Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.68


__ADS_3

Belum habis rasa takjub Ardi melihat kecantikan Dara, kini dia pun semakin terpesona ketika calon istrinya mengenakan gaun mewah yang lainnya. Hingga tanpa sadar ia terus memandangi gadisnya tanpa berkedip.


" Jadi untuk acara lamaran besok dara pakai gaun yang mana, Di?" tanya ibu Heni.


" Kalau mama sih bingung, soalnya semua gaunnya cantik," ucap mama Tika.


" Cantik banget! Dibalik sikapnya yang cuek dengan dandanan yang natural justru itu membuat dia semakin cantik. Aku gak bisa lepasin pandanganku darinya," batin Ardi.


" Jadi yang mana, Di?" tanya ibu Heni lagi. "Di? Ardi? Ardi!" panggil ibu Heni membuyarkan lamunan Ardi.


" Eh? Iya bu?" Ardi linglung.


" Jadi Dara pakai baju yang mana buat besok?" ibu Heni mengulangi pertanyaannya.


" Yang mana aja bagus kok. Dan juga cantik," jawab Ardi sekenanya.


" Hmm.. sepertinya ada yang gak kosentrasi karena modelnya yang terlalu cantik," timpal ibu Heni yang diikuti ketawa kecil mama Tika.


Sedangkan Dara sudah mengganti bajunya seperti semula.


" Kamu paling suka gaun yang mana, sayang?" tanya ibu Heni kepada Dara.


" Semua cantik, tante. Aku sendiri bingung mau pilih yang mana," jawab Dara.


" Kalau mama boleh saran, kamu cantik dengan gaun yang pertama sayang, yang warna peach. Kan kamu belum pernah pakai baju dengan warna itu," kata mama Tika.


" Tapi, setahu aku Dara sangat suka dengan warna biru. Benar kan, Ra? Aku pilih yang itu aja," kata Ardi sambil menunjuk gaun biru muda yang berada disebelah kirinya. " Tolong bungkus tersendiri ya," lanjut Ardi.


Seperti tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya lagi Dara pun hanya bisa diam sementara staf butik itu pun langsung mengerjakan perintah dari Ardi.


Sekarang di depannya sudah ada box putih dengan pita biru dongker. Isinya gaun biru yang sudah dipilihkan oleh Ardi tadi. Sedangkan gaun yang lain hanya dimasukan dalam paperbag bertuliskan nama butik.


" Ok! Gaun udah siap sekarang tinggal sepatu dan juga hal yang paling pentingnya. Yaitu cincin," kata ibu Heni.


Dan mereka pun pergi meninggalkan butik itu menuju toko sepatu dan juga toko perhiasan. Semuanya Ardi yang memilihkan lagi, Dara seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Hanya bisa menurut walau sebenarnya dia tidak menginginkannya.


" Persiapan untuk mempelai wanitanya sudah selesai, besok tinggal mendatangkan MUAnya kerumah. Ok sayang?" ucap ibu Heni mengingatkan.


" Iya, benar Bu," jawab mama Tika. " Sekarang waktunya pulang untuk istirahat. Biar besok mempelai wanitanya ini tampak segar dan makin berseri."


" Betul itu!" timpal ibu Heni.


" Ya sudah, kita pulang sekarang." Ardi memasukan belanjaannya ke dalam bagasi mobil.


" Bu Malik, saya permisi dulu ya. Sampai jumpa besok siang," kata ibu Heni sembari mencium kedua pipi calon besannya.

__ADS_1


" Iya, Bu Adit. Sampai jumpa besok," jawab mama Tika.


Ibu Heni masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi. Sementara mama Tika pun baru saja hendak memasuki mobil ketika dia melambaikan tangannya ke arah mobil calon besannya.


" Sampai ketemu di rumah ya sayang. Titip Dara ya, Di. Jangan ngebut!" kata mama Tika sebelum masuk ke dalam mobil.


" Iya, mah. Hati-hati di jalan," ujar Dara.


" Iya, tante," jawab Ardi singkat.


Ardi membukakan pintu untuk Dara. Dan Ardi pun melajukan mobilnya meninggalkan parkir pertokoan itu.


" Ra, dari tadi kamu diam aja. Kenapa?" tanya Ardi.


" Gak apa-apa," jawab Dara dengan ketus.


" Besok hari spesial kita, Ra. Kenapa kamu begitu? Apa kamu gak bahagia?"


" Hari spesial kita? Sepertinya bukan. Tapi spesial untuk diri kamu sendiri."


