Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 88


__ADS_3

Dara merasa begitu bahagia. Keluarga suaminya sangat menerima kehadirannya. Walau di awal dia mendapat penolakan dari Tante Suci, tetapi sekarang ia menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan perlahan rasa sayang pun tumbuh di hatinya seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Dan itu terlihat jelas sekarang, di mana di meja makan tersaji semua makanan kesukaan Dara. Mereka berlima menikmati makan siang dengan penuh kegembiraan.


“Hai, semua,” sapa Febri saat memasuki ruang tamu. “Apa kalian merindukanku?”


“Hai, Teh Febri. Apa kabar? Waw, penampilan baru ya,” komentar Lia seraya mencium kedua pipi Febri.


“Iya, nih. Aku ingin tampil beda. Siapa tahu dengan merubah penampilan aku bisa mendapat jodoh. Betul tidak, Di?” kata Febri menghampiri Ardi dengan langkah anggunnya.


“Penampilan, kecantikan atau ketampanan itu tidak kekal. Jika semakin bertambahnya usia keriput dimukamu bertambah, maka bisa dipastikan lelaki itu pun akan mundur satu langkah tiap satu keriput yang ada di wajahmu,” tukas Ardi.


“Kenapa mulutmu begitu pedas, Di?” omel Febri manja.


“Bukan pedas, tapi memang seperti itu adanya. Ardi hanya mengingatkan demi kebaikanmu. Yang dirubah bukan hanya dari penampilan saja, tapi juga dengan sikap, perilaku, tutur kata dan lain sebagainya. Jika kamu ingin mendapatkan jodoh terbaik, maka pantaskan dirimu terlebih dahulu. Jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri. Sedikit atau banyak pasti kamu akan menemukan hal yang sama dengan apa yang ada dalam dirimu. Entah itu dalam hal yang baik mau pun yang buruk,” timpal Eyang.


“Iya, Eyang. Aku sudah tahu,” jawab Febri.


“Kalau sudah tahu lakukan. Jangan cuma pipi aja yang terus didempul,” sindir Eyang. Kemudian ia meninggalkan meja makan berjalan menuju dapur.


“Sudah! Sudah! Febri’kan baru datang, biar dia duduk dulu,” kata Tante Suci menengahi. “Ayo duduk, Sayang. Tante ambilkan air untukmu, ya.”


“Terima kasih, Tante.” Febri menarik kursi di sebelah Ardi. “Hai, Ra. Apa kabar?”


“Aku baik,” jawab Dara ramah.


“Oh, iya Di. Kakakku udah pulang dari luar negeri, lho. Mungkin nanti malam dia sampai di sini,” kata Febri.


“Aku tahu. Kemarin kita ketemuan di cafe.”

__ADS_1


“Oh, ya? Kenapa Kakak tidak bilang kepadaku kalau kalian berdua ketemuan?”


“Tanya sendiri saja sama Kakakmu,” ucap Ardi ketus.


“Ih, Ardi. Kok kamu begitu sih sama aku,” ucap Febri manja.


“Aku pergi dulu sebentar ya ke depan. Mau cari angin,” kata Ardi lembut pada istrinya. Dara hanya menjawab dengan anggukan.


“Silahkan, Sayang,” kata Tante Suci seraya menyuguhkan teh hangat di hadapan Febri. “Sekalian makan siang juga ya.”


“Terim kasih, Tante. Aku sudah makan di rumah tadi,” jawab Febri. “Oh iya, Ra. Bagaimana malam pertamanya? Apakah berjalan dengan lancar?” bisik Febri.


Dara tersenyum, lalu ia berkata, “Itu urusan pribadi kami. Pastinya kami sudah sepenuhnya menjadi suami istri.”


“Ya ampun, Ra. Aku cuma bercanda. Jangan dimasukan hati begitu.”


“Gak asik banget sih, begitu saja sudah baper,” gerutu Febri, dengan tampang kesalnya ia menghampiri Ardi yang sedang duduk bersantai di teras.


