Buanglah Mantan Pada Tempatnya !

Buanglah Mantan Pada Tempatnya !
Ep.40


__ADS_3

" Kak Ardi.........Hiks....."


" Mas Rizal, kenapa kak Ardi bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"


" Sebenarnya tadi waktu Ardi menyelamatkan Putri..." Rizal mulai bercerita.


Flashback on


Dor! Sebuah peluru melesat menembus badan Ardi.


Rizal dan para bodyguard bergegas ke lantai atas menuju sumber suara. Ardi memeluk Putri, dalam posisi melindungi.


Rizal melihat ada cairan merah keluar dari tubuh Ardi. Dia langsung merebut pistol dari salah satu bodyguardnya dan mengarahkannya pada pria bermata biru yang masih terpaku karena melihat sikap Ardi.


Dor! Peluru menembus kaki kanan pria asing itu.


" Ah! " Pria asing itu memekik kesakitan.


Pria berjas hitam yang disewa Ardi langsung meringkusnya. Mereka membawanya menuruni tangga dan mengumpulkannya bersama anak buah yang sudah mereka tangkap terlebih dahulu.


" Uncle King..are you oke? " Putri mengatupkan kedua tangan mungilnya kemuka Ardi.


" I'm ok my Princess...Come on..It's time to go home now.." Jawab Ardi dengan menahan rasa sakit yang memenuhi disalah satu bagian bahunya yang tertembak.


" Ayo, Di..kita segera ke rumah sakit..kita harus segera mengobati lukamu." Kata Rizal seraya membantu Ardi berdiri.


" Putri, nanti kamu diantar pulang sama teman Uncle ya..Momy dan Queen sudah menunggu Putri."


" Ok, Uncle! Plis take care my King."


" Tentu..keinginan Princess adalah perintah bagi Uncle." Rizal membelai kepala Putri.


Putri pergi ditemani beberapa bodyguard. Sisanya mereka mengantar para penjahat itu ke kantor polisi. Lalu yang lain mengantar Ardi dan Rizal ke rumah sakit.


Ketika pria asing itu hendak memasuki mobil, dia berkata kepada Ardi.


" Who are you? Why you so care with my daughter?"


" I am just her friend. And I love her very much." Jawab Ardi


" Thank you....and I'm sorry...." Bulir bening jatuh dari peluk mata pria asing itu lalu diapun masuk kedalam mobil dengan kepala tertunduk.


Flashback off


" Lalu setelah itu aku mengantarnya ke sini...dia langsung ditangani oleh dokter dan masuk ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya...dia kehilangan banyak darah..dokter bekerja keras mengeluarkan seluruh kemampuan mereka...tetapi setelah keluar dari ruang operasi dia....Ardi......dia............." Suara Rizal tercekat, dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


" Hiks...Kak Ardi!! Banguunn..!! Aku mohon bangun Kak! Kak Ardi gak boleh seperti ini! Kak Ardi gak boleh ninggalin aku..Bukankah kak Ardi belum mendengar jawabanku? Kak Ardi...aku mohon bangun...Hiks..hiks.." Dara menggoyang-goyangkan badan Ardi.


" Tunggu! Apa itu tadi? " Batin Dara.

__ADS_1


" Sepertinya aku melihat ada sesuatu yang bergerak. Coba aku lakukan hal itu...."


" Hiks...kak Ardi..." Ucap Dara.


" Kalau kak Ardi benar-benar pergi lalu bagaimana denganku..? Hiks....sepertinya aku akan kembali ke pelukan Fandi..agar aku bisa melupakanmu secara perlahan.." Dara hendak pergi dari sana.


Tetapi, ada sebuah tangan yang menggenggamnya. Menahannya untuk pergi. Dara memalingkan wajahnya untuk melihat tangan siapa yang mencegahnya.


" Jangan!" Ardi membuka matanya.


" Jangan kembali ke Fandi! Tetap disini bersamaku!"


Dara tersenyum kemenangan.


Plak! Rizal menepuk dahinya.


" Lu masuk perangkap Dara, Bro!"


" Aku tahu! Ini pasti akal-akalan dari Mas Rizal, iya kan? " Terka Dara.


" Ya iya..Mas ngaku.. Ini semua ide aku. Habisnya aku gregetan sama dia." Rizal menunjuk kearah Ardi.


" Maksudnya?" Dara bingung.


