Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.57


__ADS_3

Setelah meninggalkan tempat pesta, Febri lantas tidak langsung pulang melainkan menunggu di dalam mobilnya, memperhatikan mereka dari jauh.


Tak! Febri memukul setir bundarnya.


" Apa yang sebenarnya Ardi lihat dari wanita itu? Lebih cantik dari aku pun tidak. Lalu apa yang membuat Ardi lebih memilih si burung dara itu ketimbang aku?" Febri kesal. " Kenapa nasib wanita itu begitu bagus? Pasti ada orang yang membantunya. Bagaimanapun aku harus mengurusnya dengan baik. Lihat saja," sambung Febri dengan tertawa keji.


Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Febri menatap Dara dengan tatapan penuh amarah.


Ardi sekilas melihat mobil yang melaju, dan dia tahu itu adalah Febri. Dan dia juga tahu kalau sedari tadi Febri memperhatikan mereka dari jauh. Tapi dia berusaha bersikap biasa saja agar Dara tidak merasa cemas.


" Kamu kenapa, Kak?" tanya Dara.


" Gak apa-apa." Jawab Ardi sekenanya. " Kamu udah beresin semua barang-barangmu kan, Ra? Soalnya habis ini kita pulang. Biar sampe rumah kita gak kemaleman."


" Udah, tinggal ganti baju aja."


" Ok! Aku juga mau ganti baju dulu yuk."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar masing-masing untuk berganti baju yang lebih nyaman dan membereskan barang bawaan mereka.


" Li, ini aku ada sesuatu dari kamu. Jangan dilihat dari harganya ya." Ucap Dara dengan tersenyum lembut.


" Apaan sih teh? Gak usah repot-repot. Teteh dateng kesini aja aku udah seneng banget," jawab Lia.


" Iya. Mudah-mudahan kamu suka sama isinya." Dara menyerahkan benda kotak berukuran besar yang terbungkus cantik dengan pita ke pangkuan Lia.


" Makasih. Aku buka ya, Teh." Lia mulai merobek kertas pembungkusnya. " Wah! Bingkai foto. Kok Teteh bisa tahu kalau aku lagi butuh ini?"


" Sebenarnya nebak aja. Soalnya banyak foto-foto yang kamu simpan di kotak kaleng itu. Jadi daripada disimpen aja mending disusun rapi disini. Dan semua orang bisa lehat deh."


" Sekali lagi makasih ya teh." Lia memeluk Dara.


" Sama-sama."


" Sampai kapan kalian akan jadi teletubies?" kata Ardi yang tiba-tiba muncul di depan kamar Lia.


" Huuu...bilang aja Aa iri pengen dipeluk juga sama teteh," ledek Lia.


" Apaan sih?" pipi Ardi merona. " Nih! Tangkep!" Ardi melempar sebuah kotak berukuran sedang ke Lia.


Hap! Lia menangkap dengan kedua tangannya.

__ADS_1


" Sopan banget ngasih kado ke orang," cibir Lia.


" Udah jangan bawel, itu dalemnya yang milihin Dara. Jadi kalau suka bilang terima kasihnya sama orang yang disampingmu ya. Aku tunggu diluar," ucap Ardi sambil berlalu meninggalkan dua orang gadis yang masih ingin bercengkrama.


" Wah! Cantik ini teh. Simpel dan elegan. Gak norak! Aku suka banget, Teh. Kok bisa sih teteh milihnya?" kata Lia yang masih terpesona dengan gelang pemberian kakak sepupunya itu.


" Menurutku itu bagus. Cocok sama kamu," ujar Dara.


" Sekali lagi makasih ya teh." Mereka berdua kembali berpelukan.


" Iya, sama-sama. Aku pulang dulu ya, Li."


Dara berjalan keluar dari kamar Lia dan berpamitan kepada Eyang dan Tante Suci.


" Eyang, Tante, aku pamit pulang dulu ya. Terima kasih udah diijinin nginep disini," kata Dara seraya mencium punggung tangan kedua wanita itu.


" Hati-hati dijalan ya, Teh," ucap Tante Suci.


" Sering-sering main kemari ya, Neng. Dan Eyang akan selalu menunggu kedatanganmu." Eyang mengusap lembut bahu Dara.


" Jadi yang ditungguin Neng Dara doang nih? Aku nggak?" ucap Ardi pura-pura kesal.


" Ya kamu juga dong.. Incu eyang nu paling kasep," kata Eyang gemas.


