
Acara pertunangan sudah usai. Kini kedua calon mempelai pengantin dan keempat orang tuanya sedang berdiskusi di ruang kerja Pak Malik agar lebih terperinci dan tidak ada lagi miss comunication seperti yang terjadi kemarin.
Dara sudah mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman, yaitu sebuah dress dibawah lutut dengan motif bunga vintage yang cantik. Kini dia ingin menonjolkan sisi feminimnya didepan calon suami dan calon mertuanya. Sedangkan Ardi hanya melepas jasnya dan menaruhnya dipunggung sofa. Untuk kemejanya dia membuka kancing di pergelangan tangannya dan menggulungnya hingga kesiku, agar lebih terasa santai.
" Ardi," papa Malik memuali pembicaraan. " Acara pernikahan tinggal tiga hari dari sekarang. Papa harap kalian berdua benar-benar mendiskusikannya dengan baik, supaya kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi."
" Iya, Pah," jawab Ardi.
" Papa tahu, kamu ingin segera melakukan pertunangan ini agar rumor yang beredar diluar sana cepat hilang. Tetapi kamu lupa. Kalau yang akan menjalani kedepannya adalah kamu dan Dara. Bukan kamu seorang. Papa harap kedepannya kalian berdua musyawarahkan dengan baik semuanya. Dalam hal apapun. Jangan putuskan secara sepihak. Karena dalam berrumah tangga komunikasi adalah salah satu hal yang penting. Kalian mengertikan apa yang papa maksud?"
" Mengerti, Pah," jawab Ardi dan Dara bersamaan.
" Maaf sebelumnya ya, Pak Adit. Saya disini tidak bermaksud mengambil alih posisi anda untuk menasehati Ardi," ucap papa Malik sedikit sungkan.
" Tidak apa-apa, Pak Malik. Tidak perlu sungkan. Ardi kan sekarang sudah menjadi tunangan Dara. Dan sebentar lagi akan menjadi menantu anda. Ini merupakan hal yang lumrah ketika orang tua ingin berpesan kepada anak-anaknya yang akan segera menikah. Justru saya berterima kasih kepada pak Malik karena sudah perhatian kepada Ardi," jawab Ayah Adit.
" Oh iya, Pak Adit. Mewakili Doni, saya memohon maaf untuk perkataan yang sudah dia lontarkan tadi. Saya sungguh tidak enak hati dengan sikapnya yang terus bersikap sinis kepada Ardi."
" Bukankah tadi juga sudah saya bilang. Saya tidak masalah dengan perkataan Doni justru merasa bangga. Karena ternyata wanita yang akan dinikahi Ardi adalah wanita yang sangat dicintai kakaknya. Berarti Dara sangat berarti bagi Doni. Itu bisa menjadi cambuk untuk Ardi agar dia menjaga Dara sebaik-baiknya. Jika tidak? Doni tidak segan-segan menggambil Dara kembali ke pangkuan kedua orangtuanya. Benar begitu, Di?" Ayah Adit melemparkan pandangannya ke arah Ardi.
" Benar, Ayah,"
" Jadi, ini adalah tantangan untuk kamu buktikan ke Doni. Bahwa kamu adalah satu-satunya lelaki yang pantas untuk bersanding dengan Dara. Tunjukan dengan jadi dirimu sendiri, Nak. Tidak perlu berubah menjadi orang lain untuk mengesankannya."
" Iya, Ayah. Aku mengerti."
__ADS_1
" Bagus!" Ayah Adit mengacungkan jempolnya.
Papa Malik mengambil buku catatannya dan sebuah bolpoin dari dalam laci meja kerjanya. Lalu ia memberikannya kepada Dara. " Kamu catat semua hal-hal yang kita perlukan untuk pesta pernikahan. Kalau kamu merasa ada yang tidak pas, kamu bilang aja langsung. Kita diskusikan sama-sama."
" Baik, Pah," jawab Dara sambil menerima buku yang disodorkan papa Malik.
Mereka berenampun mulai mendiskusikan semua hal yang diperlukan dalam pernikahan itu. Dari tempat acara hingga makanan yang akan disajikan oleh para tamu.
Dara kini tidak lagi merasa sungkan untuk mengutarakan pendapatnya. Dia mulai berbicara tentang sepatu yang nyaman bukan hanya warna dan desainnya yang cantik.
