
" Kayaknya hari sudah semakin sore, aku pamit dulu ya Di.." Rizal pamit dengan mata yang masih melihat kearah luar dan ternyata Dara sedang berdiri di tepi jalan. " Terima kasih untuk traktirannya.." Lanjut Rizal yang kemudian langsung berlari keluar coffeeshop.
Ardi ikut melihat ke arah luar, mencari tahu siapa yang dia lihat kenapa Rizal terburu-buru. Tetapi sayang disana tidak ada siapa-siapa. Lalu apa dan siapa yang membuat Rizal seperti itu ? Apakah itu Dara ? Tapi dimana orangnya ?
" Pak, ini kunci mobilnya. File dan laptopnya sudah saya taruh di kursi samping kemudi, Pak. " Iqbal kembali menyerahkan kunci mobil bosnya.
" Eh...Iya. Terima kasih. Kamu pulang naik taksi aja biar nyaman, terima kasih untuk bantuannya hari ini. Besok persiapkan diri ya...Istirahat yang cukup biar besok segar. " Kata Ardi sambil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas bergambar Soekarno-Hatta dari dompetnya. " Ini buat ongkos taksinya. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini." Lanjut Ardi.
" Terima kasih kembali Pak.. saya permisi pulang dulu..Selamat sore. " Iqbal meninggalkan Ardi yang masih duduk sikursinya. Lalu Ardi pun memanggil pelayan untuk membayar kopi pesanannya.
Setelah selesai membayar Ardi pun keluar dari coffeeshop itu dan mengendarai mobilnya. Jalanan ibukota sudah mulai padat merayap. Ardi menjalankan mobilnya dengan berhati-hati. Tiba-tiba diperempatan jalan, ada seorang pemotor dengan kecepatan tinggi dari sebelah kanan hendak menyalipnya untuk berbelok ke arah kiri. Tetapi entah karena salah perhitungan atau bagaimana pemotor tersebut menabrak mobil Ardi.
Braaaakkk ! Pemotor menabrak lampu sen depan sebelah kanan. Motor dan pengemudi jatuh ke sebelah kanan mobil Ardi. Sontak Ardi langsung membuka pintu mobilnya hendak melihat korban. Ternyata korbannya itu wanita. Lalu pemotor itu membuka helmnya dengan dibantu oleh beberapa orang yang sudah mulai berkerumun di depan mobil Ardi.
Deg! Rina ? Apa yang dilakukannya disini ? Bukankah semenjak kejadian itu dia pergi dari kota ini ? Ardi bergumam dalam hati.
" Mas, jangan diam aja...ini bantu mbanya bawa ke rumah sakit. " Kata orang yang tadi membantu Rina membukakan helmnya.
" Ii..iya Pak..bawa masuk ke mobil saya saja. " Ardi tersadar dari lamunannya dan langsung berlari ke mobilnya, membukakan pintu ke kursi penumpang.
Beberapa orang menggotong korban membawanya masuk kedalam mobil Ardi. Lalu yang lainnya memindahkan motor yang masih tergeletak di depan mobil Ardi. Sebelum menancapkan gasnya Ardi menengok ke belakang memastikan posisi tidur Rina.
Ardi melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
Setelah sampai di rumah sakit Ardi segera meminta bantuan para perawat dan beberapa security yangqberjaga di depan pintu ugd.
__ADS_1
" Pak, tolong pak..ini ada yang kecelakaan. " Kata Ardi bergegas keluar dan membukakan pintu mobil agar para perawat bisa segera membawanya.
Dua orang security dan dua orang perawat beserta kasur dorong sudah berada di dekat mobil Ardi siap memindahkan Rina ke dalam rumah sakit. Kedua pintu mobil Ardi di kanan dan kiri sudah terbuka. Para perawat sudah di posisinya masing-masing dan siap menangkap tubuh Rina yang akan dioperkan oleh dua security yang ada didalam mobil Ardi. Setelah itu Rina langsung dibawa ke ruang tindakan. Ardi tidak masuk ke dalam ruangan hanya duduk menunggu di ruang tunggu.
Tak berapa lama seorang dokter dan perawat keluar dari ruang ugd mengampiri Ardi. Karena kaget dia pun langsung berdiri ketika dokter berdiri dihadapannya.
