
Brooom! Whuusss!
Ardi menginjak pedal gasnya lebih dalam. Menyalip kendaraan yang ada didepannya. Berusaha sembunyi diantara kendaraan yang lainnya, terutama seperti bis ataupun truk yang mempunyai ukuran lebih besar dari mobil Ardi.
Ardi memastikan posisinya sudah aman dari Fandi dari kaca spionnya. Tapi ternyata Ardi masih bisa melihat bayangan Fandi walau masih sedikit jauh. Dia mencoba berjalan zigzag untuk mengelabuhi Fandi.
Tepat ketika ada dipersimpangan jalan Ardi menutupi mobilnya dengan bis rombongan karya wisata. Dia terus menempel dengan bis itu hingga Fandi tidak melihat kemana dia melajukan mobilnya.
Ckiiitt! Fandi menghentikan motornya ditepi jalan.
" Sial! Padahal tadi udah deket... Sekarang malah hilang dan gak tahu kemana mereka pergi. Ah! Sial!" Fandi mengumpat.
Sementara di dalam mobil Ardi.....
" Waaahhh! Hebat lu, Di! Lu bisa nyetir gitu..Keren..keren pake banget! Berasa gue lagi di film-film kaya Fast and Farious tahu.." Ucap Rizal sembari menepuk-nepuk bahu Ardi.
" Keren apaan? Yang ada takut tahu.." Celetuk Dara dari kursi belakang.
" Takut kenapa sih, Ra? Kan sopir ganteng kita ini handal. Iya kan, Pak ?"
" Emang Mas Rizal udah lupa dengan kejadian yang tadi pagi? Kalo aku sih masih inget dengan jelas ya Mas!" Kata Dara sedikit sewot.
" Ya ampun! Sorry, Ra. Sorry...Mas gak maksud kok. Cuma kan aku gak mau si Fandi ngikutin kita. Makanya tadi aku nyuruh Ardi buat tancap gas." Bela Rizal.
" Iya! " Jawab Dara malas.
" Oh iya, Di! Ini kita lagi dimana ya? " Rizal bingung.
" Udah ikutin aja dulu jalannya pasti nanti ketemu arahnya. Yang penting udah bebas dari si Fandi itu." Jawab Ardi santai.
" Ok! Oiya, kalo lu cape bilang sama gue ya. Nanti gue gantiin."
" Siap! " Ardi mengacungkan jempolnya.
Ardi sekarang mengemudi dengan kecepatan normal. Tak berapa lama dia membelokan mobilnya ke sebuah pom bensin untuk mengisi bahan bakar.
" Di, gue aja yang bayar ya. Anggap ini sebagai ucapan terima kasih, ok?"
Ardi mengangguk setuju.
Pegawai pom bensin mulai melakukan pekerjaannya. Dia mengisi bahan bakar mobil pelanggan sesuai dengan permintaan.
" Sudah selesai, Pak! " Kata Pegawai itu.
__ADS_1
" Bayarnya pake ini aja, Mas." Sahut Rizal.
" Pake kartu ya, Pak. Silahkan ikut saya untuk masukan pinnya."
Rizal keluar dari dalam mobil mengikuti Pegawai pom bensin itu. Ardi yang masih duduk di belakang kemudi mengintip Dara yang sedang tertidur dari kaca depan. Wajah ayunya Dara dia tatap lekat-lekat lewat cermin itu hingga tak sadar Rizal sudah kembali ke kursinya.
" Di, ke kamar kecil bentar dong."
" Ok!"
Ardi memarkirkan mobilnya didepan sebuah mini market samping toilet umum pom bensin itu. Ardi dan Rizal berhambur keluar dari dalam mobil. Rizal berjalan ke kamar kecil, sedang Ardi masuk ke dalam mini market.
Tak berapa lama mereka berduapun selesai dengan hajatnya masing-masing. Ardi keluar dari mini market itu dengan menenteng satu tas kresek belanjaan.
" Di, mulai dari sini gue aja yang nyetir ya. Lu istrihat aja."
" Wah, betulan. Gue udah beli cemilan. Bisa makan santai dong gue..." Ardi menunjukan barang belanjaannya.
" Widdiiiihh..ini sih jajan kesukaan Dara semua." Kata Rizal sembari melihat isi belanjaan Ardi.
" Yogurth buah, snack kentang, snack jagung, kuaci.."
