
“Eyang! Eyang!” teriak Lia sambil setengah berlari.
“Kenapa kamu berlari seperti anak kecil saja, Lia? Hati-hati perhatikan jalanmu,” ucap Eyang yang sedang memetik dedaunan hijau untuk lalapan di kebun belakang rumah.
“Itu Eyang, Kak Farhan datang. Dia sedang duduk di dalam rumah sekarang,” papar Lia.
Raut wajah Eyang mendadak berubah menjadi semringah. Ia memberikan dedauan yang ada dalam genggamannya pada Lia. Lalu wanita tua berjiwa timur itu bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan setengah berlari. Lia hanya menggelengkan kepalanya seraya mengulum senyumnya melihat tingkah Eyang yang tidak jauh dengan tingkahnya barusan.
“Tadi bilangnya jangan berlarian seperti anak kecil. Sekarang dia yang malah begitu,” ucap Lia.
“Memang siapa yang datang, Li? Sampai Eyang begitu bahagianya,” tanya Dara yang sedari tadi menemani Eyang memetik hasil kebun.
“Itu, Teh. Ada Kakaknya Teh Febri. Dia baru pulang dari luar negeri. Dia sudah seperti cucunya sendiri bagi Eyang. Bisa dibilang bagi Eyang dia adalah cucu pertamanya. Ayo kita masuk ke dalam, Teh. Pasti A Ardi juga pengen ngenalin Teh Dara ke Kak Farhan,” terang Lia.
“Farhan?” kata Dara lirih. Dia mengernyitkan dahinya. Telinganya serasa tidak asing ketika Lia mengucapkan nama itu.
Dara mengikuti langkah Lia. Setelah mencuci tangan dan menyimpan hasil kebunnya di dapur Dara memasuki ruang keluarga. Di sana tampak Eyang yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu seorang pria. Ardi yang menyadari kehadiran istrinya, ia langsung menghampirinya dan menggandeng tangannya. Mereka jalan memutari sofa.
“Kak Farhan, kenalkan ini istriku. Namanya Dara,” kata Ardi.
Bagai petir di siang hari, Farhan sangat terkejut dengan seorang wanita yang dikenalkan oleh Ardi sebagai istrinya. Dia menatap lekat pemilik mata jernih yang ada di hadapannya sekarang. Perempuan berkuncir kuda yang selama ini ia cari dan ia rindukan.
__ADS_1
“Farhan,” ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Dengan sedikit keraguan Dara akhirnya menyambut uluran tangan itu seraya menyebut namanya, “Dara.” Kemudian ia lekas menarik tangannya kembali.
Kejadian enam tahun yang lalu bergulir diingatan Dara. Kenangan yang sebetulnya sudah ingin ia lupakan bersamaan dengan terbakarnya buku harian sebelum hari pernikahan, justru kini terpampang jelas dalam ingatannya.
“Ra, sebelum aku kembali ke KL aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu. Bisa’kan? Nanti sepulang sekolah aku jemput ya.” Dara membaca pesan di gawainya yang dikirimkan oleh Farhan. Kedua sudut bibirnya terus tertarik kebelakang. Jantungnya berdegup dengan kencang. Semu merah di pipinya pun sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Mungkin ini yang dibilang jatuh cinta berjuta rasanya.
“Iya, aku tunggu,” ketik Dara, tetapi dia tidak segera mengirimkannya. Ia menunggunya beberapa saat. Karena ia tidak ingin pria itu tahu kalau sebenarnya hatinya sangat gembira.
Tidak berselang lama bel sekolah pun berdentang. Para siswa dengan seragam putih-abu mulai berhambur keluar dari dalam kelasnya. Dara memisahkan dirinya dari teman-temannya saat melihat seorang pria sedang duduk di atas motor berwarna merah kesayangannya. Walau pria itu mengenakan helm yang menutupi semua bagian kepalanya, tetapi Dara bisa memastikan dialah orang yang membuat jantungnya terus berdegup kencang.
