
Dara tidak melihat siapa pun di luar kantor, hanya sebuah mobil hitam yang sedang berjalan keluar dari area perkantoran.
" Sepertinya aku salah lihat. Tidak Kak Ardi disana. Jika memang ada kenapa dia harus kesini lalu tiba-tiba langsung pergi ? Tapi,bukannya dia tidak tahu kalo aku bekerja disini ? Aku tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaanku yang sekarang. Bahkan ketika kita baru komunikasi lagi kemarin-kemarin kita hanya ngobrolin tentang masa lalu. Masa-masa dimana kita masih kerja satu kantor. Sepertinya memang aku salah lihat. Mungkin aku mulai rindu karna hampir dua hari ini dia tidak ada kabar. Aku jadi ragu, apa benar dia menginginkanki jadi istrinya ? Lalu kemana dia sekarang ? " Dara mematung di depan pintu kantor dengan segala pertanyaan yang ada di otaknya.
" Mba Dara, dipanggil Pak Rizal di ruangannya. " Kata salah satu resepsionis yang membuyarkan lamunan Dara.
" Eh..iya.." Dengan setengah sadar Dara berjalan menuju keruangan Pak Rizal, padahal dia sangat tidak ingin berurusan dengan orang itu saat ini.
Tok..Tok..Tok..!! Suara pintu diketuk.
" Iya, Masuk " Pak Rizal menyaut dari dalam ruangannya.
" Iya, Pak..Bapak memanggil saya ? " Dara berdiri di depan meja kerja Pak Manager Utama.
" Oiya,Ra..ini file lanjutan dari pindah tugasnya Pak Seno Manager Pusat. Tolong kamu kerjakan dan siapkan laporannya segera. Karena kata Bu Yanti kemungkinan besok akan ada meeting langsung dengan Pak Seno. " Pak Rizal memberi arahan kepada Dara.
" Baik, Pak..akan saya kerjakan..Jika tidak ada lagi saya permisi, Pak. " Dara pamit, langsung membalikan badan dan menuju pintu.
Tapi tiba-tiba Pak Rizal menghentikannya.
" Tunggu Dara, ada yang ingin aku sampaikan. "
" Iya, Pak.. ada perlu apa lagi ? " Dara membalikkan badan menghadap Pak Rizal, tetapi ternyata Pak Manager sudah berada tepat di belakangnya.
Deg! " Maaf, Pak..ada perlu apa lagi ? " Dara kaget. Spontan dia melangkah mundur dan punggungnya sudah bersandar pada pintu. Dara sudah membaca situasinya, sekarang yang ingin dibacarakan bukan masalah pekerjaan. Tapi yang lain. Yaitu tentang yang dibicarakan Papa semalam.
__ADS_1
" Ekspresimu sangat berlebihan, Ra. " Pak Rizal tahu ada rasa takut dalam diri Dara. Dia bisa melihatnya dari raut wajahnya dan dari sikapnya yang langsung mundur menjauh.
" Ini bukan berlebihan, tapi waspada. " Jawab Dara tegas.
" Baiklah, aku tidak akan melakukan apapun padamu,Ra..aku hanya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi..agar kesalahpahaman ini tidak terus berlanjut. " Pak Rizal mencoba menggenggam tangan Dara, tetapi langsung ditepis.
" Ayo kita duduk dulu. Agar aku bisa menjelaskan dengan benar. " Pak Rizal mengangkat tengannya seraya mempersilahkan Dara untuk duduk di sofa tamu.
Dengan ragu Dara berjalan ke arah sofa. Lalu dia mengedarkan matanya kesekeliling ruangan itu. Ada tiga kamera cctv yang menghadap kearahnya. Dara sedikit bernafas lega, jadi Pak Rizal tidak akan berbuat semena-mena. Dara menuju sofa yang terdekat dan duduk disana. Pak Rizal duduk di sofa dekat Dara.
" Saya harap Bapak segera menjelaskannya sekarang. Saya tidak ada waktu. Saya harus kembali ke meja kerja saya dan mengerjakan tugas-tugas saya. " Dara menatap tajam kearah Pak Rizal.
