat menyilaukan baginya.
Ardi yang tahu ada rasa tidak nyaman dengan Dara, dia pun menggenggam lebih erat tangan calon istrinya itu. " Gak apa-apa, aku disini sama kamu."
Dara menjawabnya dengan anggukan disertai senyuman.
Mereka berjalan lagi menuju panggung yang sudah disiapkan. Sebuah meja panjang dengan beberapa kursi pun sudah disiapkan disana. Di atas meja panjang itu tergeletak beberapa mic dengan logo mereka masing-masing.
" Kasihan ya wakil Ceo, bukannya dia baru masuk minggu-minggu ini? Tapi sekarang di internet dipenuhi dengan beredarnya rumor kalau dia seorang hidung belang, padahal wajahnya sangat tampan ya," ucap salah satu pewarta.
" Sepertinya itu bukan rumor, tapi kenyataan. Buktinya sekarang dia menggandeng wanita lain. Udah bisa ditebak. Pasti dia menggunakan wajah gantengnya itu untuk menjerat para wanita," timpal wartawan yang lain.
" Mungkin wakil Ceo punya hubungan dengan Rina Rosa. Kalau gak ada apa-apa kenapa rumor ini bisa muncul? Lalu dari mana datangnya foto-foto itu," celetuk wartawan yang lainnya lagi.
" Tenang! Mohon tenang semua!" ucap Iqbal menggunakan mic. " Selamat pagi dan terima kasih untuk kehadirannya. Hari ini Pak Ardi, wakil Ceo kami akan memberikan klarifikasi mengenai berita yang beredar di masyarakat."
Ardi mengambil mic yang diberikan oleh Iqbal, " Para wartawan sekalian, saya adalah Seno Ardibratha. Wakil Ceo BR group yang baru. Saya mengundang kalian semua disini karena saya ingin mengklarifikasi rumor yang telah tersebar di internet."
" Pak Seno, apa benar Anda mempunyai hubungan spesial dengan bintang film baru itu? Dan benarkah di malam acara amal di hotel H, Anda memeluk Rina Rosa karena sedang merayunya?" tanya salah satu wartawan.
" Benar, malam itu saya memeluk Rina Rosa. Tapi tidak untuk merayunya, melainkan gerakan reflek karena dia akan jatuh karena kakinya terpeleset. Jika ada videonya bukan foto, maka kalian akan melihatnya dengan jelas," jawab Ardi.
" Kami punya informasi kalau Pak Seno sengaja mendekati Rina Rosa karena ingin merajut kembali cerita cinta yang pernah ada. Benarkah begitu, Pak?" tanya wartawan yang lain.
" Informasi dari mana itu?" suara Ardi agak meninggi. " Saya tidak ingin merajut cinta dengan wanita siapa pun. Kecuali... dengan wanita yang ada di samping saya sekarang."
Ardi melemparkan senyumannya ke arah Dara, begitu juga dengan sebaliknya. Sepasang kekasih yang sedang bertatapan dengan penuh cinta diabadikan oleh kamera para wartawan.
__ADS_1