Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.55


__ADS_3

Lia sudah selesai didandani, wajahnya yang memang sudah cantik kini tampak lebih memukau. Ia mengenakan gaun berbahan brokat dengan warna peach pastel yang dipadukan bahan tile dengan warna senada. Lia sangat cantik nan anggun.


" Gadik kecilnya mama, kamu cantik sekali sayang. Mama sangat bahagia bisa melihatmu bertunangan hari ini. Mama tidak menyangka.. Kamu benar-benar sudah tumbuh dewasa sekarang, sayang." Ucap Tante Suci dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sungguh merasa haru, karena selama ini dia membesarkan anak semata wayangnya seorang diri tanpa seorang suami.


Ketika Lia masih bayi berumur 40 hari, ayah Lia mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkannya meninggal di tempat. Dengan susah payah Tante Suci membesarkan dan mendidik Lia seorang diri, sehingga ia menjadi sarjana dan dilamar oleh seseorang sekarang.


" Lia juga sangat bahagia, Ma." Kata Lia yang juga merasa haru.


Calon tunangan dan keluarganya beserta iring-iringan sudah datang.


" Kekasih hatimu sudah datang, sayang. Ayo Mama antar ke depan."


" Ma, Lia gugup sekali." Ucap Lia seraya menggenggam tangan Mamanya. Telapak tangan gadis itu basah karena keringat dingin.


" Ayo Lia, Aku juga antar kamu kedepan ya." Kata Dara, yang tak kalah cantik dengan Lia.


Perlahan Lia berjalan keluar dari kamarnya menyusuri ruang keluarga diiringi oleh semua anggota keluarganya menuju halaman rumah eyang yang sudah di dekorasi begitu indah.


Perasaan gugup dan bahagia bercampur menjadi satu didalam hatinya. Lia tidak menyangka setelah sekian lama memperjuangkan cintanya kini dia akan bertunangan dengan kekasihnya. Dan lelaki yang beruntung itu bernama Dimas.


Senyum Lia tersungging dengan sempurna ketika dia sudah memasuki tempat acara. Semua mata kini tertuju pada dua sejoli itu. Mata Dimas pun rasanya seperti ingin loncat karena terpukau dengan kecantikan yang dipancarkan oleh Lia.


Lia membalas perlakukan Dimas dengan tersenyum malu-malu. Rona pipi merahnya menambah efek blush on pada riasannya.


" Boneka ku sangat cantik sekali." Ujar Eyang.


Kini, Lia dan Dimas sudah berdiri diatas pelaminan. Mereka tampak serasi dengan warna baju yang senada. Latar belakang bunga mawar putih dan pink, juga balon huruf inisial nama mereka. Yaitu L dan D. Nampak indah bagai di negri dongeng.


" Kamu sangat cantik." Puji Dimas.


" Kamu juga ganteng." Balas Lia.


Proses lamaran pun segera dimulai. Disaksikan oleh keluarga dan tamu undangan, Lia dan Dimas saling bertukar cincin. Ketika cincin sudah disematkan dijari masing-masing semua orang pun bertepuk tangan. Tante Suci dan Ibunya Dimas saling berpelukan merasa haru dan bahagia.


Selepas bertukar cincin, kedua pasangan ini sungkem pada ibu mereka dan juga Eyang, dilanjut sungkem ke Ayah Adit dan Ibu Heni.

__ADS_1


" Aku titip Lia ya, Dim. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia nangis." Pinta Ardi.


" Iya, A. Insya Allah dijaga baik-baik. Aa kapan nyusul?" Ucap Dimas


" Insya Allah secepatnya. Gak perlu acara lamaran kaya kalian, tapi langsung nikah." Jawab Ardi.


Dara yang berada disamping Ardi tersipu malu mendengar jawaban yang dilontarkan oleh calon suaminya.


Di tengah para tamu undangan yang sedang menikmati hidangan, Febri datang. Mengenakan gaun brokat berwarna navi bertabur gliter semakin menambah kesan anggun calon dokter muda ini.


" Hai, Lia... Selamat ya.." Ucap Febri sembari menyerahkan bungkusan kado.


" Terima kasih, Teh." Balas Lia, seraya mencium kedua pipi Febri.


