
Sesampai di villa Dara berpapasan dengan Bu Yanti dan juga Putri beserta baby sitternya. Mereka sudah berkemas dan membawa barang-barang mereka di tas kopernya. Putri langsung berlari ke arah Dara.
" Tante Dara ! " Teriak Putri sambil berlari.
Dara berjongkok sambil merentangkan tangannya menyambut Putri.
" Tante, I will go home now ! "
" Kenapa terburu-buru sayang ? Kan kita belum main..Princess pasti juga belum sarapan kan ? "
" Momy said, We don't have many times for breakfast. We must go now ! "
" Why ? Kamu harus sarapan dulu sayang. I will make some omelet for you. " Dara mencoba merayu Putri.
" Tidak Dara ! Terima kasih kamu sudah perduli dengan Putri. Tapi, kita harus pergi sekarang. Putri, we must go now ! " Bu Yanti mencoba melepaskan genggaman tangan Putri yang memeluk Dara.
" No Momy ! No ! " Teriak Putri.
" Putri ! Listen to Me ! We must go now ! "
" Bu, Nanti saya yang akan antar Putri ke mobil. " Ardi akhirnya ikut bicara. Dia tidak tega melihat Putri yang dipaksa oleh ibunya.
Teman-teman Dara kembali ke paviliun tanpa menunggunya selesai bicara dengan Bu Yanti dan Putri. Begitu juga dengan Fandy dan bandnya mereka kembali ke kamarnya dengan diam.
" Oh ! Maaf Pak Seno. Saya tidak menyadari kalau ada Anda. Maaf ! Saya sedang terburu-buru sedang dikejar waktu jadi saya tidak memperhatikan sekitar. " Bu Yanti mencoba bersikap wajar di depan Ardi.
" Iya, Bu. Memang kenapa harus pergi sekarang ? Apa tidak sarapan dulu ? Ini masih pagi Bu, baru jam sembilan pagi. " Ardi melihat jam tangannya.
" Pasti pelayan sudah menyiapkan makan pagi kita di meja makan. Mari Bu kita sarapan. "
" Jika Pak Seno yang meminta...saya tidak berani menolak. "
" Kalau begitu mari ikut saya ke meja makan. "
Ardi langsung menuju ruangan yang digunakan untuk pesta semalam dengan diikuti Bu Yanti, baby sitter, serta Dara dan Putri di barisan paling belakang.
Ternyata sebagian dari karyawan sudah mulai sarapan. Dan beberapa meja sudah terisi oleh mereka. Ardi membawa mereka ke sebuah meja yang kosong.
" Princess, what do you want for breakfast ? " Tanya Ardi.
" I will serve it for you. "
" Pak Seno, terima kasih sudah perhatian dengan Putri. "
" Tidak perlu berterima kasih. Saya melakukannya karena saya sayang dengan Putri. " Ardi membelai kepala Putri. Putri duduk di tengah, diapait Dara dan Ardi.
" Tante, When will the food be served ? "
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita ambil sendiri dan memilihnya sendiri disana. " Dara menunjuk tempat prasmanannya.
" Come on ! Come with me. "
Dara dan Putri bangkit dari duduknya menuju meja prasmanan. Dara mengambilkan beberapa makanan yang disukai oleh Putri. Ardi dari tempat duduknya memandangi mereka sambil tersenyum. Tidak memperdulikan pelayan yang sedang menyajikan hidangan di atas meja.
" Pak...Pak..." Kata pelayan itu
" Makanan sudah siap..silahkan dinikmati. "
" Oh iya. Terima kasih. " Jawab Ardi.
" Pak Seno, kenapa ? Kok ngeliatin Putri terus ? " Tanya Bu Yanti, yang ternyata memperhatikannya dari tadi.
" Ah ! Tidak apa-apa. Saya hanya merasa Putri anak yang manis dan menyenangkan...dan juga pintar. Rasanya menyenangkan jika suatu hari nanti saya mempunyai anak seperti dia. "
" Jangankan nanti..sekarang juga boleh kok, Pak. " Kata Bu Yanti mengulum senyumnya.
" Maaf, maksud Bu Yanti bagaimana ? "
" Iya ! Maksud saya kalau Pak Seno sudah ingin mempunyai anak kan, tinggal menikah aja sekarang. Tidak perlu menunggu nanti-nanti. "
" Itu yang sedang saya usahakan. "
" Jadi..Pak Seno sedang dekat dengan seseorang ? Kalau boleh tahu siapa dia ? Apa saya mengenalnya ? " Bu Yanti penasaran.
