
"Akhirnya kami bersatu, rasa debaran ini begitu berbeda dan terasa sangat nyaman. Ya, perasaan lega karena sekarang kami sudah sah menjadi sepasang suami istri. Ra, kita harus bahagia ya!" batin Ardi, sembari menggenggam erat tangan Dara di kursi pelaminan.
Dara tersenyum ke arah Ardi, "Kepalaku sakit, rasanya seperti berputar-putar, dan badanku terasa lemas. Rasanya seperti mau pingsan. Semoga aku bisa bertahan hingga acara selesai," batin Dara. Lalu dia merebahkan kepalanya di bahu Ardi.
"Kamu kenapa? Capek?" tanya Ardi.
"Mm.." Dara mengangguk.
"Aku hanya tidur sebentar kemarin malam, dan itupun karena aku kelelahan menunggu kabar dari kak Ardi. Juga memikirkan acara ini semalaman karena takut dirusak oleh mas Doni. Tapi syukurlah acara ini berjalan dengan baik. Bahkan, mas Doni menjadi salah satu saksi dipernikahanku," batin Dara.
"Minum dulu," ucap Ardi, menyodorkan segelas air putih. "Kamu kelihatan sangat lesu, apa mau istirahat di belakang?"
"Terima kasih," jawab Dara, lalu menyesap beberapa tegukan air di dalam gelas itu. "Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga acaranya selesai, aku masih bisa bertahan kok. Lagipula, inikan hari berbahagia kita."
Perasaan seorang ibu memang tidak bisa dipungkiri, sekali menatap ke arah Dara mama Tika sudah mengerti akan kondisi anaknya. Lantas dia berjalan menaiki tangga menuju kursi pelaminan. " Ra, ini sudah cukup malam dan tamupun sudah mulai berkurang, kalian bisa turun dan istirahat di kamar kalian," ucap mama Tika.
"Beneran gak apa-apa, Mah? Bagaimana dengan para tamu yang masih ada?" tanya Dara.
"Gak apa-apa, sayang. Nanti biar mama yang urus. Di, kamu tolong antar Dara ya."
" Iya, Mah," kata Ardi. "Kami istirahat di kamar dulu."
Sesuai titah Mama Tika, Ardi membawa Dara ke kamar pengantin. Ardi menggendong Dara ala bridal style dan para tamu langsung bersorak sorai. Sesampainya di kamar pengantin Ardi menurunkan Dara di tepi ranjang. Dengan telaten Ardi membatu Dara melepas hiasan yang ada di kepalanya.
Tiba-tiba muncul rasa canggung diantara mereka berdua. Dara yang ingin melepas gaunnya bingung bagaimana caranya untuk meminta bantuan pada suaminya, Ardi. Dia merasa sangat malu.
"K-kak, bisa minta tolong bantu aku buka resleting di belakang punggungku?" tanya Dara, menunjuk bagian belakang tubuhnya.
"Ok, sebentar," ucap Ardi, melepas jas dan juga dasinya.
"Tutup mata, kak Ardi," perintah Dara.
"Kenapa?"
"A-aku malu,"
__ADS_1
Ardi mengulum senyumnya, "aku sudah menjadi suamimu, Ra."
"Tetap saja aku malu. I-ini pertama kalinya untukku,"
"Memangnya kamu pikir ini juga bukan pertama kalinya untukku?" ucap Ardi, memutar badan Dara hinga mereka saling berhadapan sekarang.
Sangat dekat. Wajah mereka berdua berhadapan sangat dekat, hingga mereka bisa mendengar hembusan nafas pasangan masing-masing.
Cup! Bibir Ardi mendaratkan kecupan di kening Dara. Cup! Dengan lembut Ardi menempelkan bibirnya pada bibir Dara. Dengan perlahan Ardi membuka resleting dibalik punggung istrinya.
Dara merasakan hawa dingin menyapu lembut kulit punggungnya. "A-aku mau mandi," ucap Dara, berusaha melarikan diri. Dia bergegas berlari dengan terus menahan gaunnya agar tidak terlepas.
"Ada-ada saja kamu, Ra," ucap Ardi, terkekeh melihat istrinya salah tingkah.
