
Bugh! Novi menjatuhkan tas ransel besarnya disamping meja kerjanya.
" Si Dara niihh...ada-ada aja..pagi-pagi baru chat WA kalau gue harus ikut acaranya Pak Seno di villa. Ya...sebenernya sih seneng juga dari pada malam minggu cuma bengong sendirian di kosan....Tapi, ya gak kaya gitu juga kali..ngomongnya dadakan bener kaya tahu bulat..kan guenya jadi ribet pagi-pagi harus packing baju....mana cucian kotor segambreng belum dianterin ke tempat loundry..Kalau dateng gue jitak nih anak. " Gerutu Novi sambil merapihkan meja kerjanya.
" Hayo! Lagi ngapain lu ? Ngomel-ngomel sendiri gak jelas. Siapa yang kaya tahu bulat ? Digoreng dadakan maknyooss.." Dara tiba-tiba datang dan sekarang ada dibelakang punggung Novi.
" Ya elu lah maknyoooss..pagi-pagi buta ngechat..pake acara plas plis plas plis..banyak banget lagi nulisnya..gue rasa sih gak ditulis tapi langsung copy paste. " Novi membalikkan badannya sambil berlagak marah.
" Kan elu sahabat terbaik gue di kantor ini. Terus sama siapa lagi kalo gue minta tolong iya kan ? " Dara tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
" Iya deh bawel....emang kenapa sih lu kok ngajak gue segala ? Kan itu acaranya Pak Seno dan the team. "
" Gak juga ah menurut gue. Soalnya kemarin si Iqbal buntutnya Pak Seno bilang kalo kamu mau ngajak pasangan kaya suami atau istri beserta anak boleh. Tapi kalo yang setatusnya pacaran gak boleh. Yaudah gue gak punya keduanya, jadi ngajak elu aja deh. "
Rrrr! Rrrr! HP Dara bergetar. Dia langsung mengambilnya dari dalam saku jaketnya. Dia membaca ada pesan WA dari Iqbal. Dia pun membuka tas kerjanya mengambil buku catatan yang dia gunakan untuk menulis nama-nama orang yang akan ikut ke pestanya Ardi.
Cekrek! Dara memfoto di salah satu lembar kertas buku catatan itu. Dia malas mengetik ulang nama-nama orangnya. Toh, dicatatan itu juga sudah jelas siapa saja yang ikut dan akan mengajak siapa saja. Pikir Dara.
" Ra, Bu Yanti sama Pak Rizal ikut juga gak ? " Tanya Novi dengan mata tetap tertuju pada layar komputernya.
" Kalau yang itu gue gak tahu, Nov. Kan gue ditugasinnya cuma nyatetin the team yang lu bilang tadi. Kalau menurut gue sih pastinya mereka dapet undangan langsung dari Pak Senonya. Tapi, kalau masalah dateng atau gaknya gue gak tahu.." Dara pun menjawab pertanyaan Novi sambil mencari file di komputernya.
" Oh iya, bagi yang ikut jam kerjanya cuma sampe jam dua belas kan ? "
" Iyah ! "
" Nanti kita berangkatnya rombongan kan ? "
__ADS_1
" Iyah ! "
" Berangkatnya pake apa, Ra ? "
" Gak tahu ! Bis kali. "
" Nanti di villanya sekamar ya, Ra. "
" Iyah ! Kalau dikasih kamar. "
" Maksud lu ? Kok kalau dikasih kamar sih, Ra ? emang kita bakal tidur ngampar gitu kaya ikan asin lagi dijemur ? " Novi langsung membalikkan badannya, penasaran akan nasibnya nanti di villa.
" Ya mana gue tahu Noviiii..Kan gue gak tahu villanya kaya apa dan dimana tempatnya. Gue kan cuma nyatetin siapa aja yang mau ikut baweeelll. " Dara mulai merasa gemas dengan sahabatnya yang satu ini.
" Eh..sesama bawel dilarang saling mendahului. " Novi memonyongkan bibirnya. " Ya kali aja lu dapet bocornya dari si buntutnya Pak Seno. " Lanjut Novi.
