Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.19


__ADS_3

" Tante Dara ! " Suara teriakan anak kecil dari ambang pintu.


Dara langsung menengok mencari sumber suara. Lalu dia menemukan sosok anak kecil itu. Dia kemudian berjongkok dengan merentangkan tangannya, senyumannyapun mengembang di bibirnya.


Anak kecil itu langsung berlari kepelukan Dara. Mereka berpelukan erat. Seperti ada rasa rindu yang lama terpendam diantara mereka.


" Halo my princess.." Dara melepaskan pelukannya, dan mencubit manja pipi anak itu.


" Halo my queen.." Jawab anak kecil itu sambil membalas mencubit pipi Dara dengan kecang.


" Aww! Sakit...Kenapa princess baru datang ? Queen rindu tahu..." Dara memasang muka sedih.


" Iihh..apaan sih tante Dara, jelek tahu..weekk " Kata anak itu menjulurkan lidahnya. " Momy bilang, Putri gak boleh sering-sering ke kantor. Nanti Putri gangguin Momy kerja. Atau gangguin tante dan om yang lain lagi kerja. Jadi Putri baru kesini deh. " Lanjut Putri


" Oh begitu..Ini Putri bawa ransel mau kemana sayang ? " kata Dara sambil menggandeng tangannya menuju ruang Bu Yanti.


" Kata Momy, hari ini kita mau jalan-jalan makanya aku bawa ransel dan koper. " Putri menunjuk baby sitter yang berjalan dibelakangnya yang sedang menarik koper majikan kecilnya.


" Oh begitu..ok deh nanti kita ngobrol lagi ya..Putri ketemu sama Momy dulu ya..Bye ! " Dara mengantarkan sampai kedepan pintu ruangan Bu Yanti.


Putri pun mengetuk pintu ruangan Momynya. Sebelum menghambur masuk kedalam ruangan dia melambaikan tangannya ke Dara.


Dara kembali ke meja kerjanya. Merapikan map-map file dan membuang beberapa kertas yang sudah tidak terpakai. Memeriksa kembali file-file yang ada dikomputernya apakah sudah tersimpan atau belum, sebelum akhirnya dia mematikan komputernya. Meja Novi pun sudah rapi. Mereka bergegas ke luar kantor bersama karyawan yang lain.


Sesampainya di luar kantor, ternyata bis jemputan mereka sudah datang. Sebuah bis dengan kapasitas empat puluh orang lebih terparkir di depan kantor cabang. Di bagian depan bis, tertempel tulisan ROMBONGAN PESERTA ACARA VILLA PAK SENO.


Dara mengernyitkan dahinya ketika membaca tulisan itu. Apa gak ada pilihan kata-kata yang lain ? Pikir Dara.

__ADS_1


Pintu bis terbuka. Dua orang turun dari dalam bis. Yang pertama yaitu Iqbal. Dan yang kedua entah siapa mereka belum kenal. Dia mengenakan kemeja biru lengan panjang dengan celana bahan warna hitam. Pria ini membawa clipboard ditangan kanannya.


" Ra, tas lu mana ? Masa iya lu gak bawa baju ganti ? " Novi heran karena Dara hanya membawa tas kerjanya.


" Ada. gue taruh di motor. Ntar ya gue ambil dulu. " Dara berlari ke arah parkiran motor bagian dalam. Dia memilih memarkirkan motornya disana karena dia akan meninggalkan motornya di kantor sehingga lebih aman.


Dara senyum dan membungkukkan badannya pada security yang menjaga parkiran itu. Dia mencari motor matiknya diantara ratusan motor lain yang terparkir disana. Kemudian dia mempercepat langkahnya ketika sudah menemukan motornya.


" Ini dia. " Dara menurunkan kecepatan jalannya. Setelah tiba di depan motornya Dia bergegas mengambil tas kopernya. Tetapi tiba-tiba dari arah belakang sudah ada tangan lain yang akan mengambil tas itu.


" Hak! " Dara tercekat kaget. Dia langsung membalikan badannya ingin tahu siapa orang itu.


" Iqbal ! " Teriakannya sedikit bergema di ruang parkir itu. " Ngagetin aja kamu. Ngagetin itu nama tengah kamu ya ? Atau hobi kamu ? Dari kemarin kerjaannya ngagetin mulu. " Dara kesal, nafasnya ngos-ngosan.