Dara dan Ardi sedang menikmati hidangan di salah satu kursi tamu bersama Eyang, ibu Heni dan juga ayah Adit. Febri yang mengetahui keberadaan Ardi, lantas ia pun menghampirinya.


" Hai, Di." sapa Febri seraya mengambil kursi disebelah Ardi.


" Hmm.." Jawab Ardi.


Salah satu tamu berkata, " itu bukannya Febri yang calon dokter itu? Wow! Dia punya penampilan yang sangat cantik dan anggun ya."


Tamu yang lain menjawab, " iya, hubungannya dengan keluarga pak Adit sangat dekat sejak dulu, sejak anak semata wayangnya pak Adit tinggal bersama Eyang dan ibu Suci."


" Oh iya, aku juga denger kalau setelah acara lamarannya Lia bakalan ada acara lamaran di ibukota. Acara lamarannya Febri dan Adit."


" Wah! Bener-bener pasangan yang serasi ya. Yang satunya cantik, yang satunya lagi ganteng. Ceweknya calon dokter, cowoknya pewaris tunggal bisnisnya pak Adit. Cocok banget mereka."


" Apalagi kita tahu pak Adit dan ibu Heni itu orangnya baik. Bener-bener berkah seumur hidup deh bisa menjadi bagian keluarga mereka. Hah! Masih ada stok gak ya yang kaya Ardi?"


Dara yang mendengar percakapan beberapa tamu itu, membuatnya panas hati. Dia bangun meninggalkan tempat itu. Ia mengambil minuman dingin dengan maksud untuk mendinginkan hatinya dan duduk agak jauh dari Ardi.


Fandi yang melihat Dara duduk sendirian, dia tidak menyianyiakan kesempatan. Dia pun langsung mendekati Dara dan duduk disampingnya.


" Dulu kamu jarang sekali dandan seperti ini lho, Ra. Kamu cantik banget hari ini." Ucap Fandi.

__ADS_1


" Kamu ngapain kesini? Bukannya kamu harus manggung?" Tanya Dara.


" Lagi istirahat, bentar lagi main lagi. Kenapa? Kamu mau request lagu? Nanti aku bawakan yang spesial untukmu. Langsung dari hatiku yang paling dalam."


" Gak usah! Makasih."


" Kok kamu jutek gitu sama aku, Ra? Kenapa? Aku salah apa sama kamu?"


" Pikir aja sendiri." Jawab Dara ketus.


" Gara-gara semalem Pak Bos bakar jaket kamu? Kan seharusnya kamu marahnya sama Pak Bos dong.. Kenapa sama aku?"


" Ya itu terjadi gara-gara kamu yang gak bisa jaga mulut."


" Ok! Aku ngaku salah. Maafin aku ya, Ra. Kamu mau maafin aku kan?" Fandi menggenggam tangan Dara.


Dari tempat duduknya Febri melihat adegan Fandi yang sedang menggenggam tangan Dara. Dia tidak membuang kesempatannya untuk membuat Ardi marah dengan Dara.


" Di, sepertinya cinta lama yang belum kelar akan segera dimulai lagi. Tuh lihat sepasang sejoli yang ada disana." Febri menunjukan posisi Dara dan Fandi ke Ardi.


Benar saja, Ardi langsung bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat ke arah Dara.


" Lepasin tangan aku, Fan!" perintah Dara.


" Aku gak akan lepasin tangan kamu sebelum kamu memaafin aku." Jawab Fandi yang semakin menggenggam erat tangan Dara.


" Cepat lepasin, Fan. Orang-orang mulai melihat ke arah kita. Aku gak mau kalau kak Ardi sampai salah paham melihat ini. Plis, Fan! Lepasin tangan aku."


Tap! Sepasang tangan menggenggam pergelangan Fandi dan Dara.


" Lu denger gak? Lepasin tangan dia." Dengan kedua tangannya Ardi melepas paksa genggaman tangan Fandi. Dan langsung menarik Dara ke dalam pelukannya.


" Kak Ardi!" Ucap Dara lirih.


" Jangan pernah lu deket-deket dia lagi. Dara sekarang milik gue. Dia calon istri gue. Kalau sampe gue lihat lu ngedeketin atau nyentuh dia, gue gak bakal segan-segan buat matahin kaki atau tangan lu!" Ancam Ardi.

__ADS_1


__ADS_2