" Apa ? Dia bilang tadi ingin punya anak seperti Putri lalu dia bilang lagi kalau aku mengenalnya..dan dia juga sangat dekat Putri. Bukankah yang dimaksud itu berarti aku ? Tidak ku sangka, walau terpaut umur sepuluh tahun jauh diatasnya tapi ternyata aku mampu membuatnya terpesona. Ah..bahagianya. " batin Bu Yanti.
" Hai, Ardi.." Rina duduk tepat disebelah kanan Ardi menempati kursi Putri.
" Kamu masih disini ? " Tanya Ardi ketus.
" Masihlah sayang..Aku kan belum pamitan sama kamu. Terus semalem kamu juga ninggalin aku begitu ajah. Masa aku langsung pulang sih sebelum say hello sama kamu. " Rina bergelayut di lengan kanan Ardi.
" Don't call my King with sayang ! " Putri berdiri tepat dibelakang Rina.
" Don't do that with my King ! " Putri mencoba melepaskan Rina dari lengan Ardi.
Sontak Rina dan Ardi langsung memutar badannya ke arah Putri.
" Oh, sorry ! He is your king ? " Tanya Rina.
" Yes ! He is my king ! "
" And me ! His queen. " Rina kembali mencoba memeluk Ardi, tetapi Putri menghalanginya.
" No ! His queen is Tante Dara ! " Teriakan Putri menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Orang-orang yang berada disitu seketika langsung melihat ke arah meja Ardi. Mereka seolah sedang melihat adegan sinetron ikan terbang.
" No way ! Dia itu hanya temannya your King. Hanya teman. Just friend ! Tidak lebih. " Rina mencoba menjelaskan.
" Putri sayang..Come with me plis..Kita makan di meja lain aja yuk. " Rayu Dara.
" No ! I will eat with my King ! "
" Sure ! Come to me. " Ardi memanggilnya dan menaruh Putri dipangkuannya.
" You ! Witch ! Plis go now ! " gertak Putri.
" Putri..tidak boleh seperti itu sayang..tidak sopan ! " Dara mengingatkan.
" Bagus sayang ! Usir perempuan gatel itu. Pak Seno adalah King mu dan sebentar lagi dia akan menjadi milikmu seorang. Menjadi ayah baru mu. " batin Bu Yanti.
" Kamu dengar Rina, pergi dari sini sekarang. " Kata Ardi tanpa melihat ke arah Rina. Dia menyuapi Putri dengan telaten.
" Awas kau setan cilik ! Tunggu pembalasanku. " Rina melengos pergi.
" Rina, Tunggu ! Tolong jangan dimasukan hati kata-kata Putri tadi..dia hanya anak kecil. " Dara berlari mengejar Rina, tapi baru beberpa langkah tangan kanannya di tahan oleh Ardi.
" Tidak usah dikejar ! Biarkan dia pergi. Aku tidak suka dia ada disini. "
" Me too ! I don't like her. She is like witch. "
" Putri sayang..." Bu Yanti membelai rambut anaknya yang ada dipangkuan Ardi.
" You want eat some ice cream ? I will take it for you. Wait a moment honey. "
Bu Yanti berlalu menuju dapur villa mengambilkan Putri es krim dari dalam kulkas besar disana.
" Aku harus menunjukan perhatianku ke Putri di depan Ardi. Agar dia yakin kalau aku adalah ibu yang sempurna. Ibu yang mencintai anaknya. " batin Bu Yanti.
Dara duduk disamping kanan Ardi. Dia mengambil tisu untuk membantu membersihkan mulut mungil Putri yang belepotan.
" Terima kasih Dara, biar saya saja yang melakukan. " Bu Yanti mengambil tisu dari tangan Dara.
" Baik, Bu. " Jawab Dara tersenyum.
" Ok ! Honey..your breakfast finish now..It's time go home now. "
" May I eat my ice cream first, Momy ? "
" Sure, honey.."
Setelah Putri menyelesaikan makan es krim, Bu Yanti membawanya pulang. Ardi dan Dara mengantarnya hingga ketempat parkiran.
__ADS_1
Dara merasa ada sesuatu hal yang mengganjal. Kenapa Bu Yanti sangat terburu-buru ingin kembali ke ibukota ? Dan seperti ada sesuatu juga yang ingin Putri katakan tapi apa ? Dara pun tidak tahu. Dara hanya melihat itu dari mata Putri, seolah ada sesuatu yang menakutkan menunggunya.