
Ciip ! Ciip ! Ciip ! Burung-burung bernyanyi menyambut sang surya yang mulai menampakkan semburat cahayanya.
Dara beserta Novi, Eka, dan Irma sedang bersiap untuk melakukan joging pagi. Mereka tidak ingin membuang kesempatan untuk menikmati udara puncak yang segar.
" Nov, udah selesai belum ? Lama nih di kamar mandinya.." Teriak Eka dari depan pintu kamar mandi.
" Iya ini udah selesai..sabar dikit ngapa sih.." Jawab Novi dari dalam kamar mandi.
Dok ! Dok ! Dok ! Eka menggedor pintu tak sabar.
" Buruan..entar keburu gak dapet sunrisenya..Kan gak lucu udah bangun dari subuh tapi gagal lihat sunrise. Ayo buruan, Nov !
" Iya..! Iya..! " Novi akhirnya keluar dari kamar mandi dengan muka kesal.
" Perut gue masih mules tahu ! " Novi memegangi perutnya.
" Udah, bawa jalan aja sapa tahu lama kelamaan hilang. " Kata Dara sambil mengikat tali sepatunya.
" Kalo gak, nanti pas dijalan ketemu batu lu ambil dan kantongin. Itu salah satu obat mujarab penahan sakit perut. " Irma mengangkat kedua jempolnya.
" Ah ! Rese lu semua. Hayuklah kita berangkat. " Jawab Novi sedikit kesal.
Empat sekawan ini berjalan keluar kamar. Dara yang keluar paling belakang tak lupa dia menutup pintunya. Ketika hendak berjalan keluar dari paviliun mereka sontak menghentikan langkahnya.
Mereka melihat Ardi sedang tidur disebuah sofa panjang diruang tamu paviliun itu. Dara memandanginya dengan penuh tanya.
" Kak Ardi. Kenapa dia tidur disitu ? Kenapa dia tidak tidur dikamarnya ? Apa yang membuatnya tidur disini ? Dan...tanpa selimut pula. Bukankah cuaca disini dingin ? Kalau nanti dia masuk angin bagaimana ? Ah ! Bukan urusanku. Itu salah dia sendiri kenapa tidak tidur di kamarnya yang nyaman. " batin Dara.
" Eh, Bro ! Kok Pak Seno tidur disitu ? " Eka bertanya pada salah satu teman lelakinya yang kebetulan baru masuk kedalam paviliun.
__ADS_1
" Oh ! Semalem katanya gak bisa tidur gara-gara abis mimpi serem. Terus dia kesini dengan membawa beberapa kaleng minuman bersoda. Dia main dan ngobrol sama kita-kita. Tapi gak lama dia bilang udah ngantuk dan disuruh balik ke kamarnya gak mau. Katanya takut mimpi serem lagi, jadi dia tidur disitu deh. " Jawab lelaki itu.
" Ok ! Bro thanks. " Jawab Eka singkat dan lelaki itu pun pergi.
Dara sudah kembali dari kamar membawakan selimut. Ternyata apa yang ada di hati dan di otak dia sangatlah berbeda. Dia khawatir kak Ardi sakit maka dia pun menyelimuti tubuh yang masih meringkuk di sofa panjang.
" Eemmm.." Ardi bergerak.
Dara langsung melangkah mundur kebelakang. Dia mengisyaratkan kepada teman-temannya untuk segera keluar dan melanjutkan rencana joging pagi.
Hidung Ardi mengendus. Dia merasa familiar dengan bau itu.
" Wangi parfum Dara. " batin Ardi.
Dia langsung membuka matanya dan melihat selimut yang menutupi tubuhnya. Dia merubah posisi tubuhnya. Sekarang dia duduk dengan punggung menyandar pada sofa.
Diambilnya selimut itu lalu ditempelkan ke hidung. Dia mengendusnya lagi.
" Kalau selimutnya disini, terus orangnya dimana ? " Ardi mengedarkan matanya didalam paviliun itu tapi tidak ada.
Ardi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Dia mencoba mencarinya diluar tapi tetap tidak ada. Dia akhirnya memutuskan pergi ke bangunan villa utama.
Sekarang Ardi sudah ada di dalam kamarnya. Mencuci mukanya untuk menghilangkan kantuk sejenak. Dia mengganti pakaiannya dengan sweater jaket warna abu-abu dan celana olahraga wana putih serta sepatu warna putih.
