Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.35


__ADS_3

" Aww! Sakit.." Dara meringis kesakitan.


Fandi langsung melepaskan genggaman tangannya.


" Sorry, Ra! Sorry...aku gak bermaksud nyakitin kamu."


" Iya! Aku tahu kamu gak sengaja, Fan. "


" Bentar ya, Ra. Aku cari plaster luka dulu. Kamu tunggu sebentar, ya." Fandi berlari ke warung kelontong dekat wakrop itu.


Ardi berjalan mendekati Dara.


" Mana yang sakit ? " Kata Ardi sembari menarik pelan tangan Dara.


Dara menunjukan pergelangan tangannya.


" Kamu tahan sebentar ya..." Ardi berusaha melepaskan gelang yang patah itu dari tangan Dara.


" Aww! " Pergelangan Dara sedikit tergores bagian gelang yang tajam itu. Tapi tidak meninggalkan luka.


Gelang sudah terlepas. Ardi mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku blazernya. Dengan perlahan Ardi menutup luka itu dengan sapu tangan.


Deg! Deg! Deg! Deg! Deg! Deg!


Jantung Dara berdebar begitu kencang.


" Aku benar-benar melihat wajahnya dari dekat. Sesosok pria yang ku kagumi selama ini, ada didepanku sekarang. Dengan penuh kelembutan dia membalut lukaku. Dan aku pun tahu bagaimana raut mukanya tadi ketika dia masih disebrang jalan sana. Dengan bodohnya dia berlari tanpa memperhatikan kendaraan yang melintas. Benarkah kamu mencemaskan aku sedalam itu? Benarkah itu kamu?" batin Dara.


" Sudah selesai. Semoga tidak infeksi. " Ardi melepas tangan Dara perlahan.


" Terima kasih. " Ucap Dara dengan tersenyum.


Fandi balik dari warung kelontong sebelah.


" Ra, mana tangannya? Sini aku pasangin plesternya." Fandi menyobek kertas pembungkus plester luka.


" Gak usah, Fan. Sudah ditutup pake sapu tangan." Kata Dara menghentikan Fandi mengeluarkan plester dari bungkusnya.


" Kok pake saputangan sih? Itu mah gak steril. Pake ini aja yang jelas ada obatnya. Jadi dijamin langsung sembuh lukamu, Ra. Sini aku bukain sapu tangannya."


Fandi menarik tangan Dara.


" Aww! Sakit Fan! Pelan-pelan donk..." Dara kembali meringis kesakitan karena lukanya tidak sengaja tertekan oleh Fandi.


" Kalau orang gak mau jangan dipaksa! " Kata Ardi yang berusaha melepaskan tangan Fandi yang menggenggam tangan Dara.


" Gue gak maksa! Gue cuma mau ngobatin tangan Dara!" Fandi menatap tajam ke Ardi.


" Lepasin tangan gue!"


Fandi dan Ardi saling beradu mata. Mereka saling menunjukan tatapan tajamnya masing-masing. Dara yang merasa tidak enak dengan suasana ini dia mencoba mengalihkan perhatian mereka berdua.

__ADS_1


" Mas Rizal! Mas! " Panggil Dara.


" Gimana orang bengkelnya udah dihubungi belum?"


" Iya, Ra! Sebentar!" Teriak Rizal dari dalam warkop.


" Kak Ardi, Fandi..sambil nunggu Mas Rizal kita duduk didalem aja yuk! Kaki pegel nih dari tadi berdiri mulu."


Tanpa mengeluarkan satu patah katapun mereka berdua berjalan mengikuti Dara masuk kedalam warkop.


" Kak Ardi, Fandi..kalian mau minum apa? atau mau makan sesuatu?"


" Boleh, Ra! Kamu pesenin aja. Kamu kan tahu makanan kesukaan aku. " Ucap Fandi


" Kalau Kak Ardi? Mau apa? "


" Kopi hitam saja. "


" Makan?"


Ardi menggeleng.


" Yakin gak mau mie rebus pake telor? Extra rawit juga lho Kak. " Goda Dara.


" Boleh. " Ardi mengiyakan tawaran Dara. Karena itu salah satu makanan kesukaannya dan pastinya kesukaan seluruh rakyat Indonesia juga.


" Kode-kode apa ini? Sepertinya memang sudah terjadi sesuatu diantara mereka. Tatapan mereka berdua sungguh berbeda. Ah! Aku sudah terlebih dahulu kenal Dara dan mengenalnya lebih lama dari Pak Bos ini. Aku yakin secepatnya Dara akan kembali kepelukanku.Hehehe.." Batin Fandi.