" Ya...Mas tadi terang-terangan ngelihat adegan romantis kalian berdua sebelum berangkat menjemput Putri. Ardi membelai rambutmu, Ra..... Sebagai kakak yang baik masa iya gak ngeh dengan hal itu?"


" Sekarang jawab pertanyaan, Mas. Apakah orang itu adalah Ardi?"


" Mmmm...Iya Mas." Jawab Dara lirih.


" Tapi, kenapa Mas Rizal bisa menebaknya?"


" Insting detektifku muncul seketika..langsung aja aku tanya sama orangnya pas diperjalanan ke rumah sakit tadi.."


Ardi langsung mengingat obrolannya bersama Rizal beberapa saat yang lalu.


Flashback on


Ardi dan Rizal berada di mobil Ardi duduk di kursi penumpang bagian tengah. Di kursi depan ada dua orang bodyguard yang mengantar mereka.


" Lu ada saputangan gak? Buat ngiket biar darahnya gak keluar terus." Kata Rizal


" Sebentar..." Ardi mencarinya di kantong celana dan juga jasnya tetapi tidak menemukannya.


" Oh iya..saputangannya sama Dara buat ngiket luka yang kena gelang tadi kan?"


" Oh iya...ngomong-ngomong soal Dara... Ada apa diantara kalian berdua?"


" Hah?"

__ADS_1


" Gak usah pura-pura b*go! Gue tadi ngelihat sendiri lu belai rambut Dara di depan kita semua. Gak mungkin gak ada apa-apa. Ayo jawab!" Rizal merasa sedikit kesal, lalu dia menekan bahu Ardi yang terluka.


" Aagghh! Sakit! " Pekik Ardi.


" Lepasin! Iya gue jawab."


Rizal melepaskan genggamannya.


" Ah! Gue udah lama kenal Dara. Dia salah satu staf gue di kantor gue yang lama. Dua tahun kita hilang kontak karena dia pindah kantor dan kita berdua ganti nomer HP. Terus ketemu lagi lewat Facebook. Kita baru kontak lagi beberapa bulan terakhir. Dan beberapa hari yang lalu gue ngelamar dia lewat telpon."


" What? Jadi Lu adalah orang itu ? Lu adalah alasan Dara buat nolak gue? Shit!" Rizal mengepalkan tangannya.


" Orang itu? Jadi tadi selama di mobil kalian berdua ngomongin orang itu maksudnya ngomongin gue?"


" Ya iyalah..Lu kira siapa? Tapi tadi gue sempet mikir kalo orang itu Fandi..soalnya tiap kali cerita ngebahasanya hal-hal dulu mulu. Tapi untungnya lagi Dara langsung nyadarin gue."


Ardi tersenyum.


" Gak usah senyum-senyum! Sekarang gue tanya lagi.. Dara udah ngasih lu jawabannya?"


" Belum!"


" Kok Belum?"


" Ya, karena gue ngasih waktu ke dia buat jawab paling cepet tiga hari paling lama satu minggu."


" Ya ampun, Di! Kalo gue di posisi lu, gue gak bakalan kuat nunggu selama itu. Satu minggu! Iya kalo jawabannya bikin seneng. Kalo jawabannya bikin nyesek gimana?"


" Terus? Gue harus gimana sekarang?"


" Tenang! Biar dewa cinta yang bekerja." Rizal menepuk-nepuk dadanya.


" Ok! By the way.. Thank you ya udah ngerelain Dara buat gue."


" Terpaksa, Bro! Soalnya kalo dipaksain juga gak bakalan jadi. Yang ada malah Dara semakin jauh dari gue. Gue tahu banget sifat si cacing kepanasan itu. Semakin dipaksa semakin mental dia."


" Cacing kepanasan?" Ardi heran.


" Iya! Itu panggilan kesayangannya Doni buat adik satu-satunya, Dara."


" Doni? Dara punya kaka?"


" Punya. Yaitu Doni. Dia seorang kakak yang sangat sayang dan peduli kepada adiknya. Sangkin sayangnya dia sangat overprotectiv dengan adiknya, Dara. Jadi jangan seneng dulu ya, Bro. Ada seseorang yang benar-benar harus lu hadapi didepan. Mungkin om dan tante setuju aja dengan pilihan Dara, tetapi tidak dengan Doni. Dia akan benar-benar memastikan adiknya jatuh kepada orang yang tepat. Apalagi ini untuk seumur hidup."


" Thank you ya buat peringatannya."


" Welcome. Siapkan diri lu baik-baik buat ngehadapin Doni suatu saat."


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2