" Kenapa hanya aku? Memang kamu gak bahagia, Ra?"


" Entahlah! Aku gak tahu!" jawab Dara kesal.


Ciiiitt! Ardi menepikan mobilnya.


" Kita? Kamu bilang ini semua tentang kita? Aku rasa bukan!"


" Bagaimana itu bisa menjadi bukan tentang kita? Sedangkan calon tunanganku adalah kamu?"


" Itu karena... kamu melakukan semua ini agar rumor mu dengan Rina Rosa segera hilang, benar kan?"


" Iya itu memang benar."


" Jadi benar! Kamu melakukan semua ini cuma untuk diri kamu sendiri, bukan untuk kita!"


" Kenapa bukan kita?"


" Bagaimana ini tentang kita jika kamu melakukan persiapan semuanya sendiri. Menentukan pilihanmu sendiri. Hingga aku pun tidak sempat mengeluarkan pendapatku."


" Karena aku sudah memilihkan semua yang kamu suka. Dari dekorasi, makanan, gaun, bahkan cincin dan sepatu yang barusan aku beli semua aku pilihkan seseuai dengan kesukaanmu. Apa aku salah?"


" Terima kasih kamu sudah mengingat semua kesukaanku. Tapi apa kamu tahu apa yang paling aku inginkan dari pertunangan ini?"


Ardi terdiam. Sedangkan Dara menatap lekat mata kekasih hatinya itu.

__ADS_1


" Aku ingin ikut merasakan hiruk pikuknya mengurus acara pertunangan ini. Memang semua yang kamu rencanakan sesuai dengan kesukaanku tapi aku merasa tidak menyatu dengan mereka. Karena aku tidak ikut andil di dalamnya."


Ardi seperti menyadari sesuatu. Dia menggenggam tangan Dara dengan lembut.


" Maafkan aku, Ra. Aku hanya ingin acara pertunangan kita terlaksana dengan lancar. Tanpa halangan apa pun," terang Ardi.


Dara mengibaskan tangannya.


" Sudahlah. Semua sudah terjadi. Besok acara pertunangannya. Dan hari juga semakin larut, kita pulang sekarang."


Ardi membelai pipi Dara. " Jangan marah lagi ya. Besok aku tak kan melakukannya lagi," ucap Ardi.


Dara hanya menjawabnya dengan anggukan.


Ardi pun melajukan kembali mobilnya menuju rumah Dara.


Sesampainya di rumah, dengan bantuan Bi Odah Dara membawa masuk barang belanjaannya tanpa menoleh ke arah Ardi. Dia terus saja menerobos masuk tanpa memperdulikan kekasihnya.


Papa Malik yang kebetulan sedang mengawasi team dekor, melihat kejadian itu. Beliau langsung menghampiri Ardi dan menepuk bahunya.


" Nak Ardi, baru selesai belanjanya? Sudah siap semua perlengkapan untuk Dara besok?" tanya Papa Malik, sekedar basa basi.


" Sudah, Om. Semuanya sudah disiapkan."


" Baguslah kalau begitu. Besok acaranya jam 2 siang kan?"


" Iya, Om. Jam 2 siang besok acaranya."


" Baiklah kalau begitu kamu istirahat pulang, ya. Siapkan untuk dirimu besok."


" Baik, Om. Tapi..."


" Tapi kenapa?"


" Itu... Dara, Om."


" Kenapa dengan Dara?"


" Sepertinya Dara marah denganku, Om. Ada selisih paham diantara kita, Om. Dia marah karena aku tidak mengajaknya ikut serta dalam perencanaan acara pertunangan ini. Padahal maksud aku bukan seperti itu."


" Selisih paham seperti ini adalah hal yang biasa. Hal yang sangat lumrah terjadi ketika sepasang kekasih hendak maju kejenjang yang lebih seirus. Kamu tidak perlu khawatir. Nanti om dan tante yang bantu menjelaskan ke Dara," ucap Papa Malik sembari memeluk bahu Ardi.


" Terima kasih, Om," Ardi sumringah.


" Gak perlu sungkan. Kamu gak usah khawatir lagi ya. Sekarang kamu pulang dan istirahat yang cukup untuk acara besok."

__ADS_1


" Baik, Om. Sekali lagi terima kasih. Aku pamit pulang dulu," ucap Ardi seraya mencium punggung tangan calon ayah mertuanya.


" Hati-hati di jalan ya, Nak Ardi."


__ADS_2