
Ardi memasuki rumahnya dengan muka yang masih ditekuk. Seperti ada kekecewaan yang mendalam ketika dia merasa diabaikan oleh istrinya itu. Langkah kaki menuju arah dapur dimana di sana terdengar suara orang sedang berbincang dan diikuti gelak tawa sesudahnya. Ternyata itu suara Dara dan Ibu Heni.
“Pantas saja dia tidak menjawab panggilanku, ternyata lagi asyik bermain di dapur bersama Ibu,” ucap Ardi dalam hati.
Ia mempercepat langkahnya, lalu membanting bokongnya di atas kursi makan. Dengan berlagak kesal dia mengambil gelas di hadapannya dan menuangkan air ke dalamnya. Dan dengan sangat cepat Ardi meneguk air itu hingga habis. Ibu Heni yang melihat tingkah anak semata wayangnya itu lalu memberi isyarat pada Dara untuk mendekatinya.
“Kak Ardi sudah pulang? Bagaimana kerja kantornya?” tanya Dara seraya mendaratkan bibirnya di atas punggung tangan suaminya tanda hormat dan kasih sayang.
“Baik, semuanya baik,” jawab Ardi ketus.
“Kalau semua baik, kenapa muka Kak Ardi muram begitu?” tanya Dara lagi, sambil menusuk-nusuk pipi suaminya dengan jari telunjuknya karena gemas.
“Bukan apa-apa, hanya merasa dikacangin aja,” jawab Ardi masih bernada ketus.
“Memang siapa yang berani bersikap cuek pada Wakil CEO kita yang sangat tampan ini?” goda Dara, yang disambut dengan senyuman dari Ibu Heni.
“Orang itu adalah... istriku,” kata Ardi kemudian.
Mendengar jawaban Ardi sontak membuat Ibu Heni tergelak, tetapi tidak dengan Dara. Justru dia merasa bingung mendengar jawaban dari suaminya.
“Kapan aku bersikap cuek padamu, Kak?” tanya Dara bingung.
__ADS_1
“Ya, sekitar beberapa puluh menit yang lalu. Aku meneleponmu beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Memang ada yang lebih penting dariku?” kata Ardi menarik tangan Dara hingga ia jatuh dalam pangkuannya.
“Kak Ardi, lepasin!” ucap Dara lirih. Dan Ardi menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “Ada Ibu di sini. Aku malu,” lanjut Dara.
“Kalau begitu kita lanjutkan di kamar,” bisik Ardi di telinga Dara.
Bugh. Dara memukul dada bidang Ardi dengan kepalan tangannya. “Genit!” cibir Dara. Akhirnya, ia bisa melepaskan diri dari cengkeraman suaminya.
“Memang aku salah kalau genit dengan istri sendiri? Itukan salah satu penambah keromantisan diantara kita berdua, Ra,” kata Ardi mencoba merayu.
“Kalau mau menjadi pujangga jangan di sini,” ledek Ibu Heni saat meletakkan mangkuk berisi sayur sop kesukaan suaminya ke atas meja. “Nanti saja pas liburan di rumah Eyang. Udaranya yang masih segar sangat cocok untuk pasangan pengantin baru seperti kalian. Cuma jangan lupa pulangnya bawa oleh-oleh untuk Ibu dan Ayah.”
“Oleh-oleh? Itu hal yang kecil, Bu,” kata Ardi seraya menjentikkan jarinya. “Memang Ibu mau oleh-oleh apa? Nanti pasti kita berdua bawakan.”
“Hah?” kata Dara kaget. Mukanya merah merona bak udang rebus karena mendengar kalimat yang meluncur langsung dari mulut ayah mertuanya.
“Ayah, jangan begitu!” ujar Ibu Heni sedikit kesal, karena lagi-lagi dia mengganggu menantu perempuannya itu. “Jangan digodain terus menantunya! Kasihan, Yah. Lihat, tuh mukanya. Merah padam karena malu.”
“Justru kalau dia seperti itu, Dara semakin tampak cantik, Bu,” timpal Ardi yang membuat wajah istrinya semakin bersemu merah.