Ayah Adit dan Ibu Heni juga berpamitan dengan Eyang, Tante Suci, dan juga Lia. Dua buah mobil keluar dari halaman rumah Eyang diiringi oleh lambaian tangan dari ketiga wanita beda generasi itu.


Sebelum pulang mereka berempat memutuskan mampir dulu ke pusat jajanan dan fashion di daerah D, di kota B.


Mereka mencoba berbagai makanan dan jajanan yang ada di daerah itu. Dan mereka sangat menikmati makanannya.


Tak lupa mereka pun berbelanja di pusat fashion yang masih di daerah itu juga. Dara memilihkan beberapa kaos santai dan juga jaket untuk Ardi. Dan Ardi pun tidak mau kalah, ia juga ingin menunjukan perhatiannya ke Dara dengan membelikan sebuah gaun yang cantik.


" Kenapa gaun?" tanya Dara heran.


" Ya karena kamu cewek jadi dibeliinnya gaun. Kalau cowok baru aku beliin sarung," jawab Ardi ngasal.


Dara mencubit bahu calon suaminya, gemas. " Aw! Sakit!" pekik Ardi sambil mengusap-usap bahunya.


" Makanya jawabnya yang bener," balas Dara kesal, dan berjalan ke arah kasir.


Selesai berbelanja, mereka melajukan mobilnya ke arah ibukota. Dara sangat kelelahan hingga akhirnya ketiduran di dalam mobil. Setelah menempuh beberapa jam akhirnya mereka sudah kembali ke ibukota. Ardi langsung melajukan mobilnya ke rumah Dara.

__ADS_1


Dara merasa ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Lalu dia juga merasa ada usapan lembut di pipinya.


" Ra, bangun! Udah sampai rumah," kata Ardi membangunkan Dara.


" Emmm...." Dara meregangkan badannya. " Ya ampun, udah sampai ya, Kak? Maaf ya sepanjang jalan aku tidur gak nemenin kak Ardi."


" Iya."


" Makasih ya udah nganterin. Salam buat om dan tante."


" Iya, nanti aku sampein," ucap Ardi. " Tunggu sebentar, Ra." Ardi mengeluarkan sebuah kotak dari saku bagian dalam jaketnya dan memberikannya ke Dara.


" Apa ini?"


" Buka aja."


" Kalung? D?"


" Iya, D. Dara!" jelas Ardi. " Pake ya dengan gaun yang tadi."


" Makasih. Kapan?"


" Nanti aku kasih tahu lagi. Ya sudah masuk gih, udah malem juga. Istirahat ya.." Ardi mengacak-ngacak rambut Dara gemas.


" Kamu juga hati-hati di jalan ya. Kalau sudah sampai rumah jangan lupa kabarin."


" Iya, calon istriku."


Ardi membantu Dara mengeluarkan travel bag dan barang belanjaannya dari bagasi mobil. Lelaki itu menungguinya di depan gerbang hingga Dara masuk ke dalam rumahnya. Baru kemudian dia melajukan mobilnya pergi.


Kepulangan Dara disambut Mama Tika dan Papa Malik yang sedang nonton televisi di ruang keluarga.


" Hai, sayang. Anak mama sudah pulang? Gimana sayang keluarga besar Ardi terima kamu kan? Gak ada yang jutekin kamu kan, Nak?" tanya Mama Tika penasaran.


" Alhamdulillah, Ma. Semuanya welcome banget. Gak ada yang jutek-jutek gitu sama aku. Apalagi Eyang, dia orangnya baik banget, perhatian, dan berjiwa muda." Dara terkekeh mengingat tingkah Eyang.


" Syukur alhamdulillah kalau begitu. Tinggal nanti Papa atau kamu bilang ke Doni ya. Biar gak usah lama-lama tahap pengenalan atau yang sering kalian bilang pacaran. Papa takut nanti malah yang nggak-nggak lagi," kata Papa Malik.


" Jangan begitu, Pah. Mama yakin Dara bisa jaga dirinya."


" Iya, Papa tahu. Tapi yang namanya setan gak kenal tempat dan waktu, Mah. Papa hanya ingin menjaga anak perempuannya papa sebaik-baiknya. Kalau Doni sudah ok, langsung cari tanggal dan nikahkan mereka."

__ADS_1


" Iya, Pah," jawab Dara seraya berlari kepelukan Papa Malik.


__ADS_2