Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.44


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu....


Hari ini Mama dan Papa pulang dari luar negeri. Dara sudah sangat tidak sabar untuk bertemu kedua orang tuanya. Disela-sela kerjanya Dara meminta ijin untuk menjemput kedua orang tuanya dan juga Bi Odah di bandara.


Selama tiga hari ini pula Dara sibuk dengan beberapa kerjaan yang dilimpahkan kepadanya. Terlebih Mas Rizal sudah beberapa hari ini ditarik ke kantor pusat untuk urusan kasus Bu Yanti beberapa hari yang lalu.


" Welcome home Mama dan Papa tersayang..." sambut Dara.


" Bi Odah apa kabar? Sehat? Seneng gak diajak jalan-jalan keluar negri?"


" Terima kasih sayang." Mama memeluk dan mencium putrinya.


" Baik, Neng. Bi Odah sehat dan seneng juga diajak jalan-jalan naik pesawat. Tapi itu lho..orang disana ngomongnya was wes wos...was wes wos..gak ngerti saya, Neng." Jawab Bi Odah polos.


" Hahaha..Bi Odah ada-ada aja. Bahasa Inggris maksudnya?"


" Ya begitulah, Neng. Was wes wos...hehehe.."


" Gimana kabar kamu, Nak?" Tanya Papa.


" Alhamdulillah, Dara sehat Pah. Papa sendiri gimana?"


" Sehat juga dong...Nih lihat otot Papa." Kata Papa sambil menunjukan otot lengannya dengan menekan bagian bawah agar terlihat berisi.


" Otot Papa bukan disitu. Tapi disini..." Ucap Dara sembari menepuk-nepuk kecil perut buncit Papanya.


Hahaha..Mereka bertiga tertawa.


" Ma, Pa, Dara balik lagi ke kantor ya..Mama sama Papa juga Bi Odah pulang dianterin Pak Yogi ya..Soalnya aku ijin cuma sebentar. Kerjaan kantornya masih banyak. "


" Kamu naik apa, Nak? Naik motor?" Tanya Papa.


" Gak, Pa. Naik taxi. Kebetulan tadi ada keperluan kantor juga."


" Ya udah. Kamu hati-hati ya sayang." Ucap Mama.


" Oke! Sampai jumpa di rumah ya semuanya. Daahh.." Dara melambaikan tangannya, dan berlalu pergi.


Di dalam taxi yang sedang melaju menuju kantor cabang ponsel Dara berdering.


Drrt! Drrt! Drrt!


Sontak senyum Dara mengembang ketika melihat nama yang tertera di ponselnya.


" Halo..."


" Halo..Kak.."


" Kamu lagi ngapain sekarang?"

__ADS_1


" Baru selesai jemput Mama Papa di bandara. Dan sekarang masih di taxi menuju kantor. Memang kenapa? Oh iya..Maaf ya Kak..tiga hari ini aku gak sempet jenguk kak Ardi dirumah sakit. Kerjaanku lagi numpuk banget. Apalagi Mas Rizal udah beberapa hari ini gak ngantor. Dia lagi ngurusin kasusnya Bu Yanti di kantor pusat. Jadi di kantor cabang lagi sedikit ribet sekarang-sekarang ini. Kita dituntut multi talenta sekarang." Terang Dara.


" Yang sabar ya... Kamu juga ngerjain tugasnya jangan terburu-buru, harus teliti biar gak makin ribet."


" Gimana keadaan kak Ardi sekarang?"


" Aku baik. Dan sudah diijinkan pulang hari ini. Sekarang Iqbal lagi bantu beres-beres."


" Alhamdulillah..." Dara lega.


" Oh iya.. Berhubung Mama Papamu sudah pulang besok malam aku sama Ayah dan Ibu main ke rumah ya.."


" Apa? Besok malam?" Dara kaget.


" Iya! Kamu udah ngasih tahu Mama Papamu kan tentang kita?"


" Udah sih... Tapi tetep aja rasanya gimana gitu...."


" Hahaha.. Kamu kayak anak abg aja." Ardi terkekeh.


" Nanti sepulang dari kantor jangan lupa kasih tahu Mama Papa ya."


" Iya! Nanti aku sampein."


" Ya sudah. Hati-hati dijalan dan jangan lupa minum air putih. Kurangin teh manisnya ya.."


" Iya, Kak. Salam buat om dan tante."


"Mm.......Bye!"


" Bye!.."


Tut! Sambungan telpon terputus.


Dara melemparkan pandangannya keluar jendela mobil. Senyuman masih mengembang di bibirnya. Dia masih merasa semua ini seperti mimpi. Kalau pun memang ternyata mimpi dia tidak ingin terbangun dari tidurnya.


