
Walau dengan terpaksa akhirnya Doni menerima tugas dari papa Malik untuk mempersiapkan pernikahan adiknya. Dengan terus berkomunikasi dengan Iqbal dan Rizal, dia menjalankan kedua misinya yang bertolak belakang itu.
Dimulai dari pagi hari Doni sudah sibuk menelpon WO untuk segera mengirim contoh undang by email agar segera langsung cetak. Demikian pula dengan souvenirnya. Ia tidak ingin membuang banyak waktu karena masih banyak yang harus diurus.
Dara tampak murung karena semua pekerjaan sudah dipegang oleh orang. Dia hanya duduk dan mengamati orang-orang itu.
" Hei..calon penganti kok bengong," goda April.
" Habis bete, Mba. Gak ngapa-ngapain. Semua pada sibuk tapi aku gak boleh bantuin," jawab Dara.
" Udah gak udah bete. Mending mba kasih kamu treatmen biar lusa wajah kamu makin kinclong. Gimana?"
" Treatmen apaan, Mba?"
" Udah nurut ajah sama mba."
April menarik Dara masuk kembali kedalam kamarnya.
" Tunggu dulu disini ya.. Mba mau ambil perlengkapannya dulu," ucap April meninggalkan Dara yang masih bengong.
" Mba april mau ngapain sih? Sampai bilang mau ambil perlengkapan dulu. Emang mau ngelakuin treatmen apaan? Luluran? Facial gitu maksudnya?" batin Dara.
Belum habis rasa penasaran Dara, April sudah kembali dengan membawa sebuah baskom yang berisi beberapa handuk kecil, bandana, kuas, mangkuk, toner dan juga ada kapas serta bungkusan serbuk sebesar kaldu instan.
" Mba mau ngapain?" tanya Dara penasaran.
" Bikin kamu makin cantik lah, Ra," ucap April lalu memasangkan bandana di kepala Dara agar area wajahnya tidak terganggu dengan poni. " Sini kamu tiduran, mba akan mulai treatmennya."
Dara sudah terbaring diatas lantai beralaskan karpet. April mengisi baskom dengan air hangat. Kemudian mengambil kapan dan menuangkan sedikit toner diatasnya. Lalu menyapukannya diatas wajah Dara. Setelah itu April mencelupkan ujung handuk kecil kedalam baskom yang berisi air hangat. Dia mengelap wajah Dara dengan hati-hati.
__ADS_1
Setelah cukup bersih April menuangkan bubuk berwarna hijau kedalam mangkuk kecil, ia mencampurkannya dengan sedikit air dan mengaduknya dengan kuas. Kini April memulaskan adonan itu keatas wajah Dara. Dari mulai bawah mata hingga seluruh wajahnya tertutupi adonan berwarna hijau itu. Kecuali kedua kelopak matanya.
" Ok! It's done! Ditunggu sekitar 20 sampai 30 menit ya, Ra. Sampai maskernya kering. Abis itu kita bilas dengan air hangat lagi," ucap mba April.
" Makasih, Mba," kata Dara.
" Aku tinggal dulu ya, nanti aku kesini lagi. Mau lihat baby El sebentar."
" Mm." Dara hanya menjawabnya dengan anggukan karena dia tidak mau maskernya sampai pecah-pecah.
Dalam posisi tiduran itu Dara melihat kesekeliling kamarnya. Pandangannya terus menatap ke sebuah rak yang ada disamping tempat tidurnya.
Merasa bosan karena hanya bisa menatap langit kamarnya dan tidak melakkukan kegiatan secara terus menerus akhirnya rasa kantuk pun datang. Dara memejamkan matanya dan tertidur.
Dara merasa ada benda yang lembut dan hangat mengusap-usap pipinya. Lalu rasa itu pindah ke dagu dan juga pipinya.
" Hmm." gumam Dara.
" Aw! Dingin!" pekik Dara.
" Hahaha.. Maaf, Ra. Mba ngagetin kamu ya," ujar April sambil terkekeh.
" Apaan sih, Mba? Kok dingin-dingin gitu."
" Ini es batu," kata April memperlihatkan bongkahan bening ditangannya. " Buat ngecilin lagi pori-pori kamu yang udah ngebuka gara-gara air hangat tadi. Biar makin fresh juga wajah kamu. Sini tiduran lagi."
