
Hari ini Dara ijin kerja setengah hari. Mama sudah menjemputnya bersama Pak Yogi. Mama ingin mengajak Dara ke salon agar terlihat cantik di depan calon suami dan calon mertuanya nanti malam.
Mobil melaju ke sebuah Mall dimana disana ada salon langganan Mama. Mereka disambut ramah oleh para hairstylist di salon itu.
Rangkaian perawatan pun dimulai. Dari menipedicure, lalu facial, kemudian creambath hingga styling rambut.
Selesai main di salon sekarang Mama ajak Dara mencari baju. Dari satu toko ke toko yang lain Mama mencarikan dress yang tercantik untuk putri kesayangannya.
Akhirnya Mama menjatuhkan pilihan pada dress cantik berwarna biru muda. Dress brokat tanpa lengan dengan panjang sampai dibawah lutut memberi kesan anggun untuk Dara.
Hari semakin sore Mama dan Dara memutuskan untuk menyudahi perburuan mereka di Mall.
Malam pun menjelang. Waktu dijam dinding rumah Dara hampir menunjukan pukul tujuh malam. Jantung Dara semakin berdegup kencang.
" Ma, waktu dulu pas Papa ngelamar Mama, perasaan Mama gimana? Deg-degan gak?" Kata Dara sembari membantu menata meja makan.
" Ya pastinya deg-degan lah sayang. Kenapa? Kamu deg-degan juga ya?"
" Iya, Ma. Aku deg-degan banget. Rasanya campur aduk. Ada rasa senengnya, ada rasa groginya, rasa takut juga ada, Ma. Gimana dong, Ma?"
" Tenang sayang. Ini hanya pertemuan kedua keluarga bukan acara ijab kabul. Santai aja sayang." Mama memeluk bahu Dara.
Drrt! Pesan masuk dari kak Ardi.
" Kak Ardi udah sampe, Ma. Udah ada di depan gerbang katanya. Haduuuhh... Gimana ini, Ma? Makin deg-degan ini."
Mama hanya tersenyum melihat putrinya salah tingkah.
" Hayuk ikut Mama sambut mereka di depan."
Mama menggandeng tangan Dara yang sudah mulai dingin ke pintu depan.
Ting tong! Bel berbunyi.
Ceklek! Papa membuka pintu.
" Assalamu'alaikum..." Kata Ayah Adit.
" Wa'alaikum salam.." Jawab Papa.
" Silahkan masuk Pak, Bu...Mari silahkan, Nak."
" Terima kasih, Pak.." Ucap Ayah Adit.
" Mari silahkan duduk. Saya akan panggil Dara dan Mamanya." Baru saja Papa membalikkan badan Mama dan Dara sudah sampai di ruang tamu.
" Nah, ini anaknya."
Dara tidak sanggup melihat kearah kak Ardi, jadi dia hanya menatap ke Ayah Adit dan Ibu Heni.
" Halo..Om, Tante.." Dara menyalami kedua orang tua Ardi.
__ADS_1
" Halo sayang.. Kamu cantik banget malam ini.. Benarkan, Di?" Pertanyaan Ibu Heni membuat Ardi sadar dari lamunannya.
" Eh? Iya, Bu.."
Ternyata sedari tadi mata Ardi tertuju pada Dara. Dia merasa takjub melihat sesosok wanita yang ada didepannya. Rambut yang selalu dikuncir kuda kini dibiarkan tergerai, makin menambah kesan ayu.
" Sepertinya ada yang terpesona.." Goda Ayah Adit.
" Hahaha.." Kedua ayah dan papa tertawa melihat tingkah Ardi.
" Sini Mama duduk di samping Papa. Dara kamu juga duduk di sini." Kata Papa menunjuk sofa kosong disamping kanannya.
" Dara duduk disini aja sama tante." Kata Ibu Heni.
Lalu Dara pun berjalan menghampiri sofa kosong disamping kiri Ibu Heni. Kini Ardi dan Dara duduk saling berhadapan, tetapi tetap Dara tidak berani melihat kebarisan depan. Matanya hanya menuju ke Papa.
" Sebelumnya saya perkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Malik Irham Kusuma, ayah dari Dara. Dan ini istri saya Kartika." Papa memperkenalkan diri.
" Malik Kusuma? Salah satu orang kepercayaan Pak Wawan dari Cahayagroup di kantor cabang sektor B? Apakah saya benar?" Tanya Ayah Adit.
" Kalau sebagai orang kepercayaan..itu tidak juga Pak, saya hanya menjalankan tugas sesuai prosedur saja. Tapi maaf kok Bapak tahu saya bekerja di Cahayagroup? Sebenarnya bapak ini siapa?"
" Hahaha.. Ternyata benar. Soalnya dari tadi saya takut salah orang. Kita pernah bertemu beberapa waktu yang lalu. Sekitar dua atau tiga minggu yang lalu konfrensi di hotel BI. Saya Setyo Aditia Bratha."
" Ya Tuhan. Maaf Pak..Maaf saya tidak mengenali anda tadi. Saya terlalu semangat untuk bertemu dengan keluarga dari orang yang ingin melamar anak saya. Jadi saya sampai tidak mengenali Bapak. Sekali lagi maafkan saya, Pak."
