
Dara sedang dirias oleh mua yang sudah dipesan oleh Ardi. Riasan yang natural sudah cukup membuat wajah ayunya semakin terlihat.
Leher jenjang Dara semakin terlihat ketika rambutnya disanggul dengan tiara bunga berwarna soft pink melingkar di kepalanya.
Sudah menunjukan pukul 13.15 wib. 45 menit menuju acara pertunangan. Persiapan yang sangat mendadak sudah membuat semua orang bekerja keras untuk acara pertunangan ini.
Semua persiapan sudah beres. Sekarang tinggal menunggu sang mempelai pria datang dengan iring-iringannya.
Mama Tika dan papa Malik masuk ke kamar Dara. Dia sedang mematung menghadap cermin di meja riasnya.
" Wah! bidadari kecilnya mama cantik sekali. Seperti putri dari kayangan," ucap mama Tika melihat bayangan putrinya didalam cermin sambil memeluk bahu putrinya.
" Kenapa, Nak? Bukankah ini hari bahagiamu? Orang yang kamu sayang sebentar lagi menyematkan cincin pertunangan di jari manismu. Kenapa kamu tampak murung?" tanya papa Malik.
" Entahlah, Pah. Aku sendiri pun merasa bingung. Masih merasa sedikit kesal dengan sikap kak Ardi. Berani-beraninya dia memutuskan semuanya sendiri tanpa meminta persetujuan dariku," ucapa Dara kesal.
" Ini hanya masalah kecil, Nak. Papa yakin nak Ardi tidak bermaksud seperti itu. Kenapa kamu tidak mencoba berpikir positif atau berpikir dari sudut pandangnya? Pasti kamu akan memaklumi dan memaafkannya. Kesalahpahaman ini hanya kerikil kecil yang menguji roda kehidupan kalian berdua yang akan menyusuri satu jalan yang sama. Tenangkan pikiranmu, papa pergi kedepan sebentar." Papa Malik mengusap pembut bahu putrinya.
" Benar kata papa barusan sayang," ucap mama Tika lembut. " Selisih paham seperti ini sering terjadi bagi mereka yang hendak menikah. Selesai acara nanti kalian berdua obrolkan baik-baik ya sayang."
" Baik, Mah."
Mama Tika memeluk putrinya penuh dengan rasa haru. Bidadari kecilnya kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Dia ingat betul bagaimana tingkah Dara kecil ketika memakai gaun warna biru seperti putri di dongeng sepatu kaca.
" K-kamu ingat gak?" ucap mama Tika sedikit terbata. " Dulu waktu kamu kecil, selalu menginginkan menjadi seorang putri cinderella. Memakai gaun warna biru, pura-pura pakai sepatu kaca, terus kamu berlagak ada seorang pangeran yang akan menjemputmu."
__ADS_1
" Ingat, Mah."
" Mungkin inilah saatnya pangeran itu akan datang untuk menjemput putri cinderellanya mama," ucap mama Tika seraya mengusap lembut pipi Dara.
" Mama..," ucap Dara lembut dengan mata berkaca-kaca.
" Hai... anak cantik gak boleh nangis." Mama Tika segera mengambil tisu yang ada di hadapannya untuk menyeka air mata yang hampir membasahi pipi Dara yang sudah merona oleh riasan blush on.
" Aku sayang mama," kata Dara melingkarkan tangannya dipinggang mama Tika dan bersandar di perut ibunya.
" Mama juga sayang kamu, Ra," balas mama Tika mencium pucuk kepala putrinya.
Sambil menggendong baby El, April masuk ke dalam kamar Dara.
" Mah, Ardi dan keluarganya udah datang," ujar April.
Mama Tika membantu Dara berdiri dari posisinya. Menggunakan sepatu yang cukup berhak tinggi membuatnya sedikit kesulitan untuk berjalan tegap. Dengan hati-hati Dara menuruni anak tangga menuju halaman rumahnya yang sudah disulap menjadi tempat pesta pertunangannya.
Di depan pintu Papa Malik mendampingi mama Tika, menggandeng Dara menuju backdrop lamaran yang dipenuhi dengan mawar putih dan beberapa mawar pink diantaranya.
