
Keesokan harinya.
Dara sedang merapikan souvenir pernikahannya untuk besok, tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya pada benda kotak pipih yang sedari kemarin tak berdiring memberikan kabar berita tentang kekasihnya. Huft! Dara menghembuskan nafasnya kesal. Dia merasa gusar dan cemas, tapi dia tidak berani menghubungi Ardi terlebih dahulu karena dia merasa takut kalau akan mengganggunya.
Tiba-tiba dia merasakan ada benda yang bergerak-gerak dilehernya. Secara refleks tangannya mengambil benda itu. Tapi betapa sangat terkejutnya dia ketika ada benda bulat panjang berwarna coklat ada diatas telapak tangannya.
" Ah! Cacing!" pekik Dara panik, melemparkan benda itu kesembarang arah.
" Hahahaha.. " tawa seseorang dari belakang punggung Dara.
" Mas Doni!" Dara geram.
" Hahahaha...! Gak sia-sia tadi nyari ditumpukan mainannya El dan nemuin benda kenyal-kenyal itu. Reaksimu tetap sama, Ra seperti waktu kecil dulu," kata Doni sambil terkekeh.
" Dasar mas Doni rese!" Dara mendaratkan bogem mentah keatas perut Doni. Bugh!
" Jantungku hampir melompat keluar, tau!" Dara masih kesal. " Tidak ada kakak di dunia ini yang akan melalukan hal seperti itu. Menjahili adiknya ketika sudah sama-sama sudah dewasa."
" Dewasa? Bagiku kamu tetap anak kecil yang harus selalu aku jaga," timpal Doni.
" Weekk!" Dara menjulurkan lidahnya.
" Apa kamu merasa lebih baik sekarang?"
" Apa? Maksudnya?"
" Gak! Cuma tadi aku melihatmu murung. Sama sekali tidak seperti adikku yang biasanya, yang kadang suka jumpalitan gak jelas kaya cacing kepanasan. Tidak berusaha membakar rumah lagi seperti kemarin kan?" goda Doni.
" Aku membakar sampah! Bukan rumah!"
" Apa kamu ada masalah? Katakan padaku."
" Gak! Cuma dari kemarin kak Ardi gak ada kabar. Dia tidak menghubungi sama sekali sejak terakhir dia mengantarku pulang. Setelah itu telpon atau pesan darinya pun tidak ada," jawab Dara lesu.
" Jangan khawatir!" Doni membelai rambut adiknya. " Dia sedang butuh banyak istirahat untuk acara besok. Jangan pikir yang macem-macem. Kamu juga butuh banyak istirahat untuk acara besok. Biar adik mas Doni ini tampil cantik melebihi putri cinderella."
" Sejak kapan mas Doni mulai peduli lagi padaku? Bukannya beberapa hari ini mas Doni sudah tidak peduli dengan semua yang menyangkut tentang aku dan kak Ardi?" batin Dara.
" Iya, Mas," Dara menjawab dengan senyuman.
__ADS_1
Doni kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Ardi yang sejak semalam ditemani oleh asisten pribadinya, yaitu Iqbal.
" Bal, gimana keadaan Ardi sekarang?" tanya Doni.
" Sudah mulai stabil, Pak. Dokter bilang tadi kalau kadar obat kimia yang masuk kedalam tubuh Pak Ardi juga sudah berkurang. Dan dokter juga bilang kalau keadaannya terus stabil nanti sore diperbolehkan pulang," jawab Iqbal.
" Baiklah kalau begitu. Pak Adit dan Ibu Heni tidak tahu untuk hal ini kan?"
" Sesuai perintah Pak Doni, saya merahasiakannya dari beliau berdua."
" Baguslah kalau begitu. Kamu boleh istirahat. Sekarang biar aku yang jagain dia."
" Baik, Pak. Saya permisi dulu," ucap Iqbal sambil membungkukkan badannya.
Doni mengambil gawainya yang ada didalam saku dalam jasnya. Memijit beberapa nomor lalu menekan tombol hijau. Dengan menyandarkan punggungnya di dinding Doni menempelkan benda pipih itu ke salah satu telinganya.
Tut! Tut! Telpon tersambung.
" Halo, Zal! Gimana sudah beres semua untuk acara besok?"
