
Asap memenuhi ruang dapur Eyang. Ibu Heni yang mencium bau asap dari kamarnya, ia langsung berlari ke arah dapur.
" Kenapa ini? Kok banyak asap begini?" Tanya Ibu Heni.
" Eta..si neng Dara. Pengen belajar nyalain kayu bakar ceunah(*katanya). Eeh..malah asapnya kemana-mana." Jawab Tante Suci kesal.
" Kan tadi katanya.. Kalau salah teu nanaon (*gak apa-apa) soalnya masih belajar. Terus kenapa sekarang marah?" Timpal Eyang.
" Kamu juga dulu begitu waktu pertama kali pake hawu(*tungku). Suluh(*kayu) setengah meter dimasukin semua."
Tante Suci langsung memonyongkan bibirnya, ketika Eyang memberikan pembelaannya kepada Dara.
Ardi, Lia dan Febri yang sedang ngobrol di ruang keluarga mendengar keributan dari arah dapur. Mereka pun akhirnya datang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
" Uhuk! Uhuk!...Ya ampun asepnya banyak sekali.. Sini biar aku yang coba." Febri berjalan mendekati Dara yang masih berjongkok di depan tungku.
Febri membolak-balikan kayu bakarnya. Lalu menambahkan potongan bambu dan meniupnya lagi menggunakan pipa pralon. Setelah beberapa kali meniup bara api yang sempat padam, kini api berkobar lagi. Asap pun berangsur-angsur menghilang.
" Wah..calon bu dokter ini memang hebat. Ini baru yang namanya calon istri idaman. Bisa ngelakuin apa aja." Puji Tante Suci.
" Biasa aja kok Tante..kan dirumah nenekku juga ada tungku.. Jadi sedikit-sedikit saya tahu.." Ucap Febri.
" Bener-bener calon istri idaman ini namanya.. Iya kan A..?" Kata Tante Suci lagi.
" Ayo, Ra. Kita ke kebun belakang. Cari udara segar." Ardi menarik tangan Dara, tidak menghiraukan omongan Tante Suci.
Ardi membawa pergi Dara dari dapur Eyang. Letak kebun Eyang tepat di belakang rumah. Dara melihat hamparan padi yang mulai menguning. Pandangan yang menyejukan mata baginya.
Di kebun Eyang sendiri banyak tanaman apotek hidup, sayuran seperti timun dan kacang panjang pun ada. Tomat dan cabe rawit yang mulai memerah juga membuat mata Dara relax.
" Eyang rajin banget ya, Kak. Dia nanem banyak tanaman. Terus itu tomat sama cabenya ngegemesin banget. Pengen aku petikin semua." Ucap Dara
" Ra..." Ardi menggenggam kedua tangan Dara.
" Maafin aku ya.. Kamu harus denger kata-kata dari Tante Suci tadi."
" Kenapa kak Ardi yang minta maaf? Setiap orang pasti ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang disayang. Aku rasa Tante Suci sangat sayang sama kamu hingga ingin memberikan yang terbaik buat kamu." Ucap Dara.
" Lagian...benar juga kata Tante Suci. Febri itu paket lengkap. Dia pintar, cantik, dan calon dokter pula. Dia memang calon istri yang terbaik."
" Iya. Terbaik bagi Tante Suci dan calon suaminya kelak. Tapi, bagi aku tidak!... Kamu adalah yang terbaik bagiku."
" Yang aku takutkan mulai muncul. Salah satu dari pihak keluarga kak Ardi ada yang tidak menginginkan aku. Dan perempuan yang digadang-gadang pilihan terbaik untuk kak Ardi pun ada di tempat ini. Aku harus bagaimana? Jujur aku takut." batin Dara.
__ADS_1
" Ra.. Kamu kenapa? Kok diem..?"
" Gak apa-apa."
" Udah. Gak usah dipikirin lagi kata-kata Tante Suci. Kan yang ngejalanin aku. Aku yang paling tahu siapa yang terbaik untukku. Maka aku pula yang berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupku. Ok? Hmmm.."
" Hmm.." Dara mengangguk.
" Ya udah yuk kita jalan. Temenin aku pergi cari kado buat Lia mau gak? Aku belum siapin kado buat besok. Kamu bantuin aku milih ya, Ra."
" Aku juga gak siapin kado apapun buat Lia. Ya udah nanti sekalian aku juga mau beli."