" Maaf, gak maksud ngagetin, Ra. Cuma tadi penasaran aja. Kenapa pas yang lain udah pada mau masuk ke bis, kamu malah kesini ? Jadi aku ikutin deh. Sebagai permintaan maaf aku bawain tas kamu sampai ke bis ya. " Iqbal menawarkan bantuan dengan dalih permintaan maaf.


Mereka berdua pun keluar dari ruang parkir itu menuju bis. Iqbal menaruh tas Dara dibagasi bersama barang bawaan yang lain. Dara memasuki bis dan mencari tempat duduk.


" Duduk sini aja, Ra. sama aku. Pemandangan bagus bisa dilihat dari sini secara langsung lho. " Kata Iqbal sembari menepuk-nepuk sandaran kursi.


" Gak ! Makasih ! Temanku udah nunggu dibelakang. " Dara berlalu pergi meninggalkan Iqbal di kursi barisan depan.


" Itu si buntut kenapa ? Caper banget sama lu ? Jangan-jangan dia suka lagi sama lu ? " Novi menggoda.


" Au ah ! Bodo amat ! " Dara duduk disebelah Novi.


Dara membuka tasnya mencari powerbank dan earphonenya. Disambungkannya kabel data pengisi daya dan juga earphone ke HP. Dia membuka playlist lagu di HPnya, lalu menekan tombol bergambar segitiga. Musikpun mulai mengalun dan dia memejamkan matanya.

__ADS_1


Bis sudah berjalan sekitar satu jam setengah dari keluar kantor cabang. Jam di HP Dara sudah menunjukan pukul dua sore. Dara terbangun dari tidurnya, mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan badannya. Lalu dia melihat keluar jendela. Dia ingin tahu sudah sampai mana sekarang. Ternyata sudah memasuki area puncak, dan jalanya sudah menanjak.


Suasana lalu lintas padat lancar. Banyak kendaraan lain yang menuju puncak. Tapi tidak menyebabkan macet seperti ketika long weekend ataupun hari libur nasional.


Kurang lebih setengah jam kemudian bis memasuki sebuah kawasan villa dengan halaman parkir yang luas. Bis terparkir disamping sebuah bis lain dan beberapa mobil hitam, dan satu mobil putih.


Dara dan teman-teman yang lainnya turun dari bis. Mereka mengikuti langkah pria berkemeja biru itu. Selintas dia memerhatikan mobil yang terparkir disana. Ada mobilnya Bu Yanti dan Mas Rizal. Selebihnya dia tidak tahu.


Jalan menuju villa sedikit menanjak tetapi menyuguhkan pemandang yang indah. Dari kejauhan terlihat bukit-bukit hijau yang ditutupi oleh kabut. Dan ternyata ada hamparan kebun teh di dekat parkiran bis, yang hanya bisa terlihat dari atas.


Dara tidak menyadari kalau sudah sampai di tempat tujuan, karena dia sedang asik melihat pemandangan sekitar.


" Wuiiihh..Ra ! Villanya cakep banget. " Novi tertegun melihatnya.


" Apa sih ? Jangan norak deh lu ! " Jawab Dara sambil menyenggolkan bahunya.


" Bukannya begitu, Ra ! Gue tuh paling suka sama villa yang begini..yang desainnya serba kayu..kayaknya bawaannya adem banget. Betah gue disini."


" Ya udah...selesai acara kita pulang..dan lu tinggal disini.."


" Gak apa-apa dengan senang hati gue, Ra. Apalagi ditemenin sama Pak Seno. " Novi mengelantur.


" Ngomong sama tembok lu, Nov. Jangan-jangan yang nemenin lu itu bukan Pak Seno beneran tapi.....hihihihihi..." Dara menakuti Novi.


" Ah! Rese lu, Ra ! " Novi cemberut.


Kawasan villa itu terbagi dua subbagian bangunan dengan jalan setapak yang menyatu ke bangunan utama. Dara, Novi dan karyawan kantor cabang mendapatkan Paviliun sebelah kiri dengan lima kamar di dalamnya. Sementara Paviliun sebelah kanan sudah terisi dari kantor pusat.

__ADS_1


__ADS_2