Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 90


__ADS_3

“Halo, Mas Doni,” sapa Dara dengan semringah.


“Halo, Ra. Mulai sekarang kamu tidak usah mengingat lagi yang namanya Farhan. Mas Doni tidak mau kamu berhubungan lagi dengannya. Hubungan kalian sudah selesai dan Mas Doni juga tidak akan mengakuinya sebagai sahabat Mas lagi.”


“Memang kenapa, Mas? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Dara heran. Wajahnya yang cerah seketika berubah menjadi rona kecemasan.


“Mas Doni baru saja melihat dia sedang bersama wanita lain dan dia juga sudah mengakuinya kalau wanita itu adalah kekasihnya.”


Pernyataan yang sangat menyayat hati Dara. Kerinduan yang ia pendam selama ini dibalas dengan luka yang begitu menyakitkan. Tubuhnya seketika lunglai, ponselnya jatuh ke atas kasur dan dia membenamkan mukanya dalam bantal menangis tersedu-sedu. Dia tidak menghiraukan kakaknya yang terus meracau di balik telepon.


“Ra, aku pergi dulu ya,” ajak Ardi seraya menepuk bahu istrinya.


“Hah? Kemana?” tanya Dara linglung.


“Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin kamu banyak diam dan sering ngelamun? Ada apa? Apa ada yang sakit?” tanya Ardi, menatap lekat wajah wanita yang sangat ia cintai.


“Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Kak,” jawab Dara seraya tersenyum.


“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku mau pergi dengan Lia dan Febri ke supermarket terdekat. Kamu di rumah saja sama Eyang, ya?”


“Aku ikut. Memang kamu kesana mau apa? Mau beli apa?”


“Ya ampun, Ra. Jadi, dari tadi kamu tidak menyimak sama sekali?”


Dara menggelengkan kepalanya.


“Aku mau beli beberapa bahan untuk pesta barbeque nanti malam. Aku berangkat sekarang ya. Tuh, Lia udah siap. Kamu bantu Eyang dan Tante Suci siapin perlengkapannya, ya. Bye, Sayang.” Ardi mengusap lembut pipi Dara sebelum berlalu bersama Lia dengan mobilnya.


Dara yang msih tertegun tiba-tiba di kagetkan oleh suara seseorang. Ternyata itu suara Farhan. Orang yang selama ini tidak ingin ia temui sudah ada di hadapannya sekarang. Setiap kali Dara melihat wajahnya entah mengapa seperti ada rasa ketakutan dalam dirinya. Tangannya gemetar dan tubuhnya seperti terserang demam, menggigil dan panas dingin. Dara melangkahkan kakinya lebih cepat untuk menghindarinya, tetapi itu justru membuat Farhan terus mengejarnya.


“Dara, tunggu!” Farhan meraih tangan Dara.

__ADS_1


“Tolong lepaskan tangan saya, Kak. Saya tidak mau kalau sampai ada orang melihat ini dan menimbulkan fitnah. Saya tidak mau!” tukas Dara.


“Baik, aku lepaskan. Tapi, paling tidak dengarkan penjelasanku dulu, Ra. Aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita.”


“Saya rasa itu sudah tidak perlu. Lagi pula sekarang saya sudah menjadi seorang istri,” ucap Dara seraya menunjukan cincin bermata biru yang melingkar di jari manisnya. “Istri tercinta dari adik angkat tersayangmu, Seno Ardhibrata. Saya Dara Amelia Ardhibrata,” lanjut Dara lugas.


“Tapi sampai detik ini aku masih mencintaimu, Ra. Aku sangat menyesal dengan kejadian enam tahun lalu. Waktu itu Doni tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara dan menjelaskannya padamu. Aku sungguh sangat menyesal, Ra.”


“Penyelasanmu sudah sangat terlambat, Kak Farhan. Saya rasa sudah cukup sampai di sini perbincangan kita. Permisi.” Dara meninggalkan Farhan yang mematung di tempatnya.


***


Bersama Eyang dan Tante Suci, Dara menyiapkan beberapa bahan pelengkap lainnya di dapur. Meracik bumbu untuk merebus ayam dan juga membuat sambal. Memotong dedaunan dan juga mentimun sebagai lalapan.


“Ra, Tante bisa minta tolong ambilkan panci besar di atas lemari itu?” tanya Tante Suci seraya mengarahkan jari telunjuknya ke lemari dapur. “Tolong ya, Ra. Tante mau cuci lalapannya dulu. Oh ya, kamu bisa menggunakan kursi kecil itu untuk membantumu menggapainya.”


