
" Hayo...lagi ngomongin aku ya..." Kata Ardi yang sudah berdiri di depan pintu kamar Lia, membawakan travel bag Dara.
" Yee..! Ini pembicaraan sesama cewek. Anak cowok gak boleh dengerin. Sana..pergi..." Lia mendorong tubuh Ardi hingga keluar, lalu menutup pintu kamar.
" Ra, jangan terhasut dengan omongannya Lia!" Teriak Ardi di depan pintu kamar Lia.
" Bodo!" Balas Lia.
" Hehehe..biarin aja Teh... Kapan lagi aku ngerjain A Ardi. Mumpung orangnya lagi disini dan aku belum nikah."
" Mmm...Jadi kamu yang mau lamaran besok?" Tanya Dara.
" Iya, Teh. Tadinya mau sekalian nikah aja. Tapi, karena Mama merasa aku masih kecil jadi disuruh tunangan dulu aja. Satu atau dua tahun lagi baru nikah." Terang Lia.
" Oh iyah, Teh. Mau lihat sesuatu gak? Kemarin aku habis beres-beres rumah, terus nemu foto-foto jadul. Dan ada A Ardi juga disana. Aku ambil dulu ya bentar."
" Mmm..." Dara mengangguk dengan tersenyum.
Lia membuka laci meja riasnya. Ia mencari foto-foto jadul yang dimaksudnya itu di dalam sebuah kotak kaleng bekas. Dengan sedikit susah ia membuka kotak kaleng itu.
Prraang! Kotak kaleng jatuh dan terbuka, memuntahkan semua isi yang ada di dalamnya.
Dara bangun, menghampiri Lia dan membantu memunguti foto dan beberapa benda lain yang berserakan di lantai.
" Aduh..maaf Teh. Ini tutupnya liat(*keras) jadi susah dibukanya." Ucap Lia sembari memunguti benda berserakan itu.
" Punten(*maaf) atuh Teh, jadi ikut ngeberesin."
" Gak apa-apa. Santai aja.." Kata Dara.
" Kalau dilihat dari raut mukanya ini gak asing. Anak cowok ini kak Ardi bukan?" Tanya Dara menunjukan foto yang ada digenggamannya.
" Bener Teh..itu A Ardi."
" Berarti anak cewek yang peluk kak Ardi ini..kamu donk Lia.." Tebak Dara.
" Bukan Teh! Itu cinta monyetnya kak Ardi. Namanya Teh Febri."
Deg! Snut! Merasa ada yang sakit di dada sebelah kiri Dara.
" Wah..berarti pesona kak Ardi sudah terpancar dari kecil ya.." Dara memaksakan senyumnya.
" Ya gitu Teh, dulu sering banget anak-anak cewek pada kesini buat ketemu sama Aa. Ada yang bawa coklat, permen, es krim. Tapi sama Aa mah dicuekin. Aku deh yang kenyang. Hehehe.."
__ADS_1
Lagi! Dara memaksakan senyumnya.
" Ya Tuhan, kenapa masih terasa sakit di dada? Dara sadar! Ini hanya cinta monyet. Kamu jangan pikir yang aneh-aneh. Kamu udah dipilih sama kak Ardi untuk jadi istrinya. Stop! Buang jauh-jauh rasa yang gak perlu!" batin Dara.
" Lia! Lia! Lihat sini siapa yang datang." Teriak Tante Suci dari ruang keluarga.
" Bentar ya, Teh. Mama manggil." Kata Lia
" Iya, Mah." Lia menaruh kotak kalengnya diatas meja rias.
Dara menaruh foto yang sedari tadi dipegangnya ke dalam kotak kaleng itu. Dari pintu kamar yang sedikit terbuka dia melihat seorang gadis cantik yang sedang berbicara dengan Lia. Kemudian gadis itu menghampiri Ardi sambil merentangkan kedua tangannya.
" Hai, Di. Apa kabar? Beri aku pelukan untuk masa lalu kita." Ucap gadis cantik berambut ikal itu.
" Apa-apaan sih." Ardi menepis tangan gadis itu.
" Teh Febri, Teteh kalah cepet. Aa sekarang udah punya calon istri." Ucap Lia.