Ternyata dari tadi Rizal menguping pembicaraan Novi dan Dara. Dia tersenyum penuh arti ketika tahu kalau Dara ikut ke acara itu, dan dia pun segera mengabari Ardi kalau dia akan ikut serta.
Rizal kembali ke ruangannya. Tiba-tiba HPnya berdering.
Kriing ! Kriing ! Kriing !
" Doni ? " Nama yang tertera di layar HPnya.
" Halo Bro ! Apa kabar ? Gimana sehat ? Keponakan gue sehat ? " Rizal menyapa sang penelpon.
" Keponakan lu sehat. Tapi gue nya yang K.O..abis debus dijalanan gue..salto diatas aspal. " Jawab Doni
__ADS_1
" Maksud lu ? Lu abis kecelakaan gitu ? Kok bisa ? " Rizal penasaran.
" Ya bisa lah..gue kan orang bukan superman. Hahaha..By the way..itu gampang ceritanya kapan-kapan aja. Gue lagi kepo sama hasil meetingnya Dara kemarin. Katanya softcopy filenya tiba-tiba hilang ? Kok bisa gituh ? "
" Gue juga gak tahu Don. Tahunya pas dia udah nyampe di ruang rapat dan yang lain udah pada ngumpulin filenya. Ya gue sih udah bantu ngomong ke Manager itu buat ngasih tambahan waktu buat Dara, tapi katanya dia udah fix cabut dari kantor Bokap jadi gak bisa berbuat apa-apa. " Rizal menerangkan.
" Tadinya, gue mau nelpon Bokap. Tapi lu tahu sendiri sifat adek lu. Yang katanya mau berdiri di kakinya sendiri. " Lanjut Rizal.
" Gue jadi penasaran nih sama si Seno. Kok bisa sebelagu gitu dia ? " Doni merasa sedikit kesal.
" Kok lu tahu masalah ini ? Dara ngomong sama lu ? "
" Iya, semalem dia cerita gitu..Tapi, untungnya dia gak ambil pusing pikirnya persaingan dunia kerja aja. Tapi, gue tetep penasaran. Siapa yang tega ngelakuin hal itu ke adek gue ? Sebagai seorang kaka gue gak rela adik gue satu-satunya digituin. Kalau lu ada waktu senggang tolong cekin cctv yang ada di ruang staf lu ya. Nanti tolong kabarin gue lagi. "
" Oke siap Pak Komandan ! " Rizal menaruh tangannya dikepala, posisi hormat.
" Okelah kalau begitu..thank you, Zal..ditunggu kabarnya segera. Bye. "
" Ok! Bye. "
Setelah selesai bicara dengan kaka Dara lewat HP, Rizal langsung menekan nomer extantion ke bagian keamanan gedung menggunakan telpon kantor.
" Halo dengan tim keamanan ? Saya minta tolong kirimkan copy rekaman diruang staf bagian marketing dan perencanaan per hari kemarin. Saya tunggu di ruang kerja saya segera. " Rizal menutup telponnya.
Rizal juga merasa janggal dari kemarin. Kenapa file yang sebelumnya ada dan sudah dicetak tiba-tiba menghilang ? Apa karena virus ? Kalau iya virus seharusnya tidak hanya file itu saja yang hilang tapi file-file yang ada di komputer itu juga pasti hilang. Ini bukan karena virus. Ini pasti perbuatan curang seseorang. Ada yang ingin menjatuhkan orang lain demi kesuksesan dirinya sendiri. Kira-kira siapa pelakunya ? Pasti pelakunya terekam di kamera cctv. Kalau nanti sudah tahu siapa pelakunya, pelajaran yang setimpal akan dia terima. Rizal terbang bersama dengan lamunannya sendiri sambil mengepalkan tangannya.
Hari sudah semakin siang. Jam di didin kantor sudah menunjukan jam dua belas kurang sepuluh menit. Dara baru saja keluar dari ruangan Bu Yanti, dia berjalan kembali ke meja kerjanya. Tiba-tiba ada suara anak kecil berkisar umur enam tahun yang memanggil namanya.
__ADS_1
" Tante Dara ! " Teriak anak kecil itu dari ambang pintu hendak masuk ke dalam kantor.