
Setelah menempuh waktu beberapa jam akhirnya Ardi dan Dara sampai di rumah. Menghentikan laju mobil tepat di depan pintu utama, seraya tersenyum lelaki itu melirik wanita yang duduk di sampingnya yang masih terlelap dalam mimpinya. Dengan hati-hati dan perlahan Ardi melepas sabuk pengaman yang melingkar di badan Dara. Kemudian dia mengangkat tubuh istrinya itu dalam gendongannya.
“Bi, tolong bawakan kopernya ke atas ya,” ucap Ardi pada salah satu asistennya.
Ardi mendekap erat tubuh istrinya. Sesekali ia memandangi wajah istrinya yang menempel pada dadanya seraya tersenyum simpul. “Aku tidak pernah menyadari sebelumnya kalau ternyata istriku lebih cantik dari yang aku kira. Tidak heran jika banyak laki-laki yang jatuh hati padanya. Beruntungnya aku yang bisa mendekapmu selalu wahai Nyonya Ardibratha,” gumam Ardi.
Sesampainya di kamar, Ardi meletakkan tubuh Dara di atas ranjang dengan perlahan. Melepaskan sandal yang masih menempel pada kaki dan menarik badcover agar menyelimuti sebagian tubuh istrinya. Dia juga merapikan anak rambut yang sedikit berantakan menutupi wajah istrinya.
“Permisi, Mas. Kopernya saya taruh sini ya,” kata asisten rumah tangga Ardi ramah.
“Terima kasih ya, Bi,” jawab Ardi. Lalu ia menutup pintu kamarnya setelah asisten itu keluar dari kamarnya.
Ardi membersihkan badannya di kamar mandi sementara Dara masih terbuai dengan mimpi indahnya.
***
Febri baru saja selesai mengganti perban di tangan Farhan. “Feb, aku ingin dia kembali kepadaku. Aku bisa menahan rasa sakit yang ada di tanganku ini, tapi hatiku tidak bisa menahannya. Bisakah kamu membantu Kakakmu ini untuk mendapatkan kembali cintanya, Feb?” kata Farhan.
Febri meletakkan kotak P3K di sampingnya. Mengambil salah satu tangan kakaknya lalu ia menggenggamnya dengan penuh kehangatan. “Sebelumnya aku ingin bertanya dengan Kak Farhan. Apakah wanita yang Kakak maksud itu adalah Dara? Istri dari Seno Ardibratha?”
“Iya,” jawab Farhan lirih.
“Jadi, wanita yang selama enam tahun terakhir ini sudah membuat Kakakku seperti orang gila adalah Dara? Wanita yang enam tahun lalu ingin Kak Farhan kenalkan kepadaku dan Ardi di KL dulu adalah Dara?”
Farhan mengangguk.
__ADS_1
Febri semakin menggenggam erat tangan kakak semata wayangnya. “Kak, maaf aku tidak bisa,” kata Febri seraya menggelengkan kepalanya. “Hatiku pun masih terasa sakit sekarang, tetapi ketika hatinya sudah tidak ada tempat lagi untukku lalu untuk apa aku memaksanya kembali? Itu hanya akan menyakitkan hati setiap orang, Kak, dan Dara pun tidak akan pernah melihat ke arah Kak Farhan walau hanya sedetik saja.”
“Aku sudah pernah punya tempat di hatinya. Aku akan kembali merebut tempat itu. Dengan atau tanpa bantuanmu, Feb,” kata Farhan seraya bangkit dari lantai lalu pergi meninggalkan Febri yang terus memanggil namanya dari dalam ruang kerja.
***
Ardi sudah berpakaian rapi dan sedang memasang jam tangan di pergelangan tangannya sekarang. Tak lupa mendaratkan bibirnya mesra di atas kening istrinya sebelum dia keluar dari kamarnya.
“Kamu sudah pulang, Nak? Bagaimana liburan kalian? Menyenangkan?” tanya Ibu Heni saat melihat anak semata wayangnya menuruni tangga.