" Biarin! Kan, baru calon belum jadi istri sah. Masih bisa aku kejar." Kata Febri mengedipkan matanya.
" Kalaupun udah jadi istri sah pun gak apa-apa. Kan lagi musimnya pelakor." Lanjut Febri.
" Teh Febri iihh..gak boleh ngomong gitu atuh. Pasti ada kok laki-laki lain yang udah Tuhan ciptain buat Teteh." Kata Lia.
Deg! Rasanya dada Dara seperti ditekan. Sakit.
Ardi melihat kearah kamar Lia. Disana dia melihat Dara yang mematung didepan pintu. Pandangan mereka saling beradu lalu Dara memalingkan badannya, masuk kedalam kamar.
Dara duduk di tepi ranjang. Dia mengambil salah satu bantal yang ada di atas ranjang itu. Dia memeluknya untuk meredakan sakit di dadanya.
" Kenapa, Teh? Ngantuk? Istirahat dulu aja teh.." Kata Lia yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
" Eh..gak apa-apa kok. Cuma......pengen ke kamar mandi. Kamar mandinya dimana ya?"
" Hayuk atuh Teh, aku anterin."
Lia menunjukan jalan ke kamar mandi. Setelah sampai dibagian belakang rumah Eyang, Dara melihat banyak orang yang sedang menyiapkan makanan disana. Dara masuk ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka menghilangkan penatnya.
" Neng sini.." Panggil Eyang ketika Dara keluar dari kamar mandi.
" Kamu udah makan belum tadi dijalan? Mau makan? Tuh pilih sendiri kamu mau yang mana."
" Terima kasih, Eyang. Aku belum lapar. Nanti aja makannya." Jawab Dara.
__ADS_1
" Gak usah malu-malu, neng. Sok mau yang mana? Nanti eyang ambil keun."
" Cih! Ucih! Eta..diambilkeun kue buat neng Dara." Perintah eyang.
" Silahkan, Tuan putri." Ucap Tante Suci meletakan dua piring saji yang berisi bermacam-macam kue di meja depan Dara dan Eyang.
" Terima kasih." Jawab Dara.
" Hayuk neng dimakan kuenya.." Kata Eyang.
" Iya, Eyang." Dara mengambil salah satu kue yang terbungkus daun pisang berbentuk kerucut.
" Disini masih menggunakan kayu bakar buat masak Eyang?"
" Iya, neng. Masak di hawu(*tungku) itu rasanya lebih enak. Tapi sekarang sih cuma digunakan kalau ada acara saja. Seperti sekarang. Biar hemat gas."
" Aku belum pernah Eyang, masak menggunakan kayu bakar seperti itu."
" Jaman sekarang mah sudah enak. Sudah ada kompor gas. Tinggal cetrek langsung nyala apinya. Gak perlu ribet cari kayu bakar dulu."
" Neng Dara mau belajar nyalain api buat bahan bakar tungku? Hayuukk sini deket aku." Panggil Tante Suci.
" Tapi, kalau gak bisa gimana?" Tanya Dara.
" Gak apa-apa. Namanya juga belajar kan gak langsung bisa." Jawab Tante Suci.
Dara pun akhirnya mendekati Tante Suci. Ia pun berjongkok di depan tungku yang padam apinya. Tetapi baranya masih memerah.
" Nah, kalau posisinya begini neng Dara tinggal tiup aja pake paralon ini. Lalu tiup seperti ini. Nanti apinya akan nyala lagi." Tante Suci menerangkan.
" Ayo, sekarang neng Dara yang cobain."
" Pasti kamu gak bakalan bisa. Hehehe.." batin Tante Suci.
Dara mengambil pipa pralon yang ada di tangan Tante Suci. Lalu salah satu ujungnya ia dekatkan dengan bibir. Kemudian dia menarik nafas panjang dan meniupnya melalui pipa pralon itu.
Huuufftt! Huuufftt! Dara meniupkan udaranya.
Tiba-tiba asap mengepul, memenuhi bagian belakang rumah Eyang.
" Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Dara batuk, matanya perih terkena asap.
" Neng Dara, Kunaon (*kenapa)? Kok bisa jadi kaya gini..Haduh..Asepna ka mana-mana (*Asapnya kemana-mana)..Kumaha iyeu (*gimana ini)?"
__ADS_1