" Eh! Kaka sepupu. Gak kok..saya cuma keinget cerita lucu ajah. Hehehe.."


Rizal duduk disamping Dara.


" Di, bentar lagi katanya mobil derek dari bengkel nyampe. Nanti kita ikut nebeng mobil lu ya?"


" Kalau Dara, saya yang anterin aja kaka sepupu." Celetuk Fandi.


" Kaka sepupu..kaka sepupu..panggil aja gue Rizal atau Mas Rizal kaya Dara. Emang lu mau nganterin Dara pake apa?"


" Pake motor Mas."


" Gak lah! Kasihan adek gue, nyampe rumah badannya pada sakit nanti."


" Dulu juga sering kok kita ke puncak naik motor. Dan Dara seneng katanya bisa menghirup udara segar. Iya kan, Ra?"


" Eh? Iya. Tapi sekarang aku ada Mas Rizal jadi aku pulangnya bareng sama Mas Rizal." Jawab Dara.


" Ya itu memang kesukaan Dara. Kalaupun dia mau pulang sama lu tetep gue gak ngasih ijin. Gue punya tanggung jawab disini." Kata Rizal tegas.


" Yudah, selesai makan kita beresin barang-barang yang dimobil buat dipindahin ke mobil gue." Kata Ardi yang baru menyesap kopi hitamnya.


" Ra, mau mie gorengnya gak? Sini aku suapin. Aaa.." Fandi mengangkat garpunya.

__ADS_1


Rizal membelokan tangan Fandi ke mulutnya.


" Aamm..Nyam..nyam..nyam..Enaknya..Boleh lagi dong Fan..Gue masih laper nih."


Dara melipat bibirmya,menahan tawa melihat kelakuan kakak sepupunya yang sedang menggoda Fandi.


" Dara itu sekarang sudah dilarang keras makan mie instan! " Kata Rizal setelah menelan makanannya.


" Kenapa? Dulu juga gak apa-apa. Kita sering makan mie instan bareng. Bahkan Dara punya stok mie instan dikosannya dulu. " Timpal Fandi.


" Dulu..dulu..dulu..Emang lu ini temen macam apa sih dulu? Kok sepertinya lu paling tahu tentang kebiasaan Dara. Apa jangan-jangan lu itu......"


" Bukan! " Dara memotong.


" Dia bukan orang itu, Mas. "


" Kalau bukan.........berarti dia pasti kasih tak sampai ya? Hahaha.." Rizal ketawa geli.


" Orang itu? Apa maksud dari orang itu, Ra? " Fandi penasaran.


" Jadi Dara itu....hmmpp...hmmppp..ppppp! " Dara langsung membekap mulut Rizal dengan tangannya.


" Jadi cowok mulutnya gak usah lemes, Mas Rizal Ramadhan." bisik Dara.


" Hah! Hah! Hah! " Rizal mengatur nafasnya setelah Dara melepaskan tangannya dari menutup mulut Rizal.


" Kenapa, Ra? Kok kamu begitu sama Mas Rizal?" tanya Fandi.


" Gak apa-apa. Mas Rizal memang suka begitu ngomongnya ngelantur. Jadi sebelum kemana-mana harus direm dulu." Dara asal jawab.


Dara mencuri pandang kearah Ardi yang sedari tadi tak bergeming menikmati makanannya.


Dalam hati Dara. " Untung kak Ardi gak merhatiin dua cowok abstrak ini lagi ngobrol tadi. Dan untungnya lagi tadi keburu ngrem mulutnya Mas Rizal. Kalau gak bisa keceplosan dia. Dan pasti bakal merembet kemana-mana ceritanya. Kan malu yang diomongin orangnya ada disini."


Fandi pun menyantap abis mie gorengnya hingga suapan terakhir. Tiba-tiba..........


Booomm!!


Sebuah bom tepat meledak didalam mulut Fandi.


" Aahh! Pedas..pedas..pedas.." Fandi meraih botol air mineral yang ada didepannya.


" Kenapa, Fan? Ada yang salah sama mienya ?" Tanya Dara.


" Rasain lu! Makanya jangan ngebahas dulu..dulu..dulu mulu. Sekarang cuci mulutnya tuh pake air segalon." Umpat Dara dalam hati.


" Gak tahu nih! Tiba-tiba ada cabe didalam mienya."


" Kok bisa? Mungkin tadi yang bikinnya gak sengaja masukin cabe ke piring kamu kali. Ya namanya bikin buat banyak orang pasti kadang ada salahnya. " Jawab Dara.


Fandi kembali meneguk air mineralnya lagi hingga habis tak bersisa.

__ADS_1


__ADS_2