
Cekrek! Cekrek! Cekrek! Ardi dan Dara yang saling bertatapan diabadikan oleh kamera para pewarta.
" Siapa wanita yang ada di samping Pak Seno? Siapa dia? Namanya siapa, Pak?" tanya seorang wartawan.
" Dia adalah calon istri saya," kata Ardi dengan mata yang masih tertuju pada Dara. " Namanya Dara Amelia, hanya dengannya ku ingin habiskan sisa hidupku."
" Wuuuuuuu...!!" suara riuh para wartawan mendengar jawaban dari Ardi.
" Pak Seno sepertinya pandai merayu ya," timpal wartawan yang lain. " Lalu apakah Mba Dara mau menerima pinangan Pak Seno?"
" Bagaimana mba Dara diterima gak? Terus apa alasannya?"
" Jawab pertanyaan mereka," ucap Ardi lembut.
" Ya! Aku menerimanya," kata Dara di depan microphone. " Karena..."
" Karena apa mba Dara? Karena hartanya, jabatannya, atau karena ketampanannya?" tanya seorang pewarta.
" Itu karena aku... sudah lama mengenalnya. Sebelum aku tahu kak Ardi adalah anak tunggal dari BR group. Dan aku menerima ajakannya menikah karena dia orang yang supel gampang bergaul, punya kepribadian yang menyenangkan dan juga dia sangat rendah hati."
" Kalau menurut mba Dara, apa yang membuat Pak Seno mau meminang mba Dara? Siapa sebenarnya mba Dara ini?" ucap salah satu wartawan.
" Mm... aku juga gak tahu kenapa dia melamarku menjadi istrinya. Sedangkan aku sendiri cuma seorang staf bawahannya ketika pertama kali kenal dulu."
" Oh! Jadi mba Dara ini dari kalangan biasa, bukan dari kalangan pengusaha elit," celetuk salah satu pewarta.
" Ternyata mba Dara cuma salah satu staf karyawannya Pak Seno. Wah! Benar-benar mujur nasibnya seperti cinderela," timpal wartawan lain.
Ardi merebut mic yang ada di tangan Dara, " Dia memang hanya staf karyawan saya dulu, tetapi dia sebenarnya adalah keponakan dari pemilik perusahaan Cahaya group dan adik kandung dari Doni Kusuma pimpinan cabang Cahaya group di negara S."
" Wow! Ternyata salah satu keluarga dari Cahaya group. Bukankah itu rival dari BR group?" tanya seorang wartawan.
" Mengenai Cahaya group, bukankah ada desas-desus kalau Pak Seno menyelinap masuk ke perusahaan itu untuk mencuri data klien penting mereka. Apakah itu betul, Pak?" tanya wartawan yang lain lagi.
" Sepertinya pertanyaannya sudah mulai keluar jalur. Disini saya hanya ingin menegaskan kalau kejadian di hotel H adalah gosip belaka, isi berita dengan kejadian yang sesungguhnya sangat berbeda jauh. Dan saya mengundang kalian semua untuk hadir di acara pertunangan kami besok siang di kediaman orang tua Dara. Untuk info lebih lanjut nanti pihak dari kami akan kirim detailnya ke kalian semua via email," ucap Ardi yang kemudian meletakkan microphonenya diatas meja.
__ADS_1
Ardi dan Dara meninggalkan tempat konfrensi pers itu dengan di dampingi oleh pria berjas hitam yang selalu mengikutinya kemana pun mereka pergi.
Para pemburu berita itu belum puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Ardi terakhir kali. Dan mereka pun masih menginginkan berita lebih untuk kolom tulisannya. Para pewarta itu berlarian mengejar Ardi dan Dara, tetapi para pria berjas hitam sudah siap menghalau dengan menjadi pagar hidup untuk bosnya.
Ardi dan Dara sudah kembali ke ruangan wakil Ceo. Ardi menarik tangan Dara menuju meja kerjanya dan mendorong bahunya pelan agar dia duduk di kursi kebesaran itu. Sedangkan ia menjatuhkan bokongnya di atas meja.
" Ra, kamu sebentar lagi jadi istri seorang wakil Ceo. Kamu mulai besok, resign dari kantor cabang ya. Nanti aku ya4ng urus semuanya termasuk surat pengunduran dirimu. Ok?" kata Ardi.
