
Kini mereka berempat sudah keluar dari warkop. Mereka menyebrang jalan menuju ke tkp sambil menunggu orang bengkel yang sebentar lagi datang untuk membawa mobil Rizal dengan derek.
" Di, Lu buka bagasi mobil lu yak..Gue ngeluarin barang dari mobil gue. Oke?" Ucap Rizal.
" Oke!" Ardi mengangguk lalu pergi ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Rizal.
" Mas, aku bantuin ya.." Kata Dara.
" Jangan bawa yang berat-berat..itu bawa tas kerjamu aja..tas yang besarnya biar aku yang bawa." Jawab Rizal sembari menunjuk kearah kursi depan dimana tas Dara berada.
" Woi! Bocah! Diem-diem bae lu..Ini bantuin gue bawa kek! Malah asik berdiri aja disitu." Tegur Rizal ke Fandi yang masih kepedasan.
" Bentar, Mas! Hah..hah..Saya masih kepedasan. Gluk..gluk..gluk.." Entah berapa botol air mineral yang sudah Fandi habiskan.
" Halah! Jadi cowok kok cemen banget!" Timpal Rizal.
Rizal pun akhirnya menenteng travel bag milik Dara dan juga mendorong kopernya sendiri menuju mobil Ardi. Dara pun berjalan mengikuti di belakangnya.
" Ok! Thank you untuk bantuannya. Tut!" Ardi memutuskan panggilan.
" Siapa, Di? " Tanya Rizal.
" Oh. Itu.... Gue minta tolong sama Iqbal buat ngeberesin barang-barang gue yang masih ketinggalan dikamar villa dan kirim ke rumah. Kan soalnya tadi buru-buru.."
" Oh gitu...Yudah ini barangnya langsung aku masukin ke bagasi ya."
" Oke! "
" Eh, itu dia tukang bengkelnya dateng. Gue samperin dulu ya bentar." Kata Rizal sembari menutup pintu bagasi.
Kemudian Rizal berjalan pergi meninggalkan Ardi dan Dara untuk menemui orang bengkel. Untuk membicarakan tentang klaim asuransi, dokumen yang perlu dilampirkan, dan lain sebagainya.
" Kamu masuk aja, duduk dalam mobil. " Kata Ardi.
" Nanti aja, aku tunggu Mas Rizal." Jawab Dara.
" So sweetnya.." Ardi berlalu pergi menyisakan Dara dengan keheranan.
" Idih! Ini orang kenapa sih? Moodnya kok berubah cepet banget..tadi perhatian sampe bikin orang meleleh sekarang gitu..nada bicaranya berubah gitu. Ini orang aneh ih.." gumam Dara.
" Siapa yang aneh, Ra? " Tanya Fandi yang tiba-tiba muncul di belakang Dara.
" Oh, bukan siapa-siapa kok.."
" Ra, kamu bener gak pengen naik motor sama aku? Kan kamu paling suka kalau ke puncak naik motor ketimbang mobil. Kamu selalu bilang rasa udara segarnya lebih terasa ketika naik motor. Kita bisa sembari nostalgia juga. Terus kita nanti mampir di tukang bakso perempatan yang biasa kita datengin dulu. Pasti kamu kangenkan sama baksonya ? Hayuk kita kesana kita puas-puasin makan baksonya." Bujuk Fandi.
" Bakso perempatan ? Iiihh..aku kangen banget sama bakso itu. Aku pasti langsung pesen porsi rakus. nyam..nyam.." Kata Dara sembari menelan ludahnya.
" Bener itu, Ra! Hayuukk kita langsung kesana. " Fandi menggandeng tangan Dara.
__ADS_1
Dara seperti terhipnotis dengan kata-kata Fandi, terlebih Fandi menggunakan kata bakso yang merupakan makanan kesukaan Dara. Dara sekarang seperti kerbau dicucuk hidungnya.
" Mau kemana? " Ardi menarik tangan Dara yang satunya, ketika hendak sampai di motor Fandi.
" Mau makan bakso. " Jawab Dara polos.
" Rizal sebentar lagi sudah selesai urusan dengan bengkel dan asuransi mobilnya. Ayo cepat masuk ke mobil! " Kata Ardi kemudian.
" Kamu gak denger tadi? Dia mau makan bakso." Timpal Fandi.
" Aku akan belikan untukmu. Bila perlu beserta kiosnya. " Ucap Ardi menatap Dara.
" What ? Lu mau jualan Pak Bos ? Kalau mau jualan sih sana..Kita mah mau makan bakso aja..Porsi doubel juga udah cukup buat kita. " Jawab Fandi lagi.
