Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.54


__ADS_3

" Cup! Terima kasih, Eyang." Ardi mencium punggung tangan neneknya yang sudah mulai keriput.


Eyang hanya membalasnya dengan senyuman.


Ardi dengan menggenggam erat sweater rajut yang diberikan Eyang, ia pun mempercepat langkahnya menyusul Dara yang sedang mengurung diri di kamar Lia.


" Aku gak habis pikir.. Gara-gara termakan omongan Fandi, kak Ardi bisa marah besar seperti itu..... Dia juga memaksaku membuka jaket di depan banyak orang, dan semua orang menatap ke arah kita. Aku marah! Aku malu! Teganya kak Ardi berbuat seperti itu padaku. Padahal jaket itu......" gumam Dara.


Tok! Tok! Tok!


" Siapa lagi yang ketuk pintu? Aku gak pengen ketemu siapa-siapa dulu. Aku lagi pengen sendiri. Tapi gak mungkin. Ini rumah eyang dan ini juga kamar Lia, bukan kamarku. Sudahlah ku buka saja." sambung Dara.


Ceklek! Ardi berdiri di depan pintu.


" Boleh aku masuk?" tanya Ardi dengan lembut.


" Silahkan. Ini kamar Lia, kamar adik sepupumu. Tak perlu sungkan." Ucap Dara, seraya menggeser tubuhnya ketepi agar Ardi bisa masuk.


Pintu kamar Lia dibukanya lebar-lebar, agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan orang rumah.


" Sini. Duduk dekat aku," kata Ardi yang sudah duduk di tepi ranjang Lia.


" Kenapa? Kamu masih marah sama aku?" lanjut Ardi.


Dara yang sedari tadi berdiri disamping pintu, sekarang berjalan mendekat ke arah Ardi.


" Sini. Duduk disini." Ardi menarik tangan Dara agar duduk lebih dekat dengannya.

__ADS_1


Dara menurutinya, dengan wajah yang masih tertunduk. Ardi mengambil tangan Dara dari pangkuannya, dan sela-sela jari mereka saling bertemu.


" Maaf, Ra... Seharusnya aku tidak berbuat seperti itu tadi. Aku merasa tidak nyaman... Aku dan kamu, masing-masing dari kita tahu tentang cerita indah bersama orang lain di masa lalu. Ini lembaran baru kita, aku tidak ingin kenangan masa lalu itu hadir ditengah-tengah. Aku gak mau." Ucap Ardi.


" Aku ingin setelah ini, setelah pulang dari sini jika masih ada benda-benda lain yang mengingatkanmu tentang para mantan, plis Ra! Aku mohon buang semua itu. Aku gak mau benda mati itu akan menghidupkan kenanganmu bersama mantan. Aku tidak rela, otakmu terbagi untuk memikirkan orang lain." sambung Ardi.


" Sebenarnya jaket itu...aku beli dengan gaji pertamaku. Itu adalah salah satu benda yang aku bangga-banggakan selama ini. Karena dengan hasil keringatku sendiri, aku bisa membeli jaket impian. Dan sebenarnya juga.. Aku gak pernah ngomong seperti itu, tapi itu justru dia yang selalu ngomong seperti itu. Karena dia yang nganterin aku." Terang Dara.


" Maaf ya, Ra. Sekali lagi aku minta maaf... Mewakili aku.. dengan penuh cinta.. Eyang memberikan sweater ini untukmu." Ardi meletakkan sweater itu dipangkuan Dara.


" Mulai sekarang.. Jika kamu memakai ini maka kamu serasa sedang di peluk Eyang." sambung Ardi.


Mata Dara langsung berbinar-binar melihat benda berharga yang ada dipangkuannya sekarang. Dia merasa kalau dirinya kini sudah diterima oleh keluarga besar Ardi.


" Terima kasih." Ucap Dara sambil memeluk sweater itu.


Ardi memgusap lembut kepala calon istrinya dan menariknya dalam pelukannya.


" Ardi, Apa kamu benar-benar harus memperlakukanku seperti ini? Apa kamu pikir dengan bersikap seperti ini aku akan menyerah padamu? Tidak! Berhenti bermimpi Ardi! Aku tidak akan menyerah padamu. Aku tidak perduli seberapa dalam kamu akan menyakitiku. Aku tidak akan menyerah padamu. Titik! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Ini janjiku." batin Febri.