" Sudah, Don! Tinggal beberapa printilan kecil ajah. Lu dimana sekarang?"
" Gue lagi di rumah sakit, lagi nungguin Ardi. Kenapa?"
" Resek lu! Kan kemarin gue belum tahu hal yang sebenarnya. Jadi wajar dong gue bersikap seperti itu."
" Waspada sih wajar, Don. Tapi menurut gue sikap lu yang kemarin berlebihan."
" Sorry, deh..."
" Minta maafnya bukan ke gue, tapi sama orang yang ada dihadapan lu sekarang. Gimana keadaan Ardi sekarang, Don?"
" Tadi kata Iqbal yang nemuin dokternya, katanya keadaan udah stabil dan sisa obat kimianya juga sudah berkurang dan kalau kondisinya terus stabil nanti sore dia boleh pulang."
" Syukurlah kalo gitu. Kan gak lucu aja gitu pelaminan dan pengantin perempuannya udah siap tapi pengantin laki-lakinya gak ada. Nanti gue khilaf lagi yang maju kedepan penghulunya," celetuk Rizal.
" Ogah! Gak sudi banget gue punya adik ipar kaya lu, Zal!" timpal Doni.
" Segitunya lu sama gue. Padahal kalo ada apa-apa gue maju yang paling pertama."
__ADS_1
" Iya deh... By the way, thanks for all ya, Zal. Makasih lu udah percaya sama Ardi sampe gue akhirnya tahu semua hal yang sebenarnya. Makasih buat bantuan lu selama ini."
" Sama-sama, Bro. Santai aja lagi. Lu kaya sama siapa aja. Kita kan emang duo sahabat yang akan selalu saling membantu. Oiyah, Don! Ngomong-ngomong masalah Candra Wijaya dan Rina Rosa hasil laporannya udah gue kirim semua ke email lu ya. Lu baca baik-baik! Setelah itu terserah lu mau apakan mereka berdua."
" Ok! Nanti akan gue periksa."
" Ok! Gue juga mau lanjutin kerjaan lagi."
" Kalo ada apa-apa hubungi gue ya."
" Siap! 86!"
Tut! Sambungan telpon terputus.
Doni memeriksa email dari Rizal lewat gawainya.
" Coba gue lihat informasi apa saja yang dia dapat tentang duo cecunguk itu, si Candra dan si mawar busuk Rina Rosa."
Doni menatap layar ponselnya lekat-lekat. Dia membaca dengan hati-hati tiap kata yang tertulis dalam email itu. Betapa tercengangnya dia ketika mengetahui penyebab utama dari kejadian yang menimpa calon adik iparnya itu, yang sekarang sedang terkapar tidak sadarkan diri di ranjang pasien.
" Bodoh! Hanya karena masalah sepele, hanya karena merasa selalu kalah dari Ardibratha dia melakukan hal senekat ini. Walau gimanapun mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Ini karena kalian berdua berurusan dengan adik ipar Doni Kusuma," ucap Doni seraya mengepalkan tangannya.
" Ngh!" Ardi mulai sadar dari tidur panjangnya. Dia memincingkan matanya karena sinar matahari terasa menusuk netranya yang baru saja terbuka.
Doni kembali memasukan gawainya dalam saku jasnya. Menghampiri Ardi yang hendak bangun dari posisi tidurnya.
" Gimana keadaan kamu sekarang? Ada yang terasa sakit?" selidik Doni.
" Aku baik, Mas," ucap Ardi.
" Syukurlah," Doni menghela nafasnya lega. " Dokter bilang jika kondisimu terus stabil sore ini kamu bisa pulang."
" Makasih, saya berhutang budi sama mas Doni."
" Hutang budi apa? Tapi jika kamu menganggap begitu, maka seumur hidupmu kamu harus membalas budiku. Setuju?"
" Apapun itu saya setuju, Mas."
" Jaga baik-baik Dara. Sayangi dia, cintai dia sepenuh hati kamu. Jangan pernah bikin dia nangis dan selalu bahagiakan dia. Itu yang harus kamu lakukan jika ingin membalas budiku."
__ADS_1
Senyum merekah dengan lebarnya di bibir Ardi.
" Dengan senang hati. Saya akan lakukan semua itu. Terima kasih, Mas Doni. Terima kasih."