
Para tamu undangan mulai memasuki tempat pesta. Ardi mengalihkan pembicaraannya dengan menyambut para tamu.
" Silahkan Pak Direktur. " Ardi menyalaminya. Dan Pak Wawan hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan.
" Silahkan Bu Yanti and My Princess.." Ardi mencium tangan mungil gadis indo itu.
Dan Ardi pun menyambut teman sejawatnya di kantor pusat. Dia juga menyambut para karyawan dari kantor pusat dan kantor cabang.
Dara langsung menghamburkan dirinya bersama teman-temannya yang lain. Meja mereka ada dideretan belakang. Dan dari enam bangku baru terisi empat sekawang yang satu kamar ini.
" Lihat, Ra..your King..lagi dikerubutin sama cewe-cewe. " Kata Novi.
" Iya ! Gimana gak dikerubutin orang Pak Seno manis banget kaya gula. " Eka menangkupkan kedua tangannya ke pipi.
" Iya tuh lihat tuh...si sekretaris cantik dari kantor pusat..itu sih mahkota..gatel banget..pengen digaruk kayaknya dia. " Timpal Novi.
" Tiara ! " Sahut Dara.
" Iya maksud gue Tiara. Kan sama saja Tiara dan Mahkota. " Bela Novi.
" Kalo yang gue perhatiin justru kaya Biksu Tong Sam Cong yang lagi dikerubutin sama siluman laba-laba." Kata Irma.
Ha..ha..ha..ha..!! Sontak mereka berempat langsung tertawa terbahak-bahak.
Ups ! Bu Yanti langsung menoleh kearah mereka. Seketika mereka berempat menutup mulutnya masing-masing.
" Kalian kenapa ketawa ? Ada hal lucu ? " Kata Rizal sambil menarik kursi dan duduk bersama mereka.
" Gak apa-apa Pak, kita lagi ngomongin film Monyet Sakti. " Jawab Irma.
Mereka berempat masih tertawa walau dengan suara yang tertahan.
" Memang ada apa dengan Monyet Sakti ? " Rizal bingung.
" Iiihh..Pak Rizal kepo deh.." Jawab Irma lagi.
" Sstt ! acara udah mau mulai ayo simak dulu. Pak Seno mau buka acaranya. " Kata Rizal dengan jari telunjuk di depan bibirnya.
__ADS_1
Ardi berjalan menuju panggung. Dan mengambil mic yang sudah terpasang diatas panggung.
Tok! Tok! Tok! Ardi mengetuk micnya dengan jari telunjuknya.
" Selamat Malam semua..Saya Seno Ardibratha mengucapkan banyak terima kasih untuk kalian semua yang telah hadir..Terutama kepada Pak Wawan selaku Direktur kita yang sudah menyempatkan diri datang ke acara ini. Serta untuk teman-teman seperjuanganku baik yang di kantor pusat ataupun yang di kantor cabang. Saya mengadakan acara ini sebagain wujud rasa terima kasih saya kepada kalian semua yang sudah mau bekerja sama dengan saya selama saya masih menjadi karyawannya Pak Wawan. Saya ingin membuat kenangan indah bersama kalian semua yang keterakhir kalinya. Dan saya juga mohon maaf apabila selama saya bekerja ada kesalahan. Baik itu dari lisan ataupun perbuatan. Ataupun dari yang disengaja ataupun tidak. Untuk kantor cabangpun saya berterima kasih. Karena sudah membantu tugas akhir saya dan juga membantu menemukan orang yang pas untuk menggantikan saya......mari kita semua menikmati pesta malam ini bersama-sama. Terima kasih. "
Prok ! Prok ! Prok ! Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan. Ardi menghampiri Pak Direktur untuk memulai menikmati hidangan yang telah disajikan.
Iqbal menghampiri meja dimana Dara berada.
" Ra, kamu mau makan apa ? Nanti saya ambilkan. " Kata Iqbal.
" Terima kasih. Saya bisa mengambilnya sendiri nanti. " Jawab Dara ketus.
Ardi menggandeng tangan Putri dan berjalan ke meja Dara.
" Halo my queen. Are you ok now ? " Tanya Putri.
" I'm ok ! " Dara menjawabnya dengan tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.
" Putri, speak bahasa plis.."