" Tapi, walaupun sudah menjadi istrimu nanti aku masih ingin tetap kerja. Aku gak mau cuma duduk di rumah aja," tukas Dara.
" Calon suamimu seorang wakil Ceo di BR group dan kamu,calon istriku bekerja di Cahaya group? Yang ada orang akan menertawakan kita jika kamu terus bekerja di sana. Isu tentang aku mencuri data klien akan semakin santer di dengar nanti."
" Aku cuma gak mau berpangku tangan aja. Apalagi cuma dicap sebagai istri yang menghambur-hamburkan uang suaminya. Aku gak mau."
" Ok! Setelah kita menikah kamu boleh kerja lagi. Tapi untuk sekarang kamu tidak usah kerja, persiapkan saja dirimu untuk acara lamaran besok dan acara pernikahan kita nanti."
" Hmm.." Dara mengangguk.
" Setelah ini aku gak ada kegiatan lagi. Aku sudah mengosongkannya. Aku akan bergabung bersama ibu dan tante Tika, menemanimu fitting baju untuk acara kita besok."
Mereka pun lantas pergi meninggalkan gedung BR group menuju salah satu butik ternama, dimana ibu dan calon mertuanya sudah ada disana.
Ardi menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk butik, dia mengijinkan Dara untuk turun terlebih dahulu baru kemudian dia memarkirkan mobilnya.
Kedatangan Dara disambut oleh ibu Heni dan mama Tika.
" Hai, sayang," sapa ibu Heni. " Bagaimana acara konfrensi pers tadi? Semua berjalan lancar?"
" Lancar kok, tante," jawab Dara sembari mencium punggung tangan calon mertuanya.
" Syukurlah kalau begitu. Ardi juga datangkan? Dimana anak itu sekarang?"
" Di depan, tante. Sedang memarkir mobil."
Baru saja Dara selesai berbicara, lelaki tampan berjas mewah itu memasuki butik. Kedatangannya sangat mencuri perhatian para pengunjung dan juga staf butik itu yang mayoritas adalah perempuan.
__ADS_1
" Panjang umur sekali kamu, Nak. Baru aja diomongin sekarang orangnya udah dateng," kata mama Tika.
" Kita gak bikin ibu dan tante Tika nunggu lama, kan?" ucap Ardi seraya memeluk bahu ibunya.
" Gak kok. Kita juga baru nyampe beberapa menit sebelum kalian," jawab ibu Heni.
" Ok! Kalau begitu kita mulai fitting bajunya," ujar Ardi sambil menggerakkan tangannya memanggil salah satu staf butik itu.
" Iya, Pak. Ada yang bisa dibantu?" kata staf butik itu.
" Tolong siapkan gaun yang sudah saya pesan," perintah Ardi.
" Maaf, Pak. Pesanannya atas nama siapa?"
" Seno Ardibratha."
" Baik, Pak. Mohon ditunggu sebentar," ucap staf itu sembari membungkukkan badannya.
Sambil menunggu staf butik itu mengambilkan bajunya, Dara dan mama Tika berkeliling melihat koleksi gaun butik tersebut.
" Ini, Pak pesanannya," staf butik itu membawa 5 buah gaun dengan bantuan 4 orang temannya.
" Wow! Cantik-cantik sekali gaunnya sayang. Mereka simpel dan elegan," kata ibu Heni.
Dara yang tahu gaunnya sudah datang, dia bersama mama Tika kembali ke tempat ibu Heni dan Ardi berada.
" Ayo, sayang. Kamu cobain dulu bajunya," kata ibu Heni sembari menyerahkan salah satu gaun itu ke tangan Dara.
" Baik, tante," jawab Dara. Dia pun berlalu ke ruang ganti dengan didampingi salah satu staf butik.
Beberapa menit kemudian Dara keluar dari ruang ganti. Sebuah gaun berwarna peach telah melekat ditubuh gadis itu. Gaun berbahan brokat dengan paduan rok tile yang panjang menutupi mata kakinya, sungguh membuatnya nampak seperti putri dari negri dongeng.
Mata Ardi tak bisa lepas dari Dara. Sungguh, dia sangat terpesona dengan kecantikan alami dari calon istrinya itu.
" Cantik," kata itu meluncur dengan sendirinya dari mulut Ardi.
__ADS_1