“Sudah, Bu. Cukup menyenangkan walau ada sedikit kecelakaan di rumah Eyang, tapi tenang semua baik-baik saja kok, Bu,” jawab Ardi.
“Kecelakaan? Siapa yang celaka? Kamu? Dara? Terus sudah dibawa ke rumah sakit atau dokter?” tanya Ibu Heni panik.
“Syukurlah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan ya. Pulangnya jangan terlalu malam biar bisa makan malam bersama di rumah, ya.”
Tidak berselang lama dari kepergian Ardi, Dara terbangun dari mimpi indahnya. Dia meregangkan tubuhnya yang masih sejajar dengan ranjang. Lalu dengan punggung tangannya ia menggosok lembut kedua matanya.
“Aku sudah di rumah? Kenapa Kak Ardi tidak membangunkan aku? Lalu di mana orang itu sekarang? Kenapa kamar terasa sepi sekali?” gumam Dara.
Baru saja Dara menurunkan kedua kakinya di atas ubin marmer, seseorang membuka pintu kamarnya.
“Selamat sore, Sayang,” sapa Ibu Heni. “Bagaimana keadaan kamu sekarang? Masih ada yang terasa sakit?” tanya Ibu Heni seraya membawa nampan dengan segelas susu di atasnya.
“Sore, Bu. Alhamdulillah aku baik-baik saja,” jawab Dara.
__ADS_1
“Ibu bawakan susu hangat buat kamu. Diminum ya,”
“Terima kasih, Bu,” ucap Dara, menerima gelas itu dalam genggamannya.
“Ibu tadi dengar ceritanya sedikit dari Ardi kalau kamu tersiram air panas di rumah Eyang. Kamu benar sudah tidak apa-apa? Sebenarnya bagaimana ceritanya kamu bisa terpeleset dan tersiram air panas?”
Dara menyesap minumannya sebelum menjawab pertanyaan Ibu Heni. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kok, Bu. Aku sudah baik-baik saja. Jadi, waktu itu aku baru saja selesai mandi dan ingin mengambil handuk yang tergantung di pintu, tetapi karena terburu-buru aku terpeleset dan tidak sengaja saat aku jatuh tanganku memutar kran shower ke indikator air panas. Untung saja Kak Ardi sigap menolongku dan Febri juga ada di sana. Jadi, aku bisa segera di obati,” papar Dara.
“Ya Tuhan, lain kali lebih hati-hati lagi ya, Sayang. Ibu tidak mau terjadi sesuatu sama kamu,” kata Ibu Heni lembut.
“Oh, iya. Aku tidak melihat Kak Ardi. Dia di mana, Bu?”
“Dia tadi pamit sama Ibu katanya mau pergi ke kantor sebentar dan Ibu juga sudah bilang sama dia jangan terlalu malam pulangnya agar kita bisa makan malam bersama. Lalu bagaimana dengan liburan kalian? Menyenangkan? Oh iya kamu sudah ketemu dengan Farhan? Kakak semata wayangnya Febri,”
“Liburannya sangat menyenangkan. Kami membuat jamuan makan malam di halaman rumah Eyang. Terus tadi malam kami sempat jalan-jalan dulu di taman kota. Sangat menyenangkan kok, Bu.”
“Berarti Farhan juga ikut bergabung dengan kalian?”
“I-Iya, Bu. Memang kenapa? Bukankah itu hal yang wajar?” tanya Dara heran.
“Justru ini adalah hal yang tidak wajar. Sudah lama Farhan menutup diri dari orang asing dan sekalinya ketemu sama kamu, dia mau bergabung dengan acara kalian. Mungkin karena kamu istrinya Ardi jadi dia bisa berbaur dengan kamu. Ya sudah sekarang kamu habiskan dulu minumnya nanti kita sambung lagi obrolannya. Ibu tunggu di bawah ya, kita siapkan makan malam bersama untuk orang tersayang kita. Ok, sayang?”
“Ok, Bu!”
Dara bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1