Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep. 84


__ADS_3

"Hei! Pengantin baru kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Doni ketika masuk ke ruangan Ardi.


"Eh, Mas Doni. Apa kabar, Mas?" sapa Ardi, menjabat tangan kakak iparnya.


"Aku baik, semua yang di rumah juga baik. Kamu kenapa? Ada masalah? Kalau ada apa-apa bilang saja sama aku," kata Doni, menepuk bahu adik ipar barunya itu.


"Tidak ada, Mas. Hanya pekerjaan yang sedikit menumpuk saja. Padahal baru ditinggal beberapa hari." Ardi nyengir. "Mas Doni, ada perlu apa datang kesini? Apa ada suatu hal yang penting?"


"Hanya mau kasih lihat kamu ini," ucap Doni seraya mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku jasnya.


"Apa ini, Mas?" tanya Ardi penasaran.


"Buka saja. Itu kado pernikahan tambahan dariku. Candra dan Rina sudah aku bereskan. Dan itu buktinya."


Ardi memandangi tumpukan foto-foto itu secara bergantian.


"Dan sekarang mereka menginap di hotel prodeo, jadi kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Sekarang kamu bisa fokus dengan Dara, dan segera berikan aku keponakan yang lucu."


"Siap, Mas! Aku akan segera memenuhi keinginanmu," ucap Ardi nyengir.


Sementara itu, Dara sedang berada di cafe dekat kantor cabang bersama Eka dan Irma. Mereka bertiga baru saja selesai merapikan berkas-berkas Dara yang terdahulu, dan sudah dipindah tugaskan secara resmi ke Eka dan Irma. Sekarang mereka sedang menikmati makan siang dengan senda gurau. Dara tidak habis pikir, nanti bakal bisa berkumpul bersama lagi seperti ini tidak ya? Dan dia juga merasa kurang lengkap, karena Novi tidak ada diantara mereka bertiga.


"Terima kasih ya, Ra untuk traktirannya," ucap Eka.


"Kalau ada waktu, main ke kantor ya, Ra," sambung Irma.


"Iya, nanti kalau aku ada waktu pasti aku langsung menemui kalian berdua," jawab Dara.


"Sip! Kita kembali ke kantor dulu ya, Ra. Jam istirahat sudah habis nih," kata Irma.


"Ok! Selamat kembali beraktifitas buat kalian berdua," kata Dara.


"Bye! See you later," ucap Irma, seraya menempelkan kedua pipinya ke pipi Dara, begitu juga dengan Eka.


Baru saja Dara hendak pergi meninggalkan mejanya, dia melihat seorang teman lama yang sangat dirindukannya. Walau dulu pernah melukai hatinya, tetapi Dara masih sangat menyayanginya. Novi, baru saja masuk ke dalam cafe. Wajahnya tampak lesu. Dara pun langsung meneriakkan namanya.

__ADS_1


"Novi!" teriak Dara dari mejanya, seraya melambaikan kedua tangannya. "Novi, sini!"


"Dara?" gumam Novi, tercengang. Dengan langkah sedikit ragu, dia menghampirinya.


Setelah berada dalam jangkauannya, Dara menarik Novi ke dalam pelukannya. Dia meluapkan semua rasa rindunya lewat pelukan. Mendekap erat tubuh kurus sahabatnya itu.


"Kamu kemana saja, Nov?" tanya Dara, melepaskan pelukannya. "Kamu baik-baik saja kan? Kenapa kamu tampak lesu? Dan sepertinya kamu kehilangan berat badanmu."


"Aku baik, Ra. Hanya saja akhir-akhir ini aku banyak pekerjaan yang menumpuk, sehingga aku sering lembur. Jadi aku merasa sangat capek sekarang," jawab Novi.


"Ya, sudah. Sekarang kamu duduk ya. Aku akan memesankan makanan untukmu. Aku traktir sebagai perayaan pertemuan kita kembali," kata Dara antusias.


"Tidak perlu repot, Ra. Terima kasih. Aku bisa membayarnya sendiri," ucap Novi seraya menjatuhkan bokongnya ke atas kursi.


"Kenapa kamu merasa sungkan seperti itu? Kita masih temankan, Nov? Kita itu selamanya teman." Dara menggenggam tangan Novi.


"Terima kasih, Ra. Kamu masih mau berteman denganku setelah apa yang pernah aku perbuat untukmu. Maafkan kesalahanku yang dulu ya, Ra."


