
Kecanggungan Dara lama kelamaan membuatnya merasa ngantuk. Dia tertidur di sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya Ardi memarkirkan mobilnya di sebuah rest area.
Dara merasa ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Lalu dia merasakan dingin di pipinya. Gadis berkuncir kuda ini pun mengerjapkan matanya. Mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Dan terdengar gelak tawa di telinganya.
" Hahaha..." Ardi tertawa melihat tingkah Dara.
" Dingin.." Dara mengusap-usap pipi kanannya lagi.
" Nih..minum biar seger.." Ardi menyodorkan minuman yogurt dingin.
" Kok kak Ardi masih inget minuman kesukaan aku?"
" Ya masihlah.."
" Makasih ya.."
" Sama-sama."
" Mmm... Kak Ardi udah mau jalan belum? Aku mau ke toilet bentar. Tungguin ya..."
" Ok! "
Dara berlalu ke toilet umum. Letaknya tidak jauh dari tempat Ardi memarkirkan mobilnya. Toiletnya lumayan ramai walau pun tersedia 20 bilik kamar mandi. Mungkin karena sekarang akhir pekan.
Bugh!
Dara menabrak seseorang ketika akan keluar dari area toilet umum.
" Maaf gak sengaja..." Dara membalikan badan menghadap orang tersebut.
" Novi.... Kok lu ada disini?"
" Da..Dara...." Novi gugup.
Dia langsung berlari meninggalkan Dara dengan seribu tanya.
" Lu kenapa, Nov? Kok lu ngejauhin gue.. Telpon dan chat gak pernah dibales.. Sekarang lu malah lari pas lihat gue.. Emang gue punya salah apa sama lu? Padahal gue akhir-akhir ini khawatir banget dengan keadaan lu. Gue takut lu kenapa-kenapa. Tapi sekarang lu justru bersikap kaya gini ke gue. Ada apa sih Nov sama lu? " batin Dara.
Tak terasa bulir bening keluar dari mata Dara. Dia merasa sedih dengan sikap sahabatnya. Orang yang sangat dikhawatirkannya beberapa hari ini justru langsung lari ketika melihatnya.
Dara mengusap air matanya dengan jari-jari lentiknya. Dia kembali ke mobil. Tampang murungnya terlihat jelas di mata Ardi.
" Kamu kenapa?" Tanya Ardi cemas.
" Aku tadi gak sengaja nabrak orang di toilet. Dan ternyata itu Novi. Tapi pas tahu kalo itu aku, dia langsung balik badan dan lari. Selama beberapa hari ini pun dia susah dihubungi. Telponku jarang sekali dijawab, chat gak pernah dibales. Aku bingung kenapa sikap Novi ke aku berubah drastis. Aku punya salah apa?" Ucap Dara, sambil menatap kedua tangannya yang gemetar.
Tangan kiri Ardi menarik tangan Dara kepangkuannya. Mengusap punggung tangan calon istrinya itu dengan lembut untuk menenangkannya.
" Udah jangan berpikir yang aneh-aneh. Mungkin Novi lagi punya masalah yang belum bisa dia ceritain ke kamu. Udah jangan dipikirin lagi ya... Jangan sedih lagi. Nanti kalo dilihat ibu sama ayah dikiranya aku ngapa-ngapain kamu di jalan."
" Hmmm.." Dara mengangguk dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
" Nah..gitu dong senyum.. Tapi kurang ikhlas senyumnya, terlihat dipaksakan. Jadi gak berasa manis." Goda Ardi.
" Emangnya gula!" Balas Dara, perlahan senyumnya mulai melebar.
" Hahaha.. Tapi segitu juga cukup kok.. Jangan terlalu banyak. Takut kena diabetes. Soalnya senyumanmu manis banget."
" Apaan sih kak? Lebay banget deh...." Pipi Dara merona merah.
" Hadduuuhh.. Fix! Aku kena diabet nih.."
" Kak Ardi!" Pekik Dara lirih.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke kota B.
Di rumah Eyang ternyata sudah berkumpul banyak orang, termasuk Ayah Adit dan Ibu Heni. Mereka sedang berbincang dengan sanak saudara yang lain.
" Teh Heni, Ardinya mana? Kok gak ikut?" Tanya adik ipar perempuannya Ibu Heni, yaitu Tante Suci.
" Ada, masih dijalan. Tadi aku berangkat duluan sama Ayahnya Ardi. Soalnya kan tadi ambil pesenan yang mau dibawa buat acara besok. Paling bentar lagi nyampe." Jawab Ibu Heni.