“Iya, Tante.” Dara meletakan pisau yang sedang digenggamnya. Dia menarik kursi yang berada di samping lemari itu. Ternyata kursinya sudah sedikit reyot. Dengan hati-hati Dara meletakkan kakinya di kursi itu, dia mencoba mengatur keseimbangan tubuhnya di atas kursi yang terus bergoyang.


“Tidak usah, Eyang. Aku bisa kok,” jawab Dara. “Tuh, kan aku bisa. Tapi, eehh....” Dara kehilangan keseimbangannya.


“Awas, Ra!” teriak Eyang panik.


Hap! Seseorang menahan tubuh Dara. Salah satu tangannya melingkar pada pinggang ramping wanita berkucir kuda itu. Sementara tangan yang lain menangkap panci itu agar tidak beradu dengan lantai dapur.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Farhan.


“Aku baik-baik saja. Cepat lepaskan aku!” kata Dara seraya kedua tangannya mendorong dada bidang Farhan, tetapi gerakannya membuat ia semakin jatuh dalam pelukan lelaki itu.


“Jangan banyak gerak. Aku akan membantumu turun,” kata Farhan. Ia lalu menurunkan tubuh mungil Dara dengan satu lengannya.


“Terima kasih,” ucap Dara singkat.

__ADS_1


“Ada apa ini? Kenapa Kak Farhan memeluk istriku?” tanya Ardi dengan muka yang masam. Ia berdiri di depan pintu dapur dengan menenteng tas plastik putih bersar.


“Tidak perlu marah, Di. Dari tadi Eyang ada di sini bersama mereka. Farhan hanya membantu Dara yang hampir jatuh karena naik kursi reyot itu. Tidak ada apa-apa, Di,” papar Eyang.


“Benar, Kak. Tidak ada apa-apa diantara kami berdua. Kak Farhan hanya membantuku,” terang Dara.


“Syukurlah.” Ardi mengembuskan napasnya lega. “Sebenarnya aku tahu kok, aku sudah melihatnya dari tadi. Hanya saja langkahku kurang cepat dari Kak Farhan. Makasih ya, Kak sudah menolong istriku.”


“Tidak masalah, Di. Kapan saja jika kamu membutuhkan pertolonganku, aku akan selalu siap untuk membantu,” kata Farhan.


“Sudah, Teteh istirahat saja. Sekarang biar aku yang selesaikan sisanya,” ucap Lia seraya mengambil panci yang berada di tangan Farhan.


“Terima kasih, Li. Aku pergi ke kamar dulu,” kata Dara, kemudian dia berlalu meninggalkan Farhan yang terus memperhatikan setiap langkahnya.


***


Malam yang indah bertabur bintang. Sang rembulan bertahta dengan angun memancarkan sinarnya. Menjadi naungan yang begitu mempesona bagi mereka yang dimabuk oleh asmara. Begitu pula dengan Ardi dan Dara. Mereka menikmati makan malam yang hangat bersama keluarga di halaman rumah Eyang sambil mengagumi keindahan Yang Maha Kuasa ciptakan.


“Ayam bakarnya benar-benar enak, Kak,” kata Dara.


“Pastinya, Teh. Inikan resep rahasia Eyang. Jadi, dijamin ketagihan,” timpal Lia.


“Suasananya sangat enak ya, romantis,” kata Febri. “Pas banget buat yang lagi bulan madu.”


“Uhuk... uhuk....” Dara tersedak mendengar ucapan Febri.


“Nih, Ra. Minum airnya,” kata Ardi dan Farhan bersamaan, seraya menyodorkan gelas ke hadapannya.


“Terima kasih,” kata Dara. Dia mengambil gelas yang diberikan oleh suaminya. Sementara Farhan perlahan dia pergi meninggalkan meja makan.


“Sepertinya ada yang aneh dengan Kak Farhan. Kenapa ya? Tidak biasanya dia bisa bersikap seperti itu dengan orang yang baru dikenal. Dia sangat perhatian. Tadi sore dia menolong Dara waktu di dapur. Sekarang dengan sigapnya dia memberi segelas air saat Dara tersedak. Tidak mungkinkan kalau Kak Farhan ... Ah! Jangan berpikiran yang aneh! Pasti dia melakukan hal itu karena sudah menganggap Dara seperti adiknya sendiri. Karena ... dia adalah istrinya Ardi,” batin Febri.

__ADS_1


__ADS_2