
Dara kembali memasuki ruang aula depan dengan membawa travel bagnya dan juga tas kerjanya. Dia menghampiri Rizal yang sedang duduk dan berbicara dengan Iqbal.
" Begitu saja Pak Iqbal..tolong sampaikan maaf saya kepada Pak Seno karena saya harus pamit undur diri dulu. "
" Baik, Pak Rizal. Nanti saya sampaikan kepada beliau. " Iqbal menyadari kedatangan Dara, dia bangkit dari duduknya.
" Dara ? Kamu kenapa bawa tas segala macam ? Memangnya kamu mau kemana ? Waktu kita buat jalan-jalankan masih lumayan lama. Sekitar satu jam setengah lagi. " Iqbal melihat jam tangannya.
" Oh iya, maaf saya lupa. Dara pergi dengan saya. Kebetulan kita pergi kearah yang sama dan Dara juga ada keperluan mendadak. Jadi dia pergi dengan saya, Pak Iqbal. " Ujar Rizal menjelaskan.
Dara hanya tersenyum menanggapi penjelasan Rizal ke Iqbal.
" Oh, begitu. Memang ada keperluan mendadak apa, Ra ? Apa aku bisa membantumu ? Atau aku saja yang mengantarmu ? "
" Tidak perlu ! Kamu masih punya tugas disini. " Kata Ardi tiba-tiba.
" Di ! " Panggil Rizal.
" Sorry ya ! Gue gak bisa lanjut ikut acara kalian. Gue ada acara lain. Dan gue juga pergi sama.....Dara. " Rizal memainkan matanya, seraya memberi kode ke Ardi.
" Oh ! Ok ! Tidak masalah. Have fun buat kalian berdua. " Jawab Ardi sambil berjabatan tangan dengan Rizal.
" Thank you, Di ! Gue cabut dulu ya.."
Rizal mengambil travel bag dari tangan Dara. Ketiga teman Dara yang masih berada di ruangan itu segera menghampirinya.
" Ra, lu mau kemana sama Pak Rizal ?" Tanya Novi.
" Gue tadi ditelpon sama kakak gue, katanya ada hal penting. Jadi gue harus cabut sekarang ! " Jawab Dara asal.
" Emang hal penting apaan ? " Novi penasaran.
" Ntar aja, kalo di kantor gue jelasin. Sekarang gue lagi buru-buru. Tuh, Pak Rizal udah jauh jalannya. Duluan ya semua..Bye ! " Dara melambaikan tangannya.
Ardi melihat punggung Dara yang semakin menjauh. Lalu pandangannya beralih pada sebuah benda yang melingkar disalah satu pergelangan tangan Dara.
" Pak, persiapan menuju loka wisata kebun teh sebentar lagi siap. Apa Anda menikmati secangkir kopi dulu Pak ? " Tanya Iqbal.
" Boleh.." Ardi menarik salah satu kursi didepannya, dan dia duduk disana.
" Siapkan vanilalate! "
" Baik, Pak! " Iqbal bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman yang dipesan oleh Bosnya.
" Kenapa mesti pergi sih Dara ? Seharusnya dia disini aja, jadikan aku semangat. Gak ada Dara rasanya separuh nyawaku hilang. Huf! " gerutu Iqbal.
Ketika hendak mengantarkan kopi pesanan Ardi, Iqbal melihat Fandy sedang berbicara dengan Rina. Karena mereka berada diluar ruangan Iqbal tidak bisa mendengar percakapan mereka.
" Fan, kita sama-sama tahu..orang yang kita suka sekarang lagi jatuh cinta. Gue bisa ngelihat tatapan mereka masing-masing. Terutama sikap Ardi yang jelas-jelas nyuekin gue gara-gara Dara. " Kata Rina.
" Terus..mau lu pa ? " Kata Fandy melipat tangan kedepan dadanya.
" Yang pastinya apa yang gue mau..pasti lu juga mau.." Rina tersenyum licik.
__ADS_1
" Terserah lu aja deh..yang penting Dara kembali ke pelukan gue. Mau cara kasar..mau cara halus..gue ikut! "
" Baiklah! " Senyum licik kembali merekah dibibir Rina.
Beberapa saat kemudian..
Di dalam mobil Rizal, Dara asik memutar gelombang radio tapi belum menemukan sinyal yang pas.
" Ah! Tau ah! Sebel! gak nemu gelombangnya! " Dara membanting bahunya kebelakang, menyandar di kursi mobil.
" Kenapa sih cacing ? sewot sendiri aja..itu ada flashdisk didalam laci. Gih ambil, terus pasang. Gak usah ngambek! Nanti cantiknya ilang lho.."
Dara langsung membuka laci yang tepat berada didepannya. Dia mencari flashdisk diantara tumpukan CD.
" Yeay! Ketemu! "
Dara memasukan benda kecil ke colokan yang ada disamping radio.
