
Dara meletakan bunga matahari buatan itu di dalam kardus. Lalu dia mengambil dua buah bunga mawar berwarna merah dan pink yang masing-masingnya dibungkus oleh plastik.
" Kalau gak salah ini dari dua sahabat itu."
Lagi-lagi Dara terbawa dalam lorong waktu.
" Dulu waktu SMA kelas 1 aku pernah bermain ke rumah salah satu teman sekelasku. Dan ternyata di rumahnya sedang kedatangan saudaranya dari jauh yaitu Iman dan sahabatnya Faizal. Entah bagaimana permulaannya ternyata mereka berdua menyukaiku. Sebelum mereka kembali pulang ke kotanya mereka berdua menitipkan surat cinta dan bunga mawar ini pada temanku itu. Sangkin bingungnya aku gak tahu pilih yang mana. Aku gak menyangka kalau aku begitu mempesona," gumam Dara sambil mengulum senyumnya.
" Iman memang tidak setampan Faisal. Dia hitam manis dan pandai bermain gitar. Sedangkan Faisal dia putih tinggi dan sangat fasih berbahasa inggris untuk seukuran anak SMA kelas 1. Karena hal itulah yang akhirnya aku lebih memilih Faisal ketimbang Iman. Tetapi seiringnya berjalan Faisal merasa tidak enak dengan sahabatnya, yaitu Iman. Maka dari itu hubungan kami pun selesai begitu saja."
Dara mengambil sebuah boneka di barisan ketiga rak buku itu.
" Sebagai kenang-kenangan dia memberiku boneka beruang kecil ini. Yang dia titipkan ke teman sekelasku itu. Kira-kira sekarang dia lagi ngapain ya? Lagi sibuk apa sekarang? Udah punya cewe atau udah menikah belum ya?"
Plak! Dara menepuk dahinya.
" Gak usah dipikirin! Sekarang aku udah punya kak Ardi dan lusa aku menikah dengannya. Stop mikir yang macem-macem."
" Mm... Apa lagi ya?" Dara mengedarkan pandangannya kesekeliling kamarnya. Mencari barang-barang yang lain yang harus dia musnahkan sebelum hari pernikahannya tiba.
" Oh iya! Aku ingat!" Dara kembali ke rak buku itu. Dia mencari sesuatu diantara tumpukan buku yang tersimpan dengan rapi.
" Ini dia." Dara menemukan sebuah buku agenda bersampul warna coklat. " Ini harus juga dimusnahkan. Tidak boleh kak Ardi menemukan ini. Tapi sebelum dibuang baca sebentar boleh kali ya."
Dara membuka buku agenda itu dan membacanya dari halaman pertama.
" Senin 10 Januari 2005. Untuk pertama kalinya aku bertemu lagi denganmu. Dari sekian banyak wanita entah kenapa aku tidak bisa melupakanmu. Dulu aku melihatmu dengan seragam merah putih, sekarang kamu sudah mengenakan putih abu. Gadis kecil yang aku kenal dulu kini sudah beranjak dewasa. Dan dia juga semakin cantik sekarang. Bisakah aku memilikimu, Dara Amelia? Seorang adik dari sahabat terbaikku, Doni."
__ADS_1
Dara membolak-balikan halaman agenda itu dengan masih mengulum senyumnya.
" Selasa, 18 Januari 2005. Sudah lebih dari satu minggu aku di Indonesia. Lusa aku harus kembali ke KL untuk mengurusi masalah perkuliahan. Dan hari ini aku memberanikan diri untuk menyatakan isi hatiku padanya. Aku sudah tidak kuat memendamnya ini sendiri. Dan aku pun sudah tidak memperdulikan lagi bagaimana sikap Doni kepadaku jika dia tahu aku mencintai adiknya. Akhirnya ketika kita pergi ke taman kota, aku mengatakan tiga kata itu padanya saat Rizal dan Doni pergi memesan makanan untuk kita. Seperti dugaanku dia sangat kaget dengan apa yang aku katakan. Dan sebelum dia menjawabnya Rizal dan Doni datang dengan membawa makanan di kedua tangannya. Kami berdua berusaha bersikap normal didepan kakak dan kakak sepupunya itu yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Sampai perjalanan pulangpun kita bersikap biasa saja. Dan sampai sekarang aku belum ada kesempatan lagi untuk menanyakan jawabannya. Besok aku akan mengulanginya lagi, bahkan bila perlu aku akan mengutarakannya di depan Doni."
