Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.51


__ADS_3

" Di, pulangnya kita makan bakso di tempat Pak Yono lagi yuk. Nostalgia kita. Kan lagian kamu juga jarang main ke rumah Eyang selalu sibuk di ibukota." Kata Febri.


" Gak mau. Langsung pulang aja keburu sore." Jawab Ardi sedikit ketus.


" Ya sudah, kalo begitu besok. Setelah acaranya Lia."


" Gak! Mau langsung balik, senin udah mulai kerja."


Tak lama mobil Ardi memasuki parkiran sebuah departemen store.


" Di, kamu kasih kado apa buat Lia? " tanya Febri.


" Gak tahu!" jawab Ardi ketus.


" Kamu mau kasih kado apa, Ra untuk Lia?" Ardi menarik tangan Dara yang sedari tadi berjalan di belakang.


" Aku juga bingung kak. Mungkin aksesories," jawab Dara. Dan dia membiarkan Ardi tetap menggenggam tangannya.


" Kita kesana yuk, Ra." Ardi membawa Dara memasuki sebuah toko perhiasan.


Pelayan toko menyapa, " Selamat Datang!"


" Silahkan Pak, mau cari apa?"


Ardi mengedarkan pandangannya disepanjang etalase. Dia melihat cincin yang tertata rapi disana. Matanya tertuju pada sebuah cincin yang menarik hatinya.


" Modelnya cantik dan simpel, pas dengan Dara." batin Ardi.


Ardi menoleh ke arah Dara dan menghampirinya yang sedang berada di depan etalase gelang.


" Bagaimana? Ada yang kamu suka?" tanya Ardi.


" Sepertinya itu cocok buat Lia." Dara menunjuk sebuah gelang di dalam etalase.


" Yang mana?"


" Itu.. nomor 4 dari atas. Gelang berwarna rosegold dengan aksen berbentuk bunga dengan batu-batunya berwarna putih. Simpel tapi cantik. Secantik Lia."


" Kamu baru ketemu Lia hari ini, tapi kamu sudah bisa menilainya? Hebat!"


" Bukan begitu! Aku hanya membacanya dari sikapmu. Kamu memperlakukan adik sepupu dengan penuh rasa sayang dan kamu pun ingin memberikan kado yang terbaik untuknya. Bukankah itu sudah bisa dibaca?"


Ardi hanya menjawabnya dengan senyuman lalu dia berkata pada pelayan toko itu, " Mba, tolong bungkus gelang yang ini."


" Baik, Pak." Jawab pelayan toko.


" Eh? Kamu langsung setuju dengan pilihanku? Kamu gak mau pilih yang lain?" Tanya Dara heran.


" Aku yakin pilihanmu juga akan disukai oleh Lia, karena yang memilihnya juga gak kalah cantik." Ucap Ardi.


Mendengar pujian yang dilontarkan oleh calon suaminya, membuat Dara tersipu malu.

__ADS_1


" Di, bisa tolongin aku gak?" teriak Febri.


Dengan langkah yang berat Ardi memenuhi panggilan si calon dokter yang sudah mengganggunya beberapa jam terakhir.


" Kenapa? " tukas Ardi


" Tolong pasangin kalung ini dong." Febri menunjukan kalung yang sudah ada ditangannya.


" Suruh aja mbaknya, kenapa harus aku?"


" Aku maunya sama kamu." rengek Febri.


Dengan terpaksa Ardi memasangkan kalung itu di leher jenjang Febri.


" Udah." Ucap Ardi sedikit kesal.


" Cantik gak, Di?"


" Iya." Jawab Ardi singkat.


" Makasih." Febri tersenyum puas.


Ardi menoleh ke tempat dimana Dara berada tadi tapi sudah tidak ada. Ardi bergegas pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah menyelesaikannya Ardi melihat di luar sekililing toko perhiasan itu mencari Dara.


Disebuah toko buku, Ardi melihat seseorang dengan posisi membelakanginya. Gadis mengenakan kemeja krem dengan rambut dikuncir kuda persis dengan ciri-ciri Dara. Dia lantas mempercepat langkahnya menuju tempat gadis itu berada.


Ardi mencari lorong rak buku yang dia lihat dari luar tadi. Ia mulai bernafas lega gadis kuncir kudanya ketemu. Dia asik sedang membaca sinopsis buku diujung lorong.


Gadis kuncir kuda itu berbalik dan berkata, " Maaf, Anda siapa?"


