Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.41


__ADS_3

" Pak Ardi!..Pak Ardi gimana kabarnya sekarang?" Kata Iqbal yang tiba-tiba masuk ke kamar rawat VIP itu dengan muka panik.


" Aku baik-baik saja." Jawab Ardi santai.


" Apa betul, Pak?"


" Iya!"


" Syukurlah kalau begitu." Iqbal mulai tenang.


" Oiyah..Tuan dan Nyonya juga sedang dalam perjalan pulang dari kota S menuju kesini, Pak."


" Apa?" Ardi tersentak langsung bangun dari posisi tidur.


" Aw!" Gerakannya yang tiba-tiba membuat lukanya kembali mengeluarkan cairan merahnya.


" Hati-hati..." Dara dengan sigap menopang bahu Ardi.


Sekarang Ardi sudah dalam posisi duduk menyandar. Dara telah mengatur posisi ranjang Ardi dengan menekan tombol yang ada dibagian samping tempat tidur.


" Kamu telpon ayah dan ibu ku?" Tanya Ardi kesal.


" Maaf, Pak. Soalnya tadi Tuan menelpon saya menanyakan kabar Anda dan saya panik dengan kondisi Anda jadi kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut saya, Pak. Maaf kan saya, Pak." Iqbal membungkukkan badannya.


" Ya sudah.. Kamu bisa pergi dari ruangan ini. Telpon lagi ayah dan ibuku... Katakan pada mereka kalau...."


Drrtt! Drrtt! Drrtt! Ponsel Iqbal berdering.


" Tuan menelpon, Pak..." Iqbal memberikan benda pipih itu ke Ardi.


Tut! Ardi menggeser tombol hijau.


" Halo...ayah.."


" Ardi! Gimana kabar kamu sekarang, nak? Bilang sama ayah siapa yang melakukannya ? Ayah akan mengutus Pak Bambang untuk menemukan orang itu dan memberikan pelajaran yang setimpal."


" Tidak perlu ayah. Aku baik-baik saja. Dan orang itu juga sudah masuk ke hotel prodeo sekarang."


" Syukurlah kalau begitu. Ayah dan ibumu baru saja keluar dari bandara. Sebentar lagi kami kesana. Tunggu kami sebentar lagi ya, Nak."


" Iya ayah. Hati-hati di jalan."


Tut! Sambungan telpon terputus. Ardi langsung mengembalikan ponsel Iqbal.


" Bal, bantu aku cari makan yuk. Laper, nih.." Kata Rizal sembari merangkul bahu Iqbal.


" Tapi bagaimana dengan Pak Ardi?"


" Tenang aja! Ada Dara yang jagain, nanti kita sekalian bungkusin aja buat Dara, Ardi dan manusia super yang jaga di depan pintu."


Ting! Rizal mengerlingkan matanya seraya memberi kode ke Ardi.


" Iqbal, tolong bawakan aku jus alpukat ya."


" Siap, Pak. Ada tambahan yang lain? Dara, kamu mau dibawain apa?"


" Tidak usah! Terima kasih." Jawab Dara dengan tersenyum.


" Hadduuuhh..senyumnya kok manis banget sih.." gumam Iqbal.


" Yuk ah! Kita tinggal dulu bentar ya..Bye..." Kata Rizal sembari menyeret Iqbal keluar ruangan tanpa lupa menutup pintu kamar rawat inap itu.


Ceklek! Pintu tertutup. Kini hanya tinggal Ardi dan Dara di kamar itu.

__ADS_1


Deg! Deg! Deg!


" Ra.." Ardi menarik tangan Dara.


" Ya ampun..bahu kak Ardi berdarah lagi. Aku panggil perawat sebentar ya biar mereka mengganti perbannya." Dara melihat kearah bahu Ardi.


Dara segera mendekati telpon interkom yang berada tidak jauh dari ranjang pasien. Dara membaca sebuah daftar rangkaian nomer yang tertera di meja, dia mencari nomer ekstention perawat. Setelah menemukannya dia menekan urutan nomer itu.


Tut! Klek! Telpon terjawab.


" Halo..." Suara dari sebrang telpon.


" Halo, Sus. Bisa tolong ke ruangan anyelir 3? Luka pasien berdarah dan perbannya basah. Tolong kesini ya sus. Terima kasih."


Klek! Dara meletakkan kembali gagang telponnya.


" Bentar lagi suster datang, Kak." Dara berjalan mendekati Ardi.


" Bagaimana bahunya? Sakit gak? "


" Tidak seberapa." Jawab Ardi.


" Baguslah kalau begitu...."


" Tapi bakalan terasa sangat sakit jika kamu kembali ke sisi Fandi."