Tak berapa lama Dara selesai membersihkan dirinya. Dia keluar dari kamar mandi berbalut handuk kimono berwarna putih juga dengan handuk di kepalanya yang membungkus rambutnya yang basah.
Ardi langsung saja masuk ke dalam kamar mandi tanpa disadari oleh Dara. Sang pengantin perempuan tertegun ketika melihat kamarnya yang telah berubah dalam sekejap. Banyak lilin bertebaran di mana-mana. Ada yang berbaris rapi diatas meja dan juga ada yang tersusun rapi berbentuk hati. Suasananya benar-benar sangat romantis.
"Kapan kak Ardi melakukan ini semua?" batin Dara.
"Oh iya, ini dari Eka dan Irma. Kira-kira isinya apa ya?" ucap Dara, mengambil sebuah kotak berukuran sedang yang terbungkus kertas mengkilap berwarna merah muda.
"Dressnya sangat transparan. Apa ini yang namanya gaun malam? Aku tidak cukup berani memakainya," kata Dara, lalu dia melipatnya secara asal dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.
"Eh? Ada parfum juga. Wah! Botolnya sangat cantik. Dan aromanya sangat enak, segar dan manis. Oh ada kartu ucapannya juga. Kira apa tulisannya?" kata Dara penasaran.
"Pakailah ini saat malam pengantin. Dan buatlah Pak Seno tak berdaya olehmu. Kami sangat menunggu kehadiran Pak Seno junior. Selamat berbahagia. Love Eka dan Irma," ucap Dara membaca kartu kecil yang ada di tangannya.
"Hah?! Iih..apa-apaan sih mereka," kata Dara, pipinya terasa hangat.
Tiba-tiba ada tangan dari belakang baru Dara. Dia mengambil kartu ucapan itu yang akan dimasukan kembali dalam kotaknya.
"Kak Ardi?" ucap Dara kaget.
"Hmm.." Ardi melengkungkan bibirnya membaca kartu itu.
__ADS_1
"Sini," Dara merebut lembaran kertas kecil itu dari Ardi. "A-aku mau rapiin."
Kedua tangan Ardi melingkar di pinggang Dara, dengan dagu yang menyandar bahunya.
"Alhamdulillah ya, Ra. Acara hari ini berjalan dengan lancar. Dan mas Doni juga sudah memberikan restunya untuk kita."
"I-ya," jawab Dara gugup.
"Maaf ya, kemarin seharian aku tidak memberi kabar. Kamu gak marah kan, Ra?"
Dara memutarkan badannya. Kini mereka duduk saling berhadapan. "Kamu tahu gak? Aku sangat cemas tahu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Seharian sama sekali tidak ada kabar. Tidak ada telpon ataupun kirim pesan. Aku tahu kamu kemarin sibuk mempersiapkan semua ini, tapi paling tidakkan beri sedikit waktu untukku," ucap Dara tanpa henti.
"Syukurlah, mas Doni tidak menceritakan kejadian yang kemarin pada Dara," batin Ardi.
"Iya. Maafkan aku ya, Ra," kata Ardi dengan senyum simpulnya.
"Iya, dimaafin," ucap Dara manja.
"Sekarang aku boleh cium kamu?" tanya Ardi.
"Hah?!" mata Dara terbelalak kaget. "Ke-kenapa harus tanya itu?"
"Takutnya nanti aku didorong lagi seperti tadi."
"I-iya, boleh," Dara gugup, pipinya kembali terasa panas.
"Terima kasih," ucap Ardi.
Ardi mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Dara. Rasanya sudah tidak ada lagi rasa takut, cemas dan khawatir, melainkan sangat rileks serta nyaman.
"Ra, tidak apa, kan? Sekarang kamu istriku," tanya Ardi.
"Mm.." Dara mengangguk setuju.
Dara melingkarkan kedua tangannya pada leher Ardi. Lalu Ardi menggendongnya ala bridal style ke atas ranjang. Diletakkannya Dara dengan hati-hati disalah satu sisi ranjang.
__ADS_1
Perasaan sayang, cinta, dan rindu yang terpendam mereka curahkan semua dimalam ini. Dalam temaram cahaya lilin, makin menghangatkan gelora yang telah membakar raga mereka.