Sementara itu di kamar Tante Suci......


" Ucih!" Kata Eyang.


" Aku tahu kamu sangat menyayangi Ardi seperti menyayangi anakmu sendiri. Tapi bukan seperti itu caranya." sambung Eyang.


" Eyang, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Ardi. Dan aku rasa Febri adalah wanita yang baik dan pantas menjadi pendamping Ardi. Lagi pula Ardi dan Febri sudah saling mengenal sejak kecil." Terang Tante Suci.

__ADS_1


" Aku paham, Ucih." Eyang membelai lembut rambut anak bungsunya itu.


" Tapi, semua itu sudah ada garisnya. Kamu berusaha sekeras apapun untuk menjodohkan Ardi dengan Febri kalau bukan takdirnya, mereka tetap tidak akan bersama. Dan sekeras apapun kamu berusaha menjauhkan Ardi dengan Dara, tetapi tenyata mereka sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Maka, kamu pun tidak bisa berbuat apa-apa." lanjut Eyang.


Tante Suci memperhatikan setiap kata yang ibunya ucapkan.


" Bersikap sewajarnya aja ya, neng geulis. Kamu harus ingat. Kamu punya anak perempuan yang besok pagi akan dilamar oleh kekasihnya. Apa kamu mau anak perempuanmu satu-satunya itu mendapatkan perlakuan buruk dari salah satu saudara calon suaminya? Seperti yang kamu lakukan kepada Dara. Tidak kan? Mulai sekarang rubah sikapmu ya, neng." Eyang memeluk anak perempuannya itu penuh dengan sayang.


Eyang tahu betul kalau anak perempuannya ini sangat menyayangi Ardi. Karena memang sejak Ardi duduk di bangku sekolah dasar hingga lulus, Tante Suci lah yang merawatnya. Kala itu bisnis Ayah Adit belum sesukses sekarang.


Hari sudah semakin malam. Semua orang sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat agar besok kembali segar. Febri pulang ke rumah dengan penuh kekesalan, hingga dia tidak berpamitan dengan siapa pun.


Dalam kamar Lia, Dara tidur mengenakan sweater yang diberikan oleh Ardi. Wangi yang khas dari sweater itu membuat Dara merasa tenang dan tidur dengan nyenyak. Benar kata Ardi 'seperti dipeluk Eyang'.


Uukk!! Uukk!! Uuuuuukk!!


Ayam jantan sudah berkokok. Hari baru sudah dimulai. Tungku di dapur Eyang sudah mengeluarkan asapnya. Para rewang sudah bekerja dari pagi buta mempersiapkan hidangan untuk para tamu nanti.


Semua anggota keluarga sedang mempersiapkan dirinya masing-masing tidak terkecuali Dara. Ia pun mulai berdandan mempersiapkan dirinya. Sedangkan Lia, dia tengah di dandani oleh seorang make up artist.


" Ya ampun, sayang. Kamu kelihatan cantik banget, padahal ini make upnya belum selesai. Pasti setelah ini kamu bakal makin cantik." Ucap Tante Suci yang tiba-tiba datang ke kamar Lia.


" Setelah ini kamu sarapan dulu ya sayang."


" Iya, Mah." Jawab Lia.


" Teteh, Tante mau ambilkan makanan buat Lia. Nanti tolong disuapin ya. Tante masih ada kerjaan lain. Tante minta tolong sama kamu ya, Teh." Kata Tante Suci kepada Dara.

__ADS_1


" Eh? I..iya tante." Jawab Dara ragu.


" Kok sikap Tante Suci ke aku berubah drastis. Kenapa ya? Apa dia punya rencana lain dibalik sikap manisnya itu? Tidak Dara! Jangan berpikiran negatif!Atau itu karena semalem Eyang sudah memberiku sweater jadi sekarang dia sudah mulai bisa menerimaku? Jika iya, syukur alhamdulillah. Aku bisa memenangkan hati keluarga Ardi." batin Dara.


__ADS_2