*ku tahu..kamu pasti rasa..
apa yang ku rasa..
ku tahu..cepat atau lambat..
kamu kan mengerti..
hati..bila dipaksakan..
pasti takkan baik..
yang juga cintai dirimu..
cinta kamu*..
Lagu dari Band Kotak menggema didalam mobil Rizal, sontak lagu ini membuat mereka berdua diam. Menutup rapat-rapat mulut mereka berdua.
Lagu ini seperti sedang dinyanyikan oleh Dara untuk Rizal. Rizal merasa tertampar. Secara tidak langsung Dara benar-benar menutup hatinya untuk Rizal.
" Mm..Ra, aku kemarin udah minta sama bagian keamanan kantor untuk mengkopi rekaman cctv pas penentuan kandidat kemarin. " Rizal memecah keheningan diantara mereka berdua.
" Gak perlu Mas! aku udah ikhlas kok..aku gak mau diperpanjang lagi masalah ini..yang sudah ya sudahlah..aku gak mau diambil pusing. "
" Tapi ini yang minta Mas Dony mu lho, Ra. Ups! " Rizal keceplosan.
" Iiihh...Mas Dony apa-apaan sih..dibilangin gak usah juga.."
" Itu karena dia sayang sama adiknya si cacing kepanasan ini. "
Uuu! Dara memonyongkan bibirnya. Dia merasa kesal dengan kakak tersayangnya yang kadang suka bertindak semaunya sendiri.
" Ra, aku mau tanya sesuatu. "
" Tanya saja.."
__ADS_1
" Kamu masih marah sama aku ? Jujur saja! "
" Mmm..sudah mulai sedikit biasa saja. "
" Maksudnya ? "
" Ya aku mencoba melupakan kejadian yang kemarin. Aku menganggap kejadian kemarin tidak ada. Aku hanya berfikir kalau Mas Rizal kemarin lagi mengigau. "
" Mengigau ? Hahaha..Ada-ada saja kamu, Ra! "
" Ya walau tidak bisa dipungkiri itu memang nyata. Tapi..aku mencoba mengerti posisi Mas Rizal, karena kita masih saudara jauh jadi wajar jika itu terjadi. "
" Jadi, dengan kata lain kamu terima aku nih, Ra! " Rizal sumringah.
" Gak! aku tetep gak punya perasaan apapun sama Mas Rizal. Mas Rizal cuma kaka bagi aku. Titik! "
" Huft! " Rizal menghela nafasnya.
" Jadi fix nih gak ada tempat bagiku dihatimu, Ra? "
" Ada! Sebagai kaka tersayang seperti Mas Dony. " Dara tersenyum kearah Rizal.
Senyum manis Dara membuat Rizal sedikit melayang hingga akhirnya dia tidak memperhatikan jalan. Tiba-tiba dari arah depan muncul minibus dari arah berlawanan. Rizal kehilangan kendali, dia membanting stirnya ke arah kiri.
Braaaaakkkk !!!
Sementara itu di Villa, suasana hati Ardi tidak tenang. Sudah hampir empat puluh menit dari mereka meninggalkan tempat itu. Dan Ardi pun sudah menghabiskan empat buah cangkir kopi vanilalate.
" Pak, persiapan sudah siap. Sebentar lagi saya akan menyuruh mereka untuk masuk ke dalam bis. " Kata Iqbal.
" Lakukan yang menurutmu baik. " Jawab Ardi.
" Baik pak! " Iqbal undur diri.
Drrtt ! Drrtt ! Drrtt ! HP Ardi berdering.
" Rizal ? Kenapa dia telpon ? Dia tidak sedang ingin pamer kebersamaannya dengan Dara kan ? Jika iya benar-benar menyebalkan! " batin Ardi.
Tut! Ardi mengangkat telponnya.
" Halo.."
" Halo..Di...Di...Tolong...Tolongin...Aku dan Dara.....Dara...Di..Tolong.." Suara Rizal terputus-putus.
" Halo..Zal! Kenapa ? Ada apa? Apa yang terjadi dengan Dara? Halo...Halo.." Ardi panik.
Tut ! Tut! Tut! Telpon terputus.
Ternyata Fandi sudah mencuri dengar dan dia tahu kalau ada yang tidak beres dengan Dara. Dia langsung mengeluarkan kunci motor dari kantong celananya dan berlari ke arah parkiran.
" Pak..Kenapa ? Ada apa dengan Dara ? " Tanya Iqbal.
" Aku tidak tahu. Sekarang aku akan mencoba menyusul mereka. Kamu urus saja segala keperluan disini. Aku percayakan semuanya padamu. Aku pergi dulu. "
__ADS_1
" Hati-hati di jalan Pak ! " Teriak Iqbal, melihat punggung Ardi yang semakin menjauh.