" Gimana dok, keadaannya ? " Tersirat rasa cemas di wajah Ardi.
" Dia baik-baik saja, hanya sedikit shock dan ada beberapa luka lebam karena benturan dan ada luka lecet ditangan kanannya. Selebihnya baik-baik saja. " Dokter menerangkan kondisi pasien dengan mulut masih tertutup masker.
" Alhamdulillah..syukurlah kalau begitu. " Ardi mengusap kedua tangan ke wajahnya.
" Seno Ardi ? " Tanya dokter. " Kamu Seno Ardibhrata kan ? " Lanjut Pak Dokter dengan membuka masker medisnya.
" Baik..aku baik..itu cewek didalem siapa ? kenapa main tabrak anak orang ? baru patah hati ? " Pak dokter Johan menyelidik.
" Bukan...dia bukan siapa-siapaku..awalnya aku lagi berhenti diperempatan karena lampu merah..nah pas aku baru mau jalan karena lampu berubah hijau..tiba-tiba dari sebelah kanan ada yang nyelonong belok ke kiri dengan kecepatan lumayan tinggi. Yaudah tabrakan tidak terelakkan akhirnya JEBBREEETTT!! Dia jatuh, ditolongin sama warga sekitar buat nyopot helmnya. Terus langsung dibawa kesini. Eh ternyata dokternya kamu, han. " Ardi menepuk pelan bahun dokter Johan.
" Untungnya dia pake helm yaa..kalau gak bisa gagar otak dia. Tapi tenang saja semua baik dan sekitar tiga puluh menit sampai satu jam dia akan sadar. Dan dia boleh pulang"
" Thank you..Thank you banget. " Ardi menjabat tangan dokter dengan kedua tangannya.
" Sama-sama di, ini kan sudah menjadi tugasku. Aku pamit ke ruanganku dulu ya. Bye! Sampai jumpa lain waktu. " Johan melambaikan tangannya dengan berjalan semakin jauh.
" Pak, mari ikut saya untuk mengisi formulir dan segala administrasinya. " Perawat yang sedari tadi berdiri dibelakang dokter Johan akhirnya bicara.
__ADS_1
" Baik suster mari.." Ardi mempersilahkan perawat itu untuk berjalan terlebih dahulu didepan, lalu dia menyusulnya dibelakang.
Sesampainya dibagian administrasi rumah sakit tersebut, Ardi mengisi formulir tentang data diri Rina dan segala administrasinya. Setelah selesai Ardi merasa lapar karena tadi sore dia hanya minum kopi bersama Rizal.
Ardi pergi ke kantin mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya. Ardi berjalan menuju salah satu stan makanan, dia lalu memesannya. Duduk sendiri disalah satu meja kantin, dia melahap habis makanannya. Ketika baru saja selesai melahap suapan terakhirnya ada perawat yang datang mencarinya.
" Pak Seno! itu mba Rina sudah mulai sadar. " Perawat berbicara dengan sedikit ngosngosan.
" Ayo sus.." Ardi bergegas meminum habis airnya lalu meninggalkan kantin berjalan mengikuti perawat itu.
Ketika memasuki ruangan, Ardi melihat Rina sudah bangun dengan posisi menyendarkan punggungnya di dinding.
" Bagaimana keadaanmu sekarang ? " Ardi berjalan menghampiri Rina.
" Ardi ? Jadi mobil yang aku tabrak itu mobil kamu ? " Rina bertanya ingin tahu.
" Iyah..dan cukup lumayan untuk mengganti lampu depan yang sudah pecah. " Ardi duduk di kursi penunggu pasien.
" Iya..iya..nanti aku tanggung jawab..nanti aku ganti semua biaya perbaikan dan penggantian sparepartnya. " Kata Rina menatap Ardi sambil tersenyum.
" Jadi..kamu mau pulang sekarang ? Kata dokter tidak ada luka yang serius jadi bisa langsung pulang. Nanti aku antar ya.."
" Gak usah di, terima kasih..aku gak mau ngerepotin kamu lagi.. aku bisa naik taksi. "
" Udah gak apa-apa lagian sudah jam sepuluh lebih. Aku urus administrasimu dulu ya..dan kamu siap-siap. " Ardi berdiri dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruangan menuju tempat administrasi.
__ADS_1