Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.34


__ADS_3

Clik! Brooom!


Dengan sudah memakai helm, Fandi memutar kunci motornya. Dia langsung menarik gas memacu kuda besinya meninggalkan tempat parkiran villa itu.


Ckiiiitt! Fandi menekan rem. Dia berhenti tepat di depan mobil Ardi ketika Ardi hendak memasuki mobilnya.


" Pak Boss..tunggu dan duduk santai saja di dalam villa sambil menikmati kopi hangat. Sang Ratu biar Pangeran berkuda putih saja yang menjemputnya. "


Brooooom! Fandi meninggalkan Ardi tanpa menunggu jawaban.


Klap! Pintu mobil tertutup.


" Yang namanya Ratu itu berpasangan dengan Raja. Bocah tengik! Lintah penghisap darah! Lihat saja Raja akan menyelamatkan Sang Ratu. "


Wuuuussshh! Ardi menginjak gas mobilnya melaju mengejar Fandi untuk menemukan Dara.


" Ra, kamu dimana? Jangan sampai terjadi hal yang buruk denganmu. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Tuhan! Jaga selalu dia! Kapan pun dan dimanapun dia berada. " Kata Ardi sembari menyetir mobilnya.


Dia melihat ke kiri dan ke kanan jalan. Mencari keberadaan Dara dan Rizal.


Tut! Tut! Tut!


" Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar servise area. Silahkan coba beberapa saat lagi. " Suara operator.


" Sial! Hp Rizal tidak aktif! Dimana mereka? Dan bagaimana keadaan mereka? " Ardi panik.


Ardi melihat motor Fandi melaju didepannya.


" Lu harus mundur Fandi! Dara hanya akan menjadi milik Seno Ardhibrata. Lu tidak akan ada tempat diantara kita berdua. " Ardi menginjak gasnya lebih dalam menyalip Fandi.


Fandi yang mengetahui kalau mobil yang baru saja melewatinya adalah Ardi, dia pun tidak mau kalah. Fandi menarik gasnya lagi melajukan kuda besinya mencoba mengambil posisinya lagi.


Di tengah jalanan yang menurun dan berliku Ardi mencoba mempertahankan kecepatannya. Hingga akhirnya dia melihat sebuah kerumunan. Ardi segera menepikan mobilnya.


Begitu juga dengan Fandi. Dia melihat Ardi mermarkirkan mobilnya, maka dia pun memarkirkan motornya di dekat mobil Ardi.


" Maaf, Pak! Ada apa ini ? " Tanya Fandi pada salah satu warga yang berkerumun.


" Ini A ada cewek sama cowok tabrakan. Ceweknya kasihan kepalanya berdarah dan cowoknya juga berdarah tapi tidak separah ceweknya. Tadi sih kata petugas ambulannya yang cewek kritis. Sekarang udah dibawa sama ambulan. " Jawab orang tersebut.


" Mereka dibawa kemana Pak? " Tanya Ardi panik.


" Ke RSUD, A. " Jawab orang itu lagi.


" Terima kasih, Pak." Ucap Ardi

__ADS_1


Ketika Ardi sedang berjalan kembali ke mobilnya, dia tiba-tiba melihat sebuah sepatu teplek yang tergeletak dijalan. Sepatu itu hanya sebelah tidak ada pasangannya. Ardi berjalan melewati kerumunan itu dan memungutnya.


" Seperti kenal " gumam Ardi.


Ingatan Ardi kembali kebeberapa saat yang lalu, ketika Dara sedang menyapa teman-temannya sebelum pergi meninggalkan villa mengejar langkah Rizal.


Deg !


" Ini sepatu Dara! Kamu akan baik-baik saja kan, Ra? " Dengan tangan masih memeluk sepatu itu.


" Dara! Dara! Dara! " Ardi berteriak ditepi jalan itu. Ardi panik entah apa yang harus dia perbuat sekarang.


Tiba-tiba dia melihat seorang gadis berkuncir kuda menggunakan kaos berwarna biru keluar dari sebuah warkop disebrang jalan.


" Dara! " Lagi! Ardi meneriakan nama gadis berkuncir kuda itu.


Dara mencari sumber suara yang memanggil namanya.


" Kak Ardi! " Kata Dara lirih.


Setelah memastikan bahwa itu dia, Ardi langsung berlari kesebrang jalan menghampirinya. Tidak memperdulikan kendaraan yang berlalu lalang dijalan, Ardi terus saja menerobos.