" Eh? Salah orang. Maaf,saya pikir Anda calon istri saya. Sekali lagi maaf!"


" Kak Ardi!" Dara menepuk bahu pria itu dari arah belakang.


" Dara." Jawab Ardi kaget.


" Oh.. Pantes si Aa nya salah, ternyata rambutnya sama dikuncir juga. Lain kali Aa nya lebih waspada lagi ya..biar Tetehnya gak hilang lagi. Bila perlu pake rante kapal A ngiketnya." Ucap gadis kuncir kuda itu sebelum meninggalkan Ardi yang tampak malu di depan Dara.


" Kak Ardi salah orang?" tanya Dara heran.


" I..iya.." Jawab Ardi malu.


" Manis banget sih kamu.."


" Apa? Bisa ngomong sekali lagi, Ra?"


" Gak ah! Aku mau ke kasir mau bayar barangnya." Dara melarikan diri dari Ardi.


Febri yang menunggu di depan toko nampak kesal dengan senyum yang merekah di kedua bibir sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta itu.


" Di, kita makan dulu yuk. Laper nih..." rengek Febri sembari bergelayut dilengan Ardi.

__ADS_1


" Bisa tolong lepasin dulu gak?" Ardi menepis tangan Febri.


" Kamu mau makan gak, Ra?"


" Pengen makan cemilan aja." Ucap Dara


" Oke! Yuk." Ardi menggandeng tangan Dara dan meninggalkan Febri di belakang.


Mereka pun memasuki restoran cepat saji dan menempati disalah satu meja yang masih kosong.


" Aku pesan makanan dulu." Ucap Ardi.


Setelah dirasa Ardi sudah cukup jauh dari meja mereka, Febri pun mulai membuka suaranya.


" Sepertinya kita belum kenalan dengan baik." Kata Febri dengan tatapan yang sinis.


" Gak usah basa-basi. Langsung ngomong aja." Celetuk Dara.


" Ok! Kamu pasti udah denger dong sepanjang perjalanan tadi. Kita punya masa-masa indah sejak masih sd."


" Terus..." sela Dara.


" Terus? Ya seharusnya kamu nyadar. Kamu harus pergi ninggalin Ardi. Seperti nama kamu Dara, terbang dan menghilang bak burung dara."


" Hah!" Dara menghela nafasnya.


" Ardi itu cuma lagi khilaf aja, karena kita udah lama gak komunikasi. Jadi dia mencari pelarian deh. Nah, sekarang aku udah balik lagi. Pasti gak lama lagi Ardi juga bakalan balik ke aku lagi. Jadi sebelum kamu patah hati karena ditinggalin sama cowok yang katanya calon suamimu itu....mending kamu mundur dari sekarang."


" Hmmm.. Udah selesai?" Ucap Dara.


" Tapi dari sikap Ardi ke kamu itu tidak seperti apa yang kamu deskripsikan. Aku tidak bodoh Febri! Sikap Ardi cukup jelas mengartikan dia menolak kamu."


" Iyakah? Tapi menurutku tidak. Dia hanya kaget karena aku tiba-tiba muncul didepannya. Setelah ini dia pasti akan bersikap manis kepadaku."


" Ok! Kita lihat aja nanti." Ucap Dara santai.


Ardi datang dengan membawakan pesanan mereka.


" Nih, Ra. Es teler pesanan kamu." Ardi menyuguhkan mangkuk dengan es yang menjulang ke hadapan Dara.


" Makasih." Balas Dara.


" Di, kamu mau cobain makananku, gak? Ini enak lho.." Febri mengangkat sendoknya ke depan mulut Ardi.


" Gak mau." Ardi menolak.


Justru sekarang Ardi merebut suapan es teler yang hampir masuk ke mulut Dara dengan cara dia membelokan tangan Dara ke arahnya.


" Hmm..Enak....dan manis kaya yang makan," sambung Ardi.


Dara hanya tersenyum melihat tingkah Ardi.

__ADS_1


" Awas ya kamu, Ra! Ini belum berakhir. Aku masih punya banyak kesempatan untuk membuat Ardi hanya melihat ke arahku. Lihat saja hari itu akan segera tiba. Dan kamu? Hanya akan meratapi nasib sedihmu ditinggalkan oleh Ardi. Dan nantinya kamu jangan menyalahkanku, karena aku sudah memperingatkanmu," batin Febri.


__ADS_2