" Emang niatnya mau beliin buat Dia." batin Ardi.
" Nih, air putih sama minuman energi taruh di pintu samping." Kata Ardi yang sekarang sudah duduk didalam mobil dikursi penumpang bagian depan.
Tanpa basa-basi Rizal pun menancapkan gasnya. Dia memutar stirnya meninggalkan pom bensin itu. Karena lumayan capek memainkan kopling dan gas waktu kabur dari Fandi akhirnya Ardi pun memejamkan matanya.
Dalam keheningan Rizal mengendarai mobil Ardi. Sekarang mobilnya sudah mulai memasuki ibukota. Matahari mulai menampakan semburat jingganya. Karena terkena pantulan sinar matahari, Ardi pun terbangun.
" Sudah sampai mana, Zal?"
" Sudah masuk tol ibukota sebentar lagi kita keluar tol dan sampe deh ke rumah gue. "
" Ok! Terus Dara gimana? Gue kan gak tahu rumah Dara dimana?"
" Gak usah pusing! Dia turun sekalian sama gue. Besok baru gue anterin ke rumahnya. "
" Mmmm..." Dara bangun dari tidurnya.
" Dimana ini Mas? "
" Udah bangun, Ra? Ini jalan mau kerumahku." Jawab Rizal.
__ADS_1
" Kamu istirahat di rumah Mas dulu ya, Ra. Besok baru dianterin sekalian berangkat kerja."
" Gak mau ah! Aku mau langsung pulang. Capek mau istirahat dirumah aja."
" Bukannya dirumah gak ada siapa-siapa? Emang berani?"
" Beranilah. Kan udah gede. Kemarin juga gak kenapa-kenapa."
Drrtt!! Drrrtt!! Drrrtt!! HP Rizal berdering.
" Halo? Iya kenapa?............Apa? Ikan sudah menangkap umpan? Ok! Aku segera kesana sekarang."
Tut! Rizal memutuskan sambungan telponnya.
" Ikan makan umpan apa, Zal?" Tanya Ardi penasaran.
" Sebenarnya gue ada misi khusus di kantor cabang. Gue mau menangkap basah seseorang yang dicurigai korupsi di perusahan. Dan sekarang sang ikan telah menggigit umpan. Jadi gue bakal langsung ke kantor buat lihat orang itu." Terang Rizal.
" Gue minta tolong sama lu, Di. Buat nganter Dara sampe rumah. Awas jangan sampe lecet adek gue."
" Siap! Gue anterin tanpa kurang satu apapun."
" Thank you, Di."
Rizal melajukan mobilnya ke kantor cabang. Hanya membutuhkan kurang dari setengah jam mereka sudah sampai disana. Rizal memberhentikan mobilnya tepat didepan gedung kantor cabang.
Setelah memberikan kunci mobilnya ke Ardi, Rizalpun langsung berlari memasuki kantor. Dara melihat sekitar parkiran itu, ada sebuah mobil putih yang tak tampak asing baginya.
" Bukannya itu mobil Bu Yanti? " gumam Dara.
" Kenapa ada disini? Bukannya tadi pas di villa dia bilang dia tidak punya banyak waktu dan harus segera pergi. Apa yang dimaksud dia dengan pergi itu kesini? Lalu....dimana Putri?"
Dara turun dari mobil dan berjalan ke arah mobil Bu Yanti.
" Ra, kamu mau kemana? kamu mau ngapain?" Tanya Ardi.
" Itu mobil Bu Yanti." Dara menunjuk mobil minibus berwarna putih yang terparkir tidak jauh darinya.
Ardi spontan mengikuti langkah Dara mendekati mobil itu. Ada sesuatu yang tidak nyaman yang muncul tiba-tiba dalam dadanya.
Sekilas tatapan mata Putri tadi pagi terngiang kembali diingatan Dara. Dia takut apa yang dia khawatirkan terjadi. Sesuatu hal buruk menimpa Putri.
Dari luar jendela Dara mengintip ke dalam mobil Bu Yanti. Dia ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja. Putri baik-baik saja dan sedang tidur di dalam mobil bersama baby sitternya. Tapi, ternyata nihil. Mobil itu kosong.
__ADS_1
Deg!
" Apa yang dimaksud Mas Rizal tadi ikan makan umpan itu adalah Bu Yanti?" batin Dara menerka-nerka.