Secangkir kopi hitam yang berada di hadapan Ardi, Febri sesap beberapa kali. Pria yang sedang bersantai itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Febri di sana. Dengan nada sedikit ketus ia menyuruh wanita centil itu menjauh darinya, tetapi Febri menanggapinya dengan bermanja dan bergelayut di lengan Ardi.


“Febri, jangan seperti anak kecil begini! Ingat! Aku sudah mempunyai istri,” tukas Ardi.


“Kan aku juga sudah pernah bilang padamu, Di. Kalau aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Janur yang sudah melengkungpun tidak akan membuat niatku surut. Justru itu membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkanmu kembali.”


“Jangan bodoh, Feb. Di luar sana masih banyak lelaki lain yang masih single dan pasti salah satunya adalah jodohmu.”


“Aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau kamu. Lihat, Di. Aku sudah merubah penampilanku agar lebih terlihat seperti Dara. Rambut yang dikuncir, polo shirt, jeans. Seperti inikan wanita yang kamu suka? Aku akan merubah semuanya demi kamu. Termasuk operasi plastik jika kamu inginkan, aku pun akan menjalaninya. Di, please lihat kearahku sekali saja.”

__ADS_1


“Feb, dengarkan aku. Aku mencintai Dara bukan karena dari penampilannya. Jika iya, aku mencari seorang istri dari penampilannya maka aku akan pergi ke luar negeri ke korea, jepang, amerika atau belahan bumi manapun untuk mencari wanita yang tercantik di sana. Tapi tidak, aku lebih memilih Dara untuk menjadi pendamping hidupku. Karena kepribadiannya yang santun, penuh kasih sayang, pekerja keras, dan yang paling penting dia tidak pernah melihatku sebagai anak tunggal dari Brgroup.”


“Huh!” Febri mendengus kesal.


“Jadi dirimu sendiri. Jangan pernah kamu berubah jadi orang lain hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari orang lain. Aku tidak perlu menjabarkannya panjang lebar. Aku yakin kamu paham, Feb,” ucap Ardi lembut seraya mengusap pucuk kepala Febri.


Febri memeluk teman kecilnya itu. Dia menyandarkan kepalanya di bahu tegap Ardi. “Maaf ya, Di. Jika sikapku selama ini mengganggumu dan Dara. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Hanya saja berikan aku sedikit waktu untuk benar-benar merelakanmu.”


“Iya,” jawab Ardi seraya mengusap lembut rambut panjang Febri. “Sekarang ganti bajumu. Aku tidak mau melihatmu bergaya seperti Dara lagi.”


“Iya, Di.”


“Anak pintar.” Ardi mengacak-ngacak rambut Febri gemas.


Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Bahu kirinya ia sandarkan di pilar teras rumah dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dadanya. “Aku pikir kalian berdua udah pada besar dan dewasa, tapi kenapa keliatannya seperti teletubies sekarang? Berpelukan,” katanya.


“Kak Farhan?” ucap Febri terkejut. Ia segera melepaskan pelukannya dan berhambur ke pelukan kakaknya yang tersayang. “Kapan Kakak datang? Bukannya nanti malam baru sampainya?”


“Kalau nanti malam aku baru datang, aku tidak akan melihat pemandangan teletubies seperti ini,” ucap Farhan, mencubit hidung adiknya gemas. “Memang kalau istrimu lihat apa dia tidak cemburu, Di?”


“Aku belum tahu, sepertinya dia tidak pernah cemburu padaku.”


“Kamu yakin, Di? Atau jangan-jangan sebenarnya dia tidak mencintaimu makanya dia tidak punya rasa cemburu.”


“Tidak mungkin, Kak. Aku tahu bagaimana perasaannya padaku. Mungkin dia sangat percaya padaku makanya dia tidak punya rasa itu. Ayo masuk dulu, Kak. Aku akan kenalkan Kakak padanya. Nanti Kakak bisa menilainya sendiri.”


Farhan yang memang sudah sangat lama tidak berkunjung di sambut hangat oleh Tante Suci dan juga Lia. Ia memeluk dan mencium mereka, melepas rindu yang sudah sangat lama ia pendam. Lia bergegas lari ke belakang rumah untuk memberitahu kedatangan Farhan pada Eyang.

__ADS_1


__ADS_2