" Teh, gimana? Ardi mau gak dikenalin sama anak temenku yang calon dokter itu? " Tanya Tante Suci lagi.
" Anaknya cantik lho.. Pas deh sama A Ardi yang ganteng.. terus lagi dia pintar. Aku berani ngejodohin karena mereka udah kenal dari kecil. Ini temen sdnya A Ardi dulu. Pasti kalo A Ardi tahu dia gak bakalan nolak deh."
" Hmm.. Sebenarnya Ardi kesini sama....." Perkataan Ibu Heni terpotong karena suara klakson mobil.
Tin! Tin!
" Akhirnya..yang ditunggu-tunggu dateng juga. Gimana kabar kamu, A?"
Ardi yang baru keluar dari mobil langsung menghampiri adik ipar dari ibunya, dan mencium punggung tangannya.
" Alhamdulillah, Baik Tante." Jawab Ardi.
" Dara mana, Nak?" Tanya Ibu Heni, yang kemudian pertanyaannya sudah terjawab ketika dia melihat gadis berkuncir kuda itu berjalan kearahnya.
" Gimana perjalanannya sayang? Capek?"
" Gak kok, Tante.. Malah seneng bisa jalan-jalan." Jawab Dara.
" Ayo, masuk ke dalem sayang. Tante mau kenalin kamu ke keluarga yang lain." Ibu Heni menggandeng tangan Dara.
" Siapa?" Tanya Tante Suci lirih ke Ardi.
" Tamu spesial.." Jawab Ardi singkat dan ikut masuk ke dalam rumah.
Ayah Adit yang sedang berbicang dengan Eyang melihat kedatangan Dara. Langsung ia melambaikan tangannya agar gadis itu mendekat.
" Sini, Nak. Om mau ngenalin kamu ke orang yang paling penting dikeluarga ini." Ucap Ayah Adit.
Dara duduk disamping Ayah Adit didampingi oleh Ibu Heni.
__ADS_1
" Eyang, ini kenalin.." Kata Ayah.
" Ini calon menantunya eyang. Calon istrinya Ardi."
" Ini calonnya Ardi? Cantiknya....Sini sayang duduk dekat Eyang." Ucap Eyang, yang kemudian diiringi dengan langkah Dara yang mendekat dan duduk disampingnya.
" Namanya siapa?"
" Dara, Eyang. Dara Amelia." Jawab Dara.
" Eyang, mau tanya sama kamu. Kok kamu mau diajak nikah sama Ardi. Kan dia anaknya cuek begitu."
Dara hanya menjawabnya dengan senyum.
" Sekarang anaknya mana? Ardi...Ardi..." Eyang memanggil.
Ardi pun mendekat. Dan duduk bersimpuh didepan kaki Eyang, ibu yang melahirkan ayah Adit.
" Kenapa, Eyang?" Tanya Ardi dengan tangan yang berpangku di paha Neneknya.
" Kamu habis dari dukun mana kok bisa bawa pulang gadis secantik ini? Kamu pake pelet apa?" Goda Eyang.
" Gak usah pake pelet juga dia udah klepek-klepek sama aku, Eyang. Tanya aja sama orangnya."
Gelak tawa memenuhi ruang keluarga karena melihat tingkah Eyang dan Ardi. Tetapi tidak dengan Tante Suci, dia terus memperhatikan Dara dari jauh.
" Lia! Lia! " Teriak Eyang.
" Iya, Eyang."
" Tolong antar Dara ke kamarmu, biarin dia istirahat kasihan capek. Kamu istirahat dulu ya, Nak." Eyang membelai rambut Dara.
" Terima kasih, Eyang. Saya permisi dulu." Ucap Dara.
" Mari, Teh." Kata Lia.
Dara berjalan di belakang Lia. Kamar Lia ternyata tidak jauh dari tempat dia mengobrol dengan Eyang tadi.
Ceklek! Lia membukakan pintu mempersilahkan Dara masuk.
" Silahkan, Teh. Istirahat aja dulu pasti capekan." Ujar Lia.
" Oh iyah..kita belum kenalan. Aku Lia, adik sepupunya A Ardi."
" Dara." Balas menjabat tangan Lia.
" Ini kali pertama A Ardi ngenalin cewek ke Eyang lho Teh. Aku gak nyangka ternyata ada yang bisa memenangkan hati A Ardi."
" Masa sih?"
" Iya beneran Teh...soalnya A Ardi itu......."
__ADS_1
" Hayo ngomongin aku ya..." Kata Ardi yang tiba-tiba muncul di depan pintu. Dia membawakan travel bagnya.