
Di awal minggu, Dara sudah kembali disibukkan dengan tugas yang sudah menganak gunung di meja kerjanya. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa begitu banyak tugas akhir-akhir ini.
Hari sudah hampir siang, sebentar lagi sudah waktunya jam makan siang. Tapi tumpukan file di meja Dara belum juga berkurang banyak.
" Arrggghhh.." Dara meregangkan badan di kursi kerjanya.
Tak! Tok! Tak! Tok! Tak! Tok! Suara beberapa pasang sepatu melewati ruangan staf karyawan, kemudian berlalu ke ruang Rizal.
Mata Dara terbelalak ketika melihat deretan orang yang baru masuk tadi. Salah satu sahabatnya yang dia khawatirkan beberapa hari ini, sekarang datang ke kantor. Dan dia bersama kakak sepupunya, yaitu mas Rizal.
" Mas Rizal udah mulai masuk kantor lagi. Dan Novi juga. Tapi, kenapa dia malah masuk ke ruangan Mas Rizal? Apa dia akan mendapat teguran karena gak masuk satu minggu kemarin? Entahlah! Nanti tanya langsung aja sama orangnya kalau udah selesai." gumam Dara.
Tululut! Tululut! Telepon interkom di meja Dara berdering.
" Ya halo..," sapa Dara. " Baik, Pak!" Dara meletakkan kembali gagang telponnya.
" Baru juga ngantor, udah suruh-suruh orang ke ruanngannya. Yudahlah sekalian laporan file yang kemarin udah ada di meja kerjany," gerutu Dara.
Dara membawa buku notes kecil dan juga sebuah bolpoint di tangannya. Dia berjalan ke arah ruangan mas Rizal. Lalu setelah sampai di depan pintu gadis berkuncir kuda itu mengetuk pintu ruangan atasannya.
Tok! Tok! Tok!
" Masuk!" Jawab Rizal dari dalam ruangan.
Dara memasuki ruangan dan melihat Novi sedang duduk di depan meja mas Rizal dengan muka tertunduk.
" Duduk!" perintah Rizal, agar Dara duduk di kursi kosong sebelah Novi.
Dara hanya menuruti saja perintah kakak sepupunya itu. Tapi dia masih merasa heran apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan suasana di ruangan itu terasa mencekam bagi Dara.
__ADS_1
Baru saja duduk, Dara mengungkapkan rasa penasarannya. " Kenapa? Ada apa?"
" Lihat ini!" Rizal memutar laptopnya ke arah Dara.
Di dalam layar persegi itu terlihat sebuah rekaman cctv. Didalam rekaman itu terlihat seseorang menumpahkan kopi ke orang lain dihadapannya, lalu setelah orang yang terkena kopi pergi dari tempat itu, orang yang menumpahkan kopi mendekati sebuah komputer dan seperti melakukan sesuatu hal disana.
Klik! Rizal menekan tombol stop.
" Sudah lihat?" tanya Rizal. " Dan aku yakin kamu sangat paham dengan yang kamu lihat tadi, Ra."
" Saya sudah bilang sebelumnya dengan Anda, Pak Rizal. Saya tidak ingin mengungkit lagi kejadian itu. Bagi saya itu sudah selesai, Pak. Jadi saya tidak akan berkomentar apa pun!" jawab Dara.
" Kamu yakin, Ra? Kamu gak merasa ditusuk dari belakang sama orang yang paling kamu percaya selama ini." Rizal heran.
" Saya yakin, dia punya alasan kenapa dia berbuat seperti itu." suara Dara bergetar. " Mungkin saja tanpa sadar saya menyakiti dia terlebih dahulu, makanya dia buat seperti itu ke saya."
" Hiks.." Dengan wajah yang masih tertunduk Novi menangis. " Maafin gue, Ra. Maafin gue..."
" Sstt..." Dara memeluk sahabatnya itu. " Udah, Nov. Gue udah lupain masalah yang kemarin. Bagi gue itu udah basi. Justru yang gue pengen tahu sekarang gimana keadaan lu? Terus kenapa selama satu minggu ini lu ngilang? Terus juga pas kita papasan di toilet umum kenapa lu lari dan ninggalin gue? Sebenarnya kenapa, Nov? Lu kenapa?" rasa penasaran Dara menyeruak.
