
" Gue pergi, Ra," ucap Novi dengan membawa kotak yang sudah terisi barang-barang pribadinya. " Gue turut bahagia karena lu sebentar lagi menjadi nyonya Ardi. Ternyata lu lebih milih sahabat lama lu buat jadi suami ketimbang mantan Pak Manager pusat yang ngajak kita jalan-jalan ke puncak kemarin. Padahal gue rasa dia juga suka sama lu, Ra."
" Nov..kita makan siang sebentar yuk di kantin... Masih ada yang ingin gue obrolin."
" Hmm.." Novi mengangguk, mengiyakan ajakan Dara.
Mereka berdua pun pergi ke kantin yang terletak satu lantai diatas ruang kerja mereka.
" Nov, setelah ini lu bakal kemana?" tanya Dara sembari menyesap es jeruknya.
" Belum tahu, mungkin gue bakal liburan dulu sebentar.." Novi memaksakan senyumnya. " Satu minggu kemarin cukup melelahkan bagi gue."
" Nov, gue mau bilang kalau kak Ardi itu..........adalah Pak Seno. Mereka satu orang yang sama."
" Apa?" Novi terkejut. " Tidak heran kalau dia ngejar kita waktu di puncak, waktu kita jalan pagi dengan Fandi. Ternyata itu alasan sebenarnya." Di bawah meja Novi mengepalkan tangannya.
Hening. Suasananya begitu canggung.
" Kapan kalian akan menyebar undangan?" Lagi! Novi bertanya dengan senyum terpaksa.
" Belum tahu. Tapi nanti lu adalah orang yang petama gue kabarin," jawab Dara dengan senyum tulus.
" Ra,.... Apa lu serius? Lu juga tahu sendiri kalau orang seperti Pak Seno banyak yang suka, tidak sedikit wanita yang memimpikannya. Gue ngerasa wanita biasa tidak cukup cocok bersanding disampingnya. Gue tahu lu juga hebat, tapi dengan hanya sebagai status keponakan dari Pak Wawan, gue rasa itu gak cukup. Banyak di luar sana yang statusnya lebih tinggi dari lu. Apa lu sanggup, Ra?"
" Jarak status bukan masalah bagi gue, Ra. Dan bukan masalah juga buat kak Ardi."
" Memang bagi kalian itu bukan masalah. Tapi, bagaimana dengan keluarga lu atau keluarga Pak Seno? Apa yakin mereka bisa menerima lu sepenuhnya? Terlebih mereka adalah keluarga yang terpandang. Pewaris tunggal dari BR group."
" Dari mana lu tahu kalau kak Ardi itu anak dari pemilik BR group? Gue belum cerita apapun..." Dara heran.
" Banyak gosip yang beredar di luar. Mungkin lu gak nyadar karena lu lagi dimabuk asmara. Dan gosipnya cukup santer hingga Pak Rizal menurunkan beberapa staf untuk cek semua dokumen yang ada di kantor pusat. Mereka curiga Pak Seno masuk ke perusahaan ini untuk mencuri file penting."
" Gue yakin kak Ardi bukan orang seperti itu," jawab Dara mantap.
" Iya, karena lu berfikir sebagai calon istrinya. Lu pasti bakal ngebela pacar lu habis-habisan. Tapi, coba lu pikir sebegai karyawan yang loyal dan berpikir sebagai keponakan dari pemilik perusahaan? Apa tetep hasilnya akan sama? Gue rasa tidak.."
__ADS_1
Dara terdiam.
" Sudahlah, Ra. Gak usah dipikirin. Itu hanya pendapat gue aja. Toh, disini gue juga udah bukan siapa-siapa lagi. Gue pamit pergi dulu ya, Ra. Bye!" ucap Novi dan dia pergi meninggalkan Dara yang masih terdiam di kursinya.
Dara menyesap lagi es jeruknya yang masih tinggal setengah. Omongan Novi benar-benar merasuk di otaknya.
" Benar kata Novi. Walaupun Om, Tante, dan Eyang bisa menerimaku, tapi bisa aja nanti muncul 'Tante Suci' yang lain. Apa iya aku belum cukup pantas buat bersanding dengan kak Ardi?" batin Dara. " Dan untuk masalah kantor, seharusnya aku bersikap profesional. Tapi, memang benar seperti itu adanya. Aku kenal kak Ardi bukan satu atau dua hari. Aku yakin dia tidak akan bersikap seperti itu, dia tidak akan mengotori tangannya. Tidak! Itu bukan dia." Dara menggelengkan kepalanya.
" Kamu kenapa, Ra? Kok geleng-geleng kepala gitu?" tanya Rizal yang tiba-tiba duduk di depan Dara.