Ardi juga tidak mau menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bermalas-malasan disana. Udara disini sangat sejuk berbeda sekali dengan udara di ibukota yang terlalu banyak asap kenalpot dan juga polusi suara.
Ardi berlari kecil mengitari taman, lalu dia berlari menuju belakang vila. Dia dengar dari pelayannya kalau ada beberapa orang perempuan dan anak band yang semalam mengisi acara berjalan kearah sini. Dan ternyata itu memang mereka.
Ardi menambah kecepatan larinya. Dia ingin menyusul rombongan yang sedang berjalan di depannya. Tapi tiba-tiba mereka berbelok kesebuah jalan setapak yang menembus ke hutan.
__ADS_1
Ardi semakin menambah kecepatan larinya. Dia tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada orang yang dicintainya. Ternyata ketika sedang berbelok salah satu dari anak band yang berjalan paling belakang melihat Ardi yang berlari ke arah mereka.
" Eh ! Sepertinya ada yang berusaha mengejar kita ! " Kata salah satu personil band itu.
" Masa sih ? Mungkin itu temen kantor yang lain. Mau ikutan jalan-jalan juga. Menikmati udara segar. " Jawab Eka.
Irma menurunkan kecepatan jalannya. Dia ingin tahu siapa yang mengikutinya. Dari postur tubuhnya itu adalah Uncle Kingnya Putri.
" Pak Seno ! " Kata Irma
" Ra, Pak Seno disini ngejar kita. "
" Apa ? " Jawab Dara kaget.
Karena jalanan setapak itu sangat sempit lebarnya hanya sekitar tiga puluh senti membuat Dara tidak bisa berbalik arah. Dia hanya bisa terus berjalan kedepan mengikuti arus jalan teman-temannya.
" Ini jalannya bener gak Fan ? Kok ini jalannya nembuh hutan gini. Mana samping kanan kirinya pohon bambu lagi. Takut nih.. " Kata Novi yang memang berjalan tepat dibelakang Fandy.
" Iya, tenang ajah ! Bener kok..kalian gak bakal gue sesatin. Percaya deh...Sini pegang tangan gue biar gak takut lagi. " Fandy mengayunkan tangannya ke belakang dan benar Novi langsung menggenggam tangan Fandy.
" Fan, kok niat banget bawa tas segala. Kaya anak TK lagi mau piknik tahu ga.. Emang isinya apaan ? Bom yak ? " Ledek Novi.
" Adalah...isinya perbekalan donk..Biar kata naik dikit doang kan tetep harus bawa bekel..walau cuma air minum doang..yang namanya pendaki pasti dia selalu siap sedia bawa perbekalan. " Jelas Fandy
Dara masih membisu. Karena sebenarnya dia tidak ingin mengikuti Fandy dan personil bandnya. Dia merasa hatinya telah menghianati Ardi, terlebih semalam Ardi meninggalkannya begitu saja ketika Dara memutuskan untuk memulai kembali hubungan dengan nama pertemanan bersama Fandy.
Setelah melewati jalan setapak itu akhirnya mereka menemukan sebuah tanah yang lapang. Di depan sana mereka bisa melihat bukit-bukit hijau yang berbaris rapi disusun oleh alam. Kabut tipis pun masih menyelimuti area itu menambah kesan sejuk dan asri.
Dara menunggu Ardi dan Irma yang masih tertinggal dibelakang. Tak berapa lama akhirnya mereka pun muncul dari jalan setapak yang terhimpit pohon bambu.
__ADS_1
Tepat di depan Dara, Ardi membungkukan badannya dengan kedua tangan diatas lututnya. Nafasnya tersengal-sengal dan bulir-bulir keringat pun sudah mulai membasahi sebagian wajahnya.
Dara menekuk bibirnya rapat-rapat menahan tawa. Memang sangat berbeda antara Ardi dan Fandy. Fandy yang terbilang sering mendaki gunung merupakan hal sepele untuk melakukan jalan pagi ini. Tetapi untuk seorang Ardi yang notabene dia adalah pekerja kantoran, ini sangat menguras tenaga. Apalagi tadi dia berlari di jalan yang menanjak.