
“Di, ini Eyang berikan kado spesial untukmu,” kata Eyang, sambil menyuguhkan satu cangkir hangat minuman beraroma jahe dan gula merah.
“Apa ini, Eyang?” tanya Ardi heran. Dia mengangkat cangkir itu lalu menghirup asap putih yang keluar dari sana. “Aromanya enak dan hangat. Pas banget untuk diminum malam ini.”
“Ini minuman penambah stamina. Eyang tahu kamu pasti capek karena perjalanan jauh. Jadi, ini bisa kembali mengisi energimu yang sudah terkuras habis,” papar Eyang.
“Ya ampun, Eyang bisa saja. Terima kasih, Eyang. Aku minum ya.” Ardi menyesap minumannya beberapa kali hingga tandas tak bersisa.
“Selamat berbulan madu,” bisik Eyang di telinga Ardi.
“Ah? Maksudnya?” Ardi bertanya-tanya dalam hatinya. Dia terus melihat Eyang yang berjalan sambil terus terkekeh, hingga akhirnya ia mengangkat jempolnya sebelum ia menghilang ke dalam rumah.
“Jadi, minuman yang dimaksud Eyang penambah stamina tadi adalah....” Blush! Seketika wajah Ardi memerah. Dia menutupinya dengan telapak tangannya.
“Kamu kenapa, Kak?” tanya Dara yang melihat keanehan pada diri suaminya.
“Tidak apa-apa. Aku mau istirahat dulu di kamar,” ucap Ardi.
“Teh Dara susulin saja A Ardinya. Ini biar Lia saja yang membereskan. Sebentar lagi juga sudah selesai kok, Teh,” kata Lia.
“Terima kasih, ya Li. Maaf tidak bisa bantu,” kata Dara sebelum pergi mengejar suaminya.
Lia terkekeh melihat kakak iparnya yang cemas dan meninggalkan meja dengan terburu-buru. Farhan yang baru saja kembali ke meja tampak bingung dengan tingkahnya.
“Kamu kenapa tertawa begitu, Li?” tanya Farhan heran.
“Itu, lihat A Ardi dan Teh Dara,” jawab Lia yang terus terkekeh.
__ADS_1
“Memang kenapa dengan mereka?”
“A Ardi dapat minuman spesial dari Eyang. Tidak lama kemudian sepertinya minuman itu langsung bereaksi. Muka A Ardi langsung memerah. Karena malu A Ardi langsung pergi ke kamar dan karena cemas Teh Dara mengejarnya,” papar Lia.
“Lalu bagian mana yang membuatmu terus tertawa seperti itu?”
“Karena mereka berdua tidak tahu kalau yang A Ardi minum adalah jamu kuat. Hahaha....” Lia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
Hati Farhan terasa sakit. Rasanya seperti tersayat oleh sembilu. Dia kembali terduduk di kursinya dan melihat gelas yang tadi ia sodorkan pada Dara namun di tolaknya. Ia menggenggamnya, memainkan gelas yang masih penuh terisi. Penolakan yang dilakukan Dara beberapa saat lalu kembali terlintas dalam pikirannya. Seketika memicu amarahnya, dia menggenggam erat gelas yang ada di tangannya.
Prang!
Tangan Farhan mengeluarkan cairan merah kental yang diakibatkan oleh serpihan gelas yang menyayat kulit. Febri yang melihat kondisi tangan kakaknya langsung berlari mengambil kotak P3K yang selalu tersedia di mobilnya. Dengan penuh ketelatenan dia membersihkan dan membalut luka sang kakak.
“Apa yang kamu pikirkan, Kak?” tanya Febri selesai mengikat perban pada pergelangan Farhan.
“Apa kamu masih memikirkan wanita itu?” tanya Febri kemudian, yang membuat Farhan menoleh padanya. “Benarkan? Kamu tidak bisa berbohong padaku, Kak.”
“Lalu apa aku salah jika masih berharap bersamanya walaupun dia sudah menikah?”
“Menikah? Apa wanita itu sudah menikah?”
“Iya,” jawab Farhan lirih.
“Kapan? Bagaimana Kakak bisa tahu?” tanya Febri penasaran.
“Beberapa hari yang lalu dan dia memberitahukannya sendiri kepadaku.”
__ADS_1
“Kakak sudah menemukan wanita itu? Dimana?”