" Yuk! Aku ambil kunci mobil dulu bentar."
Ardi dan Dara kembali ke dalam rumah Eyang. Dara masuk ke dalam kamar Lia untuk mengambil tas jinjingnya. Sementara Ardi mencari kunci mobilnya di ruang keluarga.
" Di, lagi ngapain?" Tanya Febri.
" Nyari kunci!" Kata Ardi sembari mencari kunci mobilnya dibalik bantal sofa.
" Nah, ini dia."
" Kamu mau kemana, Di? Aku ikut dong..."
" Ibu, Eyang.. Aku pergi keluar bentar ya sama Dara. Mau jalan-jalan." Kata Ardi.
" Leuleumpangan mah capek, kasep." Timpal Eyang.
*jalan mah capek, ganteng.
" Naik mobil eyang." Jawab Ibu Heni.
" Ari kitu mah lain leumpang. Momobilan." Kata Eyang.
*kalo gitu mah bukan jalan. Mobil-mobilan.
" Mobil beneran eyang bukan mobil-mobilan, pake tenaga mesin dan besin bukan batre." Balas Ardi.
" Hahaha..." Eyang terkekeh.
" Hati-hati di jalan ya sayang." Ucap Ibu Heni.
" Iya, bu" Kata Ardi, mencium punggung tangan ibunya dan eyang.
__ADS_1
" A, ajak Febri sekalian. Kan kalian udah lama gak ketemu jadi bisa ngobrol sepanjang perjalanan." Ucap Tante Suci tiba-tiba.
" Iya, Di. Aku ikut ya.. Soalnya beberapa hari ini aku sibuk nugas dan gak punya waktu buat jalan. Aku ikut ya, Di." Rengek Febri yang sedari tadi mengekor Ardi.
" Ok!" Jawab Ardi singkat.
Ardi tak kuasa menolak rengekan Febri di depan Ibu Heni dan Eyang. Padahal dia ingin menjauhkan Dara dari Febri agar calon istrinya itu tidak terluka lagi hatinya.
Dara sudah siap dengan tas jinjingnya. Dia menunggu Ardi sambil memainkan gawainya di teras depan.
" Teteh mau kemana?" Tanya Lia.
" Gak tahu. Kak Ardi yang ngajakin." Jawab Dara.
" Iiihh.. Mau kencan ya ? Ikut dong..."
" Yang namanya kencan itu ya cuma berdua doang.. bukannya bertiga atau rame-rame. Itu namanya tamasya." Celetuk Ardi.
" Aih si Aa.. bilang aja gak mau diganggu."
" Kamu harus dipingit gak boleh keluar-keluar, besok kan acaranya kamu. Nanti diomelin Eyang lho." Balas Ardi.
" Ih..Aa mah mainannya aduan."
" Berangkat dulu ya, nanti keburu sore." Kata Ardi yang langsung berjalan ke arah mobilnya.
" Dah Lia..aku pergi dulu ya..." Ucap Febri mengikuti langkah Ardi sambil melambaikan tangannya.
" Daah..Lho kok teh Febri ikut juga?" Lia heran.
Dara pun mengernyitkan dahinya heran.
Febri yang jalan mendahului Dara langsung membuka pintu depan dan duduk disamping kursi pengemudi. Dara yang tidak ingin ribut pun membuka pintu penumpang bagian tengah.
" Kita mau kemana, Di?" Tanya Febri yang tidak memperdulikan kehadiran Dara.
" Duduk diam dan lihat aja." Jawab Ardi.
Dara melempar pandangan keluar jendela. Ardi fokus menyetir di depan. Sedangkan Febri terus asik memamerkan kisah kasihnya dahulu dengan Ardi.
" Di, kamu inget ga? Dulu waktu pulang sekolah kita kan sering mampir di warung bakso Pak Yono yang ada diperempatan tadi. Kamu ingetkan? Pasti inget dong.. Kan kita kesananya hampir tiap hari." Kata Febri.
" Kalo diinget lucu juga ya, Di. Padahal waktu itu kita masih pake seragam merah putih, tapi kita romantis banget. Makan bakso semangko berdua, terus minumnya es teh segelas tapi sedotannya dua. Hahaha... Beneran aku baru nyadar kalo dulu kita seromantis itu."
__ADS_1