" Rabu 19 Januari 2005. Aku mengulangi perkataanku yang semalam. Saat aku menjemputnya pulang sekolah. Diatas motor ketika berhenti di perempatan karena lampu merah. ' Ra, I love you. Maukah kamu jadi pacarku?' Aku melihat raut mukanya yang merah padam dari spion motor. Wajahnya sangat imut sekali. ' Ra, jawabannya gimana?' Aku meminta dia menjawabnya saat itu juga. Dan dengan muka tertunduk malu-malu dia menjawab ' Iya, aku mau.' Rasanya aku sangat bahagia sekali. Ingin rasanya aku memeluknya sekarang juga, tapi ini dijalan umum. Terima kasih, Ra sudah menerima cintaku dan mau jadi pacarku. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Itu janjiku."
Dara menutup agenda itu dengan kesal melemparnya dalam kardus.
" Pembohong! Janjimu palsu! Ternyata ketika kita LDRan kamu punya kekasih lagi di KL. Dan bodohnya aku saat itu mau-maunya aku diduain sama kamu."
Dara menangkupkan kedua tangannya dan mengusap-ngusapnya ke wajah.
" Hah!" Dara menghembuskan nafasnya kasar. " Udahlah semua sudah berlalu. Dan dikamar ini sudah tidak ada lagi barang-barang para mantan. Kalau gitu sekalian aja beresin baju yang udah gak kepakai lagi. Lumayan bisa disumbangin kalau ada yang mau."
Dara menjinjing kardus itu kedepan lemari bajunya. Dia memutar kuncinya dan membuka kedua pintu lemari itu sekaligus. Dipandanginya dari atas hingga kebawah isi lemari yang tertata rapi itu.
Dara menarik satu per satu baju dari lemari bagian bawah dengan penuh hati-hati agar bentuknya dan tatanannya tetap rapi.
" Ternyata banyak juga baju-baju kerjaku dulu dan semuanya masih bagus. Sangat disayangkan kalau hanya dijadikan sebagai penunggu lemari. Pasti diluaran sana masih banyak yang membutuhkan. Aku masukin ke kardus ini aja deh biar gampang ngambilnya kalau ada orang yang mau. Oh iya, biasanya bi Odah mencari baju-baju seperti ini buat dibawa ke kampung. Iya deh nanti aku kasih ke bi Odah aja."
Tiba-tiba raut Dara berubah ketika menemukan sebuah kemeja batik berwarna ungu. Ketika membuka lipatan baju itu terlihat sebuah lubang dibagian lengan atas. Cacat pada baju itu mengingatkan peristiwa yang sangat menyayat hati bagi Dara beberapa tahun lalu.
Flashback on
" Happy Anniversary yang pertama sayang," ucap Fandi sambil membuka penutup mata Dara.
Dara merasa takjub melihat kue tart dihadapannya yang bertuliskan ' Happy Anniversary ke 1 Fandi & Dara' .
__ADS_1
" Wah! Terima kasih ya sayang buat kejutannya. Cup!" Dara mencium pipi Fandi.
" Sama-sama sayang, sekarang kita tutup lilinnya terus kita potong kuenya."
Fuh! Secara berbarengan mereka meniup lilin itu. Lalu dengan bersamaan pula mereka memotong kue tartnya, dan menyuapi pasangannya dari mulut ke mulut.
Awalnya biasa saja hanya sebuah kecupan kecil dibibir Dara, tapi tiba-tiba Fandi mendorong Dara ketembok, dia menghimpitnya disana. Dara yang masih sadar tahu kalau ini adalah salah. Dia terus memberontak hingga salah satu lengan bajunya robek.
Dengan sekuat tenaga Dara mendorong tapi tenaga Fandi terlalu kuat, hingga akhirnya dengan menggunakan lututnya dia meninju bagian vital laki-laki itu.
" Aw! Dara! Apa yang kamu lakukan?" kata Fandi terbungkuk-bungkuk menahan kesakitan di daerah intimnya.
" Justru aku yang harus tanya sama kamu. Apa yang barusan kamu lakukan ke aku?" tanya Dara kesal.
" Aku sayang sama kamu, Ra. Ini hari anniversary kita."
" Iya, lalu?"
" Aku sayang sama kamu, Ra. Aku hanya ingin nunjukin ke kamu bagaimana besarnya rasa sayang aku ke kamu."
" Jadi, menurut kamu rasa sayang itu harus ditunjukan dengan cara itu?"
" I-iya, dengan begitu hubungan kita akan semakin erat, Ra. Dan kita tidak akan pernah terpisahkan."
" Bodoh! Jika kamu sayang sama aku, seharusnya kamu jaga aku. BUKAN MERUSAK AKU!! AKU MAU KITA PUTUS"
Dara segera berlari dengan deraian air mata. Fandi yang merasa bodoh dengan tindakannya dia hanya berteriak dan menjambak rambutnya.
__ADS_1
Flashback off