Di samping kanan kiri Dara dan papa Malik ada beberapa tiang yang dihias dengan kain tirai yang menjuntai disisinya dan juga rangkaian bunga dalam pot tinggi yang memisahkan tiang yang satu dengan yang lainnya.
Ardi yang menggunakan kemeja dan jas yang senada sudah berdiri di depan backdrop dengan kedua orang tuanya, terpana dengan penampilan Dara. Wanita yang selama ini tampak cuek dengan penampilannya, kini sangat mempesona.
Tatapan Ardi yang terus memandangi Dara tanpa berkedip itu membuatnya menjadi semakin salah tingkah. Dara yang memang tidak nyaman dengan high heelsnya semakin susah berjalan karena sorotan mata Ardi.
__ADS_1
Tiba-tiba Dara kehilangan keseimbangan ketika sudah tepat dihadapan Ardi. Hap! Dengan sigap Ardi menangkap tubuh Dara yang hampir terjerembap ke lantai.
" Kamu gak apa-apa?" tanya Ardi sembari membantu Dara berdiri.
" Gak apa-apa. Aku baik-baik aja," jawab Dara.
Iqbal memberikan mic wireless pada Ardi. Sebuah layar tipis berukuran besar sudah terpasang di luar rumah pak Malik. Televisi itu digunakan untuk memperlihatkan prosesi lamaran, sehingga para wartawan tidak perlu masuk ke dalam rumah. Mereka bisa meliput secara langsung lewat layar datar itu.
" Dara Amelia," ucap Ardi dalam posisi berhahadapan dengan Dara, menggunakan mic dan menggenggam salah satu tangannya." Cinta mengalir dari hatiku. Aku akan melakukan sebaikku sebisaku untukmu dan mencintaimu selamanya. Dulu aku benar-benar tidak mengerti perasaanku. Mungkin, aku sama sekali tidak mengerti cinta. Tapi aku tidak pernah tahu kalau kenyataan bahwa kita mencintai seseorang kita akan selalu mencintainya."
" Jadi... ternyata kak Ardi sudah mencintaiku sejak lama dan aku tidak pernah menyadarinya?" batin Dara.
" Om, tante," ucap Ardi melihat kearah kedua orang tua Dara. " Aku harap kalian mengerti kalau aku serius dan berniat penuh dengan apa yang akan aku katakan."
Pak Malik dan mama Tika mengangguk.
" Pertama-tama aku ingin meminta maaf kepada om dan tante dengan terjadinya insiden di hotel H kemarin sehingga menimbulkan rumor yang tidak sedap di masyarakat. Aku sudah berusaha mengklarifikasinya kepada para pewarta tentang rumor itu agar Dara pun tidak perlu cemas dengan semua hal itu."
Kini Ardi kembali menatap lekat netra pujaan hatinya, Dara.
" Sepertinya aku sudah menjadi bodoh karena cinta. Aku mungkin tidak tahu bagaimana harus bereaksi ketika perasaanku yang tidak jelas. Di lain pihak, aku ingin rumor palsu itu segera hilang dari pemberitaan media masa. Aku akan selalu memiliki ide dan cara untuk mengatasinya. Tapi itu tidak berhasil, malah membuat aku dan Dara punya selisih paham kemarin. Maafin aku ya, Ra."
" Hmm...," jawab Dara dengan anggukan.
" Dalam hidupku ini, aku hanya memiliki sedikit saham di perusahaan ayahku. Itu adalah sedikit hasil yang kecil. Aku akan berkerja keras untuk kita. Mungkin bukan sebuah istana mewah yang bisa ku berikan untukmu. Tapi aku akan menjagamu sebaik-baiknya. Sama seperti bagaimana ayahku menjaga ibuku. Dan aku akan mencintai Dara sebanyak om Malik mencintai tante Tika."
__ADS_1
Ardi menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Kemudian melanjutkannya lagi.
" Aku ingin berterima kasih pada semuanya atas kedatangannya hari ini. Niatku hari ini adalah untuk melamar Dara di depan orang-orang yang kami sayangi dan sangat berarti bagi kami. Aku ingin semua orang akan membantuku menjadi saksi atas hal yang akan aku katakan."