"Lupakan! Tidak usah di bahas lagi. Ok?"


Dara mengulum senyumnya. Kemudian mengangguk. "We just married," ucap Dara lirih.


Belum habis rasa kaget Novi, dia dikejutkan lagi dengan kalimat selanjutnya yang diucapkan Dara.


"Tiga hari yang lalu kita menikah," ucap Dara kemudian.


"Waw!" pekik Novi senang. "Sungguh? Kalian sungguh sudah menikah? Dan itu adalah cincin pernikahannya?"


Dara kembali mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Novi.


"Wah! Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku turut berbahagia untuk kalian berdua. Semoga kalian selalu dalam lindunganNya, dijauhkan dari segala macam pelakor atau pebinor, bahagia selalu dan lekas diberi momongan," kata Novi.


"Aamiin, Nov. Terima kasih untuk doanya. Kamu kapan nyusul?"


"Nyusul? Jodohnya saja belum kelihatan, Ra."

__ADS_1


"Bukannya kamu suka sama Mas Rizal? Kenapa kamu tidak berusaha mengejarnya?"


"Semenjak keluar dari kantor aku tidak berani menghubungi Pak Rizal lagi. Terlebih kalau ingat masalah yang kemarin. Aku semakin tidak punya nyali untuk mendekatinya. Dia pun pasti merasa jijik kepadaku sekarang."


"Jangan berbicara seperti itu! Lagi pula kamu melakukan hal itu karena dia. Pasti Mas Rizal bisa mempertimbangkan perasaanmu."


"Sudahlah, Ra. Tidak usah dibahas lagi. Lagi pula sekarang aku sudah menyukai lelaki lain," ucap Novi tersipu malu.


"Sungguh? Siapa dia? Atpa kamu tahu dia juga menyukaimu atau tidak?" selidik Dara.


"Hmm." Novi menggeleng. "Dia belum mengatahuirnya, Ra. Dan aku juga tidak berani mengutarakannya, karena dia adalah... Bos di kantor baruku."


"Wah! Hebat kamu, Nov! Seleramu memang tinggi," puji Dara.


"Tapi aku mendengar berita yang tidak sedap mengenai bosku itu, Ra. Katanya dia tidak tertarik dengan wanita."


"Apa? Maksudmu dia penyuka sesama jenis?" tanya Dara kaget.


"Awalnya aku berpikir seperti itu. Tapi ternyata bukan itu maksudnya. Maksud dari sebenarnya adalah sementara ini dia tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita manapun sebelum dia bertemu dengan mantan kekasihnya yang dahulu."


"Maksudmu dia masih mencintai mantan kekasihnya?"


"Iya. Kurang lebih sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu saat mereka berpacaran di bangku sekolah. Pak Bos memang bersalah karena menduakan kekasihnya dan ketahuan, tetapi setelah itu dia merasa menyesal dan ingin memperbaiki hubungan mereka. Sayangnya kekasihnya itu menolaknya, bahkan sampai memutuskan semua segala macam jenis komunikasi, baik telepon ataupu surat. Tidak ada yang dijawab. Dan selama itu pula dia mencari kekasihnya itu, tapi belum ketemu juga sampai sekarang."


"Tujuh atau delapan tahun yang lalu? Berarti kisaran SMA atau kuliah tingkat pertama dong. Kalau seumuran dengan Mas Rizal," ucap Dara.


"Sepertinya mereka seumuran."


"Waw! Padahal kalau seusia anak SMA pada waktu itu bisa dibilang itu adalah cinta monyet. Tapi, kenapa dia begitu dalam mencintai wanita itu ya? Begitu sangat berartinya kah wanita itu untuknya?"


"Sepertinya seperti itu, Ra. Buktinya sampai sekarang dia masih betah membujang hanya demi mencari mantan kekasihnya. Hah! Kenapa aku selalu menyukai orang yang sudah terlebih dahulu mencintai wanita lain?"


"Tenang, sayang. Kamu pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik. Aku yakin itu! Sekarang kita makan dulu agar berat tubuhmu kembali bertambah. Tidak usah dipikirkan. Nanti kalau waktunya tiba dia pasti hanya akan memandang ke arahmu."


"Benar itu, Ra. Terima kasih, ya."

__ADS_1


__ADS_2