" It's ok ! I'm with you. " Ardi menggenggam tangan Putri.
" Ok ! Tapi..Momy akan angry..If I speak bahasa. " Kata Putri menahan tangis.
" Momy say I must speak english everywhere. "
" Putri sayang..kita semua disini sama Putri. Jadi nanti Momy gak akan marah sama Putri. " Dara menenangkan.
" Benar kata your queen..Your King pun akan membantu bilang ke Momy. Ok Princess ? " Imbuh Ardi.
" Ok! " Putripun mengangkat kedua jempolnya dengan tersenyum lebar.
" Dara itu kalau lagi senyum manis banget. " Kata Iqbal lirih.
Tetapi ternyata Ardi mendengarnya. Langsung saja dia memalingkan wajahnya ke Iqbal dengan tatapan tajam. Dan Iqbal pun merasakan tatapan mematikan itu.
__ADS_1
" Seperti ada pisau yang terbang ke arahku. " gumam Iqbal.
Jreng ! Para pemain band mulai menaiki panggung. Sang vokalis sudah menggenggam mic ditangannya.
" Ok! Selamat malam semua..Kami dari Jaksel Band akan membawakan sebuah lagi dari miliknya Judika dengan Mama Papa Larang sebagai lagu pembuka kita..Bagi yang ingin request lagu bisa langsung ke depan panggung. Atau bahkan ingin menyanyikan lagunya sendiri juga boleh banget kami siap mengiringi...Dan ini lagu persembahan pertama kami..1..2..1..2..3.."
Alunan musik mulai memenuhi ruangan. Novi, Eka, dan Irma sudah beranjak dari kursinya. Iqbal juga demikian setelah mendapat tatapan tajam dari Ardi. Kini di meja itu tinggal Dara, Putri, Ardi, dan Rizal.
" Uncle ! I want eat something. Aku ingin makan kue. " Rengek Putri ke Ardi.
" Ok ! Ayo uncle antar. Kamu boleh makan apa saja yang kamu mau. " Ardi menggandeng Putri.
" Kamu mau makan apa, Ra ? Biar sekalian kita bawakan. "
" Tidak, terima kasih. Nanti saya bisa ambil sendiri. " Dara menolaknya halus.
" Baiklah. " Ardi meninggalkan Dara dan Rizal berdua saja disana.
Rizal berdiri lalu berjalan menghampiri Dara. Dan duduk tepat disampingnya. Dara yang kakinya masih sedikit sakit dia tidak bisa segera pindah, jadi dia hanya mematung.
" Ra, tadi sore aku udah ngomong sama papa buat ngebatalin rencana ngelamar kamu. " Rizal berbicara dengan sedikit berbisik.
" Aku juga bilang ke papa, aku ingin ini terjadi secara normal. Jadi aku mohon sama kamu, Ra. Beri aku kesempatan. " Rizal hendak meraih tangan Dara yang ada diatas meja. Tetapi dengan cepat pula Dara menarik tangannya menghindari tangan Rizal.
" Maaf Mas..sudah aku bilang..aku gak punya perasaan apapun sama Mas Rizal. Di hati aku Mas Rizal hanya sebagai kakak..layaknya Mas Doni. Tidak lebih ! "
" Tapi, Ra. Cinta datang karena terbiasa. Jika kamu terbiasa dengan adanya kehadiran aku, terbiasa dengan perhatian dariku pasti lambat laun hatimu akan luluh Ra. "
" Tapi tetap saja Mas..rasa sayang yang ada disini hanya sebagai Kaka tidak lebih. " Dara menaruh tangannya di dada.
" Kamu yakin dengan jawabanmu itu...Bukan karena kamu lebih mengharapkan orang lain daripada aku ? "
Dara diam.
" Kamu mengharapkan sahabatmu yang konyol itu ? lelaki yang entah dari mana datangnya..kemudian hilang..kemudian datang lagi....mungkin besok dia hilang lagi. "
" Entahlah ! Aku juga tidak tahu ! " Jawab Dara.
__ADS_1
" Ups! Dara kenapa kamu ngomong seperti itu ? Bisa-bisa Mas Rizal bukannya menyerah malah makin semangat ngejar. Haduuhh gimana ini ? " Batin Dara.