" Santai aja Pak Malik, inikan acara keluarga bukan acara kantor. Hahaha.."
" Benar sekali, Pak Malik." Jawab Ibu Heni sambil tersenyum.
" Perkenalannya sepertinya disudahi dulu sekarang. Mari kita langsung ke meja makan saja.. Makanan sudah siap dihidangkan." Ucap Mama Tika.
" Mari Pak Adit, kita ruang makan sekarang." Papa Malik mempersilahkan keluarga Ardi.
Mereka menuju ruang makan di pimpin Papa Malik. Diikuti Ayah Adit, lalu Ibu Heni sambil memeluk lengan Dara, Mama Tika, dan Ardi berjalan di barisan belakang.
" Silahkan duduk, Pak. Semoga makanan yang disajikan sesuai dengan selera Pak Adit sekeluarga. Silahkan dinikmati, Pak, Ibu, ayo nak Ardi silahkan." Ucap Papa Malik.
" Ayo, nak Ardi. Mau makan yang mana? Nanti Dara yang bantu siapin." Kata Mama Tika.
" Gak usah tante. Saya bisa ambil sendiri."
Mereka menikmati makan malamnya dengan tidak berbicara disaat makan. Dara merasa gerak-geriknya diawasi sehingga dia tidak bisa melahap makanannya dengan baik.
" Sepertinya calon pengantin wanita tidak berselera makan. Atau merasa gugup jadi tidak bisa membuka mulut?" Ayah Adit menggoda Dara.
" Uhuk! Uhuk! " Dara yang sedang mengangkat gelasnya tiba-tiba tersedak karena mendengar ucapan Ayah Adit.
" Ya ampun, Ayah. Jangan digodain terus! Kasihan Dara mukanya sampai merah begitu." Bela Ibu Heni.
" Hahaha...Pak Malik, anak gadismu sangat manis sekali. Oh iyah, kebetulan besok keponakan saya bertunangan. Dan semua keluarga besar saya berkumpul diacara itu. Nah, maksudnya saya mau ijin sama Pak Malik dan Ibu Tika untuk memperbolehkan saya mengajak Dara ke kota B bersama kami. Saya pikir ini waktu yang tepat untuk memperkenalkan calonnya Ardi. Bagaimana, Pak?" Kata Ayah Adit.
__ADS_1
" Sebenarnya saya setuju saja. Silahkan saja. Mumpung keluarga besar ngumpul sekalian dikenalkan. Tapi, terserah Dara. Anaknya mau ikut atau tidak?" Jawab Papa Malik.
" Bagaimana sayang, kamu mau ikut kan?" Tanya Ibu Heni.
" Mau Tante!" Jawab Dara.
" Ok! Besok pagi nanti Ardi jemput kamu ya. Iya kan, Di?" Kata Ayah Adit
" Iya, Yah." Jawab Ardi.
" Ok! Kalau begitu biarkan kita tinggalkan mereka berdua dulu. Pasti dari tadi mereka ingin ngobrol berdua. Pak Adit, mari ikut saya untuk menikmati secangkir kopi di ruang kerja saya."
Papa Malik dan Ayah Adit pergi ngobrol di ruang kerja. Sementara Ibu Heni dan Mama Tika mengobrol di ruang tv. Dara mengajak Ardi duduk di bangku teras belakang samping taman.
" Bagaimana keadaan kak Ardi sekarang? "
" Alhamdulillah sudah membaik. Jahitan pun sudah mulai mengering."
" Syukurlah kalau begitu."
Hening. Dara bingung mau mengobrol apa lagi. Dara memainkan jari tangannya.
" Gak usah dimainin lagi tangannya."
" Hmm?" Dara menoleh ke arah kak Ardi.
Cekrek! Kak Ardi menangkap gambar Dara dengan ponselnya.
" Lihat! Ini ekspresimu lagi salah tingkah." Ardi menunjukan hasil tangkapan gambarnya.
" Iiihh... Apaan sih kak? Hapus fotonya.." Dara berusaha meraih ponsel Ardi. Tetapi justru tangannya yang sekarang tertangkap oleh Ardi.
" Gak akan aku hapus. Sekarang foto ini sudah menjadi foto profil dikontakmu. Jadi mulai sekarang kalau kamu telpon aku munculnya gambar ini." Ardi semakin menggenggam erat tangan Dara.
" Besok kamu liburkan?"
" Hmm.." Dara mengangguk.
" Aku jemput sekitar jam 8 pagi ya. Biar di jalan gak panas." Kata Ardi.
" Mm...Ra.."
" Kenapa kak? "
Melihat penampilan Dara yang lain dari biasanya sungguh membuat Ardi terpesona. Ardi menatap mata Dara dalam. Ardi menelan ludahnya.
Begitupun dengan Dara. Lelaki yang bagi dirinya tidak tersentuh justru sekarang menggenggam tangannya erat.
Mereka saling berpandangan. Tanpa disadari wajah mereka saling mendekat. Hampir tanpa celah bibir mereka hampir bersentuhan.
" Dara! Ardi! "
__ADS_1