" Maafin gue, Ra. Gue menghilang karena gue takut lu bakal marah sama gue. Karena cepat atau lambat gue pasti bakal ketahuan. Makanya gue hindarin lu," terang Novi.
" Lalu apa alasan sebenarnya, kenapa lu tega berbuat seperti itu ke gue?"
" Karena gue marah sama lu, Ra. Gue kesel sama lu. Gue iri sama lu.. Hiks... Sebenarnya gue suka sama Pak Rizal, dan selama ini gue selalu mencoba mencuri perhatian Pak Rizal, tapi tetap aja dia cuma ngelihat ke arah lu, Ra. Awalnya gue masih coba bersikap biasa-biasa aja. Tapi, setelah gue tahu Pak Rizal nembak lu, gue langsung gelap mata. Seketika gue gak mikirin tentang persahabatan kita."
" Sorry, gue gak tahu kalo lu suka sama mas Rizal. Kalo gue tahu dari awal pasti gue akan bantu lu buat ngedeketin dia."
" What the...?? Jadi ini gara-gara aku? Gara-gara aku mengabaikan Novi dan imbasnya Dara yang kena? Bener-bener cerita yang rumit." Rizal heran.
__ADS_1
" Menurut Anda, memang di tempat ini ada berapa yang bernama Rizal?" Dara kesal. " By the way, Nov. Gue seharusnya sih bilang terima kasih ke lu, karena lu udah bikin gue makin deket sama calon suami gue."
" Maksud lu, Ra?" tanya Novi kaget seraya menghapus air matanya.
" Iya. Karena ketika lu ngehapus file gue, itu juga berarti lu ngehapus jarak diantara gue dan kak Ardi," ucap Dara sambil mengulum senyumnya.
" Maksud kamu, Ra?" celetuk Rizal.
" Ini!" Dara menunjukan sesuatu yang berkilau yang melingkar dijari manisnya. " Udah gak usah nangis lagi."
" Kamu... kamu..." Rizal terbata.
" Nov, sebenarnya sudah beberapa hari ini gue nyariin lu buat ngasih tahu tentang kabar bahagia ini. Keluarga gue dan kak Ardi udah saling ketemu. Bahkan tadi malem gue baru pulang dari kota B, habis ketemu sama keluarga besarnya kak Ardi."
" Gue ikut bahagia, Ra. Padahal gue udah jahat sama lu, tapi justru lu masih peduli sama gue. Sekali lagi maafin gue ya, Ra. Gara-gara gue, lu gak bisa dapet promosi."
" Udah, gak usah dipikirin lagi. Lagian kalo misalkan gue dapet promosi kemarin, pasti hubungan gue dengan kak Ardi gak bakal secepat ini perkembangannya." Dara menggenggam tangan Novi. " Lu mungkin menghambat karir gue, tapi lu justru dewa cinta gue yang membuat gue semakin dekat dengan kak Ardi."
" Sudah cukup! Apapun alasannya perbuatan kamu tidak dapat dibenarkan, Novi. Walaupun Dara sudah memaafkanmu tapi kantor tetap punya hukum tata tertibnya. Dengan sangat menyesal Novi, Anda dipecat." Ucap Rizal.
" Mas!" pekik Dara.
" Ini sudah keputusan pihak managemen kantor. Tolong Anda hormati," tukas Rizal.
" Udah, Ra. Gak apa-apa. Ini memang konsekuensi yang harus gue terima. Pasti kantor punya pemikiran sendiri," kata Novi. " Kemarin gue bisa menghianati lu, sahabat gue sendiri. Besok mungkin gue bisa menghianati kantor ini. Pasti itu pun salah satu jadi pemikiran mereka."
" Novi...." ucap Dara lirih.
" Sekali lagi maafin gue ya, Ra. Dan terima kasih udah mau jadi sahabat gue selama ini." Novi memeluk sahabatnya dengan berlinang air mata. " Gue ceroboh! Gue gegabah! Dan gue terima jika setelah ini lu bakal marah dan gak ingin temenan sama gue lagi."
__ADS_1