
Seseorang mengetuk pintu kediaman Bratha ketika Dara dan Ibu Heni sedang menata makan malam mereka di atas meja. Ibu Heni memerintahkan asisten rumah tangganya membuka pintu untuk memeriksa siapa yang datang. Tidak berapa lama kemudian asisten itu kembali dengan membawa sebuah kotak cantik berukuran besar di tangannya.
“Apa itu, Bi? Dari siapa dan untuk siapa?” tanya Ibu Heni penasaran.
“Dikirim sama kurir, Bu. Katanya dari Mas Ardi buat Mba Dara,” papar asisten rumah tangga itu.
“Wah! Isinya kira-kira apa ya, Ra? Ayo cepat buka, Ra! Ibu penasaran.”
Dara bergegas menerima kotak cantik itu dari tangan asisten rumah tangganya. Rasa penasaran juga menyeruak kuat dari dalam hati Dara. Perlahan dia menarik pita biru yang mengikat kotak cantik itu. Kemudian dia membuka kotak itu dan matanya langsung berbinar.
Sepucuk surat dengan amplop berwarna merah muda berada di paling atas isi dari kado itu dan sebuah gaun cantik berwarna senada terlipat rapi di dalam sana. Dara mengeluarkan gaun itu dengan netra yang masih memandangnya dengan takjub. Ia lalu melipat gaun itu dalam pangkuannya dan mengeluarkan kartu ucapan dari dalam amplopnya.
1 jam lagi Iqbal akan menjemputmu. Dandan yang cantik dengan gaun ini. Aku menunggumu dengan tidak sabar di sini. Dari kekasih hatimu. Ardi, tulis Ardi dalam kartu itu.
Dara mengulum senyumnya saat membaca torehan tinta yang ada dalam kartu itu. Ibu Heni yang penasaran dengan secepat kilat tangannya menyerebut kartu itu dari genggaman tangan menantunya.
“Ibu tidak menyangka kalau Ardi ternyata lelaki yang romantis,” ledek Ibu Heni seraya melirik ke arah Dara. “Sudah sana lekas bersiap. Suamimu sudah tidak sabar menunggu,” lanjut Ibu Heni.
“Aku permisi ke kamar dulu ya, Bu,” ucap Dara seraya memeluk kado dari suaminya itu.
“Iya, dandan yang cantik ya, sayang.”
Dara hanya mengangguk seraya tersenyum manis pada ibu mertuanya. Setengah berlari dia menaiki anak tangga menuju kamarnya.
***
Dara sedang memasang anting kecil pada telinganya saat roda mobil Iqbal memasuki halaman rumah. Ting! Tong! Bunyi bel menggema di seluruh ruangan. Ibu Heni yang sedang menata makanan di meja bergegas menuju pintu depan.
“Hai, Iqbal. Kamu mau jemput Dara?” sapa Ibu Heni ketika pintu depan terbuka.
“Iya, Bu.”
__ADS_1
“Ayo, tunggu di dalam. Aku panggil Dara dulu di kamarnya.”
Ibu Heni meninggalkan Iqbal di ruang tamu. Dia mengetuk pintu kamar Dara seraya memanggil namanya.
“Iya, Bu,” jawab Dara seraya membuka pintu kamarnya. Gadis itu sudah mengenakan gaun merah muda dan tas jinjing mungil dengan warna senada yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Cantiknya menantu Ibu,” puji Ibu Heni.
Dara tersipu malu mendengar pujian yang terlontar dari ibu mertuanya. “Masih kalah cantik dengan Ibu.” Dara membalas pujian ibu mertuanya.
Dengan tangan digandeng Ibu Heni, Dara menyusuri tangga. Menapakkan kakinya menuju ruang tamu, tempat sang asisten pribadi Ardi, Iqbal sedang duduk menanti. Netra lelaki itu tidak bisa memandang ke tempat yang lain ketika istri dari tuannya sudah berdiri tepat di hadapannya.
Tertegun melihat kecantikan Dara membuat kelopak mata Iqbal tak berkedip untuk beberapa saat. Lamunannya langsung sirna saat Dara memanggil namanya.
“I-iya, Bu. Maaf jika saya lancang,” ucap Iqbal terbata. “Saya tidak pernah bertemu dengan wanita secantik, Ibu Dara. Hari ini Ibu tampak cantik sekali. Pasti Pak Ardi akan langsung terpesona.”