" Yang gue ajak ngomong itu Dara. Bukan Lu! Jadi lu gak usah ikutan jawab." Kata Ardi.
" Aku mau!" Jawab Dara
" Lihat..dia mau makan sama gue." Fandi bangga.
" Ayok, Ra kita berangkat sekarang."
" Gak!" Dara melepas tangan Fandi.
" Aku mau ditraktir bakso sekaligus kiosnya."
" Ayo..."
Ardi menggandeng tangan Dara menuntunya berjalan ke mobilnya. Fandi yang melihat adegan itu sontak langsung marah.
" Sial! " Fandi membanting botol mineral yang ada digenggamannya.
Dara sekarang sudah duduk di kursi belakang. Tepat dibelakang kursi kemudi Ardi. Tak lama kemudian Rizal masuk ke dalam mobil duduk di kursi penumpang sebelah Ardi.
" Kenapa itu bocah diluar? marah-marah sampe banting botol segala. " Tanya Rizal
" Gak tahu! " Jawab Dara.
Ardi mengangkat bahunya.
" Kok kalian kompak gitu jawabnya? " Kata Rizal.
Ardi tak memperdulikan kata-kata Rizal dan dia pun langsung menyalakan mobilnya dan berlalu dari tempat itu.
Tut! Tut! Tut! Nada sambung telepon.
Klek! Telpon terjawab.
" Halo!" Kata Fandi.
__ADS_1
" Sial! Rencana gue gagal buat ngejahuin Dara dari Pak Bos. Padahal dikit lagi dapet. Eehh dia malah nongol. Brengsek! Gara-gara dia rencana gue gagal."
" Sekarang mereka kemana?" Kata seseorang dari balik telpon.
" Pastinya mereka pulang. Tapi gue gak tahu mereka pulangnya kemana. "
" Lu **** apa ***** sih? Ngapain lu diem aja disitu? Ikutin mereka. Kalau udah tahu alamat pastinya baru telpon gue lagi. "
" Iya..iya.. Siap nenek lampir. Gue nanti telpon lu lagi. Oke Bye! " Fandi segera menutup telponnya.
" Dasar Rina nenek lampir! Berani bener dia suruh-suruh gue buat buntutin mereka. Kalau bukan demi Dara gue ogah ikutin kata-kata lu."
Fandi pun langsung menaiki kuda besinya. Tak lupa dia memakaikan helm dikepalanya. Memutar kunci motor untuk menyalakan mesinnya. Lalu dia menarik gasnya mengikuti kemana arah mobil minibus hitam itu pergi.
Sementara itu di dalam mobil Ardi masih terasa kaku. Dara hanya memandang ke arah jendela luar, sedangkan Rizal sibuk memainkan gawainya. Belum ada percakapan diantara mereka sejak mobil melaju meninggalkan tkp.
" Mas Rizal.." Kata Dara memecah keheningan.
" Nanti jangan bilang ke Mas Doni ya tentang Fandi."
" Emang kenapa? " Tanya Rizal yang masih memainkan gawainya.
" Soalnya pasti dia bakal nanya yang macem-macem. Aku malas jawabnya."
" Iyah.." Jawab Rizal singkat.
" Tapi, Ra. Beneran tadi sepersekian detik aku mikir kalau Fandi itu "orang itu" lho."
" Bukan! "
" Iya! Habisnya dia terus ngomong kamu dulu begini..kamu dulu begitu..jadi aku mikirnya dia "orang itu". Tapi pas kamu langsung bilang "Bukan!" aku langsung sadar. Mana mungkin dia "orang itu". Masa seorang Dara Amelia menolak Rizal Ramadhan hanya demi seorang bocah seperti Fandi. Gak mungkin banget. Pasti Fandi cuma cowok yang pernah kamu tolak atau pemuja rahasiamu. Benarkan, Ra?"
" Anggap saja seperti itu, Mas."
" Ini lagi ngomongin apa sih? dari tadi orang itu..orang itu..orang itu mulu..emang kenapa dengan orang itu ? " Tanya Ardi penasaran.
" Jadi gini, Di! Dara fix nolak gue! Dan itu gara-gara orang itu..." Kata Rizal.
" Emang kenapa dengan orang itu dan siapa orang itu?" Ardi semakin penasaran.
" Orang itu...itu....."
" Mas, Itu dibelakang kaya Fandi deh.." Dara memotong perkataan Rizal.
" Itu dibelakang mobil mini box, dua mobil dibelakang kita. "
" Kayaknya dia beneran mau ngikutin kita deh.." kata Ardi.
" Ayo, Di! Tancap gasnya...." perintah Rizal.
__ADS_1