“Pakai helmnya,” ucap pria itu dari balik helm.
Tak beberapa lama kemudian Farhan menepikan motornya ke sebuah area parkiran di taman kota. Menggandeng tangan pujaan hatinya, ia menuntunya ke sebuah bangku taman yang kosong. Mereka menyandarkan bahunya di sana seraya menikmati suasana taman yang menyegarkan kala itu. Menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatan Farhan esok hari. Mencurahkan semua kasih sayang dan perhatian di sisa waktu membuat mereka hampir terbuai dengan rayuan manis, tetapi gadis berkuncir kuda itu segera menepis tangan Farhan yang memegang dagunya.
“Tunggu!” ucap Dara.
“Kenapa? Apa aku salah?” tanya Farhan bingung.
“Tidak. Hanya saja aku tidak terbiasa dan ... aku belum pernah melakukannya,” kata Dara lirih menahan malu. Ia tahu pipinya pasti memerah sekarang, maka dari itu ia meletakkan kedua telapak tangannya di sana agar tidak terlihat oleh pria yang sedang di hadapannya sekarang.
__ADS_1
“Cup!” Bibir Farhan mendarat di kening Dara saat pria itu berusaha melepaskan kedua tangan yang terus menempel di pipi gadisnya itu. “Aku akan mengambilnya nanti, saat kamu sudah siap. Mungkin nanti saat aku kembali lagi, aku akan menagih hutangmu.”
Dara menempelkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibir merah jambunya, kemudian dia menempelkannya ke bibir Farhan. “Untuk sekarang seperti ini saja dulu. Nanti jika Kak Farhan sudah lulus dan berani bilang ke Papa tentang hubungan kita, aku akan membayar janjiku. Janji kelingking.”
“Janji kelingking,” kata Farhan. Mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka satu sama lain.
Beberapa bulan mereka menjalin hubungan jarak jauh. Saling bertukar pesan dan menelpon ketika malam tiba adalah pengobat rindu yang biasa mereka lakukan. Hingga suatu ketika Farhan mulai sibuk dengan perkulihannya. Tugas kelompok yang sering menyita waktu membuat komunikasi dua sejoli itu terganggu dan mulai sering terjadi perselisihan kecil.
“Kenapa kamu pagi-pagi manyun seperti itu? Lagi marahan sama Farhan?” tanya Doni saat mereka berdua sarapan.
“Mm.” Dara mengangguk, membenarkan terkaan kakak semata wayangnya.
“Udah gak usah manyun lagi. Nanti tambah jelek mukamu dan Farhan semakin lari jauh meninggalkanmu. Hahaha...,” goda Doni, yang berujung bahunya mendapat bogem mentah dari adiknya.
“Bukannya dibelain adiknya, malah dia asik ngeledek,” oceh Dara.
“Iya, Mas Doni belain. Besok Mas Doni disuruh ke Singapur sama Pakde Wawan. Nanti pulangnya sempetin ke KL sekalian mau jengukin kekasih hati.”
“Jiaaahh... ini sih dia yang punya mau,” ledek Dara.
“Tapikan sama aja, Ra. Nanti Mas Doni mampir dulu ke flatnya Farhan buat istirahat sebentar sebelum ketemu sama April.”
__ADS_1
“Bener, ya. Awas kalau bohong! Aku tunggu kabar baiknya,” ucap Dara dengan bibir tersungging.
Beberapa hari kemudian. Dara yang sedang asik membaca novel di kamarnya di kejutkan dengan panggilan telpon dari Doni. Tanpa menunggu lama ia langsung meraih ponsel yang berada di sampingnya. Ia menekan tombol hijau lalu menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya. “Halo, Mas Doni,” sapa Dara. Ia sangat antusias sekali menjawab telepon dari kakaknya itu, tetapi dalam seketika wajah semringahnya langsung meredup.