“Terima kasih,” jawab Dara.
“Iya, Bu. Saya mengerti,” jawab Iqbal. “Mari, Bu Dara. Saya antar untuk menemui Pak Ardi,” lanjut Iqbal.
“Aku pamit dulu ya, Bu,” ucap Dara seraya mencium punggung Ibu Heni.
“Iya, Sayang. Selamat bersenang-senang,” kata Ibu Heni. “Iqbal, hati-hati dalam menyetir. Antar Dara pada Ardi dengan selamat, ya,” sambung Ibu Heni.
“Baik, Bu.” Iqbal menganggukkan kepalanya.
***
Setelah menempuh waktu kurang dari setengah jam Dara sampai di tempat tujuan. Langit sudah gelap dan waktu sudah menunjukan hampir jam tujuh malam. Iqbal mengantar Dara ke salah satu lantai dari gedung hotel berbintang yang sudah di pesan oleh Ardi.
Ting! Pintu lift terbuka.
__ADS_1
Sebuah kafe rooftop sudah disulap sedemikian cantiknya. Cahaya lilin menjadi sumber penerang di sana. Kelopak bunga mawar berhamburan di lantai mengiringi setiap langkah Dara menuju satu-satunya meja yang ada di dalam kafe itu.
Lelaki yang tampak tidak asing baginya sudah berdiri di samping kursi menunggu kedatangannya. Salah satu lengan lelaki itu, ia sembunyikan di balik punggungnya. Dara sungguh terkesima dengan lelaki berjas hitam yang ada di hadapannya sekarang.
“Ada apa ini?” tanya Dara.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berkencan dengan istriku,” jawab Ardi seraya mempersilahkan Dara duduk di kursinya. “Dan ini spesial untuk istriku yang tersayang,” lanjut Ardi. Dia menaruh buket bunga mawar di atas pangkuan Dara, yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya.
Rona pipi Dara seketika muncul tatkala memandang buket bunga yang sangat cantik itu. Ia menghirup aroma bunga itu lekat. “Terima kasih. Bunganya sangat cantik,” ucap Dara kemudian.
“Apa kamu menyukainya?”
“Mm.” Dara mengangguk. “Aku sangat menyukainya. Terlebih bunga mawar adalah kesukaan banyak orang, termasuk aku.”
“Syukurlah kamu menyukainya. Kita tidak pernah berkencan sebelumnya. Aku takut jika aku salah memilih jadi beberapa saat yang lalu aku menelpon Kak Farhan untuk meminta pendapatnya. Ternyata apa yang dia katakan benar. Bahwa wanita suka dengan bunga mawar dan kamu pun menyukainya. Sepertinya aku perlu banyak belajar dari Kak Farhan ....”
“Tidak perlu!” Dara memotong kalimat Ardi dengan ketus.
“Kenapa, Ra? Apa aku mengatakan kata-kata yang salah?”
“Eh? Tidak. Maksudku ... aku menyukai Kak Ardi apa adanya. Tidak perlu berubah menjadi apapun karena aku mencintai Kak Ardi bukan karena dari penampilan, tetapi aku mencintai Kak Ardi karena dia adalah Seno Ardibratha, yang merupakan sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku ingin Kak Ardi tetap menjadi diri sendiri. Orang yang sejak dulu aku mengenalnya sebagai orang yang memiliki kepribadian cuek, tetapi di dalam diamnya dia memperhatikan setiap detail dari orang yang dicintainya.”
“Memang aku seperti itu?”
“Iya. Contohnya seperti sekarang ini. Kak Ardi tiba-tiba mengirimkanku kado dan mengajakku berkencan. Padahal kemarin Kak Ardi bersikap biasa saja. Lalu ... saat aku jatuh dari kamar mandi kemarin, aku merasakan bagaimana detailnya Kak Ardi merawatku. Aku tidak diperbolehkan memakai bajuku sendiri karena menurutmu itu ketat dan bisa menggores kulitku yang memerah karena air panas. Akhirnya aku memakai bajumu karena kamu terus mengoceh kepadaku.”
“Itu aku lakukan karena aku sayang sama kamu, Ra.”
“Jadi, aku benarkan? Walau sering bersikap cuek, tetapi sebenarnya Kak Ardi terus memperhatikan aku kan?”
“Iya, kamu benar, Sayang,” ucap Ardi lembut seraya membelai pipi Dara.
__ADS_1