" Ra,sebenarnya aku gak tahu kalau Papa mengajukan lamaran itu ke Om Herman. Sumpah Ra !" Pak Rizal mengangkat tangannya menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
" Lalu..aku baru tahu semalam pas Papa ngobrol ditelpon sama Om Herman. "
Dara mencoba melihat mata Pak Rizal apakah dia jujur atau berbohong.
" Kata Papa, Om Herman bilang kalau keputusan ada di kamu. Karena kamu punya pilihan sendiri. " Lanjut Pak Rizal. " Apa dia adalah sahabat lamamu yang hilang, Ra ? Kamu lebih memilih dia dari pada aku ? Aku yang selalu ada buat kamu. " Pak Rizal menggenggam tangan Dara, tetapi secepat itu pula Dara melepaskannya.
Dara menggeser duduknya agar ada jarak lebih diantara mereka.
" Aku tidak punya perasaan apapun padamu, Mas. " Akhirnya Dara mengutarakankan. " Aku menyayangimu tulus karena kamu masih termasuk Kakak ku, Kakak sepupuku. Perhatianku, sifat manjaku ke kamu semata-mata itu hanya sikap seorang adik ke kakaknya. " Pertahanan Dara mulai jebol, air mata mulai menggenang dipeluk matanya. Perasaan marah, sedih sudah berkumpul menjadi satu.
" Tapi aku mencintaimu, Ra " Pak Rizal duduk mendekat dan dicengkramnya bahu Dara.
__ADS_1
" Mas, sakit..tolong lepasin aku.." Dara mulai menitikkan air matanya.
" Aku mencintaimu sejak lama, perhatian yang aku berikan bukan dari seorang kakak ke adiknya. Tapi dari seorang lelaki pada seorang wanita. Kamu mengerti ? " Pak Rizal menggoyangkam bahu Dara yang ada dalam cengkramannya.
" Maaf, Mas.....Maaf...." Dara menundukan kepalanya dan menangis.
Amarah Pak Rizal seketika turun. Dia meraih Dara dalam pelukannya. Mengusap-usap kepalanya.
" Maafin aku, Ra...maaf kalau emosiku tidak terkontrol. " Dara masih menangis dalam pelukan Pak Rizal.
" Aku hanya tidak rela, kamu lebih memilih dia ketimbang aku..apakah dia sebaik itu ? apakah dia punya rasa cinta dan sayang ke kamu lebih dari aku ? aku yang selama ini ada buat kamu ketika dia hilang entah kemana. "
" Dia tidak hilang, Mas " Dara melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata dengan telapak tangannya.
" Masing-masing dari kami mengganti nomer HP yang lama. Sudah pasti itu membuat aku dan dia tidak bisa menghubungi satu sama lain. " Lanjut Dara.
" Jadi kamu tetap memilih dia ? " Pak Rizal masih ingin memastikan jawaban Dara.
" Aku tidak tahu... hampir dua hari ini dia tidak ada kabar. Mungkin dia sekarang sedang memberiku waktu untuk berfikir, makanya dia tidak memberi menelpon ataupun kirim pesan WA. Karena dia memberikanku waktu tiga hari sampai satu minggu untuk memikirkan jawabannya dengan benar. " Dara mencoba menguatkan diri walau sebenarnya dia sangat rindu.
Setelah kejadian pernyataan cinta malam itu, membuat Dara tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Rasanya ingin dia duluan yang telpon ataupun kirim pesan WA, tapi egonya yang menahannya untuk melakukan itu.
" Oke! Aku harap pilihan kamu tepat. Tetapi jika kamu ingin mundur dan berbalik arah, aku masih disini menunggumu. " Pak Rizal mengusap-usap kepala Dara.
Dara pamit keluar dari ruangan Pak Manager. Tetapi sebelumnya dia merapikan rambut, wajah, dan bajunya. Dia tidak mau orang melihatnya dengan tatapan aneh ketika keluar dari ruangan Pak Rizal dengan penampilan sedikit acak-acakan dan mata yang sembab. Keluar dari ruangan itu Dara berjalan lurus kedepan menghindari tatapan karyawan yang lain, dan mencoba bersikap biasa saja agar yang lain tidak curiga. Kembali duduk di mejanya dan mengerjakan tugas yang sudah ada ditangannya dengan segera.
__ADS_1