Hari sudah menjelang sore. Pekerjaan Dara yang menumpuk perlahan mengurai. Dia melihat ke sebrang bilik kerjanya. Masih kosong. Belum ada kabar terbaru dari Novi.


" Lu kemana sih, Nov? Sakitnya begitu parah ya sampai-sampai hari ini belum masuk juga. Apa sebenarnya dia tidak sakit, tetapi dia lagi ada masalah? Dihubungi juga gak bisa. Dichat gak dibales. Ditelpon gak diangkat. Sebenernya lu kenapa sih, Nov? Sepi tahu gak ada lu..." batin Dara.


Dara kembali ke depan layar komputernya. Mengerjakan sisa file yang belum terjamah. Asik dengan tugasnya sampai Dara lupa waktu. Sebagian besar karyawan yang lain sudah meninggalkan meja kerjanya. Kini hanya tinggal beberapa orang saja diruangan itu.


Pats! Lampu ruangan menyala terang.


" Udah malam, ya..." Dara melirik jam disudut kanan bawah layar komputer.


" Hah? Hampir jam enam sore."


Dara melihat sekitar. Dia melihat teman yang lainnya sudah bersiap-siap untuk pulang. Dara pun merapikan file-file yang telah dikerjakannya.

__ADS_1


Tak lupa sebelum mematikan komputernya dia sudah menyimpan file itu di komputer dan juga di flashdisk. Dia menyimpan filenya dalam dua tempat. Karena dia tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi. File hilang tanpa bekas.


" Ra, tolong file ini satuin sama yang punya lu ya. Terus ditaruh di mejanya Pak Rizal." Kata salah satu teman Dara yang ikut lembur.


" Ok!" Jawab Dara singkat.


" Thank you ya, Ra. Gue balik dulu. Bye..!"


" Ok! Bye..hati-hati di jalan."


Dara menjinjing tasnya dan memeluk map-map file yang akan ditaruh di ruangan Pak Rizal. Dara memasuki ruangan itu dengan hati-hati karena ruangan itu sedikit gelap.


Brak! Dara menjatuhkan sesuatu ketika menaruh tumpukan map file di meja kerja Pak Rizal.


" Apa tadi yang jatuh? " Dara melihat kebawah kakinya mencari benda yang jatuh itu.


" Apa ini? Seperti kaset CD. Kenapa Mas Rizal sembrono sekali? Kalau file yang di dalamnya rusak gimana?" Dara meletakkan benda itu di atas tumpukan map file yang ia bawa.


Dara meninggalkan ruangan Pak Rizal. Dia pergi menuju tempat parkir motor. Dia mengenakan jaketnya, lalu helmnya sebelum menyalakan mesin kuda besinya.


Jalanan ibukota mulai ramai. Dengan kuda besi metiknya, Dara membelah keramaian jalanan ibukota. Inilah yang menjadi alasan Dara suka mengendarai motor. Tak akan pernah terjebak macet.


Mama dan Papa sudah siap di meja makan. Mereka berdua menanti kedatangan putrinya yang cantik.


" Kok jam segini anakmu belum pulang, Ma?" Tanya Papa.


" Lembur kali, Pa. Kan Rizal lagi dikantor pusat katanya. Ngurusin yang kasus korupsi gitu."


" Assalamu'alaikum....." Dara memberi salam.


" Wa'alaikum salam.." Jawab Mama Papa.


Dara menghampiri sumber suara. Menjatuhkan tas kerjanya diatas meja, lalu dia membanting bokongnya ke atas kursi.


" Wah..enak nih. Kangen deh masakan Mama sama Bi Odah. Jadi makin laper aku." Dara membalikan piringnya lalu menuangkan nasi diatasnya.


" Ya ampun, anak gadis Mama baru pulang bukannya cuci tangan ganti baju. Ini malah langsung nyendok nasi." Omel Mama.


" Kalau dilihat sama calon mertuamu gimana? Bisa-bisa langsung balik badan putar haluan."


" Oh iya, Ma, Pa." Dara menelan makanan yang ada dalam mulutnya.


" Tadi kak Ardi telpon. Katanya besok malam dia sama orang tuanya mau kesini. Mau ketemu sama Mama Papa. Gimana Ma, Pa ?"


" Ya sudah kesini saja. Toh kita kan memang harus saling kenal dengan keluarga dari calon menantu kita. Iya kan, Ma?"


" Iya, Pa." Mama mengiyakan.


" Besok jangan lupa dandan yang cantik, kan calon mertua mau dateng." Goda Papa.

__ADS_1


Dara tersipu malu dengan ucapan Papa.


__ADS_2