" Eh? Mas Rizal? Gak! Aku gak apa-apa," jawab Dara sekenanya. " Gimana urusan di kantor pusat, Mas? Udah beres semuanya?"
" Sebenernya sih belum, tapi masih bisa dihandle sama staf yang lain."
" Mmm...Oh iya perkembangan kasus Bu Yanti gimana?"
" Papa masih mempertimbangkan. Karena ini dilakukan bukan unsur sengaja, tapi karena adanya tekanan dari pihak luar. Papa juga sedang mempertimbangkan berapa keuntungan yang pernah diberikan oleh Bun Yanti untuk perusahaan, dan berapa kerugian yang dia akibatkan kemarin? Ya pokoknya begitulah," terang Rizal. " Kenapa kamu tanyain hal itu? Kangen ya sama Putri?"
" Iya. Merasa kasihan aja sama Putri. Pertama kali ketemu ayahnya, tapi dalam kondisi seperti itu. Kasihan.." raut muka Dara berubah menjadi sedih.
" Kenapa tiba-tiba mas Rizal datang dan membawa rekaman cctv itu? Bukannya aku sudah bilang, aku gak mau ngebahas masalah itu lagi. Sekarang mas Rizal lihat? Hubungan persahabatanku dengan Novi jadi berantakan," kata Dara kesal.
" Hubunganmu dengan Novi berantakan, bukan karena aku! Itu karena perbuatannya dia sendiri. Dan aku melakukan hal ini karena Doni yang menyuruhku. Dan kami ngelakuin ini karena kami sayang sama kamu, Ra."
" Mas Doni? Lagi-lagi mas Doni ikut campur urusanku!" batin Dara.
Drrtt! Drrtt! Drrtt! Ponsel Dara berdering. Rizal mengintip, dia ingin tahu siapa yang menghubungi Dara. Dan raut wajahnya langsung berubah muram ketika dia membaca nama yang tertera di ponsel pintarnya Dara.
" Halo.." sapa Dara.
" Halo.. Kamu lagi ngapain?" tanya Ardi.
" Lagi istirahat di kantin kantor."
" Kamu kenapa? Kok suaranya lemas begitu. Kamu sakit?"
__ADS_1
" Gak! Hari ini Novi keluar dari kantor. Dan....orang yang merusak file presentasiku waktu itu, dia adalah Novi."
" Apa? Bukannya Novi sahabat baik kamu, Ra? Kok dia bisa berbuat nekad seperti itu?"
" Iya, itu karena dia iri kepadaku. Dia iri karena mas Rizal terus mengabaikan perasaannya. Dan mas Rizal...."
" Udah gak usah dilanjutin. Aku ngerti," sela Ardi. " Sudah, jangan sedih lagi. Nanti malam aku jemput sekitar jam 7 ya, pakai gaun dan kalung ya aku beli kemarin. Jangan lupa ya..."
" Kita mau kemana?"
" Kita mau pergi ke acara amal di hotel H, Ayah dan Ibu juga dateng kok. Jadi kamu ikut ya."
" Acara amal di hotel H? Bukannya itu acara.....Sial! Disana pasti banyak sosialita dan bahkan artis juga. Aku gak bisa ngebayangin gimana tatapan mereka ketika melihat kak Ardi menggandeng tanganku," batin Dara.
" Ra, kamu kenapa? Kok diem?"
" Aku boleh gak ikut, gak Kak?"
" Gak boleh! Harus ikut!" tukas Ardi.
Dara tidak berani lagi untuk mengelak, akhirnya dengan terpaksa dia mengiyakan ajakan Ardi. " Iya, kak. Aku ikut."
" Ok! Nanti malem aku jemput ya. Bye.."
" Bye.." Sambung telpon terputus.
Dara menghela nafanya dan meletakan benda pipih itu diatas meja.
" Kamu yakin ngejalanin hubungan dengan Ardi?" Sedari tadi Rizal menahan diri untuk menanyakannya.
" Yakin! Kalau aku gak yakin, mana mungkin kemarin ada pertemuan dua keluarga. Dan mas Rizal tadi denger sendirikan?"
" Ok! Kalau kamu yakin kenapa kamu tadi menolak ajakan dia?"
" Bukannya menolak... Hanya saja....."
__ADS_1
" Cukup!" sela Rizal. " Aku ngerti kok. Cepat kembali ke mejamu, waktu istirahat sudah selesai. Dan juga cepat selesaikan pekerjaanmu, kamu tidak ingin terlambat di kencan pertamamu, kan?" Rizal beranjak dari tempat duduknya. Lalu disusul dengan Dara yang mengekor dibelakangnya.