“Sudah! Sudah!” Ibu Heni menghentikan gombalan anak semata wayangnya itu. “Sekarang kita makan. Ardi, bangun! Cuci tanganmu dulu. Dan Ayah hari ini hanya mendapat jatah setengah mangkuk saja untuk sayur sopnya. Ini hukuman karena Ayah sudah mengganggu anak perempuan Ibu yang paling cantik ini.”
__ADS_1
“Ayah cuma dapat setengah mangkok, Bu? Mana cukup...” kata Ayah Adit sambil memasang muka memelas.
“Siapa suruh menggoda terus anak perempuan Ibu,” timpal Ibu Heni.
“Senangnya melihat Ibu begitu sayang dengan Dara. Mungkin karena aku adalah anak satu-satunya di keluarga ini. Dan Ibu memang sejak dulu ingin sekali mempunyai anak perempuan. Tetapi sayang, ketika aku berumur lima tahun Ibu mengalami kecelakaan hingga rahimnya harus diangkat. Kasihan. Tapi sekarang kehadiran Dara di rumah ini seperti mengobati kerinduan dalam hatinya yang sudah ia kubur dalam-dalam beberapa puluh tahun ini. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan di rumah ini istriku sayang, Dara Amelia alias Nyonya Seno Ardhibrata,” kata Ardi dalam hati sambil terus memandangi tiga orang kesayangannya yang berada di meja makan.
“Ardi! Cepat duduk di sini. Kenapa kamu berdiri terus di sana? Tolong bantu Ayah merayu Ibumu,” kata Ayah Adit dengan nada memelas.
Di ruangan makan keluarga Brata, mereka menghabisakan makanan dengan penuh drama dan senda gurau. Tampak sekali kegembiraan yang tergambar dalam wajah mereka. Sepasang pengantin baru itu terus digoda oleh Ayah Adit yang membuat Ibu Heni semakin membela menantu perempuannya. Gelak tawa tidak henti-hentinya menggema di ruangan itu. Rumah itu sekarang terasa lebih hangat setelah Dara datang dan menjadi bagian keluarga itu.
“Ra, jangan lupa bawa jaket ya. Di rumah Eyangkan hawanya dingin. Ibu tidak mau kalau anak perempuan Ibu sampai sakit,” kata Ibu Heni saat membantu Dara mengemasi baju ke dalam koper.
“Iya, Bu. Aku sudah menyiapkannya, kok. Sudah aku gantung di belakang pintu. Jadi, besok pagi pas mau berangkat kita tinggal pakai,” jawab Dara.
“Bawa obat-obatan atau minyak angin juga jangan lupa ya, sayang.”
“Iya, Ibuku sayang,” ucap Dara seraya memeluk pinggang sang ibu mertuanya. “Semua sudah aku siapkan. Dari baju ganti yang tebal, obat-obatan, sabun, sampo, dan tas untuk menyimpan baju kotor juga sudah aku siapkan, Bu. Ini kedua kalinya aku ke rumah Eyang jadi aku bisa memperkirakan apa saja yang akan kami butuhkan di sana.”
“Anak pintar,” kata Ibu Heni seraya mengusap lembut pucuk kepala menantu perempuannya.
“Aku tidak pernah tahu kalau semenyenangkan ini punya ibu mertua. Aku pikir bakal seperti yang di televisi itu. Yang selalu bertengkar dengan anak menantunya. Karena berebut kasih sayang. Tapi ternyata aku malah lebih disayang ketimbang Kak Ardi yang sejatinya anak kandung Ibu sendiri,” kata Dara.
__ADS_1
“Karena selama ini Ibu hanya mempunyai satu anak, dan itu laki-laki bukan perempuan. Jadi, sekarang Ibu merasa mempunyai anak baru dan teman bergosip,” kata Ibu Heni terkekeh. “Bukan. Bukan itu maksud Ibu. Maksudnya Ibu sekarang punya teman untuk diajak mengobrol saat masak, berbenah rumah, nyalon dan pekerjaan wanita yang lainnya. Dan sepertinya yang bakal sering bertengkar di rumah ini adalah Ibu dan Ardi. Karena memperebutkan perhatian darimu,” sambung Ibu Heni seraya menjentikkan jarinya ke hidung mungil Dara.