Tiiinn! Suara klakson mobil menghentikan langkahnya.


" Woi! Kalau jalan pake mata dong. Emang ini jalan milik nenek moyang lu ? Main ngeloyor aja! " Umpat sopir mobil itu.


Fandi menyalip langkah Ardi. Dan Ardi tidak menyadarinya karena matanya hanya tertuju pada Dara.


" Wanitaku baik-baik saja. Dia tidak sedang terluka. Dia dalam keadaan tidak kurang sesuatu apapun. Dia didepanku sekarang. " batin Ardi.


Ingin rasanya Ardi berhambur kedalam pelukan Dara. Tetapi rasa itu dia tahan. Dia hanya memandangi gadisnya lekat-lekat.


" Ra, kamu gimana? Kamu baik-baik ajakan? Ada yang terluka atau perlu aku antar kamu ke dokter? " Fandi memberondong Dara dengan pertanyaan yang sepertinya tidak ingin dia jawab.


" Ini sepatu kamu. " Ardi memberikan sepatu yang sedari tadi digenggamnya.


" Terima kasih." Dara menerima dengan tangan kanannya.


" Di! Akhirnya lu dateng juga. " Ujar Rizal yang baru keluar dari toilet umum warkop itu.


" Dari tadi HP lu kemana? Kok ditelpon gak nyambung-nyambung. Gue bingung! Panik! Takut kalau ada hal yang buruk terjadi sama lu. Rese banget nih orang! " Ardi meninju pelan bahu Rizal.


" Sory! Sory! HP gue mati, batreinya habis. " Jawab Rizal.


" Terus gimana keadaan kalian sekarang? Ada yang luka atau lecet atau memar ? "

__ADS_1


" Tenang Bapak Seno Ardhibrata. Semuanya aman terkendali. Hanya mobil saya aja yang penyok. Huhuhu.." Rizal memasang muka memelas.


" Eh, ngomong-ngomong ini bocah satu siapa ?"


" Saya Fandi Pak. Saya...." Fandi berjalan mendekat.


" Temen aku Mas. " Ucap Dara.


" Kok temen kamu ada disini, Ra? "


" Iya, tadi saya tidak sengaja dengar waktu Pak Bos ini terima telpon kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Dara, makanya saya langsung meluncur kesini. Saya sangat sayang dengan Dara, Mas. Saya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena dia begitu sangat spesial untuk saya. " Fandi memainkan perannya.


" Spesial pake telor? " celetuk Rizal.


" Tapi kok mukanya gak asing? "


" Iya! Dia salah satu personil band yang mengisi acara semalam. " Terang Dara.


" Ow! Begitu. Ok! Salam kenal. Saya Rizal kakak sepupunya Dara! " Rizal mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Fandi.


Fandi menggenggam tangan Rizal.


" Salam kenal kaka sepupu. "


" Mobil lu mana, Zal? " Tanya Ardi yang dari tadi bingung dimana keberadaan mobil itu.


" Oh itu! Masih ada di tkp. "


" Emang tkpnya dimana ?"


" Itu! yang tadi dikerumunin banyak orang. " Rizal menunjuk ke sebuah kerumunan yang tadi dihampiri oleh Fandi dan Ardi.


" Gue tadi kesitu. Terus pas ditanya katanya yang kecelakaan cewek sama cowok dan berdarah-darah. Gue panik tahu! Takut lu kenapa-kenapa. " Kata Ardi sembari melirik ke Dara sebagai kode kalau ini juga pernyataan untuknya.


" Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. " batin Dara.


" Iya! Itu kejadiannya setelah kita keluar dari mobil dan beristirahat ke warkop ini. Oh iya! Ini orang bengkel kemana kok belum dateng ya. Bentar ya gue ambil HP yang lagi dicas didalem warung dulu. " Rizal berlalu pergi.


Baru saja Ardi membuka mulutnya untuk bertanya pada Dara, Fandi sudah menyerobot.


" Ra! Beneran deh..pas tadi orang itu bilang ceweknya kritis aku langsung panik banget. Aku bingung harus gimana. Kamu sangat berarti dihidupku, Ra... " Fandi menggengang pergelangan Dara.


Praakk! Gelang kayu yang diberikan Fandi tadi patah tak sengaja tertekan.


" Aww!! Sakit.." Dara meringis kesakitan.

__ADS_1


Sebuah luka menggores dipergelang tangannya. Beberapa tetes darah keluar dari dalam kulitnya.


__ADS_2