Deg! Dara tersentak.


" Bukan hanya bahu yang sakit. Tapi, seluruh badan akan terasa." Ardi meraih tangan Dara, menariknya agar lebih mendekat.


Deg! Deg! Deg! Degup jantung Dara semakin kencang.


Ceklek! Suster memasuki kamar inap dengan membawa peralatan medis beserta beberapa cairan pembersih dan juga perban baru.


" Permisi, Pak. Saya akan membantu membersihkan lukanya." Kata Suster itu.


Dara memperhatikan cara suster itu membersihkan luka Ardi. Dan dia pun memperhatikan dengan seksama bagaimana suster itu memasang perban yang baru untuk menutup luka Ardi.


" Baik, Pak. Ini sudah selesai. Tolong lebih berhati-hati lagi ya, Pak. Dan ini obat yang harus diminum malam ini. Sebentar lagi makan malamnya datang."


" Terima kasih, Sus." Kata Dara.


" Sama-sama, Bu. Kalau sudah tidak ada yang lain saya permisi dulu."


" Suster, tunggu." Ucap Ardi.


" Bisa minta tolong obati lukanya?" Ardi menunjuk kearah Dara dengan dagunya.


" Pergelangan tangannya terluka, tadi belum sempat diobati dan hanya ditutup saputangan."


" Mari saya lihat, Bu." Suster itu menarik tangan Dara.


" Tidak perlu, Sus. Saya baik-baik saja." Dara mencoba mengelak.


" Ayolah, Ra! Kan tadi belum diapa-apain lukanya. Aku takut nanti infeksi lukanya." Ujar Ardi.


" Baiklah!" Dara mengijinkan suster melihat lukanya lalu mengobatinya.


" Terima kasih, Sus."


" Sama-sama, Bu. Apa ada yang lain lagi yang perlu saya bantu?"


" Sudah, Sus. Terima kasih." Jawab Ardi.

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi." Suster pergi meninggalkan Ardi dan Dara hanya berdua di kamar inap itu, lagi.


" Ra..." Ardi kembali menarik tangan Dara.


" Apa aku bisa mendapatkan jawabannya sekarang?"


Deg! Deg! Deg! Detak jantung Dara kembali berdegup dengan kencang.


Ardi menarik tangan Dara lagi hingga kini Dara duduk ditepi ranjang.


" Ra, bisa aku mendengar jawabannya sekarang?" Tanya Ardi lagi.


" Eh...Bukannya kak Ardi memberikanku waktu seminggu?"


" Iya! Tapi, aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Ardi menggenggam kedua tangan Dara.


" Ra, aku tanya sekali lagi. Apakah kamu mau menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"


Blush! Dara menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.


" Ra..." Ardi memegang dagu Dara.


" Lihat ke arahku.."


Dara menggerekan kepalanya, tetapi matanya masih menunduk ke bawah.


" Jawab pertanyaanku..Maukah kamu menikah denganku?"


Dara masih terdiam.


" Kenapa belum jawab? Apa kamu masih ragu denganku? Atau kamu bingung harus memilih diantara aku dengan Fandi?" Nada bicara Ardi mulai berubah.


" Tidak!" Ucap Dara segera.


" Aku tidak bingung memilih diantara kak Ardi dengan Fandi atau dengan siapa pun."


" Lalu...apa jawabanmu?"


" Aku....mau.." Jawab Dara lirih.


" Hah? Apa? Aku tidak mendengarnya." Ardi mendekatkan telinganya.


" Iya. Aku mau." Ucap Dara lagi.


Ardi langsung menarik Dara kepelukannya.


" Alhamdulillah...Terima kasih, Ra. Terima kasih..."


Dara membalas pelukan Ardi.


" Jadi, hari ini..awal dari hubungan kita ya, Ra. Semoga rencana kita, niatan kita berjalan lancar tanpa halangan dan rintangan."


" Iya, Kak. Aamiin.."


Ardi melepaskan pelukannya. Dia memandangi wajah ayu kekasihnya. Dia mendaratkan sebuah kecupan di kening Dara.


" Sekarang kamu milikku, jangan dekat-dekat dengan lelaki lain, terutama Fandi."


" Kak Ardi juga, harus jaga sikap. Terlebih dengan Rina."


" Iya." Jawab Ardi dengan senyum manisnya.


Ardi perlahan mendekatkan wajahnya ke Dara. Dara memejamkan matanya, kini bibir Dara dan Ardi sangat dekat hampir tanpa jarak.

__ADS_1


Ceklek! Seseorang memasuki kamar inap itu.


Dara tersentak kaget, dia langsung menjauh dan bangun berdiri di tepi ranjang Ardi.


__ADS_2