“Sudah. Dia tampak sangat bahagia bersama suaminya, tetapi entah kenapa aku justru tidak menyukainya. Walau aku tahu suaminya juga sangat mencintainya dan akan menjaganya dengan baik, tetapi tetap saja aku tidak merasa ikut bahagia dengan hal itu.”
Ferbri melingkarkan tangannya pada bahu Farhan. “Kamu tahu, Kak? Beberapa hari lalu aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Kakak rasakan sekarang. Bahkan tadi siang aku masih berusaha membuatnya untuk melihat ke arahku sedetik saja, tetapi usahaku gagal. Padahal aku sudah berdandan mengikuti gaya busana istrinya. Rambut dikucir, polo shirt, sampai celana jeans, tetapi tetap saja dia tidak menghiraukan kehadiranku.”
“Tapi, tadi aku lihat kalian berdua berpelukan?”
“Iya, tetapi pada awalnya dia sama sekali tidak memandangku. Bahkan nada bicaranya sangat ketus. Setelah berbicara dengannya dari hati ke hati akhirnya aku tahu kalau dia sangat mencintai istrinya. Bagaimanapun aku berjuang untuk memisahkan mereka itu tidak akan pernah terjadi, yang ada mereka akan saling mencintai satu sama lain. Mereka akan saling menguatkan. Sedangkan aku, perlahan akan terbakar dan hangus oleh api cemburu. Maka dari itu, aku tidak ingin melebur jadi debu karena kebodohanku sendiri. Sekarang aku mencoba menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Walaupun ini sulit aku akan tetap berusaha. Kak Farhan mau ikut berjuang denganku?” papar Febri seraya menjulurkan tangannya.
“Hm.” Farhan mengangguk dan menyambut tangan adiknya. Ia menggenggam tangan itu lalu dipeluknya dan ia mencium punggung tangannya serya berkata, “Terima kasih.”
***
Udara di pagi hari yang dingin, membuat sepasang pengantin baru kita terasa malas untuk terjaga dari mimpi indahnya. Lengan mereka yang saling bertaut seraya menyalurkan hawa panas pada pasangannya masing-masing. Kemesraan yang telah mereka reguk semalam meninggalkan rona merah di sekitar leher dan dada Dara.
“Kak, bangun sudah pagi,” kata Dara, mencoba meraih kimono tidurnya yang tergeletak di lantai. Ia mengikatkan tali pada pinggangnya.
“Aku mandi dulu ya setelah itu kamu, OK?” Dara meminta persetujuan. Ardi mengangguk setuju dengan kedua matanya yang masih tertutup.
Dara berjalan jinjit menuju kamar mandi, karena kakinya yang telanjang tidak tahan menyentuh lantai yang dingin. Perlahan dia memutar kran untuk mengatur suhu air. Gemricik air dari shower mulai mengguyur seluruh bagian tubuhnya. Setiap tetes air yang menyentuh kulitnya seperti memberikan tambahan energi untuk tubuhnya yang hampir membeku karena udara pagi yang sangat dingin.
Dara membasuh setiap lekuk tubuhnya dengan sabun, bahkan ia menggosok dengan sedikit kencang di bagian leher yang terdapat bekas pertempuran bersama suaminya semalam. Melihat rona merah itu membuatnya kembali terngiang akan kejadian yang telah berlaku semalam. Beberapa hari ini suaminya selalu memperlakukannya dengan begitu lembut, tetapi semalam terlihat lebih garang dari sebelumnya. Itu yang membuatnya mengulum senyumnya di depan cermin sekarang.
Dara telah menyelesaikan mandinya. Hawa dingin kembali terasa tatkala kran telah dimatikan. Dengan tergesa-gesa ia melilitkan handuk pada tubuhnya yang polos. Lalu dengan segera ia meraih gagang pintu, tetapi naas air yang masih tergenang di kamar mandi membuat lantai menjadi licin. Salah satu tangan Dara tidak sengaja memutar kran ke indikator panas. Wanita itu tersungkur di lantai sambil berteriak kesakitan memanggil suaminya.
Ardi bergegas bangun dari tempat tidurnya. Ia berlari ke depan pintu kamar mandi sambil terus mengetuk dan memanggil istrinya. “Ra, Dara! Kamu kenapa sayang?” tanya Ardi cemas.
__ADS_1