" Aku tidak nyaman menggunakan sepatu berhak tinggi, bisakah aku hanya menggunakan flatshoes? Aku rasa pasti ada flatshoes yang cantik yang sesuai dengan gaun apa saja yang akan aku kenakan nanti."
" Maaf untuk hari ini. Karena sepatu pilihanku kakimu terluka," bisik Ardi. Yang memang sekarang mereka duduk bersebelahan.
Suara Ardi yang benar-benar langsung terdengar ditelinganya membuat jantungnya bedegup kencang dan membuat pipinya yang merona tampak lebih memerah dari riasan blush on.
" Eh..." Dara merasa gugup dan salah tingkah. " Karena... karena menurutku alas kaki tidak hanya harus cantik tapi juga nyaman dipakai. High heels tadi sangat cantik, tapi aku tidak nyaman memakainya."
" Tidak masalah, sayang. Nanti kita pesan saja. Ku rasa waktunya cukup. Nanti ku carikan pengrajin yang terbaik," ucap ibu Heni.
" Terima kasih, Tante," jawab Dara.
" Kan Ardi sudah panggil Pak Malik dengan sebutan papa. Jadi kamu Dara, mulai sekarang panggil kami berdua ayah dan ibu ya, sayang," ujar ibu Heni kemudian.
" Baik..., Ibu," kata Dara.
__ADS_1
Tak terasa perbincangan mereka sudah cukup lama. Kini hanya tinggal Ardi dan Dara yang berada di ruang kerja papa Malik. Ayah Adit dan ibu Heni sudah pamit pulang terlebih dahulu karena ada eyang yang sudah menanti mereka di rumah. Sedangkan papa Malik sibuk dengan menelfon beberapa orang untuk mengundangnya secara langsung di luar ruangan. Sementara mama Tika menyiapkan makan malam di dapur.
Sedari tadi Dara tidak menyadari kalau diruangan itu mereka hanya tinggal berdua saja karena dia asik menulis dan menandai beberapa hal yang harus dilakukan esok hari.
" Kak, jadi seperti ibu tadi bilang besok kita pergi ke pengrajin sepatu yang sudah menjadi langganannya. Biar nanti kita punya lebih banyak waktu disiang harinya, kita kesananya agak pagian ya. Jadi dari sana kita bisa ketempat yang lain lagi. Termasuk ketemu sama pihak WOnya," ucap Dara yang ternyata hanya dijawab senyuman oleh Ardi.
Dengan menyandarkan dagunya disalah satu tangannya, Ardi sedari tadi menatap wajah Dara yang tampak serius mencatat keperluan pernikahan mereka. Dia sangat menikmati wajah yang serius itu.
" Kak Ardi, k-kenapa? Kok senyum-senyum gitu... Ada yang aneh di wajahku ya?" selidik Dara sambil memerika wajahnya dengan kedua tangannya.
" Gak ada," ucap Ardi menggenggam salah satu tangan Dara. " Aku cuma suka aja ngeliatian muka serius kamu. Ekspresinya sangat lucu dan tidak jarang kamu bergumam sendiri. Aku sangat menikmatinya."
" Ih, apaan sih kak. Eh? Ini papa kemana? Kok gak ada?"
" Udah dari tadi keluar buat telfonin tamu kehormatan."
" Oh...," jawab Dara santai, tapi kemudian dia menyadari sesuatu.
" Eh? Jadi dari tadi di dalam ruangan ini kita cuma berdua doang? Ayah dan ibu sudah pamit pulang dari beberapa saat yang lalu. Kemudian disusul mama yang akan menyiapkan makan malam untuk kita. Dan tadi papa keluar ruangan buat telfon tamu pentingnya. Dan sedari tadi pula dengan leluasanya dia memandangi wajahku. Oh tidak! Aku malu. Aku ingin bersembunyi dimanapun itu. Menyembunyikan wajahku yang seperti kepiting rebus," batin Dara.
" Kamu kenapa tiba-tiba panik gitu mukanya? Baru nyadar kalau dari tadi kita cuma berdua doang di ruangan ini?"
" Kok tahu?" tanya Dara spontan.
" Terlihat jelas di muka kamu, Ra. Muka panik, malu, salah tingkah semuanya ada. Dan makin lucu tahu aku ngeliatnya. Hehehe..." Ardi terkekeh kecil.
__ADS_1