" Oh... Gak usah, Mba! Biar aku sendiri aja. Lagian udah selesaikan?"
" Udah selesai, Ra."
__ADS_1
" Mm.." Dara mengangguk sambil menggosokan benda bening yang dingin itu keatas wajahnya. " Emang udah sampai 30 menit, Mba? Perasaan aku baru rebahan deh."
" Kan kamunya ketiduran! Jadi kamu gak berasa kalo udah berjalan lebih dari setengah jam."
" Hihi... Dingin, Mba," Dara menggoyangkan bahunya.
" Habis ini kamu bakalan ngerasa lebih segar mukanya. Nih, lap mukanya pake handuk kering ini. Ngeringinnya ditepuk-tepuk ya, Ra. Jangan digosok!" ucap April.
" Iya, Mbaku sayang," jawab Dara.
" Gimana rasanya? Sekarang jauh lebih segarkan wajahnya? Pasti dihari pernikahan nanti kamu bakal makin cantik dan Ardi bakal terpesona oleh kecantikanmu."
" Apaan sih, Mba?" pipi Dara merona merah menahan malu.
" Jiaaahh.. Gitu aja malu. Benar-benar lucu dan imut banget kamu, Ra. Yasudah mba kembali ke bawah dulu ya. Mau bantuin yang lain dulu dan kali ajah mas Doni butuh bantuan. Kamu istirahat di kamar aja ya, Ra."
" Iya, Mba."
April pun keluar dari kamar Dara sambil membawa peralatannya yang sudah ia rapikan.
" Ngapain ya?" Dara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya. " Oh iya, mendingan aku beresin kamar ajah. Di dalam rak buku itu ada beberapa benda dari para mantan yang masih aku simpan. Aku gak mau nanti kak Ardi sampai ngamuk lagi seperti di rumah Eyang."
Dara mengambil kardus kosong dari dalam gudang sebagai tempat untuk barang-barang yang menurutnya sudah ia tidak perlukan lagi. Dara langsung mendekat ke salah satu sudut kamarnya. Sebuah rak buku dengan tinggi 1,5 meter dan lebar 70 cm itu tertata dengan rapi, baik itu buku-bukunya atau ornamen penghiasnya.
Pada barisan paling atas dibagian pojok kanan ada sebuah vas bunga yang ramping dengan bunganya yang warna warni dan berbagai jenis. Dara mengambil bunga yang warna kuning.
Ingatan Dara tiba-tiba terbang ke masa lalu. Ia merasa dalam lorong waktu. " Bunga matahari ini kalo gak salah dapet pas kelas 2 SMP deh. Waktu itu pagi-pagi temen sekelas udah pada heboh. Aku yang baru dateng penasaran dengan kehebohan itu. Dan ternyata kehebohan itu berasal dari mejaku sendiri. Disana sudah tergeletak sebuah surat dan bunga matahari ini. Dan ternyata itu dari kakak kelas yang lumayan populer waktu itu," gumam Dara.
Dara terkekeh dengan mengingat masa lalunya itu. Dia meras lucu dengan tingkahnya ketika masih mengenakan seragam biru putih.
__ADS_1
" Karena merasa ketiban durian runtuh, aku jadi terima aja pernyataan cintanya. Walau sebenarnya aku juga nggak ngerti bagaimana rasa cinta itu. Kalau ketemu sama dia aku malu-malu kucing gitu. Terus kalau pulang sekolah dia ajakin makan bakso tapi cuma diem-dieman, asik dengan baksonya masing-masing dan duduknya juga jauh banget kaya orang lagi berantem. Sangkin masih pemalunya aku. Hahaha..."
" Oh iya, padahal kakak kelas ini orangnya cukup baik tapi aku malah mutusin dia gara-gara temenku juga putus dengan pacarnya. Karena dia merasa nggak punya salah jadi minta balikan lagi dan aku tetep nggak mau. Akhirnya aku nulis surat yang isinya aku ketahuan pacaran sama mas Doni dan dia marah besar ke aku supaya aku putus dengan pacarku. Dan setelah kakak kelas itu baca suratnya dia nggak minta balikkan lagi. Cuma aku sering mergokin dia ngeliatin aku dari jauh gitu. Wah, ternyata aku aneh juga ya. Hahaha..."